22/04/2026
Masjid terbuka. Kajian gratis. Nasihat tersedia. Jalan pulang kepada Allah tidak dipasang tarif. Tapi justru itu yang sering ditinggalkan.
Sebaliknya, manusia rela membayar mahal untuk hal yang merusak dirinya. Uang habis demi hiburan yang melalaikan. Waktu habis demi kesenangan sesaat. Energi habis demi sesuatu yang setelah lewat justru meninggalkan kosong. Aneh, tapi nyata. Yang menenangkan dianggap biasa. Yang menghancurkan justru dicari.
Masalahnya bukan selalu karena kita tidak tahu mana yang benar. Kita tahu. Kita cuma terlalu sering tertipu oleh apa yang terasa menarik. Yang gratis dianggap remeh. Yang mahal dianggap bernilai. Yang mudah diakses dianggap tidak istimewa. Padahal tidak semua yang mahal itu berharga. Dan tidak semua yang gratis itu murahan.
Hidayah itu gratis. Udara gratis. Waktu yang Allah beri gratis. Kesempatan sujud gratis. Peringatan gratis. Tapi semua itu bisa diremehkan oleh hati yang sudah rusak ukuran nilainya.
Jalan yang benar memang sering tidak memanjakan nafsu. Bangun subuh berat. Menahan pandangan berat. Duduk di majelis ilmu berat. Menolak maksiat berat. Tapi justru di situlah keselamatan berada. Sedangkan jalan keburukan sering terasa ringan, licin, dan menyenangkan di awal. Itulah jebakannya.
Hari ini kita hidup di zaman gratifikasi instan. Semua serba cepat, serba singkat, serba memancing dopamin. Akibatnya, yang butuh sabar terasa membosankan. Yang butuh disiplin terasa menyiksa. Lalu kita pelan-pelan lebih akrab dengan distraksi daripada dengan petunjuk.
Coba periksa lagi hidup kita. Jangan-jangan yang kita tinggalkan bukan karena tidak bernilai, tapi karena kita sudah kehilangan kemampuan untuk mengenali nilai yang sejati.
Tidak semua yang menarik itu baik.
Tidak semua yang sulit itu buruk.
Dan tidak semua yang gratis layak diremehkan.