Mak Wonipah

Mak Wonipah Panggil saja Wonipah! Temukan sesuatu yang bisa menginspirasi dan memberdayakanmu! Mulai dari tips kecantikan, parenting, karier, hingga hubungan.

Dapatkan info yang bermanfaat untuk menjalani hidup yang lebih mudah, sukses, dan penuh percaya diri.

BISIKAN RIMBA KAHARINGAN BAB 15 — Desa dalam KetakutanKabar tentang pekerja yang diseret masuk ke dalam hutan menyebar s...
04/08/2026

BISIKAN RIMBA KAHARINGAN

BAB 15 — Desa dalam Ketakutan
Kabar tentang pekerja yang diseret masuk ke dalam hutan menyebar secepat api membakar ladang kering. Dalam hitungan jam, seluruh Long Petak dan bahkan desa-desa tetangga sudah mendengar versi mereka sendiri dari kejadian pagi itu—beberapa cerita bahkan sudah dibumbui detail-detail baru yang tidak sepenuhnya akurat, namun inti kengeriannya tetap sama.
Polisi dari kecamatan datang siang itu, kali ini dengan rombongan yang lebih besar, termasuk seorang yang diperkenalkan sebagai penyidik dari Polres. Mereka mewawancarai saksi-saksi, termasuk Rahmat, Pak Hendra, dan beberapa pekerja yang selamat, namun jelas terlihat betapa bingungnya mereka menghadapi kesaksian yang melibatkan akar pohon yang "bergerak sendiri" dan "menyeret" korbannya.
"Kami akan mencatat ini sebagai kecelakaan kerja," kata sang penyidik akhirnya, nada suaranya menunjukkan bahwa ia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada laporan resminya sendiri. "Tim SAR akan diturunkan untuk pencarian, meski dengan medan yang berbahaya seperti ini, prosesnya mungkin akan memakan waktu."
Rahmat tahu, dan ia yakin semua orang di desa juga tahu, bahwa pencarian itu tidak akan menemukan apa-apa—sama seperti pencarian Pak Ujang sebelumnya.
Operasi perusahaan resmi dihentikan sementara, namun ketegangan di desa justru semakin memuncak, bukan mereda. Warga yang sebelumnya terpecah antara percaya dan skeptis kini semua diliputi ketakutan yang sama, namun ketakutan itu tidak serta-merta menyatukan mereka—justru sebaliknya, memicu saling tuding dan kepanikan yang tidak terkendali.
Rahmat berjalan menuju rumah Nek Semah sore itu, mendapati semakin banyak warga berkumpul di sana, mencari perlindungan atau setidaknya penjelasan dari sosok yang mereka anggap paling memahami situasi ini. Suasana di teras rumah sang tetua dipenuhi kecemasan yang hampir bisa disentuh.
"Nek, anak saya nggak berani tidur sendirian lagi sejak semalam," seorang ibu muda mengadu, wajahnya lelah karena kurang tidur. "Katanya dia denger suara-suara manggil namanya dari luar jendela."
"Ternak saya juga mulai gelisah nggak jelas," tambah seorang pria lain. "Semalam ayam-ayam saya berisik terus, kayak ada yang ganggu, tapi pas saya cek, nggak ada apa-apa."
Nek Semah mendengarkan setiap keluhan dengan sabar, meski Rahmat bisa melihat beban berat yang mulai membekas jelas di wajah wanita tua itu. Setiap kali ia mencoba menjelaskan bahwa persiapan ritual Manasai Bumi sedang berjalan, kekhawatiran warga hanya bertambah, bukan berkurang, karena mereka tahu waktu yang tersisa semakin sempit.
"Berapa lama lagi sampai ritual itu bisa dilaksanakan, Nek?" tanya Pak Yohanes yang juga hadir, wajahnya menunjukkan tekanan sebagai pemimpin desa yang harus menenangkan warganya sementara ia sendiri juga ketakutan.
"Kami butuh waktu untuk kumpulkan bahan-bahan persembahan yang tepat," jawab Nek Semah. "Beberapa di antaranya cuma bisa ditemukan di dalam hutan itu sendiri, di area yang masih dianggap netral—bukan area inti yang paling sakral, tapi cukup dekat untuk berbahaya."
