22/05/2024
MY FIRST PAPUA
Nggak tahu ya, entah dari kapan aku mendamba ke Papua. Tapi mengingat harga tiket pesawat yang tinggi dan perjalanan yang cukup memakan waktu, tentunya mimpi itu tak mudah diwujudkan. Yang bisa kulakukan tentunya berharap semesta baik hati ada pekerjaan yang membawaku ke sana.
Dan,
Akhirnya pekerjaan membawaku ke tanah Papua. Alhamdulilah.
Walaupun sebelumnya sempat jadi perdebatan di tim, sebab buat kami pekerja politik masuk daerah konflik itu riskan, banyak kemungkinan bisa terjadi. Apalagi kali ini aku perlu memotret kondisi sosial ekonomi Masyarakat Mimika secara keseluruhan. Beberapa distrik di sana yang didominasi oleh Masyarakat pro Papua Merdeka.Tapi, entah kenapa aku tidak takut sedikitpun. Bahkan perjalanan ke Papua seperti mau ketemu kekasih yang sudah kurindukan. Aku begitu bersemangat.
Berangkat dengan pesawat paling malam dari Cengkareng menuju Makasar saya ditemani satu pengawal yang ditugaskan mendampingi selama di Papua. Perjalanan ini memakan waktu hanya dua jam dan sampai bandar udara Hasanuddin di Maros Makasar sekitar jam 1 dini hari. Kami menunggu pesawat yang membawa ke Papua sekitar dua jam dan kami terbang sekitar pukul 4 subuh. Sampai Bandar Udara Moses Kilangin pukul 8 lebih sedikit.
Setelah mencari sarapan, aku langsung istirahat di Hotel. Akupun langsung tidur dan baru bangun setelah jam 1 siang, saat pak Thobi meneleponku dan dia sudah menunggu di Parkiran.
Selama di Papua aku ditemani pak Thobi, mantan atlit Binaraga yang saat ini bekerja di yayasan yang dibuat oleh PT. Freeport Indonesia untuk kesejahteraan Masyarakat Papua.
Empat hari lamanya saya eksplore Mimika, di daerah yang masih bisa dijangkau dengan perjalanan darat. Saya berdiskusi dengan banyak tokoh kampung dan juga pendatang. Apa harapan mereka terhadap kepemimpinan Mimika ke depan, apa yang saat ini mereka rasakan dan banyak materi diskusi termasuk Gerakan Papua Merdeka di mata mereka.
Pada akhirnya, masalahnya klasik sekali, masalah perut yang lapar dan kebijakan yang tidak adil untuk Masyarakat lokal.
Mobil kami sempat dihadang segerombolan pemuda yang meminta uang tapi ketika melihat pak Thobi di sebelahku, mereka mengurungkan niatnya dan membiarkan kami kembali melaju. Di daerah dermaga, anak - anak kecil menghampiriku dan meminta uang jajan. Konon itu yang selalu mereka lakukan kalau melihat orang asing dari kota. Miris ya ? tapi ya kurasa itu natural saja untuk anak-anak usia dibawah tujuh tahun.
Hasil laut yang melimpah, lahan yang masih luas serta SDM yang biasa kerja keras menjadi modal untuk membangun Mimika. Masalah OPM itu mungkin tidak akan pernah ada kalau perut mereka dikenyangkan, hak mereka dipenuhi dan kurangi kepentingan petinggi di Jakarta.
Papua adalah Berkat Tuhan untuk bangs aini, semestinya dirawat dengan lebih baik, dipoles dengan hati dan segenap cinta kasih.
Oh ya, aku sempat mampir di Kuala Kencana kota modern yang dibangun oleh freeport. Dihuni oleh para karyawan Freeport dengan tata hunian yang nyaman sekali. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk, kalaupun masuk harus mengikuti sekian banyak prosedur yang mereka terapkan. Lagi – lagi aku tak membutuhkan keribetan itu masuk Kuala Kencana dengan diantar pak Thobi. Rupanya dia cukup dikenal oleh petugas .
Pada akhirnya perjalanan ke Papua ini aku lakukan sebelum aku akan menyanggupi terlibat di tim pemenangan salah satu kandidat terkuat Pilkada tahun ini. Menjadi komandan perang di medan perang sudah biasa bagiku, tapi di musim Pilkada kali ini sepertinya aku memilih Mimika dan Kutai Barat sebagai medan perang yang kupilih. Bagaimanapun penentuan seorang kepala daerah adalah penting untuk kemajuan sebuah daerah. Mengawal seorang kepala daerah agar memimpin dengan adil dan bijaksana harus dimulai dari saat dia berjuang menduduki tampuk kekuasaan itu.
Semoga semesta memberi kemudahan dan Tuhan berpihak pada perjuangan ini.
Gusti Mberkahi .
Ada mau pesen koteka ?