Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo

Call

Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo buku SD SMP SMU perguruan tinggi
buku berbahasa Jawa
filsafat
al Qur'an
dokumen kuno
surat kuno
materai perangko kuno
dokumen kraton

05/07/2026
dr pada mikir negara yg makin amburadul. nich ada resep utk sakit gigi asam urat cespleng. bahanya cuma daun keres satu ...
02/07/2026

dr pada mikir negara yg makin amburadul. nich ada resep utk sakit gigi asam urat cespleng. bahanya cuma daun keres satu genggam diseduh dg air kopi satu gelas. wis cespleng buat yg sedang sakit gigi atau asam urat yg SDH sampai TDK bisa jalan.

tombak dg besi Keleng lumer
08/06/2026

tombak dg besi Keleng lumer

04/05/2026

Uang punya aura tersendiri

Orang Jawa pasti tahu ini namanya
11/02/2026

Orang Jawa pasti tahu ini namanya

Gagak Rimang yaiku jeneng kuda tunggangané Raden Mas Said, sing mengko jumeneng dadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya...
28/12/2025

Gagak Rimang yaiku jeneng kuda tunggangané Raden Mas Said, sing mengko jumeneng dadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa).
Katrangan cekak nanging wigati:
Sing nduwèni: Raden Mas Said / Mangkunegara I
Peran: Kuda perang lan lelaku gerilya nalika perang nglawan VOC lan Kasunanan
Makna jeneng:
Gagak → ireng, tandha kewibawaan lan keteguhan
Rimang → gagah, tangguh, ora gampang wedi
Filosofi: Nyawiji antarane satria lan tunggangane; lambang tiji tibeh (mati siji mati kabeh)
Ing carita babad lan tradhisi lisan, Gagak Rimang ora mung kewan tunggangan, nanging dianggep saksi perjuangan lan simbol kesetiaan marang perjuangan R.M. Said.

Tradisi Nyekar Takir di Makam B.R. Ayu Atmosuharto: Laku Budaya, Genealogi, dan Filosofi Nata Pikir KeuanganPendahuluanB...
21/12/2025

Tradisi Nyekar Takir di Makam B.R. Ayu Atmosuharto: Laku Budaya, Genealogi, dan Filosofi Nata Pikir Keuangan

Pendahuluan

Budaya nyekar dalam masyarakat Jawa bukan sekadar ziarah kubur, melainkan sebuah laku spiritual, etika, dan kultural yang sarat makna simbolik. Di berbagai daerah, tradisi nyekar berkembang dengan ragam tata cara yang khas, diwariskan secara turun-temurun dan dijaga kesakralannya oleh trah keluarga.

Salah satu tradisi nyekar yang unik dan masih lestari hingga kini adalah tradisi nyekar menggunakan takir berisi bunga mawar merah-putih dan uang kertas bernominal sama, yang dilakukan di makam B.R. Ayu Atmosuharto, berlokasi di Astana Kendaran, Desa Kagokan, Sukoharjo.

---

Sosok B.R. Ayu Atmosuharto dan Latar Genealogis

B.R. Ayu Atmosuharto merupakan tokoh perempuan bangsawan yang memiliki kedudukan penting dalam silsilah keluarga Jawa priyayi. Beliau adalah:

Cucu dari K.G.P.A.A. Mangkunagoro II

Istri kedua R. Ngabehi Atmosuharto

Ibunda dari R. Ayu Soenartinah Gitodiprodjo

Nenek buyut dari R. Ayu Gitodiprodjo

Leluhur langsung dari dr. R.M. Soedjarwadi, yang merupakan kakek dari garis ibu penulis tradisi ini

Dari pernikahan pertama R. Ngabehi Atmosuharto, lahir p**a Kangjeng Raden Ayu Adipati Sedahmirah Mayangsari, Pengageng Keputren dan Priyantun Dalem (selir) Sri Susuhunan Pakubuwono IX, yang makamnya berada di kawasan bekas Kraton Kartasura.

