13/09/2023
Aku semenjak kecil tidak pernah melihat wajah ibuku.
Ibu yang telah melahirkan aku,katanya pergi meninggalkan diriku yang masih baru beberapa bulan dilahirkannya ke dunia. Ibu pergi bersama selingkuhan Ibu,sehingga Ayah marah dan menceraikan ibu,lalu menikahi tante marina yang sekarang aku panggil mamah.
Mamah marina hampir setiap hari menghujat nama ibuku dan tentunya aku sendiri tidak pernah luput dari hujatan mamah,ia mengatakan aku adalah anak yang dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.
Kata kata mamah tanpa terasa menimbulkan titik titik kebencian mulai menumpuk di hatiku tentang kehadiran seorang ibu akibat umpatan yang setiap hari kudengar dari mamah.
Semakin bertambahnya usia dan semakin jelas perbedaan kasih sayang antara aku sebagai anak sambung dengan kedua anak kandung mamah membuat aku menjadi ragu dan timbul pertanyaan benarkah ibu kandungku meninggalkan aku sewaktu masih bayi hanya karena selingkuhan ibu atau ada sesuatu yang terpaksa ibu meninggalkan aku?.
Aku terdiam di atas tempat tidurku dan pandanganku keatas dan menerawang jauh hingga tidak terasa buliran bening yang hangat jatuh menetes membasahi pipiku dan dadaku terasa sesak seperti ada batu berat yang menghimpit dadaku.
Aku menangis sesenggukan tergugu dalam diam dan disinilah aku mulai merasakan betapa aku kangen akan belaian dan sentuhan serta kasih sayang seorang ibu.
Pintu kamar di dobrak dengan kuat sehingga suaranya mampu mengagetkan aku disusul dengan teriakan dan umpatan mamah yang sangat membuat bising telinga ini berdenyut seperti gendang telinga ini mau pecah.
"Renindra,sedang apa kamu didalam? kamu pikir mamah dan anak mamah tidak lapar hingga seenaknya saja kamu tiduran bersantai seperti tuan putri tanpa menyiapkan makanan dimeja makan,keluar kamu dan segera siapkan makan!" Marina berteriak sambil mendobrak pintu dengan sangat kuat.
"Maaf Bu,sebentar aku keluar dan siapkan makanannya dimeja makan." jawab Renindra sambil keluar kamar.
Begitu pintu dibuka dan Marina masih didepan pintu kamar seketika tangan Marina langsung menjambak rambut hitam panjang Renindra dan menariknya kuat kuat hingga Renindra mengaduh karena terasa sakit dan perih.
"Kamu lupa disini kamu siapa hah? selagi Ayah kamu tidak ada dirumah,kamu itu bukan sebagai tuan putri tapi kamu sebagai pembantu dirumah ini dan kamu harus mengerjakan semua pekerjaan dirumah ini serta menyiapkan makanan buat mamah dan anak mamah."
"Iya mah,tapi kenapa kalau Ayah lagi dirumah aku tidak boleh mengerjakan apapun dirumah ini dan bahkan aku malah yang dilayani oleh mamah dan kak Alfina?"
"hahahaha... kamu itu b*doh atau pura pura t*lol?"
Marina tertawa sumbang dan melangkahkan kakinya berlalu dan menghempaskan tubuhnya di sofa empuk dan mengangkat kakinya ke atas.
Renindra hanya melirik dan langkah kakinya menuju dapur untuk segera menyiapkan makanan.
Langit mendung dan hujan pun turun dengan derasnya dengan petir yang menggelegar memekakan telinga,akan tetapi Renindra tidak berani meninggalkan dapur dengan terpaksa masih tetap berkutat dalam pekerjaannya.
Terdengar di luar rumah bunyi klakson mobil dengan keras yang dipencet berulang ulang agar pintu pagar rumah segera dibuka.
"Renindra cepet itu buka pintu pagar,Ardian dan Alfina sudah pulang," perintah Mariana pada Renindra untuk segera membuka pintu pagar.
Renindra dengan segera keluar tanpa menggunakan payung sehingga pakaian yang dikenakannya basah kuyup terkena air hujan.
Begitu pintu pagar dibuka mobil yang sudah menunggu didepan pintu pagar segera masuk.
Ardian dan Alfina kakak beradik itu keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah tanpa kehujanan sambil membawa bakso yang tercium sangat nikmat menggugah selera bagi siapa saja yang menghirup aroma baksonya, apalagi dalam suasana hujan lebat dan dingin seperti saat ini.
