Program Mufid

Call Website Contact the business

Program Mufid Kelas Online dan Buku Seputar Bahasa Arab

30/09/2026

📚 Mufradat Bahasa Arab Seputar Perjalanan

السَّفَرُ — perjalanan
طَرِيقٌ مُعَبَّدٌ — jalan beraspal
مُنْعَطَفٌ — tikungan

Yuk, tambah mufradat bahasa Arab sedikit demi sedikit setiap hari. 🌱

📚 JANGAN TERBURU-BURU MENGIRA قَالَ ADALAH FI‘IL!Perhatikan kalimat berikut:قَالَ زَيْدٍ سَمِعْتُSekilas, ketika melihat...
29/09/2026

📚 JANGAN TERBURU-BURU MENGIRA قَالَ ADALAH FI‘IL!

Perhatikan kalimat berikut:

قَالَ زَيْدٍ سَمِعْتُ

Sekilas, ketika melihat kata قَالَ, mungkin kita langsung membacanya sebagai fi‘il māḍī yang berarti “telah berkata”.

Namun, قَالَ dalam kalimat ini bukan fi‘il, melainkan isim.

Mari kita i‘rab:

🔹 قَالَ
مَفْعُولٌ بِهِ مُقَدَّمٌ مَنْصُوبٌ لِلْفِعْلِ سَمِعْتُ، وَهُوَ مُضَافٌ.

Sebagai maf‘ūl bih yang didahulukan, dalam keadaan manshub dari fi‘il سَمِعْتُ, sekaligus sebagai mudhāf.

🔹 زَيْدٍ
مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الْكَسْرَةُ.

Sebagai mudhāf ilaih, majrur dengan tanda jar berupa kasrah.

🔹 سَمِعْتُ
فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ، وَالتَّاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ فَاعِلٌ.

Fi‘il māḍī yang mabni di atas sukun. Sedangkan تُ adalah dhamir muttashil yang berkedudukan sebagai fā‘il.

📌 CATATAN PENTING

Kata الْقَالُ di sini adalah isim, bukan fi‘il māḍī.

Maknanya adalah:

مَا يَقُولُهُ النَّاسُ

“Perkataan yang diucapkan oleh manusia.”

Orang Arab mengatakan:

كَثُرَ الْقَالُ وَالْقِيلُ

“Banyak sekali perkataan yang beredar.”

Maka asal susunan kalimat:

سَمِعْتُ قَالَ زَيْدٍ

“Aku mendengar perkataan Zaid.”

Kemudian maf‘ūl bih, yaitu قَالَ زَيْدٍ, didahulukan sehingga menjadi:

قَالَ زَيْدٍ سَمِعْتُ

“Perkataan Zaid, aku mendengarnya.”

Ini seperti ucapan:

كِتَابَ زَيْدٍ قَرَأْتُ

“Buku Zaid, aku telah membacanya.”

Kata كِتَابَ زَيْدٍ adalah maf‘ūl bih yang didahulukan dari fi‘il dan fā‘il.

♦️ KAIDAH NAHWU

يَجُوزُ أَنْ يَتَقَدَّمَ الْمَفْعُولُ بِهِ عَلَى الْفِعْلِ وَالْفَاعِلِ إِنْ لَمْ يَمْنَعْ مِنْ تَقَدُّمِهِ مَانِعٌ.

“Maf‘ūl bih boleh didahulukan sebelum fi‘il dan fā‘il selama tidak ada penghalang yang mengharuskan posisinya tetap di belakang.”

Susunan seperti ini banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.

1️⃣ Allah Ta‘ālā berfirman:

فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Sebagian mereka kalian dustakan dan sebagian yang lain kalian bunuh.”

📖 QS. Al-Baqarah: 87

Kata فَرِيقًا adalah maf‘ūl bih yang didahulukan.

2️⃣ Allah Ta‘ālā berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?”

