04/08/2026
BISIKAN RIMBA KAHARINGAN
BAB 15 — Desa dalam Ketakutan
Kabar tentang pekerja yang diseret masuk ke dalam hutan menyebar secepat api membakar ladang kering. Dalam hitungan jam, seluruh Long Petak dan bahkan desa-desa tetangga sudah mendengar versi mereka sendiri dari kejadian pagi itu—beberapa cerita bahkan sudah dibumbui detail-detail baru yang tidak sepenuhnya akurat, namun inti kengeriannya tetap sama.
Polisi dari kecamatan datang siang itu, kali ini dengan rombongan yang lebih besar, termasuk seorang yang diperkenalkan sebagai penyidik dari Polres. Mereka mewawancarai saksi-saksi, termasuk Rahmat, Pak Hendra, dan beberapa pekerja yang selamat, namun jelas terlihat betapa bingungnya mereka menghadapi kesaksian yang melibatkan akar pohon yang "bergerak sendiri" dan "menyeret" korbannya.
"Kami akan mencatat ini sebagai kecelakaan kerja," kata sang penyidik akhirnya, nada suaranya menunjukkan bahwa ia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada laporan resminya sendiri. "Tim SAR akan diturunkan untuk pencarian, meski dengan medan yang berbahaya seperti ini, prosesnya mungkin akan memakan waktu."
Rahmat tahu, dan ia yakin semua orang di desa juga tahu, bahwa pencarian itu tidak akan menemukan apa-apa—sama seperti pencarian Pak Ujang sebelumnya.
Operasi perusahaan resmi dihentikan sementara, namun ketegangan di desa justru semakin memuncak, bukan mereda. Warga yang sebelumnya terpecah antara percaya dan skeptis kini semua diliputi ketakutan yang sama, namun ketakutan itu tidak serta-merta menyatukan mereka—justru sebaliknya, memicu saling tuding dan kepanikan yang tidak terkendali.
Rahmat berjalan menuju rumah Nek Semah sore itu, mendapati semakin banyak warga berkumpul di sana, mencari perlindungan atau setidaknya penjelasan dari sosok yang mereka anggap paling memahami situasi ini. Suasana di teras rumah sang tetua dipenuhi kecemasan yang hampir bisa disentuh.
"Nek, anak saya nggak berani tidur sendirian lagi sejak semalam," seorang ibu muda mengadu, wajahnya lelah karena kurang tidur. "Katanya dia denger suara-suara manggil namanya dari luar jendela."
"Ternak saya juga mulai gelisah nggak jelas," tambah seorang pria lain. "Semalam ayam-ayam saya berisik terus, kayak ada yang ganggu, tapi pas saya cek, nggak ada apa-apa."
Nek Semah mendengarkan setiap keluhan dengan sabar, meski Rahmat bisa melihat beban berat yang mulai membekas jelas di wajah wanita tua itu. Setiap kali ia mencoba menjelaskan bahwa persiapan ritual Manasai Bumi sedang berjalan, kekhawatiran warga hanya bertambah, bukan berkurang, karena mereka tahu waktu yang tersisa semakin sempit.
"Berapa lama lagi sampai ritual itu bisa dilaksanakan, Nek?" tanya Pak Yohanes yang juga hadir, wajahnya menunjukkan tekanan sebagai pemimpin desa yang harus menenangkan warganya sementara ia sendiri juga ketakutan.
"Kami butuh waktu untuk kumpulkan bahan-bahan persembahan yang tepat," jawab Nek Semah. "Beberapa di antaranya cuma bisa ditemukan di dalam hutan itu sendiri, di area yang masih dianggap netral—bukan area inti yang paling sakral, tapi cukup dekat untuk berbahaya."
"Siapa yang akan masuk untuk ambil bahan-bahan itu?" tanya Rahmat, meski ia sudah menduga jawabannya bahkan sebelum Nek Semah menjawab.
"Aku dan Pak Ronggeng," katanya. "Sebagai penjaga adat, kami masih punya sedikit perlindungan yang diakui oleh Antu Basaki, meski tentu saja tetap berisiko dalam kondisi seperti sekarang, ketika kemarahannya sedang memuncak."
"Saya ikut," Rahmat langsung menawarkan diri. "Sebagai keturunan penjaga batas, mungkin kehadiran saya bisa membantu."
Nek Semah menatapnya lama, mempertimbangkan. "Ini bukan keputusan yang bisa diambil ringan, Bujang. Risikonya besar."
"Saya udah terlibat sejak awal, Nek. Saya nggak akan lari sekarang."
Sebelum Nek Semah sempat menjawab, keributan tiba-tiba terjadi di ujung halaman. Seorang wanita berlari panik, air matanya bercucuran, langsung menghambur ke arah kerumunan.
"Anak saya! Anak saya hilang!" jeritnya histeris.
Kerumunan itu langsung riuh, beberapa orang bergegas mendekati wanita itu—yang Rahmat kenali sebagai Bu Sinta, ibu dari salah satu anak yang sering bermain di dekat sungai.
"Kapan dia hilang, Bu?" tanya Pak Yohanes, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri bergetar.
"Tadi sore, dia main sama teman-temannya di dekat sungai, deket batas kebun belakang," Bu Sinta terisak. "Katanya ada yang manggil dia, suara yang kedengarannya kayak neneknya yang udah lama meninggal. Terus dia jalan ke arah semak-semak, dan nggak pernah balik lagi. Teman-temannya cuma bisa lihat dari jauh."
Rahmat merasakan darahnya membeku. Modus yang sama seperti yang ia alami sendiri—suara orang yang sudah meninggal, memanggil dengan nada yang begitu meyakinkan hingga korbannya rela mengikuti tanpa curiga.
"Di mana persisnya, Bu?" Pak Ronggeng bertanya cepat, sudah bersiap untuk bergerak.
Bu Sinta menunjuk ke arah yang membuat jantung semua orang yang hadir semakin berdebar—area itu bukan bagian dari batas inti Tembawang Moyang, melainkan lebih dekat ke pemukiman, area yang selama ini dianggap sepenuhnya aman.
"Kalau ini benar," gumam Nek Semah, wajahnya pucat pasi, "itu artinya wilayah pengaruhnya sudah semakin meluas, jauh lebih cepat dari yang kita kira."
Beberapa pria langsung bersiap untuk mencari, membawa obor dan senter seadanya, meski hari sudah mulai gelap dan ketakutan jelas terpancar di setiap wajah yang bersiap masuk ke area pencarian.
"Tunggu," Nek Semah menghentikan mereka, suaranya tegas meski jelas berat hati. "Kalian nggak boleh masuk sendirian tanpa perlindungan apa pun. Itu sama saja bunuh diri."
"Terus kita harus biarkan anak itu, Nek?!" salah satu pria membentak putus asa.
Hening menegangkan menyelimuti kerumunan itu. Rahmat melihat Nek Semah menutup matanya sejenak, seolah menanggung beban keputusan yang tidak seharusnya ia tanggung sendirian.
"Ambil garam, beras kuning, dan daun sirih dari rumahku," akhirnya Nek Semah memerintahkan, suaranya bergetar namun mantap. "Kita akan coba cari, tapi dengan perlindungan seadanya yang bisa kita siapkan malam ini. Semoga itu cukup."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangan Rahmat, seluruh desa Long Petak bersatu dalam satu tujuan—bukan lagi karena kesepakatan rapat atau voting formal, melainkan karena ketakutan murni yang mengikat mereka semua dalam nasib yang sama, berhadapan dengan kegelapan yang kini seolah tidak mengenal batas mana pun lagi.
Bersambung ke Bab 16...