"Siapa yang akan masuk untuk ambil bahan-bahan itu?" tanya Rahmat, meski ia sudah menduga jawabannya bahkan sebelum Nek Semah menjawab.
"Aku dan Pak Ronggeng," katanya. "Sebagai penjaga adat, kami masih punya sedikit perlindungan yang diakui oleh Antu Basaki, meski tentu saja tetap berisiko dalam kondisi seperti sekarang, ketika kemarahannya sedang memuncak."
"Saya ikut," Rahmat langsung menawarkan diri. "Sebagai keturunan penjaga batas, mungkin kehadiran saya bisa membantu."
Nek Semah menatapnya lama, mempertimbangkan. "Ini bukan keputusan yang bisa diambil ringan, Bujang. Risikonya besar."
"Saya udah terlibat sejak awal, Nek. Saya nggak akan lari sekarang."
Sebelum Nek Semah sempat menjawab, keributan tiba-tiba terjadi di ujung halaman. Seorang wanita berlari panik, air matanya bercucuran, langsung menghambur ke arah kerumunan.
"Anak saya! Anak saya hilang!" jeritnya histeris.
Kerumunan itu langsung riuh, beberapa orang bergegas mendekati wanita itu—yang Rahmat kenali sebagai Bu Sinta, ibu dari salah satu anak yang sering bermain di dekat sungai.
"Kapan dia hilang, Bu?" tanya Pak Yohanes, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri bergetar.
"Tadi sore, dia main sama teman-temannya di dekat sungai, deket batas kebun belakang," Bu Sinta terisak. "Katanya ada yang manggil dia, suara yang kedengarannya kayak neneknya yang udah lama meninggal. Terus dia jalan ke arah semak-semak, dan nggak pernah balik lagi. Teman-temannya cuma bisa lihat dari jauh."
Rahmat merasakan darahnya membeku. Modus yang sama seperti yang ia alami sendiri—suara orang yang sudah meninggal, memanggil dengan nada yang begitu meyakinkan hingga korbannya rela mengikuti tanpa curiga.
"Di mana persisnya, Bu?" Pak Ronggeng bertanya cepat, sudah bersiap untuk bergerak.
Bu Sinta menunjuk ke arah yang membuat jantung semua orang yang hadir semakin berdebar—area itu bukan bagian dari batas inti Tembawang Moyang, melainkan lebih dekat ke pemukiman, area yang selama ini dianggap sepenuhnya aman.
"Kalau ini benar," gumam Nek Semah, wajahnya pucat pasi, "itu artinya wilayah pengaruhnya sudah semakin meluas, jauh lebih cepat dari yang kita kira."
Beberapa pria langsung bersiap untuk mencari, membawa obor dan senter seadanya, meski hari sudah mulai gelap dan ketakutan jelas terpancar di setiap wajah yang bersiap masuk ke area pencarian.
"Tunggu," Nek Semah menghentikan mereka, suaranya tegas meski jelas berat hati. "Kalian nggak boleh masuk sendirian tanpa perlindungan apa pun. Itu sama saja bunuh diri."
"Terus kita harus biarkan anak itu, Nek?!" salah satu pria membentak putus asa.
Hening menegangkan menyelimuti kerumunan itu. Rahmat melihat Nek Semah menutup matanya sejenak, seolah menanggung beban keputusan yang tidak seharusnya ia tanggung sendirian.
"Ambil garam, beras kuning, dan daun sirih dari rumahku," akhirnya Nek Semah memerintahkan, suaranya bergetar namun mantap. "Kita akan coba cari, tapi dengan perlindungan seadanya yang bisa kita siapkan malam ini. Semoga itu cukup."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangan Rahmat, seluruh desa Long Petak bersatu dalam satu tujuan—bukan lagi karena kesepakatan rapat atau voting formal, melainkan karena ketakutan murni yang mengikat mereka semua dalam nasib yang sama, berhadapan dengan kegelapan yang kini seolah tidak mengenal batas mana pun lagi.
Bersambung ke Bab 16...

