22/03/2026
Polemik penetapan Idul Fitri 2026 kembali terjadi setelah pemerintah dan Muhammadiyah menetapkan tanggal yang berbeda. Muhammadiyah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 menggunakan metode hisab, yakni perhitungan astronomi.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026 melalui sidang isbat yang menggabungkan metode hisab dan rukyat (pengamatan hilal). Perbedaan ini disebabkan oleh standar penentuan awal bulan Hijriah yang tidak sama.
Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab wujudul hilal, sedangkan pemerintah mengacu pada kriteria imkanur rukyat yang mensyaratkan hilal harus terlihat secara faktual. Akibatnya, potensi perbedaan hari raya pun kembali terjadi di tengah masyarakat.
Meski demikian, perbedaan ini bukan hal baru di Indonesia dan sudah sering terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya tidak hanya pada pelaksanaan ibadah, tetapi juga pada aspek sosial seperti jadwal mudik, libur, dan kegiatan masyarakat.
Dalam menyikapi hal ini, masyarakat diimbau untuk tetap mengedepankan toleransi dan saling menghormati. Setiap kelompok dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya tanpa harus memaksakan kepada orang lain.
Selain itu, penting untuk menjaga kerukunan di lingkungan, memisahkan urusan ibadah dan sosial, serta tetap fokus pada makna Idul Fitri sebagai momen saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Kesimpulannya, perbedaan penetapan Idul Fitri seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi bukti bahwa keberagaman dapat berjalan selaras dengan sikap dewasa dan saling menghargai.