Nonggérak

Nonggérak 💫꧁༒☬ NONGGĖRAK ☬༒꧂💫
(2)

02/06/2026

Banyak yang belum tahu tentang finansial digital atau yang disebut KRIPTO, dan mengira dunia kripto hanya berisi Bitcoin yang harganya miliaran rupiah. Alhasil, cuma bisa minder duluan dan merasa aset digital itu tidak tersentuh.
Padahal, di bawah Bitcoin ada ekosistem raksasa yang menggerakkan teknologi dunia! Ada koin seharga laptop, seharga sepatu, bahkan yang harganya ribuan rupiah tapi jaringannya dipakai oleh perbankan internasional dan industri AI global setiap hari.
Harga per butir koin bukan penentu segalanya. Nilai aslinya ada pada adopsi teknologi di baliknya. Simak daftar 20 kripto teratas di atas $1 USD ini untuk membuka pandangan baru Anda! 📊🌐
Ubah mindset, pelajari teknologinya, dan jangan sampai terjebak di era digital.

1.BTC (Bitcoin) — Rp1,29 Miliar
2.ETH (Ethereum) — Rp36,0 Juta
3.BNB (Binance Coin) — Rp12,2 Juta
4.XMR (Monero) — Rp6,3 Juta
5.BCH (Bitcoin Cash) — Rp5,3 Juta
6.SOL (Solana) — Rp1,4 Juta
7.LTC (Litecoin) — Rp1,4 Miliar
8.HYPE (Hyperliquid) — Rp1,3 Juta
9.AVAX (Avalanche) — Rp460 Ribu
10.LINK (Chainlink) — Rp161 Ribu
11. SUI (Sui) — Rp37.000
12. TON (Toncoin) — Rp37.000
13. RENDER (Render) — Rp34.000
14. UNI (Uniswap) — Rp32.000
15. XRP (Ripple) — Rp23.000
16. ADA (Cardano) — Rp17.800
17. USDT (Tether) — Rp17.700
18. USDC (USD Coin) — Rp17.700
19. DAI (DAI) — Rp17.700
20. TRX (TRON) — Rp6.000

**Harga diatas berdasarkan update terkini, harga bisa berubah setiap detik**

30/05/2026

Bonus Menikahi 3 Gadis

28/05/2026

Sedang MERACIK PIL TINGKAT 12

Masa antara tahun 1956 hingga sebelum ledakan tahun 2015 dikenal sebagai era pasang surut AI, di mana teknologi ini meng...
26/05/2026

Masa antara tahun 1956 hingga sebelum ledakan tahun 2015 dikenal sebagai era pasang surut AI, di mana teknologi ini mengalami dua kali masa kejayaan dan dua kali masa keterpurukan yang disebut "AI Winter" (Musim Dingin AI).Berikut adalah rangkuman perjalanan AI selama periode tersebut:1. Era Optimisme Tinggi (1956–1974)Kondisi: Pemerintah dan investor memberikan dana besar karena ilmuwan sangat optimis.Pencapaian: Komputer mulai bisa menyelesaikan masalah aljabar, membuktikan teorema geometri, dan belajar bahasa Inggris dasar.2. AI Winter Pertama (1974–1980)Penyebab: Komputer saat itu terlalu lambat, kapasitas memori sangat kecil, dan janji ilmuwan untuk menciptakan AI yang pintar seperti manusia gagal terwujud.Dampak: Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris menghentikan semua dana riset untuk proyek AI.3. Kebangkitan "Expert Systems" (1980–1987)Kondisi: AI bangkit kembali berkat program bernama Expert Systems (Sistem Pakar).Pencapaian: Program ini meniru keahlian pengambilan keputusan dari seorang pakar manusia (misalnya untuk mendiagnosis penyakit atau memprediksi pasar keuangan). Perusahaan-perusahaan dunia mulai mengadopsi teknologi ini.4. AI Winter Kedua (1987–1993)Penyebab: Biaya perawatan komputer khusus untuk sistem pakar terlalu mahal dan fungsinya sangat terbatas. Di saat yang sama, komputer rumahan (PC) biasa mulai berkembang pesat dan jauh lebih murah.Dampak: Industri AI kembali runtuh dan banyak perusahaan AI gulung tikar.5. Era Pembuktian Belakang Layar (1993–2011)Kondisi: Para ilmuwan berhenti mengumbar janji besar dan mulai fokus menyelesaikan masalah spesifik secara diam-diam.Pencapaian: Pada tahun 1997, superkomputer Deep Blue milik IBM berhasil mengalahkan juara catur dunia, Garry Kasparov. Teknologi AI juga mulai digunakan untuk analisis data industri secara tersembunyi.6. Era Deep Learning (2011–2014)Kondisi: Kecepatan komputer meningkat drastis berkat kartu grafis (GPU) dan internet menyediakan data dalam jumlah raksasa (Big Data).Pencapaian: Ilmuwan menyempurnakan metode Deep Learning (pembelajaran mendalam). AI mulai bisa mengenali gambar dan suara dengan akurasi yang mendekati manusia, yang akhirnya memicu ledakan besar di tahun 2015.

