13/08/2024
"Mengapa Harus Generasi Muda Menjadi Pemimpin"
Mereka tumbuh dengan teknologi, pemikiran pembaharu, baik itu komputer, gawai, dan dunia internet hingga urusan global. Berdasarkan kutipan dari data terpercaya, teknologi itu dapat memberi kemudahan dan berdampak positif pada dunia usaha, politik, dan juga bisnis dalam peran apa pun yang mereka ambil. Hari ini, generasi muda telah terlihat membuat tanda mereka di berbagai bidang untuk menggabungkan, bisnis, olahraga, politik, media dan hiburan.
Para pemuda berkembang menjadi pemimpin yang cakap di bidangnya masing-masing.
Di negara india sendiri merupakan negara yang pop**asi anak mudanya di atas 60 persen dari total ummat manusia di sana. Jumlah anak mudah sendiri lebih dominan menjadi kepala, mereka anak muda negara india dapat memanfaatkan keterampilan dan bakat mereka untuk membangun bangsa dan membangun lebih banyak negara yang produktif dinamis."
Pemuda semakin mengambil Peran Kepemimpinan Di dalam korporasi, terlihat p**a lebih banyak anak muda mengambil peran kepemimpinan dalam hal mendorong pertumbuhan dan kesuksesan di parlemen dan di eksekutif. Catatan penting bagi kita bahwa para pemimpin muda jauh lebih dinamis, energik, dan berani mengambil risiko mengingat bahwa mereka masuk tanpa bagasi sebelumnya atau hambatan dari masa lalu.
Kualitas penting lainnya adalah bahwa anak muda percaya dalam bekerja dengan cerdas untuk mencapai tujuan mereka, ditengah perkembangan zaman dan era ini.
Pemuda cerdas yang memiliki gelar millenial dan gen z, punya pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan kehidupan masyarakat yang berkembang saat ini. Mereka dipenuhi dengan inovasi, energi dan antusiasme ditambah dengan keinginan untuk membawa perubahan dalam perilaku dan sikap sosial.
Sedapat mungkin bisa mematahkan stereotip, merangkul praktek dan berpikir di luar kebiasaan.
Jika kita cermati kembali negara tetangga kita Malaysia, entah kebetulann atau tidak, usia masyarakat di negara tersebut saat ini juga lebih didominasi generasi muda. Tepatnya, generasi muda yang berusia 20 sampai 35 tahun. Tentu saja ini berbanding lurus dengan jumlah pemilih saat pemilu. Mungkin inilah salah satu alasannya, Malaysia sangat terbuka dengan pemimpin dari generasi muda, tak heran beberapa menterinya di beri ruang kepada pemuda untuk menduduki posisi strategis itu.
Di Indonesia sendiri telah terjadi perubahan struktur kependudukan yang menciptakan ledakan usia produktif (17 tahun-40 tahun) yang separuhnya, pada puncak bonus demografi pada 2030 akan menciptakan sekitar 65 persen usia produktif.
Karena itu, dominasi Pilkada 2024, peran usia produktif khususnya kaum muda yang berusia 17 tahun sampai 40 tahun berkisar 60 persen dari 100 persen pemilih. Inilah kesempatan besar para pemimpin bangsa untuk memanfaatkan daya ungkit kaum muda dalam kancah pemerintahan untuk menopang pembangunan daerah hingga nasional. Kini justru terbukti di pemilukada 2020, banyak calon kepala daerah yang maju sebagai calon kepala daerah walikota, bupati maupun wakil.
Eksistensi kaum muda ini sangat perlu diakui dengan memberikan kepercayaan dan kesempatan. Tentu saja dengan regenerasi tersebut bukan berarti tokoh pemimpin yang lebih senior akan kehilangan muka, namun terbuka kemungkinan menjadi mentor, pembina, atau partner karena memiliki jam terbang serta pengalaman berbeda.
Selamat bertarung para calon pemimpin muda, hargai yang muda dan hormati yang tua. Yakin usaha dan perjuangan anak muda akan tersampai.