Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo

Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo buku SD SMP SMU perguruan tinggi
buku berbahasa Jawa
filsafat
al Qur'an
dokumen kuno
surat kuno
materai perangko kuno
dokumen kraton

tombak dg besi Keleng lumer
08/06/2026

tombak dg besi Keleng lumer

04/05/2026

Uang punya aura tersendiri

Orang Jawa pasti tahu ini namanya
11/02/2026

Orang Jawa pasti tahu ini namanya

Gagak Rimang yaiku jeneng kuda tunggangané Raden Mas Said, sing mengko jumeneng dadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya...
28/12/2025

Gagak Rimang yaiku jeneng kuda tunggangané Raden Mas Said, sing mengko jumeneng dadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa).
Katrangan cekak nanging wigati:
Sing nduwèni: Raden Mas Said / Mangkunegara I
Peran: Kuda perang lan lelaku gerilya nalika perang nglawan VOC lan Kasunanan
Makna jeneng:
Gagak → ireng, tandha kewibawaan lan keteguhan
Rimang → gagah, tangguh, ora gampang wedi
Filosofi: Nyawiji antarane satria lan tunggangane; lambang tiji tibeh (mati siji mati kabeh)
Ing carita babad lan tradhisi lisan, Gagak Rimang ora mung kewan tunggangan, nanging dianggep saksi perjuangan lan simbol kesetiaan marang perjuangan R.M. Said.

Tradisi Nyekar Takir di Makam B.R. Ayu Atmosuharto: Laku Budaya, Genealogi, dan Filosofi Nata Pikir KeuanganPendahuluanB...
21/12/2025

Tradisi Nyekar Takir di Makam B.R. Ayu Atmosuharto: Laku Budaya, Genealogi, dan Filosofi Nata Pikir Keuangan

Pendahuluan

Budaya nyekar dalam masyarakat Jawa bukan sekadar ziarah kubur, melainkan sebuah laku spiritual, etika, dan kultural yang sarat makna simbolik. Di berbagai daerah, tradisi nyekar berkembang dengan ragam tata cara yang khas, diwariskan secara turun-temurun dan dijaga kesakralannya oleh trah keluarga.

Salah satu tradisi nyekar yang unik dan masih lestari hingga kini adalah tradisi nyekar menggunakan takir berisi bunga mawar merah-putih dan uang kertas bernominal sama, yang dilakukan di makam B.R. Ayu Atmosuharto, berlokasi di Astana Kendaran, Desa Kagokan, Sukoharjo.

---

Sosok B.R. Ayu Atmosuharto dan Latar Genealogis

B.R. Ayu Atmosuharto merupakan tokoh perempuan bangsawan yang memiliki kedudukan penting dalam silsilah keluarga Jawa priyayi. Beliau adalah:

Cucu dari K.G.P.A.A. Mangkunagoro II

Istri kedua R. Ngabehi Atmosuharto

Ibunda dari R. Ayu Soenartinah Gitodiprodjo

Nenek buyut dari R. Ayu Gitodiprodjo

Leluhur langsung dari dr. R.M. Soedjarwadi, yang merupakan kakek dari garis ibu penulis tradisi ini

Dari pernikahan pertama R. Ngabehi Atmosuharto, lahir p**a Kangjeng Raden Ayu Adipati Sedahmirah Mayangsari, Pengageng Keputren dan Priyantun Dalem (selir) Sri Susuhunan Pakubuwono IX, yang makamnya berada di kawasan bekas Kraton Kartasura.

Keseragaman bentuk nisan makam B.R. Ayu Atmosuharto dengan makam dua saudara kandungnya—R. Ngabehi Wirodiprodjo dan R. Ngabehi Hardjodiprodjo—di Astana Kendaran menunjukkan adanya paugeran keluarga dan peneguhan identitas trah bangsawan Jawa.

---

Kesaktian, Kaprigelan Dagang, dan Asal-usul Tradisi

Secara tutur lisan keluarga, B.R. Ayu Atmosuharto dikenal sebagai sosok perempuan sepuh yang:

Memiliki kesaktian

Ahli berdagang

Piawai dalam tata kelola keuangan

Kaprigelan inilah yang diyakini menjadi latar munculnya tradisi nyekar dengan takir berisi uang, bukan sebagai bentuk pemujaan, melainkan sebagai ngalap piwulang dan ngalap berkah, agar para peziarah dapat meneladani kecermatan, kecerdasan, dan ketenangan berpikir beliau dalam mengelola rezeki.

---

Takir: Wadah, Simbol, dan Filsafat

Takir adalah wadah tradisional yang terbuat dari daun pisang, dibentuk dengan melipat dua sisi secara seimbang lalu dikunci menggunakan lidi tajam agar dapat berdiri kokoh dan tidak tumpah.