Keseragaman bentuk nisan makam B.R. Ayu Atmosuharto dengan makam dua saudara kandungnya—R. Ngabehi Wirodiprodjo dan R. Ngabehi Hardjodiprodjo—di Astana Kendaran menunjukkan adanya paugeran keluarga dan peneguhan identitas trah bangsawan Jawa.

---

Kesaktian, Kaprigelan Dagang, dan Asal-usul Tradisi

Secara tutur lisan keluarga, B.R. Ayu Atmosuharto dikenal sebagai sosok perempuan sepuh yang:

Memiliki kesaktian

Ahli berdagang

Piawai dalam tata kelola keuangan

Kaprigelan inilah yang diyakini menjadi latar munculnya tradisi nyekar dengan takir berisi uang, bukan sebagai bentuk pemujaan, melainkan sebagai ngalap piwulang dan ngalap berkah, agar para peziarah dapat meneladani kecermatan, kecerdasan, dan ketenangan berpikir beliau dalam mengelola rezeki.

---

Takir: Wadah, Simbol, dan Filsafat

Takir adalah wadah tradisional yang terbuat dari daun pisang, dibentuk dengan melipat dua sisi secara seimbang lalu dikunci menggunakan lidi tajam agar dapat berdiri kokoh dan tidak tumpah.

Secara etimologis, takir dimaknai sebagai:

> “nata” dan “mikir” — menata dan berpikir

Maknanya, manusia dalam menjalani kehidupan harus senantiasa:

Menata langkah dengan cermat

Mempertimbangkan setiap keputusan

Berpikir tenang, mendalam, dan berhati-hati

Takir yang baik tidak boleh tinggi sebelah, robek, atau timpang, karena akan menyebabkan isinya tumpah. Hal ini menjadi perlambang bahwa hidup harus dijalani dengan keseimbangan, keselarasan, dan harmonisasi, agar tidak “njomplang” atau berat sebelah.

Lidi yang tajam dan keras berfungsi sebagai pengunci, melambangkan keteguhan prinsip dan ketetapan pendirian agar manusia tidak mudah goyah.

Bentuk takir yang menyerupai perahu juga mengandung makna filosofis bahwa kehidupan adalah bahtera yang harus diarungi dengan kesiapan lahir dan batin.

---

Bunga Mawar Merah-Putih dan Uang Bernominal Sama

Dalam tradisi nyekar ini:

Bunga tidak dipritili, melainkan diletakkan utuh

Digunakan mawar merah dan putih

Ditempatkan dalam tiga takir (bilangan ganjil)

Setiap takir diselipi uang kertas dengan nominal yang sama

Mawar merah melambangkan semangat, daya hidup, dan keberanian, sedangkan mawar putih melambangkan kesucian niat dan kebeningan batin. Keduanya menyatu sebagai simbol keseimbangan lahir-batin.

Uang yang diselipkan bukanlah sesaji dalam arti materi, melainkan simbol tata pikir keuangan yang adil, seimbang, dan tidak serakah, selaras dengan piwulang hidup B.R. Ayu Atmosuharto.

---

Manusia, Alam, dan Keselarasan

Penggunaan daun pisang sebagai wadah mencerminkan hubungan manusia Jawa dengan alam:

Praktis

Mudah terurai

Kembali ke tanah

Ini menegaskan pandangan hidup Jawa bahwa manusia, alam, dan leluhur adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

---

Penutup

Tradisi nyekar di makam B.R. Ayu Atmosuharto bukanlah praktik klenik, melainkan warisan nilai, etika, dan filsafat hidup. Melalui takir, bunga, dan simbol uang, generasi penerus diajak untuk:

Nata pikir

Nata laku

Nata rezeki

Melestarikan tradisi ini berarti nguri-uri kabudayan Jawa adiluhung, menjaga kesinambungan sejarah, dan merawat identitas kultural agar tidak terputus oleh zaman.

---

Address

Surakarta

Telephone

+6288215461849

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko Buku Wisnoe 23 Blk sriwedari solo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share