05/04/2026
"Kenapa harus telur?"
Pertanyaan itu sederhana tapi maknanya dalam.
Saya ditanya oleh salah seorang relasi saya yg memiliki keyakinan berbeda ketika kami sedang camping bareng. Tentu kita punya jawaban masing-masing dan beragam.
Personally, telur bukan sekadar simbol atau tradisi. Telur adalah gambaran kehidupan itu sendiri. Dari luar terlihat diam, tertutup, bahkan rapuh. Tapi di dalamnya, ada proses luar biasa—ada kehidupan yang sedang bertumbuh, ada harapan yang sedang disiapkan.
Seperti hidup kita.
Sering kali kita berada dalam “cangkang”—masa-masa sulit, ketidakpastian, pergumulan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tapi justru di situ, Tuhan sedang bekerja. Membentuk, mempersiapkan, menumbuhkan sesuatu yang baru.
Telur mengingatkan bahwa kehidupan selalu punya jalan untuk lahir kembali. Bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati.
Paskah bukan tentang telur.
Paskah adalah tentang kehidupan yang menang atas kematian.
Tentang terang yang mengalahkan gelap.
Tentang harapan yang tidak pernah habis.
Dan bagi saya, telur hanyalah pengingat sederhana—
bahwa di balik setiap proses, ada masa depan.
Bahwa di balik setiap luka, ada pemulihan.
Bahwa karena Dia hidup, kita punya alasan untuk tetap percaya, tetap kuat, dan tetap melangkah.
Karena Dia hidup, hari esok bukan lagi sesuatu yang menakutkan—
melainkan sesuatu yang penuh harapan.
Yesus sdh membuktikan dari kematian kemudian bangkit.
Mari kita membangun hidup kita. Tuhan memberikan pertumbuhannya. Kalau pun sdh rusak kita bisa bangun kembali dari puing2nya. Sedikit demi sedikit perlahan demi perlahan.
I do believe You can do it.
Why?
Not because of You
Because He lives,
I can face tomorrow!
Because He lives,
All fear is gone.
Because I know
He holds the future,
And life is worth the living,
Just because He lives!
Sbab Dia hidup ada hari esok
Sbab Dia hidup ku tak gentar
Krna ku tahu Dia pegang hari esok
Hidup jadi berarti sbab Dia hidup.
Selamat Paskah, hari telur itu.