Secara etimologis, takir dimaknai sebagai:

> “nata” dan “mikir” — menata dan berpikir

Maknanya, manusia dalam menjalani kehid**an harus senantiasa:

Menata langkah dengan cermat

Mempertimbangkan setiap keputusan

Berpikir tenang, mendalam, dan berhati-hati

Takir yang baik tidak boleh tinggi sebelah, robek, atau timpang, karena akan menyebabkan isinya tumpah. Hal ini menjadi perlambang bahwa hidup harus dijalani dengan keseimbangan, keselarasan, dan harmonisasi, agar tidak “njomplang” atau berat sebelah.

Lidi yang tajam dan keras berfungsi sebagai pengunci, melambangkan keteguhan prinsip dan ketetapan pendirian agar manusia tidak mudah goyah.

Bentuk takir yang menyerupai perahu juga mengandung makna filosofis bahwa kehid**an adalah bahtera yang harus diarungi dengan kesiapan lahir dan batin.

---

Bunga Mawar Merah-Putih dan Uang Bernominal Sama

Dalam tradisi nyekar ini:

Bunga tidak dipritili, melainkan diletakkan utuh

Digunakan mawar merah dan putih

Ditempatkan dalam tiga takir (bilangan ganjil)

Setiap takir diselipi uang kertas dengan nominal yang sama

Mawar merah melambangkan semangat, daya hidup, dan keberanian, sedangkan mawar putih melambangkan kesucian niat dan kebeningan batin. Keduanya menyatu sebagai simbol keseimbangan lahir-batin.

Uang yang diselipkan bukanlah sesaji dalam arti materi, melainkan simbol tata pikir keuangan yang adil, seimbang, dan tidak serakah, selaras dengan piwulang hidup B.R. Ayu Atmosuharto.

---

Manusia, Alam, dan Keselarasan

Penggunaan daun pisang sebagai wadah mencerminkan hubungan manusia Jawa dengan alam:

Praktis

Mudah terurai

Kembali ke tanah

Ini menegaskan pandangan hidup Jawa bahwa manusia, alam, dan leluhur adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

---

Penutup

Tradisi nyekar di makam B.R. Ayu Atmosuharto bukanlah praktik klenik, melainkan warisan nilai, etika, dan filsafat hidup. Melalui takir, bunga, dan simbol uang, generasi penerus diajak untuk:

Nata pikir

Nata laku

Nata rezeki

Melestarikan tradisi ini berarti nguri-uri kabudayan Jawa adiluhung, menjaga kesinambungan sejarah, dan merawat identitas kultural agar tidak terputus oleh zaman.

---

29/10/2025

🌈 Tujuh Cakra versi Kejawen lan Warna-warnane

1. Cakra Bumi / Cakra Puser (Muladhara)

Letak: Ing dasar weteng, cedhak sangga bumi (perineum)

Warna: Abang (merah)

Makna:

Daya urip, kekuatan ngadhepi urip, semangat.

Laku: nguwasani hawa nepsu lan rasa wedi.

Paribasan: “Wong urip kudu kuwat nanging ora angkuh.”

---

2. Cakra Segara / Cakra Napsu (Svadhisthana)

Letak: Ing sangisore pusar

Warna: Jingga (oranye)

Makna:

Rasa seneng, kreatifitas, gegayuhan, lan hubungan karo liyan.

Laku: ngendhaleni kepinginan supaya ora dikuasani napsu.

Pepatah: “Ngresiki rasa saka rereget hawa.”

---

3. Cakra Surya / Cakra Manah (Manipura)

Letak: Ing weteng tengah (solar plexus)

Warna: Kuning emas

Makna:

Daya cipta, rasa percaya diri, lan kekuwatan tumindak.

Laku: nglatih kemantapan lan tanggung jawab.

Ungkapan: “Cipta kudu wus, rasa kudu tembus.”

---

4. Cakra Rasa / Cakra Katresnan (Anahata)

Letak: Ing tengah dhadha (jantung)

Warna: Ijo padhang (hijau lembut)

Makna:

Asih, welas, lan katresnan sejati.

Laku: nglebur rasa benci, ngupaya sepi ing pamrih.

Falsafah: “Urip mung sedhela, aja ngrusak rasa.”

---

5. Cakra Sabda / Cakra Tenggorokan (Vishuddha)

Letak: Tenggorokan

Warna: Biru langit

Makna:

Kejujuran, kabeningan sabda, lan kasucian pikiran.

Laku: ngendhaleni tembung, ngucap sing adhedhasar rasa suci.

Paribasan: “Sabda dadi, tembungmu tenger jiwamu.”

