Nonggérak

Nonggérak 💫꧁༒☬ NONGGĖRAK ☬༒꧂💫
(2)

11/08/2026

Sebagian besar orang yang BEKERJA biasanya merasa JENUH bukan karena pekerjaannya, tapi karena BOSSnya

Salah satu sebab mau mengubah nama, karena memang posisinya sudah tidak di barat lagi 🤣🤣🤣
02/08/2026

Salah satu sebab mau mengubah nama, karena memang posisinya sudah tidak di barat lagi 🤣🤣🤣

Unduh Melolo, tonton drama gratis dan raih reward tunai hingga Rp 30.000!
29/06/2026

Unduh Melolo, tonton drama gratis dan raih reward tunai hingga Rp 30.000!

Nikmati drama gratis dan raih reward tunai

Rupa-rupa kalakuan jeung kahayang.Sok mindeng nyamar make dangdanan Semar ,hayang diangken jadi titisan Semar.Mamaké pak...
15/06/2026

Rupa-rupa kalakuan jeung kahayang.
Sok mindeng nyamar make dangdanan Semar ,hayang diangken jadi titisan Semar.
Mamaké pakéan sawarna suci hayang diangken titisan Siliwangi.
Sakabėh upaya ngan ukur tarėkah rėka perdaya hayang dipercaya balarėa.
Siga nu enya nyata, tapi lain nu sabenerna
Geus katohyan, horėng Si Togog geuningan !?

02/06/2026

Banyak yang belum tahu tentang finansial digital atau yang disebut KRIPTO, dan mengira dunia kripto hanya berisi Bitcoin yang harganya miliaran rupiah. Alhasil, cuma bisa minder duluan dan merasa aset digital itu tidak tersentuh.
Padahal, di bawah Bitcoin ada ekosistem raksasa yang menggerakkan teknologi dunia! Ada koin seharga laptop, seharga sepatu, bahkan yang harganya ribuan rupiah tapi jaringannya dipakai oleh perbankan internasional dan industri AI global setiap hari.
Harga per butir koin bukan penentu segalanya. Nilai aslinya ada pada adopsi teknologi di baliknya. Simak daftar 20 kripto teratas di atas $1 USD ini untuk membuka pandangan baru Anda! 📊🌐
Ubah mindset, pelajari teknologinya, dan jangan sampai terjebak di era digital.

1.BTC (Bitcoin) — Rp1,29 Miliar
2.ETH (Ethereum) — Rp36,0 Juta
3.BNB (Binance Coin) — Rp12,2 Juta
4.XMR (Monero) — Rp6,3 Juta
5.BCH (Bitcoin Cash) — Rp5,3 Juta
6.SOL (Solana) — Rp1,4 Juta
7.LTC (Litecoin) — Rp1,4 Miliar
8.HYPE (Hyperliquid) — Rp1,3 Juta
9.AVAX (Avalanche) — Rp460 Ribu
10.LINK (Chainlink) — Rp161 Ribu
11. SUI (Sui) — Rp37.000
12. TON (Toncoin) — Rp37.000
13. RENDER (Render) — Rp34.000
14. UNI (Uniswap) — Rp32.000
15. XRP (Ripple) — Rp23.000
16. ADA (Cardano) — Rp17.800
17. USDT (Tether) — Rp17.700
18. USDC (USD Coin) — Rp17.700
19. DAI (DAI) — Rp17.700
20. TRX (TRON) — Rp6.000

**Harga diatas berdasarkan update terkini, harga bisa berubah setiap detik**

30/05/2026

Bonus Menikahi 3 Gadis

28/05/2026

Sedang MERACIK PIL TINGKAT 12

Masa antara tahun 1956 hingga sebelum ledakan tahun 2015 dikenal sebagai era pasang surut AI, di mana teknologi ini meng...
26/05/2026