Renindra hanya menelan ludah menghirup aroma bakso yang saat ini sudah ada didalam bungkusan plastik yang dipegangnya yang diberikan oleh Alfina.
Tanpa diperintah lagi Renindra segera kebelakang untuk menuangkan bakso kedalam mangkok karena Renindra juga berharap bisa menikmati bakso tersebut.
Mangkok telah di tata berjejer sebanyak empat buah mangkok,Renindra berfikir dirumah ada empat orang tentu bakso yang dibungkus juga ada empat bungkus,namun alangkah kecewanya ketika Dia mengeluarkan bakso dalam bungkusan plastik ternyata hanya ada tiga bungkus dan itu artinya tidak ada jatah buat Renindra.
Renindra menuangkan baksonya dan membawanya kedepan diruang tamu yang sudah ada mamah dan kedua kakak sambungnya.
"Mah,ini baksonya." ucap Renindra sambil meletakkan bakso tersebut dimeja persis didepan mamahnya disusul bakso lainnya didepan kedua kakaknya.
Tanpa sepatah kata ucapan Terima kasih ketiganya langsung menikmati bakso yang masih panas di hadapan Renindra dan tidak bertanya apalagi menawarkan baksonya,mereka tampak sangat puas menikmati baksonya dengan suara yang menggelitik telinga dan membangkitkan air liur serta perut keroncongan membuat Renindra semakin sering menelan ludahnya sendiri sedangkan ketiganya acuh tak acuh pada Renindra.
Melihat mereka bertiga menikmati baksonya tanpa diperdulikan kehadirannya,Renindra segera kebelakang dan mengambil air hangat untuk menetralisir rasa ingin makan bakso dan menetralisir hawa dingin yang merasuk tubuhnya dan bergegas kekamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.
Merasa tidak diperdulikan setelah berpakaian rapi,Renindra menyambar tas yang ada di sisi tempat tidurnya dan berjalan keluar rumah tanpa berpamitan menuju rumah sahabatnya yang bernama Evita.
Setelah menunggu beberapa menit terlihat angkot yang ditunggu terlihat dan Renindra melambaikan tangan dan angkotpun berhenti tepat di depan nya.
Langkah Renindra mendekat dan masuk kedalam angkot hingga tepat didepan jalan dekat rumah Evita angkotpun berhenti dan Renindra turun kemudian membayar ongkos dan melangkahkan kaki menuju rumah Evita.
Sesampainya dirumah Evita,Renindra mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan ketika pintu rumah dibuka dan terlihat Evita didepannya,Renindra segera menghambur kedalam pelukan Evita dan menangis sesenggukan menumpahkan segala rasa sesak yang mengganjal di dadanya.
Evita memeluk erat tubuh Renindra dan mengusap rambutnya dan mengajaknya masuk kedalam.
"Ayo Renin masuk dulu,kita bicarakan didalam saja," Ajak Evita pada Renindra yang disetujui anggukan kepala Renindra dan masuk kedalam rumah Evita.
"Duduk dulu yah biar aku ambilkan minum hangat dan kita makan mie bareng kebetulan aku sedang masak mie rebus."
Tanpa menunggu jawaban dari Renindra,Evita menuju kedapur dan tidak lama kemudian sudah kembali dengan membawa dua mangkuk mie rebus.
Sambil menikmati mie rebus,Renindra mengedarkan pandangan, netranya mencari keberadaan ibunya Evita.
"Ibu kemana vi,kok gak kelihatan dari tadi?" tanya Renindra pada Evita.
"Ibu lagi keluar kota untuk seminggu ini dan kebetulan kamu kesini jadi sekalian yah kamu nginep disini sampai ibu pulang nanti." Jawab Evita sambil tetap menikmati mie rebusnya.
Hari terlihat semakin gelap karena hujan masih turun dengan derasnya disertai angin kencang dan mereka berdua terlihat ada rasa kekhawatiran melihat cuaca yang terlihat buruk dan tiba tiba terdengar dari pintu belakang rumah suara benda jatuh dengan kerasnya.
Mereka berdua saling berpandangan dan seketika juga mereka dengan langkah berjingkat mengintip mendekati kearah suara jatuh tersebut dan mereka berdua nampak ketakutan dengan mulut menganga dan mata melotot begitu melihat apa yang terlihat didepannya.
Ayo bergabung dan subscribe buku FAJAR YANG TERNODA agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari nananiqueen di aplikasi KBM.