📖 QS. Al-Mā’idah: 50

Kata حُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ merupakan maf‘ūl bih yang didahulukan sebelum fi‘il يَبْغُونَ.

3️⃣ Dan contoh yang sangat kita kenal:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

📖 QS. Al-Fātiḥah: 5

Kata إِيَّاكَ adalah maf‘ūl bih yang didahulukan.

✨ Pelajarannya:
Dalam memahami bahasa Arab, jangan hanya melihat bentuk sebuah kata. Perhatikan p**a kedudukan kata dalam kalimat, harakat, dan hubungan antarkata.

Satu tulisan قَالَ bisa membuat kita mengira itu fi‘il “dia telah berkata”, padahal dalam konteks tertentu ia merupakan isim yang berarti “perkataan.”

Inilah pentingnya belajar nahwu: agar kita tidak hanya mampu membaca kata, tetapi juga memahami struktur dan maksud sebuah kalimat.

Review Kitab Qawa'id Al I'rabKitab Qawa'id Al I'rab قَوَاعِدُ الإِعْرَاب / الإِعْرَابُ عَنْ قَوَاعِدِ الإِعْرَابِ merupa...
22/09/2026

Review Kitab Qawa'id Al I'rab

Kitab Qawa'id Al I'rab قَوَاعِدُ الإِعْرَاب / الإِعْرَابُ عَنْ قَوَاعِدِ الإِعْرَابِ merupakan karya Imam Jamāluddīn Ibn Hisyām al-Anṣārī (wafat tahun 761 H).

Kitab ini sangat menarik karena posisinya bukan sebagai kitab nahwu dasar, tetapi sebagai kitab yang melatih cara berpikir ketika melakukan i‘rab. Teksnya relatif ringkas; salah satu edisi tahqiq Universitas Riyadh/King Saud University sekitar 144–146 halaman.

Gambaran kitab

Berbeda dengan Al-Ājurrūmiyyah yang mengajari fondasi seperti mubtada-khabar, fā‘il, maf‘ūl, tanda-tanda i‘rab, dan sebagainya, Qawā‘id al-I‘rāb membahas persoalan yang biasanya muncul setelah seseorang sudah mengetahui dasar nahwu.

Kitab ini tersusun dalam empat bab utama: الجملة وأحكامها (jumlah dan hukum-hukumnya), الجار والمجرور, penjelasan sejumlah kata/partikel yang perlu dipahami oleh orang yang melakukan i‘rab, dan kaidah-kaidah ungkapan yang tepat dalam analisis i‘rab. Pembagian empat bab ini juga tercantum dalam deskripsi resmi edisi King Saud University.

Jadi, inti kitab ini bukan sekadar:

> هذا فاعل مرفوع، وهذا مفعول به منصوب

tetapi lebih jauh kepada persoalan seperti: apakah sebuah jumlah memiliki محل من الإعراب atau tidak, kepada apa jar-majrur atau zharaf bergantung (التعلّق), bagaimana fungsi huruf tertentu, dan bagaimana menghindari ungkapan i‘rab yang kurang presisi.

Apa yang akan dipelajari?

Bagian paling berharga menurut saya adalah pembahasan
الجمل التي لها محل من الإعراب
dan
الجمل التي لا محل لها من الإعراب.

Ini merupakan salah satu titik yang sering menyulitkan pelajar setelah menyelesaikan nahwu dasar.

Misalnya, seseorang sudah mampu meng-i‘rab setiap kata dalam:

جَاءَ رَجُلٌ يَضْحَكُ

tetapi tahap berikutnya adalah memahami status keseluruhan:

جملة يضحك

Apakah memiliki محل? Jika iya, apa محل-nya? Di sinilah pola pikir yang diajarkan Ibn Hisyām mulai terasa.