Masa antara tahun 1956 hingga sebelum ledakan tahun 2015 dikenal sebagai era pasang surut AI, di mana teknologi ini mengalami dua kali masa kejayaan dan dua kali masa keterpurukan yang disebut "AI Winter" (Musim Dingin AI).Berikut adalah rangkuman perjalanan AI selama periode tersebut:1. Era Optimisme Tinggi (1956–1974)Kondisi: Pemerintah dan investor memberikan dana besar karena ilmuwan sangat optimis.Pencapaian: Komputer mulai bisa menyelesaikan masalah aljabar, membuktikan teorema geometri, dan belajar bahasa Inggris dasar.2. AI Winter Pertama (1974–1980)Penyebab: Komputer saat itu terlalu lambat, kapasitas memori sangat kecil, dan janji ilmuwan untuk menciptakan AI yang pintar seperti manusia gagal terwujud.Dampak: Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris menghentikan semua dana riset untuk proyek AI.3. Kebangkitan "Expert Systems" (1980–1987)Kondisi: AI bangkit kembali berkat program bernama Expert Systems (Sistem Pakar).Pencapaian: Program ini meniru keahlian pengambilan keputusan dari seorang pakar manusia (misalnya untuk mendiagnosis penyakit atau memprediksi pasar keuangan). Perusahaan-perusahaan dunia mulai mengadopsi teknologi ini.4. AI Winter Kedua (1987–1993)Penyebab: Biaya perawatan komputer khusus untuk sistem pakar terlalu mahal dan fungsinya sangat terbatas. Di saat yang sama, komputer rumahan (PC) biasa mulai berkembang pesat dan jauh lebih murah.Dampak: Industri AI kembali runtuh dan banyak perusahaan AI gulung tikar.5. Era Pembuktian Belakang Layar (1993–2011)Kondisi: Para ilmuwan berhenti mengumbar janji besar dan mulai fokus menyelesaikan masalah spesifik secara diam-diam.Pencapaian: Pada tahun 1997, superkomputer Deep Blue milik IBM berhasil mengalahkan juara catur dunia, Garry Kasparov. Teknologi AI juga mulai digunakan untuk analisis data industri secara tersembunyi.6. Era Deep Learning (2011–2014)Kondisi: Kecepatan komputer meningkat drastis berkat kartu grafis (GPU) dan internet menyediakan data dalam jumlah raksasa (Big Data).Pencapaian: Ilmuwan menyempurnakan metode Deep Learning (pembelajaran mendalam). AI mulai bisa mengenali gambar dan suara dengan akurasi yang mendekati manusia, yang akhirnya memicu ledakan besar di tahun 2015.

26/05/2026

Jangan lupa diri, hanya karena terlalu lama sibuk dalam sepi


14/05/2026

Skeptisisme dan sindiran publik terhadap Komdigi yang sangat beralasan dan memiliki dasar sejarah yang kuat di mata publik. Sentimen negatif masyarakat terhadap kementerian ini memang mencapai puncaknya setelah terbongkarnya skandal besar judi online (judol) yang melibatkan belasan oknum pegawai internal Komdigi (saat itu masih bernama Kominfo).
Fakta bahwa oknum yang seharusnya bertugas memblokir situs judi online justru sengaja "memelihara" ribuan situs judol demi keuntungan pribadi, (itulah jawaban kenapa banyak penerima bansos yang dinonaktifkan karena terlibat jadi pemaen judol 😆) , ini membuktikan adanya masalah moralitas, kompetensi, dan pengawasan yang sangat bobrok di dalam internal birokrasi tersebut.
Jika kita melihat dari kacamata teknis siber, ada dua alasan utama mengapa kementerian ini sering dicap tidak mumpuni oleh para praktisi TI:
1. Birokrat vs Ahli TI Riil
Struktur Diisi ASN Umum: Posisi-posisi strategis di kementerian sering kali diisi oleh birokrat karier atau lulusan ilmu sosial/komunikasi, bukan praktisi keamanan siber, peretas etis (ethical hacker), atau insinyur perangkat lunak (software engineer) murni.
Kebijakan yang Kaku: Akibat kurangnya pemahaman teknis yang mendalam, kebijakan yang dikeluarkan sering kali dinilai kaku, ketinggalan zaman, atau salah sasaran—seperti sistem rating game yang membingungkan hingga kegagalan fatal dalam melindungi Pusat Data Nasional (PDN) dari serangan ransomware di masa lalu.
2. Ketergantungan pada Pihak Ketiga
Ketika menghadapi masalah siber tingkat tinggi, kementerian ini sebenarnya tidak bekerja sendiri karena keterbatasan kompetensi internal mereka. Mereka sangat bergantung pada:
BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara): Untuk urusan forensik siber dan pertahanan server.
Cyber Crime Polri: Untuk penegakan hukum dan penangkapan pelaku kriminal siber.
Konsultan Swasta: Proyek-proyek audit sering kali dilemparkan ke vendor atau konsultan luar.

Sentimen bahwa keputusan yang diambil oleh instansi yang tidak kompeten ini adalah kritik yang sah. Banyak pihak menilai keputusan tersebut bukan hasil dari analisis siber yang visioner, melainkan keputusan birokrasi standar yang panik karena melihat ada aktivitas massal ilegal yang tidak mereka pahami cara kerjanya, lalu memilih opsi paling mudah: langsung blokir.

Address

Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nonggérak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share