BISIKAN RIMBA KAHARINGAN BAB 14 — Gergaji MesinSuara gergaji mesin membangunkan seluruh desa keesokan paginya, jauh sebe...
04/08/2026

BISIKAN RIMBA KAHARINGAN

BAB 14 — Gergaji Mesin
Suara gergaji mesin membangunkan seluruh desa keesokan paginya, jauh sebelum matahari sepenuhnya terbit. Rahmat tersentak dari tidurnya yang gelisah, jantungnya langsung berdegup kencang begitu menyadari arah suara itu—dari utara, dari arah Tembawang Moyang.
Ia berlari keluar rumah tanpa sempat mengganti pakaian, mendapati beberapa warga lain sudah berkumpul di jalan setapak, wajah-wajah mereka pucat dan panik. Mang Sarpin ada di antara mereka, wajahnya tegang.
"Mereka udah mulai, Bujang," katanya begitu melihat Rahmat. "Tim perusahaan udah masuk lewat tanah Doni pagi-pagi buta, mulai nebang pohon di pinggir batas."
"Secepat ini?" Rahmat tidak percaya. "Kontraknya kan baru diteken minggu lalu, harusnya masih ada proses—"
"Kata Pak Yohanes, mereka buru-buru karena denger kabar soal rencana ritual kita," potong Mang Sarpin. "Mereka nggak mau kasih kita waktu buat berkumpul dan menolak resmi."
Rahmat dan beberapa warga lain bergegas menuju arah suara gergaji, meski Nek Semah yang menyusul dari belakang berteriak memperingatkan mereka untuk tidak mendekat terlalu jauh ke batas hutan. Namun rasa cemas akan apa yang sedang terjadi mengalahkan kehati-hatian mereka.
Sesampainya di dekat tanah Doni, mereka mendapati pemandangan yang membuat dada semua orang sesak—tiga pohon besar sudah roboh, batangnya yang berusia mungkin ratusan tahun kini tergeletak begitu saja di tanah, meninggalkan bekas tunggul yang masih mengeluarkan getah seperti darah yang mengalir dari luka segar. Beberapa pekerja dengan seragam perusahaan sedang mengoperasikan gergaji mesin, sementara dua orang lain mengawasi dengan helm proyek dan papan berkas di tangan.
Pak Hendra berdiri tidak jauh dari sana, mengawasi proses itu dengan ekspresi puas yang segera berubah waspada begitu melihat kerumunan warga yang mendekat.
"Ada apa ini?" Pak Hendra bertanya, berusaha terdengar tenang meski suaranya sedikit gugup.
"Hentikan ini sekarang!" Rahmat berteriak, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Kalian nggak tahu apa yang bisa terjadi kalau terus nebang di sini!"
"Ini tanah yang sah dibeli dari Pak Doni," Pak Hendra menjawab defensif. "Semua prosedur hukum sudah kami penuhi. Kami tidak melakukan pelanggaran apa pun."
"Ini bukan soal hukum manusia, Pak!" Nek Semah yang baru tiba menyusul berteriak, suaranya penuh amarah yang jarang Rahmat lihat dari sang tetua. "Kalian baru saja membangunkan sesuatu yang sudah tertidur ratusan tahun!"
Salah satu pekerja tiba-tiba menghentikan gergajinya, wajahnya pucat pasi menatap ke arah pepohonan di depannya. "Pak... Pak Hendra, tadi saya lihat sesuatu di balik pohon itu. Kayak... kayak bayangan besar."
"Itu cuma efek kelelahan, terus kerja," Pak Hendra memerintahkan tegas, meski matanya sendiri sekilas melirik cemas ke arah hutan yang semakin gelap meski matahari sudah naik.