Hal yang sama berlaku pada جار ومجرور. Pelajar pemula mungkin cukup mengatakan:

فِي الْبَيْتِ: جارٌّ ومجرورٌ

Tetapi pelajar yang lebih maju harus bertanya:

مُتَعَلِّقٌ بِمَاذَا؟

Pembahasan semacam inilah yang membuat kitab ini sangat berguna untuk naik dari sekadar mengetahui teori nahwu menuju kemampuan analisis teks.

Level kesulitan

Saya akan menempatkannya kira-kira seperti ini:

Al-Ājurrūmiyyah → syarah Ājurrūmiyyah → Qawā‘id al-I‘rāb / Mutammimah / Qaṭr an-Nadā → kitab yang lebih tinggi seperti Mughnī al-Labīb.

Ada p**a panduan pembelajaran nahwu yang menempatkan Qawā‘id al-I‘rāb pada tahap kedua bersama Mutammimah al-Ājurrūmiyyah, Qaṭr an-Nadā, atau Syudzūr adz-Dzahab, serta menegaskan bahwa kitab ini bersifat takmīlī (pelengkap), bukan ta’sīsī (fondasi).

Karena itu, saya tidak menyarankan kitab ini untuk orang yang benar-benar baru belajar nahwu.

Kelebihan utama

Kekuatan kitab ini justru pada fokusnya yang sempit tetapi sangat penting. Ia mengisi celah antara “saya hafal kaidah nahwu” dengan “saya mampu menerapkan kaidah ketika membaca kitab.”

Kitab ini juga sangat baik untuk mereka yang ingin membaca kitab turats karena Ibn Hisyām membiasakan pembaca memperhatikan struktur kalimat secara menyeluruh, bukan sekadar harakat akhir kata. Sebuah rekaman syarah kontemporer bahkan menggambarkannya sebagai kitab yang melengkapi matan-matan nahwu dalam penerapan i‘rab terhadap teks.

Selain itu, ukurannya tidak terlalu besar sehingga realistis untuk dikhatamkan.

Kekurangannya

Keringkasannya sekaligus menjadi kelemahan bagi pemula. Ibn Hisyām tidak selalu memberi penjelasan pedagogis panjang sebagaimana buku pelajaran modern.

Kalau dasar Anda belum kuat, Anda bisa memahami kalimatnya tetapi belum memahami mengapa suatu kaidah diperlukan.

Karena itu kitab ini jauh lebih efektif dengan syarah. Salah satu syarah klasik yang terkenal adalah موصل الطلاب إلى قواعد الإعراب karya Khālid al-Azharī (w. 905 H). Manuskrip dan edisi cetaknya memang tercatat sebagai syarah terhadap kitab Ibn Hisyām.

Dibandingkan Mutammimah al-Ājurrūmiyyah

Keduanya sebenarnya bukan pesaing.

Mutammimah memperluas materi nahwu. Anda mendapatkan lebih banyak bab dan rincian yang tidak terdapat dalam Ājurrūmiyyah.

Sedangkan Qawā‘id al-I‘rāb lebih banyak mempertajam cara menerapkan nahwu ketika melakukan i‘rab.

Secara sederhana:

Mutammimah: “Apa saja kaidah nahwu yang perlu saya ketahui?”

Qawā‘id al-I‘rāb: “Setelah mengetahui nahwu, bagaimana saya tidak keliru ketika menganalisis sebuah susunan?”

Karena itu keduanya justru sangat bagus dipelajari beriringan.

Cocok untuk siapa?

Kitab ini sangat cocok jika Anda sudah mengerti istilah seperti مبتدأ، خبر، فاعل، مفعول، حال، صفة، صلة الموصول، جملة شرطية، جار ومجرور, dan dasar-dasar ‘āmil, tetapi ketika membaca kitab masih sering bertanya:

“Jumlah ini محل-nya apa?”
“Jar-majrur ini terkait dengan kata apa?”
“Kalimat setelah isim ini sifat, hal, khabar, atau isti’nāf?”
“Kenapa i‘rab saya terasa mungkin secara kaidah tetapi maknanya tidak pas?”

