15/03/2020
LARI ITU PERLU
Saya akan bercerita tentang satu penggalan kisah singkat yang saya rasa punya Hikmah dan Pedoman yang besar bagi kita.
Ada satu waktu..
Ketika Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu hendak masuk ke wilayah syam.. lantas ada kabar bahwa tengah terjadi wabah di wilayah tersebut. Maka beliau memerintahkan rombongan untuk kembali.
Ketika ditanya salah seorang rombongan??
"Apakah engkau hendak lari dari takdir Alloh ya khalifah..?"
Beliau pun menjawab, "kita lari dari takdir Alloh menuju takdir Alloh yang lain".
Kawan-kawan yang dirahmati Alloh.. takdir memang sudah ditetapkan. Mau bersembunyi seperti apapun, jika hal buruk memang harus terjadi, maka pasti terjadi.
Namun ada yang menarik dari statement Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu di atas. Yaitu, "kita LARI dari takdir Alloh menuju takdir Alloh yang lain". Ada kata LARI di situ. Saya menterjemahkan dan memaknai ini sebagai bentuk ikhtiar. Apa maksudnya?
Begini kawan..
Belakangan, saya melihat, banyak diantara kita yang salah dalam menyikapi dan menghadapi takdir Alloh. Sebab salah kaprah dalam memahami konsep takdir. Akhirnya salah dalam bersikap dan menghadapi takdir Alloh.
Benar memang bahwa Takdir Alloh adalah ketetapan. Namun, Lari (ikhtiar) untuk memilih hal terbaik yang kita bisa pun adalah sebuah keharusan. Sebagaimana yang disampaikan Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu.
Sebagai Contoh, banyak orang yang ketika melihat hidupnya tengah sempit. Terlalu cepat mengambil kesimpulan yang salah. Lalu berkata, "Takdir saya memang miskin, mau usaha kayak apapun. Nggak bisa juga mengubah takdir."
Akhirnya jadi pembenaran ia bermalasan dan tidak maksimal dalam ikhtiar.
Wah.. ini salah besar. Jelas paham yang salah.
Padahal sudah jelas kaidah dasarnya..
Bahwa Alloh tidak mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. (Q.S Ar Ra'd : 11)
Artinya dibalik ketetapan Alloh sekalipun, Alloh memberi celah kita untuk mengubah keadaan sesuai ikhtiar kita.
Ini penting untuk dipikirkan kawan..
Gini.. benar bahwa Alloh menetapkan takdir. Tapi ketetapannya. Kita sama-sama tidak tahu, itu wilayah Alloh.
Maka dalam kata lain.. sebenarnya ikhtiar itu, adalah cara untuk mencari kebenaran takdir itu sendiri. Kalau nggak bergerak, kita nggak akan tahu takdir apa yang ditetapkan untuk kita. Maka ikhtiar, bisa jadi sebenarnya adalah proses AKTIVASI TAKDIR.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,
”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)
Lihat..!!! Alloh menjamin rezeki setiap makhluk. Tapi Burung pun Pergi di pagi hari sebagai AKTIVASI TAKDIR, Karena takdir Alloh itu misteri. Dan untuk menemukan kebenarannya, dibutuhkan ikhtiar itu sendiri.
Saya kasih contoh nih..
Takdirnya pasti mati. Sudah jelas. Mau kayak apapun pasti mati. Tapi ya masak iya, karena jelas sudah pasti mati lantas nggak makan, nggak minum, nggak mau nafas.. Dengan alasan udah pasti mati, ngapain makan dan minum. Ini kan salah.
Alloh memang mentakdirkan kita mati. Namun jika sikapnya seperti di atas, ini bukan mati namanya, tapi bunuh diri.
Tapi ustadz.. ada yang hidup sehat. Malah mati muda dan tiba-tiba??
Mati itu tetap takdir. Tapi hidup sehat, bikin badan fit, bugar, keren.. masih mending. Andai mati pun, mati dalam keadaan keren.. hehe..
Makanya ada peran LARI kalau kata Sayyidina Umar Radhiallahu'anhu di atas. Ada perlu ikhtiar sebagai keharusan dalam kita bersikap dan menghadapi takdir.
Andai pun benar-benar tetap Alloh takdirkan miskin pada sebagian orang.
setidaknya pasti....!! Saya yakin...!!
Nggak banget-banget miskinnya, sebab ketika ikhtiar. Pasti ada jalan, ada rezeki, ada perubahan.
Pun, ketika menghadapi isu virus Corona seperti sekarang.
Tetap harus ada "LARI". Tetap harus ada ikhtiar menuju ke potensi ikhtiar yang paling tinggi.
Jangan kemudian ber-mindset salah demikian, "Ah.. kalau belum jatahnya mati, juga gak bakalan kena". Pola pikir ini salah, dan malah bisa cenderung menjatuhkan kita pada sifat takabur.
Pernyataan di atas memang benar jika diperhatikan sekilas. Memenuhi unsur percaya akan takdir, tapi jika dipikirkan lebih mendalam, masih kurang dalam urusan ikhtiar.
Sekali lagi.. Tetap LARI meskipun ketemunya dimanapun tetaplah takdir Alloh. Tetap harus jaga kesehatan, cuci tangan setelah setelah beraktivitas dan hendak memegang wajah, konsumsi makanan sehat dan hindari wilayah-wilayah dimana terduga tempat terkontaminasi virus pun adalah sebuah ikhtiar.
Jadi, ketika mendengar berita ditutupnya umroh sementara waktu, kita baik sangka saja.. bahwa itu cara para penjaga kota suci menjaga agar dari hal buruk yang jauh lebih besar lagi.
Kembali ke kita..
Andai pun Alloh tetapkan takdir buruk atas diri kita, setidaknya ada ikhtiar untuk melebihkan kesempatan kita tetap sehat, agar masih terus bisa ibadah dan beramal sholeh. Niatkan demikian.
Insyaallah.. semoga kita semua sehat selalu. dan jaga diri dengan sedekah. Karena insyaallah, bala bencana tidak akan pernah bisa mengejar kecepatan sedekah.
Alhamdulillahirabbil'alamiin.. puji syukur kepada Alloh ta'ala. Yang masih memberi kita umur. Dan semoga kawan-kawan semua sehat terus sekeluarga dan juga Alloh melindungi kita semua dari marabahaya. Aamiin Allohuma Aamiin.
Salam,
Andre Raditya