22/01/2019
Meramu Rasa
"Dinda ... baju kaosku mana?" tanya lelaki yang telah mengurungku di bilik ini. Begitu memasukkanku ke sini dia pun segera melepas pakaiannya hingga hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuhnya.
"Ini bajumu, Tuan," jawabku. Kugapai selembar kaos oblong yang tersampir di pinggir ranjang. Menjulurkan ke arahnya. Dia pun segera mengambil dan memakainya.
"Terima kasih, ini uangmu. Besok lusa tunggu SMS saja. Siapa tahu aku mau lagi," ucapnya seraya menaruh segepok uang di disisiku.
"Terima kasih, Tuan. Saya akan datang jika telah menerima SMS dari Tuan." Gembira hatiku, malam ini anakku bisa makan ayam goreng kesukaannya. 'Tunggu ibu pulang, Nak," batinku.
Lelaki yang berwajah tampan dan bertubuh tegap itu segera berlalu, sebaris senyum kepuasan nampak jelas di bibirnya. 'Semoga ia puas dengan pelayananku dan mau menjadi pelanggan tetapku,' aku membatin lagi.
Segera kubereskan tempat tidur agar kembali rapi, lalu menyemprotkan parfum aroma terapi agar ruangan sempit itu kembali wangi. Siapa tahu sebentar akan ada lagi pelanggan yang mau memakai jasaku.
Tak lupa kucuci kedua telapak tanganku, membersihkannya dari sisa-sisa minyak yang beraroma mint dan sedikit campuran minyak cengkeh.
Pekerjaanku kadang mengundang reaksi negatif orang lain, bagaimana tidak. Bekerja paruh waktu sebagai tukang urut di panti pijat biasa di artikan orang macam-macam. 'Tukang pijat plus-plus', itu yang mereka ucapkan padaku.
Namun, aku tak peduli. Setidaknya aku bisa menghidupi Arham, anak semata wayangku, yang telah ditinggalkan ayahnya sejak bayi, karena kecantol wanita pelacuran di klub tempatnya bekerja.
Mungkin saat ini Arham sedang asyik belajar di sekolah. Belajarlah yang giat anakku, semoga jalan hidupmu kelak bisa lebih baik dari kehidupan kita sekarang.
Tamat.***