Kalau sudah berada pada tahap tersebut, kitab ini sangat tepat.

Kesimp**an

Untuk pelajar bahasa Arab yang targetnya mampu membaca dan meng-i‘rab kitab gundul, Qawā‘id al-I‘rāb termasuk kitab kecil dengan manfaat yang besar. Jangan menjadikannya kitab pertama dalam nahwu, tetapi jadikan ia sebagai jembatan dari teori nahwu menuju praktik analisis teks.

BELAJAR MUFRADAT DARI DOA NABI ﷺBelakangan ini, berbagai musibah kembali terjadi di negeri kita. Gempa, banjir, erupsi g...
15/09/2026

BELAJAR MUFRADAT DARI DOA NABI ﷺ

Belakangan ini, berbagai musibah kembali terjadi di negeri kita. Gempa, banjir, erupsi gunung, kecelakaan, dan berbagai kejadian lainnya mengingatkan kita bahwa manusia sangat lemah dan senantiasa membutuhkan perlindungan Allah.

Di antara doa yang sangat sesuai untuk kita panjatkan adalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, tertimpa kesengsaraan, buruknya ketetapan, dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpaku.”

HR. al-Bukhari dan Muslim.

Ada beberapa mufradat yang menarik dalam doa ini:

جَهْدُ الْبَلَاءِ
Beratnya cobaan; ujian yang sangat berat dan sulit ditanggung.

دَرَكُ الشَّقَاءِ
Tertimpa atau terkejar oleh kesengsaraan.

Kata الشَّقَاء berarti kesengsaraan, lawan dari:

السَّعَادَة
kebahagiaan.

سُوءُ الْقَضَاءِ
Buruknya ketetapan; sesuatu yang ditetapkan dan terasa berat bagi seseorang.

شَمَاتَةُ الْأَعْدَاءِ
Kegembiraan musuh karena melihat musibah yang menimpa kita.

Kata شَمَاتَة bukan sekadar “gembira”, tetapi gembira karena melihat orang lain tertimpa keburukan.

Sedangkan:

الْأَعْدَاء = para musuh
Bentuk tunggalnya:

عَدُوٌّ = musuh

Dari satu doa pendek ini, kita tidak hanya belajar beberapa mufradat baru, tetapi juga belajar untuk memahami makna doa yang kita panjatkan kepada Allah.

Mari kita hafalkan dan amalkan doa ini, terutama di tengah banyaknya musibah yang terjadi. Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita, dan kaum muslimin dari berbagai cobaan yang berat.

Hari terakhir harga khusus alumni.Bagi alumni Kitabut Tashrif Jilid 1 yang memang berniat melanjutkan pembelajaran ke Ji...
10/09/2026

Hari terakhir harga khusus alumni.

Bagi alumni Kitabut Tashrif Jilid 1 yang memang berniat melanjutkan pembelajaran ke Jilid 2, hari ini adalah hari terakhir mendapatkan harga:

Rp 99.000

Setelah masa promo berakhir, harga kembali menjadi:

Rp 125.000

Insya Allah kelas dimulai Ahad, 13 September 2026.

Info:
📲 wa.me/6285746067110

Bukan Sekadar Dapat MateriDalam belajar bahasa Arab, memiliki materi saja biasanya tidak cukup.Karena itu pembelajaran K...
08/09/2026

Bukan Sekadar Dapat Materi

Dalam belajar bahasa Arab, memiliki materi saja biasanya tidak cukup.

Karena itu pembelajaran Kitabut Tashrif Jilid 2 tidak hanya berupa materi yang dikirim kemudian selesai.