26/05/2026

Jangan lupa diri, hanya karena terlalu lama sibuk dalam sepi


14/05/2026

Skeptisisme dan sindiran publik terhadap Komdigi yang sangat beralasan dan memiliki dasar sejarah yang kuat di mata publik. Sentimen negatif masyarakat terhadap kementerian ini memang mencapai puncaknya setelah terbongkarnya skandal besar judi online (judol) yang melibatkan belasan oknum pegawai internal Komdigi (saat itu masih bernama Kominfo).
Fakta bahwa oknum yang seharusnya bertugas memblokir situs judi online justru sengaja "memelihara" ribuan situs judol demi keuntungan pribadi, (itulah jawaban kenapa banyak penerima bansos yang dinonaktifkan karena terlibat jadi pemaen judol 😆) , ini membuktikan adanya masalah moralitas, kompetensi, dan pengawasan yang sangat bobrok di dalam internal birokrasi tersebut.
Jika kita melihat dari kacamata teknis siber, ada dua alasan utama mengapa kementerian ini sering dicap tidak mumpuni oleh para praktisi TI:
1. Birokrat vs Ahli TI Riil
Struktur Diisi ASN Umum: Posisi-posisi strategis di kementerian sering kali diisi oleh birokrat karier atau lulusan ilmu sosial/komunikasi, bukan praktisi keamanan siber, peretas etis (ethical hacker), atau insinyur perangkat lunak (software engineer) murni.
Kebijakan yang Kaku: Akibat kurangnya pemahaman teknis yang mendalam, kebijakan yang dikeluarkan sering kali dinilai kaku, ketinggalan zaman, atau salah sasaran—seperti sistem rating game yang membingungkan hingga kegagalan fatal dalam melindungi Pusat Data Nasional (PDN) dari serangan ransomware di masa lalu.
2. Ketergantungan pada Pihak Ketiga
Ketika menghadapi masalah siber tingkat tinggi, kementerian ini sebenarnya tidak bekerja sendiri karena keterbatasan kompetensi internal mereka. Mereka sangat bergantung pada:
BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara): Untuk urusan forensik siber dan pertahanan server.
Cyber Crime Polri: Untuk penegakan hukum dan penangkapan pelaku kriminal siber.
Konsultan Swasta: Proyek-proyek audit sering kali dilemparkan ke vendor atau konsultan luar.

Sentimen bahwa keputusan yang diambil oleh instansi yang tidak kompeten ini adalah kritik yang sah. Banyak pihak menilai keputusan tersebut bukan hasil dari analisis siber yang visioner, melainkan keputusan birokrasi standar yang panik karena melihat ada aktivitas massal ilegal yang tidak mereka pahami cara kerjanya, lalu memilih opsi paling mudah: langsung blokir.

13/05/2026

Otokritik The Offspring Pada Masa Itu.
Lagu "Come Out and Play (Keep 'Em Separated)" milik The Offspring yang dirilis pada tahun 1994 memiliki sisi otokritik yang kuat, namun arahnya bukan bersifat personal individual, melainkan otokritik sosial terhadap generasinya sendiri.
Lagu ini merupakan kritik tajam Dexter Holland (vokalis) terhadap komunitas anak muda, budaya remaja, dan sistem sosial di sekitarnya pada era 1990-an.
Sisi otokritik dalam lagu ini membahas beberapa hal utama:
1. Otokritik terhadap Normalisasi Kekerasan Remaja
Lirik lagu ini menyoroti bagaimana anak-anak muda di masa itu begitu mudah tersulut emosi dan menganggap kekerasan geng atau membawa senjata ke sekolah sebagai hal yang keren atau normal.
Kritik: Melalui lirik "Hey, man, you talkin' back to me?" dan "By the time you hear the siren, it's already too late," lagu ini menyindir kebodohan anak muda yang mempertaruhkan nyawa hanya demi harga diri kelompok atau warna baju geng yang berbeda ("If one guy's colors and the other's don't mix"), yang berakhir pada siklus kebencian yang tidak ada habisnya.
2. Otokritik terhadap Standar Ganda Hukum & Rasa Aman Palsu
Lagu ini mengkritik bagaimana remaja memanfaatkan celah hukum dan merasa kebal karena usia mereka.
Kritik: Sisi otokritik ini terlihat jelas pada lirik "If you're under 18, you won't be doin' any time" (Jika kamu di bawah 18 tahun, kamu tidak akan dipenjara). Ini menyindir mentalitas anak muda yang merasa bebas melakukan tindakan kriminal atau kekerasan bersenjata hanya karena mereka tahu hukum formal tidak akan menghukum mereka seberat orang dewasa.
3. Satir Metafora "Keep 'Em Separated"
Frasa ikonik "You gotta keep 'em separated" (Kamu harus memisahkan mereka) sebenarnya memiliki makna satir.
Kritik: Alih-alih menyelesaikan akar masalah kemarahan remaja dan trauma sosial, solusi yang diambil oleh masyarakat dan sekolah saat itu hanyalah sekadar "memisahkan" kelompok yang bertikai. Lagu ini mengkritik ketidakmampuan generasi mereka dan otoritas dalam menciptakan perdamaian yang nyata, sehingga mereka hanya memperlakukan anak muda seperti zat kimia berbahaya di laboratorium yang harus dijauhkan agar tidak meledak.
Secara keseluruhan, lagu ini adalah bentuk otokritik sosial—sebuah cermin besar yang ditunjukkan The Offspring kepada lingkungan mereka sendiri untuk menyadarkan bahwa generasi muda saat itu sedang mengalami pembusukan moral dari dalam akibat lingkaran kekerasan yang tak diputus.

