22/04/2022
SEGERA AKAN DATANG-IKAN GARAM OM DELON
Mengawali tulisan ini, kami ingin memperkenalkan sebuah produk paling bersejarah yang tak asing lagi ditelinga warga Indonesia dan begitu digemari oleh anak-anak rantau asal maluku sebagaimana rasa asinnya dapat dengan mudah memberi kesan kepada para penyantapnya.
Berawal dari diskusi semalam dengan beberapa rekan se-angkatan tentang kearifan lokal, akhirnya kami bersama-sama memutuskan berkolaborasi dan memberi dukungan penuh kepada seorang kawan untuk mengembangkan produk usahanya lewat pengalaman dan hasil amatan yang telah ia lakoni beberapa hari di pasar bersama kenalannya yang kebetulan sedang menggeluti usaha serupa.
Sebenarnya tema tentang ‘Local Wisdom’ bukanlah fondasi utama dalam diskusi semalam, melainkan menghitung dan mempertimbangkan resistensi jangka panjang terhadap sebuah komoditi seperti ikan garam yang sejauh ini hanya dipandang sebagai komoditi biasa yang ternyata setelah kami pikir dan diskusikan bukanlah hadiah atau penghias lokalitas saja.
Lalu bagaimana kami menghitung dan mempertimbangkannya?, Hemat kami Ada kecerdasan dibalik komoditi tersebut. Saat ini kita memang tak pernah tahu bagaimana alur histroitas perihal komoditi semacam ini bisa lahir, relevan dan continiu sampai dengan saat ini.
Dalam beberapa lensa sejarah semisal yang telah di ulas oleh T**i S. Nastiti (Pasar Di Jawa), Ikan asin telah dikembangkan jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni pada zaman mataram kuno (7-8 M). dan perbincangan terkait topik berkelas dan tidaknya telah diantisipasi oleh penulis bahwa produk tersebut ternyata juga menjadi hidangan berkelas dizamaan kerajaan.
Namun terlepas dari optic historis, secara logis pangan local semacam ikan garam atau ikan dendeng adalah sintesis bagi komoditi yang renatan dan rapuh dimakan waktu. Ia bertahan bisa dalam setahun masa produksi ungkap konsumen yang lahir pada tahun 50-an.
Selain dapat dijadikan sebagai pangan alternatif untuk mengantisipasi berbagai musim yang dapat menurunkan jumlah penangkapan atau sebaliknya kelebihan tangkap, secara medis ikan garam dipercaya dapat menyuplai banyak manfaat bagi konsumen yang doyan mengkonsumsinya.
Seperti yang ditinjau oleh Dr. Fadhli R. Makarim (07/21), untuk jumlah protein yang terkandung padanya: Energi: 193 kcal, Protein: 42 gram, Karbohidrat: 0, Lemak: 1,5 gram, Kalsium: 200 miligram, Fosfor: 300 miligram, Zat besi: 3 miligram dan Vitamin B1: 0,01 miligram.
Sementara untuk yang lainnya, mengkonsumsi ikan garam bisa membantu mempercepat penyembuhan luka, mencegah anemia, menjaga system imun tubuh, baik untuk Kesehatan gigi, membantu pembentukan otot dan juga dapat mencegah penyakit jantung.
Mengapa Ga asin Ga Asik ?.
Satu cerita tentang anak rantau asal maluku yang telah bermukim lama di daerah Jawa pernah menceritakan kisah yang begitu pahit yang pernah ia alami kepada kami. Saat itu ia mengalami sakit berat dan penyebabnya tak lain adalah tak pernah lagi merasakan makanan yang asin-asin terutama untuk hidangan ikan. faktanya sakit yang ia alami disebabkan oleh peristiwa lain seperti sering begadang dan lupa makan, namun penyebab sakit tersebut baginya tak bisa diatasi menggunakan obat pada umumnya. Lalu saat itu ia mengurungkan niatnya untuk p**ang ke maluku dan berjumpa dengan ibunya. dan setelah beberapa hari p**ang dan menetap ia menjadi benar-benar sembuh. katanya solusinya adalah hidangan ibunya. Dan memang ibunya sering meyediakan hidangan yang asin-asin utamanya ikan garam.
Sebenarnya ia tak perlu bersusah payah kembali ke maluku, bahwa ikan garam bisa dengan mudah di kirim ke luar daerah, lagi p**a komoiditi tersebut juga memiliki daya tahan terhadap pembusukan. Namun karena alasan lain ternyata yang asin telah bercampur dengan kerinduan yang pada akhirnya memutuskan ia harus benar-benar p**ang.
Nah cerita semacam ini bisa menyadarkan kita bahwa rasa asin adalah sebuah kelaziman yang telah hidup Bersama kita selama ini.
Selain memberi manfaat bagi Kesehatan manusia, produk yang coba dikembangkan oleh rekan kami adalah cara sederhana untuk menyimak segala sesuatu yang ada dan begitu dekat dengan mata dan lidah kita. dan bagi kami ikan garam bukalah produk biasa, ia adalah kehidupan yang jauh-jauh hari telah berhasil menyelematkan dan menyelesaikan nasib anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar pada ruang perguruan tinggi yang tentu tak bisa dihitung berapa jumlahnya secara total.
Selain alasan kehiudpan, rasa asin adalah alasan-alasan paling jujur bahwa kita merindukan rumah. olehnya produk ini ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa ternyata 'Ga asin itu Ga asik'.