Peserta insya Allah akan mendapatkan:

• sekitar 35 rekaman audio
• bagan/tabel tashrif
• kesempatan tanya jawab
• pemantauan tugas
• pembelajaran sekitar 2 bulan
• sertifikat digital bagi peserta yang memenuhi ketentuan/prestasi

Materi diberikan setiap Ahad sampai Rabu ba'da Maghrib, tetapi peserta tidak wajib berada online pada waktu tersebut.

Artinya, pembelajaran tetap dapat disesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

Besok adalah hari terakhir harga khusus alumni Rp 99.000

📲 Daftar: wa.me/6285746067110

Sudah menyelesaikan Kitabut Tashrif Jilid 1?Alhamdulillah, itu merupakan satu langkah yang sangat baik dalam mempelajari...
07/09/2026

Sudah menyelesaikan Kitabut Tashrif Jilid 1?

Alhamdulillah, itu merupakan satu langkah yang sangat baik dalam mempelajari ilmu sharaf.

Namun belajar tashrif tidak cukup hanya dengan mengetahui beberapa pola.

Pola-pola tersebut perlu terus dipelajari dan dilatih agar semakin familiar ketika kita berhadapan dengan kata-kata dalam bahasa Arab.

Karena itu, insya Allah Program Mufid kembali membuka:

KELAS ONLINE PREMIUM
KITABUT TASHRIF JILID 2
ANGKATAN KE-32

📅 Mulai: Ahad, 13 September 2026

⏳ Durasi: sekitar 2 bulan

🎧 Materi diberikan Ahad–Rabu ba'da Maghrib

📱 Peserta tidak harus online pada saat materi diberikan.

Fasilitas pembelajaran antara lain rekaman audio, bagan/tabel tashrif, tanya jawab, pemantauan tugas, dan sertifikat digital bagi peserta yang berprestasi.

Khusus alumni Jilid 1: Rp99.000 sampai 10 September 2026.

Harga normal: Rp125.000.

Jangan berhenti setelah Jilid 1.

Mari lanjutkan perjalanan belajar sharaf.

📲 Info: wa.me/6285746067110

APA MAKNA “سَمَاحَةُ الشَّيْخِ”?Bagi yang sering membaca kitab atau mendengar ceramah ulama berbahasa Arab, mungkin pern...
01/09/2026

APA MAKNA “سَمَاحَةُ الشَّيْخِ”?

Bagi yang sering membaca kitab atau mendengar ceramah ulama berbahasa Arab, mungkin pernah menjumpai ungkapan:

سَمَاحَةُ الشَّيْخِ ابْنِ بَازٍ
سَمَاحَةُ الشَّيْخِ ابْنِ عُثَيْمِينٍ

Lalu, apa sebenarnya makna سَمَاحَة?

1. Kembali kepada akar kata س م ح

Kata سَمَاحَة berasal dari akar kata:

سَمَحَ – يَسْمَحُ – سَمَاحَةً

Di antara maknanya adalah:

السُّهُولَةُ، وَاللِّينُ، وَالْجُودُ، وَالْكَرَمُ

yaitu kemudahan, kelembutan, kemurahan, dan kedermawanan.

Makna ini dapat kita lihat dengan jelas dalam sabda Nabi ﷺ:

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih haknya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 2076.

Kata سَمْحًا dalam hadits tersebut bermakna orang yang mudah, tidak mempersulit, dan bersikap lapang dalam bermuamalah. Para ulama menjelaskan bahwa samāḥah dalam konteks ini mencakup sikap lembut dan tidak berlebihan dalam menuntut hak.

Jadi, secara bahasa:

السَّمَاحَةُ = السُّهُولَةُ وَاللِّينُ وَالْجُودُ وَالْكَرَمُ

---

2. Lalu mengapa “سَمَاحَةُ الشَّيْخِ” diterjemahkan “Yang Mulia Syaikh”?

Di sinilah kita perlu membedakan antara makna bahasa dan fungsi sebuah ungkapan sebagai gelar.

Dalam penggunaan kontemporer, سَمَاحَةُ الشَّيْخِ digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ulama.

