02/03/2023
Akhir Februari, saat langit Polman sedang sedih-sedihnya. Saya beranjak dari tempat kerja menuju kedai kopi yang baru saja launching.
Saya bertemu dengan kawan lama, Jefri dan Nichol. Pertemuan ini adalah pertemuan kali pertama setelah beberapa mentari, dan cukup bagi kami untuk bersua merangkai rindu.
Kami bertemu di kedai kopi dengan konsep yang sebenarnya sudah cukup mainstream di beberapa kota metropolis namun lumayan segar untuk daerah yang statistik kemiskinannya semakin meninggi; Polewali Mandar.
Kedai kopi yang elegan ini memiliki beberapa space untuk pengunjung, dan kami memilih duduk di pelatarannya sembari menikmati lanscape sawah yang sebagiannya telah dipanen. Makanya obrolan kala itu cukup bising oleh knalpot motor trail rakitan pengangkut padi para pejuang rupiah.
Setelah dirasa cukup menikmati view di luar, kami bergeser masuk ke ruang utama. Ruang temu yang anti asap rokok, di mana suasananya tentu akan berasa pengap oleh para ni****ne addict.
Kami larut dalam obrolan tentang dunia pekerja desain grafis dan seni digital di Polman, kami menganggap pekerjaan-pekerjaan semacam itu belum memiliki tempat yang cukup mendapat apresiasi dari masyarakat. Tetapi, di lain sisi kami juga menaruh harap dan percaya bahwa kelak pekerjaan ini akan menjadi pekerjaan mahal di mana hal itu harus di dorong oleh kita sendiri; masyarakat Polman.
See u in the Next Story, Ame.