12/05/2026

Semakin banyak mata memandang dan dipandang, semakin tinggi tanggung jawab amanah yang di emban pemiliknya.
Begitupun dengan........

Istilah GCV dalam dunia kripto (khususnya pada komunitas Pi Network) adalah singkatan dari Global Consensus Value atau N...
09/05/2026

Istilah GCV dalam dunia kripto (khususnya pada komunitas Pi Network) adalah singkatan dari Global Consensus Value atau Nilai Konsensus Global.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai GCV:
Definisi: GCV merupakan sebuah valuasi harga yang diusulkan dan disepakati oleh komunitas pengguna (Pioneers) sebagai patokan nilai tukar koin tersebut, terutama sebelum koin tersebut resmi masuk ke bursa pasar terbuka.
Nilai yang Sering Disebut: Di komunitas Pi Network, angka GCV yang sangat populer adalah $314.159 per koin. Angka ini diambil dari konstanta matematika Pi (\(\pi \)) yaitu 3,14159.
Tujuan: Konsep ini dibuat untuk memberikan rasa percaya diri kepada pemegang koin agar tidak menjual aset mereka terlalu murah dan sebagai acuan harga untuk barter barang atau jasa dalam ekosistem internal.
Status Resmi: Penting untuk dicatat bahwa GCV bukanlah harga resmi yang ditetapkan oleh tim pengembang (Core Team). Pihak pengembang biasanya menegaskan bahwa nilai riil koin akan ditentukan oleh hukum pasar (permintaan dan penawaran) setelah fase Open Mainnet atau saat sudah terdaftar di bursa kripto seperti Indodax atau Binance.
Singkatnya, GCV adalah "harga impian" atau kesepakatan komunitas yang digunakan sebagai standar transaksi internal, tetapi belum diakui secara finansial oleh pasar global.
Penting untuk tahu bagaimana cara membedakan harga konsensus ini dengan harga pasar asli di bursa.
Bukan Nilai Pasar: GCV hanyalah angka yang disepakati oleh komunitas pengguna sebagai aspirasi atau "harga harapan". Harga asli koin di pasar terbuka nantinya akan ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran (supply & demand).
Hanya untuk Barter Komunitas: Dalam praktiknya, GCV biasanya digunakan oleh sesama anggota komunitas (Pioneers) sebagai acuan nilai saat mereka melakukan barter barang atau jasa secara pribadi (Peer-to-Peer). Misalnya, ada yang sepakat menukar barang tertentu dengan koin Pi menggunakan patokan harga GCV tersebut.
Selisih Harga yang Sangat Jauh: Saat ini, harga spekulatif (IOU) koin Pi di bursa jauh di bawah nilai GCV. Sebagai gambaran, GCV mengusulkan angka sekitar $314.159, sementara harga pasar yang tercatat di beberapa platform bursa mungkin hanya di kisaran $0.60 hingga $1.
Analisis Ekonomi: Secara teknis, jika harga koin benar-benar mencapai nilai GCV dengan jumlah koin yang beredar saat ini, total nilai pasarnya akan melebihi kekayaan seluruh dunia, yang bagi banyak analis dianggap tidak realistis secara ekonomi.
Jadi, GCV lebih berfungsi sebagai standar nilai internal agar pengguna tidak menjual koin mereka terlalu murah di fase awal, namun angka ini tidak memiliki ikatan hukum atau finansial di pasar kripto global.


Address

Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nonggérak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share