Karena itu, ketika kita membaca:

سَمَاحَةُ الشَّيْخِ ابْنِ بَازٍ

tidak tepat jika diterjemahkan secara kaku:

❌ “Kemurahan hati Syaikh Ibnu Baz.”

Dalam konteks gelar, lebih tepat:

✅ “Yang Mulia Syaikh Ibnu Baz.”

Namun perlu dicatat:

“Yang Mulia” adalah terjemahan berdasarkan fungsi ungkapan, bukan terjemahan harfiah kata سَمَاحَة.

Secara harfiah, سَمَاحَة berkaitan dengan sifat murah hati, lapang, dan mudah dalam bermuamalah.

---

3. Lalu apa bedanya dengan فَضِيلَةُ الشَّيْخِ?

Kita juga sering menjumpai:

فَضِيلَةُ الشَّيْخِ

Faḍīlatusy-Syaikh.

Kata فَضِيلَة berasal dari:

فَضُلَ – يَفْضُلُ

yang berkaitan dengan الفضل, yaitu keutamaan, kelebihan, dan kemuliaan.

Secara bahasa:

فَضِيلَة = keutamaan atau kemuliaan.

Maka:

فَضِيلَةُ الشَّيْخِ

merupakan ungkapan penghormatan yang dapat diterjemahkan:

“Syaikh yang mulia”
atau dalam konteks tertentu:
“Yang Mulia Syaikh.”

Istilah فَضِيلَة lebih menonjolkan sisi keutamaan dan kemuliaan seseorang.

Sedangkan سَمَاحَة secara asal bahasa berkaitan dengan kelapangan, kemurahan, dan kemudahan dalam bermuamalah.

---

4. Bagaimana dengan مَعَالِي الشَّيْخِ?

Ada p**a ungkapan:

مَعَالِي الشَّيْخِ

Ma‘ālī asy-Syaikh.

Kata مَعَالِي adalah bentuk jamak dari مَعْلًى, yang berkaitan dengan sesuatu yang tinggi dan luhur.

المَعَالِي
berarti:

المَكَارِمُ وَالأُمُورُ الرَّفِيعَةُ

“kemuliaan dan perkara-perkara yang tinggi/luhur.”

Dalam penggunaan sebagai gelar kehormatan, مَعَالِي الشَّيْخِ merupakan bentuk penghormatan yang sangat tinggi.

Istilah ini banyak digunakan dalam lingkungan resmi, khususnya untuk tokoh yang memiliki kedudukan atau jabatan tertentu.

---

5. Ringkasnya

Jika kita sederhanakan:

سَمَاحَةُ الشَّيْخِ
→ menonjolkan makna samāḥah: kelapangan, kemurahan, dan kemudian menjadi gelar penghormatan.

فَضِيلَةُ الشَّيْخِ
→ berkaitan dengan faḍīlah: keutamaan dan kemuliaan.

مَعَالِي الشَّيْخِ
→ berkaitan dengan ma‘ālī: kedudukan atau kemuliaan yang tinggi.

Ketiganya merupakan ungkapan penghormatan, tetapi asal makna katanya berbeda.

Yang menarik, dalam penggunaan gelar seperti ini, kita tidak selalu bisa menerjemahkan setiap kata secara harfiah. Kita harus memperhatikan السِّيَاقُ (konteks) dan الاستعمال اللغوي (penggunaan bahasa).

Karena itu, menerjemahkan sebuah lafadz berbahasa Arab tidak cukup hanya dengan mengetahui maknanya secara bahasa, tapi kita juga harus tahu bagaimana orang Arab menggunakan ungkapan tersebut.

Di situlah kita mulai memahami bahasa Arab sebagaimana digunakan oleh penuturnya, bukan sekadar bahasa Arab sebagaimana tercantum di kamus.

والله أعلم.

Address

Boyolali

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Program Mufid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Program Mufid:

Shortcuts

Share