Suasana semakin tegang ketika tiba-tiba angin kencang berhembus dari arah hutan, meski sebelumnya udara benar-benar tenang. Dedaunan bergemerisik keras, dan suara yang sama seperti yang Rahmat dengar di rumahnya beberapa malam lalu—raungan dalam dan purba—kembali menggema, kali ini jauh lebih dekat dan lebih keras.
Beberapa pekerja langsung menjatuhkan alat mereka, berlari mundur ketakutan. Bahkan Pak Hendra tampak goyah, meski ia berusaha mempertahankan wibawanya di depan warga desa.
"Semua orang mundur, sekarang!" teriak Pak Ronggeng yang baru saja tiba, suaranya penuh urgensi. "Jangan sampai ada yang berdiri di dekat tunggul pohon yang baru ditebang!"
Namun peringatan itu datang terlambat untuk salah satu pekerja yang masih berdiri kaku di dekat tunggul terdekat, wajahnya membeku ketakutan saat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. Sebelum siapa pun sempat menariknya menjauh, tanah di sekitar tunggul itu tiba-tiba bergerak, akar-akar yang masih tersisa menjalar cepat seperti tentakel, melilit pergelangan kaki pekerja itu.
Jeritannya memenuhi udara pagi saat ia diseret dengan kekuatan yang tidak wajar ke arah rerimbunan hutan, tubuhnya menghantam tanah dan bebatuan dalam perjalanannya yang begitu cepat hingga tidak seorang pun sempat bereaksi untuk menolongnya. Dalam hitungan detik, sosok itu sudah lenyap ke dalam kegelapan pepohonan, meninggalkan jejak seretan di tanah dan jeritan yang perlahan memudar hingga hening total.
Kepanikan pecah seketika. Warga dan pekerja perusahaan berlarian tanpa arah, saling bertabrakan dalam upaya menjauh dari batas hutan yang kini terasa seperti mulut raksasa yang baru saja menelan korbannya. Rahmat merasakan dirinya ditarik mundur oleh Mang Sarpin, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah saking cepatnya mereka berlari menjauh.
Ketika mereka akhirnya berhenti di jarak yang dianggap aman, ratusan meter dari batas hutan, Rahmat menoleh ke belakang. Pak Hendra berdiri mematung, wajahnya pucat pasi, menyaksikan apa yang baru saja terjadi dengan mata yang tidak lagi menunjukkan kepercayaan diri seorang eksekutif perusahaan—melainkan ketakutan murni seorang manusia yang baru saja menyadari betapa kecilnya ia di hadapan sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya.
"Hentikan operasinya," Pak Hendra akhirnya berteriak kepada anak buahnya yang tersisa, suaranya bergetar. "Hentikan semuanya, sekarang!"
Namun bagi Rahmat dan warga desa lainnya, perintah itu datang terlalu terlambat. Tiga pohon sudah roboh, satu nyawa sudah melayang di depan mata mereka, dan raungan yang masih bergema samar dari kejauhan hutan terdengar bukan lagi seperti peringatan—melainkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan: kemarahan yang baru saja mulai terlepas sepenuhnya.
Nek Semah berdiri di samping Rahmat, wajahnya pucat namun matanya menyala dengan tekad yang keras. "Waktu kita sudah semakin sempit, Bujang. Kita harus mulai persiapan ritual hari ini juga, sebelum lebih banyak lagi nyawa yang melayang."
Bersambung ke Bab 15...

