29/10/2020
Asesmen Kompetensi Minimal (AKM)
Asesmen Kompetensi Minimal atau yang disingkat sebagai AKM ini adalah sejenis soal yang akan digunakan untuk menggantikan UN. Soal-soal yang ada di AKM ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu, kemampuan bernalar menggunakan matematika, kemampuan bernalar menggunakan bahasa, dan penguatan pendidikan karakter. Ujian menggunakan soal tersebut akan dilakukan pada peserta didik yang berada pada jenjang sekolah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Pada masing-masing jenjang tersebut ujian AKM akan dilakukan pada siswa kelas 5 untuk SD, kelas 8 untuk SMP, dan kelas 11 untuk SMA.
Penylenggaraan tes AKM pada pertengahan jenjang sekolah tersebut dilakukan dengan harapan mampu mendorong guru dan sekolah dalam memperbaiki kualitas pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik masing-masing. Penyelenggaraan tes tersebut dilaksanakan sejak siswa menduduki jenjang SD dimaksudkan agar proses pendeteksian mutu pendidikan dilakukan sedini mungkin. Hasil dari tes juga tidak lagi digunakan sebagai dasar seleksi penerimaan siswa ke jenjang selanjutnya.
Survei Karakter
Survei karakter ditambahkan sebagai salah satu penilaian di sekolah. Survei ini akan menilai penerapan asas-asas Pancasila pada sistem pendidikan di Indonesia. Survei karakter akan meliputi data kognitif dan non-kognitif. Untuk data non-kognitif sendiri meliputi banyak hal termasuk kebahagiaan siswa di sekolah, penerapan gotong royong, hingga hal-hal seperti ada tidaknya perilaku bully di sekolah. Hasil dari survei tesebut akan digunakan sekolah dan Kemendikbud dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa.
Contoh soal AKM SMA
Contoh soal AKM SMA Terbaru ini sudah sesuai dengan materi yang dicontohkan oleh Kemendikbud. Dimana berisi 3 (tiga) jenis literasi yang berbeda-beda. Nantinya penggunaan AKM sebagai pengganti Ujian Nasional akan dilakukan mulai tahun depan.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengenai Ujian Nasional (UN) dapat disimpulkan bahwa hingga sekarang ini materi yang digunakan dalam tes tersebut dinilai terlalu padat. Hal ini menyebabkan guru dan peserta didik tidak menguasai kompeten