---

6. Cakra Pangrasa / Cakra Mata Katelu (Ajna)

Letak: Ing bathuk antarane alis

Warna: Biru nila (indigo)

Makna:

Kawicaksanan, pancer rasa sejati, pangrasa batin sing jero.

Laku: eling, waspada, lan nyawiji antarane cipta–rasa–karsa.

Pepatah: “Wruh tan kena kinira, krasa tan kena kinaya ngapa.”

---

7. Cakra Puncak / Cakra Mahkota (Sahasrara)

Letak: Ing pucuk sirah

Warna: Putih / Ungu lembut

Makna:

Manunggaling kawula karo Gusti, kasampurnan rasa.

Laku: sepi ing pamrih, rame ing gawe, nyawiji marang Sangkan Paraning Dumadi.

Falsafah: “Urip saka Gusti, bali marang Gusti.”

---

🕉️ Kesimp**an Filosofis

> Laku nembus cakra iku dudu mung meditasi, nanging ngolah cipta, rasa, lan karsa supaya manunggal.

Yen biru wis padhang, tegese sabda lan rasa wis linuwih — wong wis bisa ngucap kanthi wijang, dadi pepadhang tumrap sesami.

Mengenal wuku tambir🧭 Narasi Kepribadian LengkapOrang yang lahir pada Sabtu Wage – Wuku Tambir memiliki kepribadian yang...
12/09/2025

Mengenal wuku tambir

🧭 Narasi Kepribadian Lengkap

Orang yang lahir pada Sabtu Wage – Wuku Tambir memiliki kepribadian yang unik, kompleks, dan penuh dinamika batin.

1. Sifat Dasar

Mereka cenderung disenangi banyak orang, membuat suasana jadi menyenangkan, tetapi karakternya sulit ditebak. Ada sisi serius yang tersembunyi di balik sikapnya yang tampak tenang. Dalam hidup, sering terlihat kaku hati dan tidak s**a berpura-pura.

2. Watak dan Karakter

Menarik tetapi angkuh – mudah membuat orang kagum, namun kadang terkesan dingin.

Setia dan penurut – bisa menjadi sahabat atau pasangan yang dapat diandalkan.

Kurang inisiatif mencari nafkah – perlu dukungan atau dorongan agar tetap semangat bekerja.

Pikiran pendek – kadang mengambil keputusan tergesa-gesa sehingga mudah salah langkah.

Mudah gelap pikiran – saat emosi bisa sulit mengendalikan diri, sehingga rawan difitnah atau bermasalah dengan orang lain.

3. Kekuatan Batin dan Spiritualitas

Weton ini membawa daya wibawa alami (Rudra) yang membuatnya disegani.
Ia juga memiliki wawasan luas, rejeki yang cenderung cukup, dan sifat pendeta – s**a menyendiri, merenung, atau mencari makna hidup.

4. Sisi Lain yang Harus Diwaspadai

Mudah kehilangan semangat (Tambir Lesu Sarirane), sehingga perlu menjaga motivasi.

Batinnya tidak selalu tenang, ada pergolakan yang membuatnya sulit merasa puas.

Sering dijahili atau diprovokasi – perlu berhati-hati terhadap orang sekitar yang iri.

5. Arah Rejeki dan Kehid**an

Baik untuk mencari nafkah, bertani, atau menanam pohon – cocok bagi yang berhubungan dengan alam dan bisnis produktif.

Baik juga untuk berguru ilmu batin atau spiritualitas.

Waktu wuku Tambir berlangsung, disarankan tidak bepergian ke arah barat daya untuk menghindari sial.

6. Simbol-Simbol Hidup

Dewa: Bethara Siwah – melambangkan kekuatan transformasi, perubahan batin.

Burung: Prenjak – punya cita-cita tinggi, tidak mau hidup biasa-biasa saja.

Pohon: Upas – menjadi peringatan agar tidak terlalu dijadikan sandaran orang lain; harus belajar mandiri.

---

📝 Kesimp**an

Secara umum, seseorang dengan Weton Setu Wage – Wuku Tambir adalah pribadi yang berwibawa, menarik, dan penuh potensi spiritual, tetapi perlu melatih kesabaran, mengendalikan emosi, dan menjaga semangat hidup agar tidak mudah kehilangan arah.
Bila dikelola dengan baik, ia bisa menjadi pribadi yang kuat, mampu menginspirasi, dan membawa kesejahteraan bagi keluarga.

---

🛕 Rekomendasi Laku Tirakat & Amalan

1. Hari & Waktu Baik

Hari baik: Selasa Kliwon, Kamis Legi, dan Jumat Wage.

Waktu baik: menjelang subuh (jam 04.00–05.00) atau menjelang maghrib (jam 17.00–18.00).