03/08/2026
BISIKAN RIMBA KAHARINGAN BAB 13 — Nama-nama yang MenolakPagi setelah rapat warga, Rahmat, Nek Semah, dan Pak Ronggeng be...
01/08/2026

BISIKAN RIMBA KAHARINGAN

BAB 13 — Nama-nama yang Menolak
Pagi setelah rapat warga, Rahmat, Nek Semah, dan Pak Ronggeng berkumpul di rumah Pak Yohanes untuk membahas daftar tujuh keluarga yang tidak mengangkat tangan malam sebelumnya. Pak Yohanes mengeluarkan buku catatan lusuh berisi data kependudukan desa, membacakan nama-nama itu satu per satu sambil menandai dengan pensil.
"Keluarga Pak Rudi, sudah jual duluan buat biaya sekolah anaknya—dia nggak nolak karena nggak percaya, tapi karena nggak sanggup lagi mundur dari kesepakatan," Pak Yohanes menjelaskan. "Keluarga Bu Ratna, juga sudah terlanjur jual. Keluarga Karim, Sumiati, dan Ndan—situasinya sama, semua sudah terima uang muka dari perusahaan."
"Itu lima," Rahmat menghitung. "Dua lagi siapa?"
Pak Yohanes terdiam sejenak sebelum menjawab, seolah ragu untuk melanjutkan. "Keluarga Wak Buyung... dan keluarga (Alm) Pak Tarto."
Nek Semah dan Pak Ronggeng saling pandang, wajah mereka mengeras mendengar nama terakhir itu.
"Pak Tarto," gumam Nek Semah, "itu keluarga yang anak bungsunya hilang sepuluh tahun lalu, kan? Yang nekat nebang pohon di pinggir Tembawang Moyang."
"Benar," Pak Yohanes mengangguk. "Pak Tarto sendiri sudah meninggal beberapa tahun setelahnya, tapi istrinya, Bu Yuli, dan anak sulungnya, Doni, masih tinggal di desa. Mereka yang paling keras menolak ide ritual ini semalam, meski nggak bicara banyak di rapat."
Rahmat mengingat kembali wajah-wajah di balai desa semalam, mencoba mencocokkan dengan nama itu. Ia ingat seorang pria muda, mungkin usianya sedikit di atas Rahmat, duduk di sudut ruangan dengan ekspresi yang sulit ia baca—campuran antara amarah dan kepedihan yang sudah lama dipendam.
"Kita harus bicara sama mereka," kata Pak Ronggeng. "Kalau ada yang paling berpotensi diam-diam kerja sama dengan perusahaan karena dendam sama sistem lama ini, kemungkinan besar itu keluarga mereka."
Rumah Bu Yuli terletak di ujung desa yang paling jarang dilewati, jauh dari keramaian dermaga maupun balai desa. Ketika Rahmat, Nek Semah, dan Pak Ronggeng tiba, mereka disambut oleh Doni yang berdiri di depan pintu, lengannya bersedekap, matanya menyipit curiga.
"Ngapain kalian ke sini?" tanyanya, nada suaranya defensif.
"Kami cuma mau bicara, Doni," Nek Semah menjawab lembut, meski Rahmat bisa merasakan ketegasan di balik kata-katanya. "Soal rapat semalam."
"Nggak ada yang perlu dibicarakan," Doni menjawab cepat. "Kami udah dengar cukup banyak cerita soal Antu Basaki dari kecil. Toh, waktu itu, semua cerita dan pantangan itu nggak nolongin adik saya."
Ketegangan di udara semakin terasa. Sebelum situasi memburuk, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah—Bu Yuli, wajahnya menua sebelum waktunya, matanya menyimpan kesedihan yang tampak belum pernah benar-benar sembuh.
"Sudah, Doni. Biarkan mereka masuk," katanya lirih.
Di dalam rumah yang sederhana, mereka duduk mengelilingi meja kayu tua. Bu Yuli menceritakan kembali kejadian sepuluh tahun lalu dengan suara yang bergetar—suaminya yang nekat membuka lahan di pinggir hutan larangan, dan anak bungsunya yang hilang tanpa jejak tiga bulan kemudian saat bermain di dekat sana.
"Kami sudah cari ke mana-mana," kata Bu Yuli, air matanya mulai menggenang meski ceritanya sudah diulang entah berapa kali dalam sepuluh tahun terakhir. "Polisi, dukun-dukun lain, bahkan sampai minta bantuan orang pintar dari kota. Nggak ada yang berhasil. Dan warga desa... bukannya bantu, mereka malah menjauhi kami, seolah kami yang membawa kutukan itu."
"Bu Yuli," Rahmat berkata hati-hati, "saya turut prihatin atas semua yang Ibu alami. Tapi kami ke sini karena khawatir, kalau desa nggak bersatu buat lakukan ritual ini, apa yang terjadi sama keluarga Ibu bisa terjadi ke keluarga lain juga."
Doni menyela dengan nada sinis. "Kalian pikir kami peduli sama desa yang udah buang muka dari kami selama sepuluh tahun? Kalian baru datang minta bantuan sekarang, setelah kalian sendiri yang punya masalah?"
"Doni," Bu Yuli menegur pelan, tapi anaknya tidak menggubris.
"Perusahaan itu justru satu-satunya pihak yang mau dengar keluhan kami," lanjut Doni, matanya menyala penuh amarah. "Mereka tawarin kompensasi yang layak buat tanah kami, tanpa kami harus ikut-ikutan ritual atau kepercayaan yang nggak pernah nolongin keluarga kami dari awal."
Pak Ronggeng mencondongkan tubuh, suaranya rendah namun tegas. "Doni, aku ngerti kau marah. Tapi apa kau tahu, kalau kamu jual tanah itu dan biarkan perusahaan buka lahan lebih jauh ke Tembawang Moyang, itu bisa bikin apa yang terjadi sama adikmu terjadi lagi ke anak-anak lain di desa ini?"
Untuk sesaat, kemarahan di wajah Doni goyah, digantikan oleh sesuatu yang lebih dekat dengan keraguan. Tapi ia cepat menutupinya kembali dengan raut defensif.
"Itu bukan urusan saya lagi," katanya keras. "Saya udah teken kontrak minggu lalu. Sudah terlambat buat mundur."
Ruangan itu hening seketika. Rahmat merasakan jantungnya berdegup cemas. "Kontrak apa, Doni? Kamu udah jual tanahmu?"
Doni tidak menjawab, hanya menatap ke arah lain, rahangnya mengeras.
"Doni," Bu Yuli akhirnya bersuara, nadanya penuh keterkejutan, "kamu... kamu jual tanah kita tanpa bilang Ibu?"
"Ibu nggak akan setuju kalau aku bilang!" Doni akhirnya meledak, berdiri dari kursinya. "Uangnya udah aku pakai buat modal usaha aku di kota, Bu! Aku capek hidup miskin di desa yang terus-terusan disalahin gara-gara kejadian yang bahkan bukan salah kita!"
Bu Yuli terdiam, air mata mulai mengalir di pipinya, campuran antara rasa sedih dan pengkhianatan dari anak sulungnya sendiri.
Nek Semah berdiri perlahan, menatap Doni dengan tatapan yang campur aduk antara kasihan dan kekhawatiran mendalam. "Tanah kalian itu, seberapa dekat sama batas Tembawang Moyang, Doni?"
Doni tidak langsung menjawab, tapi jawabannya sudah cukup jelas dari raut wajahnya yang mulai pucat.
"Tanah kami paling deket, Nek," jawab Bu Yuli akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Malah... sebagian kecilnya masuk ke area yang selama ini kita anggap bagian dari hutan larangan itu sendiri."
Rahmat merasakan darahnya membeku mendengar itu. Jika benar demikian, kontrak yang sudah ditandatangani Doni bukan cuma soal menjual tanah biasa—itu berarti akses langsung bagi perusahaan untuk mulai membuka jalan tepat menuju jantung Tembawang Moyang.
Bersambung ke Bab 14...

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mak Wonipah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mak Wonipah:

Shortcuts

Share