Hindari bepergian jauh ke arah barat daya saat wuku Tambir sedang berjalan (± 7 hari).

---

2. Laku Tirakat

Puasa mutih (hanya makan nasi putih & air putih) 1 hari sebelum weton (hari Jumat).

Malam weton (malam Sabtu Wage), lakukan tirakatan:

Menyalakan kemenyan atau d**a secukupnya.

Menyiapkan nasi pulen/nasi uduk, lauk pindang bebek atau ayam (sebagai sesaji).

Air putih dalam kendi atau gelas bening.

Letakkan di tempat yang bersih, di ruang tengah atau halaman rumah.

---

3. Doa & Dzikir

Membaca doa selamat:
“Allahumma bariklana fi rizqina wa qina ‘adzabannar”
(Ya Allah, berkahilah rezeki kami dan jauhkan dari siksa neraka).

Bisa juga menambah sholawat pendek:
“Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad” dibaca 33 kali.

Bagi yang mengikuti tradisi Jawa Kejawen, cukup hening, sambil wirid mantram “slamet pina” dalam hati, memohon keselamatan lahir batin.

---

4. Simbol & Media Spiritual

Pisau baja & jarum satu: diletakkan di sesaji sebagai simbol menolak bala.

Bunga setaman (melati, mawar, kenanga) direndam di air dan dipakai untuk cuci muka setelah tirakatan → untuk “ngilangke sengkolo” (buang sial).

---

5. Laku Harian

Rajin sedekah kecil (nasi bungkus atau air minum untuk orang yang membutuhkan).

Menanam pohon buah atau tanaman produktif di sekitar rumah → menarik rejeki & keberkahan.

Usahakan tidak cepat marah, karena Setu Wage cenderung emosional → latih sabar dengan meditasi pernapasan atau sholat khusyuk.

---

6. Fokus Perjalanan Hidup

Mencari ilmu batin atau spiritual akan sangat cocok dan mendukung ketenangan jiwa.

Membangun usaha di bidang pertanian, makanan, atau sesuatu yang “menghidupi” orang banyak akan membawa keberkahan.

Wong jowo lali jawane. Ayok kita lawan yg punya kesulitan ttg  hurufJawa merapat. Kita bantu.
11/09/2025

Wong jowo lali jawane. Ayok kita lawan yg punya kesulitan ttg hurufJawa merapat. Kita bantu.

🏯 Legenda Mitos: Lahiré Mataram saka Sabda Leluhur🌿 Asal-usul Leluhur MataramWong Jawa yakin, Kerajaan Mataram ora mung ...
23/07/2025

🏯 Legenda Mitos: Lahiré Mataram saka Sabda Leluhur

🌿 Asal-usul Leluhur Mataram

Wong Jawa yakin, Kerajaan Mataram ora mung didegaké nganggo kekuwatan lahir, nanging ya kekuwatan batin lan restu leluhur. Leluhur penting yaiku:

1. Ki Ageng Sela – Leluhur Mataram

Miturut babad, Ki Ageng Sela iku sosok sakti asal Sela (Grobogan).

Kisah mitos: Ki Ageng Sela bisa nangkap kilat nganggo tangan kosong nalika ana petir ndhedhet.

Dadi panutaning para wali lan ratu Jawa, dikenal minangka tokoh linuwih (sakti mandraguna).

Putu Ki Ageng Sela yaiku Ki Ageng Pemanahan, pangadeg cikal bakal Mataram.

---

🔥 Jaka Tingkir Ngasorake Buaya Putih

Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), raja Pajang, nalika isih muda dudu wong sembarangan.

Ing sawijining mitos: nalika nyebrang Bengawan, perahune dibalèkaké buaya putih raksasa.

Nanging Jaka Tingkir bisa ngalahaké buaya putih iku mung nganggo kekuatan batin (kadigdayan), buaya banjur tundhuk dadi penjaga gaib Pajang.

Dadi tandha yen Jaka Tingkir wis ditampi alam niskala dadi raja sah.

---

🌾 Sabda Gaib Alas Mentaok

Ki Ageng Pemanahan, mènèhi jasa gedhé marang Pajang amarga mbantu Jaka Tingkir nundhuk Arya Penangsang.

Dadi ganjaran, oleh tanah Alas Mentaok (Yogya saiki).

Nanging tanah iku dikenal angker lan wingit, dadi alas lebat sing dihuni makhluk gaib.

Sadurung digarap, Ki Ageng Pemanahan semedi suwe, "nyuwun ijin marang penghuni gaib" alas kasebut.

Babad nyebut, Ki Ageng Pemanahan diparingi wangsit yen keturunané bakal ngadegaké kerajaan agung ing kana – yaiku Mataram.

Address

Surakarta

Telephone

+6288215461849

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share