AMRI Wonosobo

Call Website Contact the business

AMRI Wonosobo ANGKATAN MUDA RIFA'IYAH untuk umum

https://www.instagram.com/p/DegdvKMj0mU/?img_index=1   *DULU RIFA’IYAH DICURIGAI, TETAPI KINI DICARI*Rifa’iyah memiliki ...
18/10/2026

https://www.instagram.com/p/DegdvKMj0mU/?img_index=1

*DULU RIFA’IYAH DICURIGAI, TETAPI KINI DICARI*

Rifa’iyah memiliki perjalanan sejarah panjang dalam menjaga ajaran dan tradisi keilmuan Islam. Berawal dari dakwah KH. Ahmad Rifa’i (1786–1875), gerakan ini pernah menghadapi tekanan sejak masa kolonial Belanda hingga masa Orde Baru.

KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Manado akibat perjuangannya pada masa kolonial. Pada 1967, jemaah Rifa’iyah di Meduri, Pekalongan, mengalami pembubaran salat Jumat. Tekanan berlanjut pada 1980–1981 melalui pelarangan ajaran Islam Alim Adil dan penyitaan kitab-kitab karya beliau di sejumlah wilayah.

Berbagai upaya dilakukan untuk meluruskan stigma, termasuk melalui Seminar Nasional di Yogyakarta pada 12–13 Desember 1990. Perjuangan panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengakuan terhadap KH. Ahmad Rifa’i, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2004.

Kini, Rifa’iyah terus berkembang melalui kegiatan dakwah, pendidikan, dan pelestarian warisan intelektual. Kitab-kitab Tarajumah yang dahulu pernah dicurigai dan disita kini kembali ditelusuri, didokumentasikan, didigitalisasi, serta dipelajari.

Perjalanan ini menunjukkan perubahan penting dari menghadapi kecurigaan menuju upaya memahami dan melestarikan warisan keilmuan.

📖 Baca selengkapnya di *rifaiyah.or.id*

14/10/2026

Monggo Dipedomani

29/09/2026

Memperingati Tragedi G 30 S/ PKI

25/09/2026
*Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh*Dalam rangka menyemarakkan **Hari Lahir (Harlah) Angkatan Muda Rifa'iyah (A...
19/09/2026

*Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh*

Dalam rangka menyemarakkan **Hari Lahir (Harlah) Angkatan Muda Rifa'iyah (AMRI) ke-25**, sekaligus sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kemandirian ekonomi organisasi, Pengurus Pusat AMRI melalui **Lembaga Usaha PP AMRI** telah memproduksi **Kaos Harlah AMRI ke-25**.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengajak seluruh jajaran pengurus, kader, dan rekan-rekan AMRI di seluruh Indonesia untuk turut menyukseskan Harlah AMRI ke-25 dengan **membeli dan mengenakan Kaos Harlah AMRI ke-25**.

Pembelian kaos ini diharapkan tidak hanya menjadi bentuk partisipasi dalam menyemarakkan momentum Harlah, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan nyata terhadap penguatan **kemandirian ekonomi dan pengembangan usaha organisasi** melalui Lembaga Usaha PP AMRI.

Kami berharap seluruh jajaran AMRI dapat mengambil bagian dalam gerakan ini dengan memesan dan mengenakan Kaos Harlah AMRI ke-25, sehingga semangat **khidmah, kebersamaan, dan kemandirian organisasi** dapat semakin tumbuh dan dirasakan oleh seluruh anggota AMRI dimanapun berada.

**Selamat Harlah AMRI ke-25.**
**Bersama AMRI, Bergerak, Berkhidmah, dan Mandiri.**

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

*Koordinator Lembaga Usaha PP AMRI*
Abdul Munif dj

18/09/2026

Amri Baranusa Bakorda Wonosobo

Semoga hasil maksud
18/09/2026

Semoga hasil maksud

*MAULID BUKAN PANGGUNG UNTUK KEBODOHAN BERKEDOK KREATIVITAS*Ada sesuatu yang harus ditegaskan tanpa basa-basi: pertunjuk...
15/09/2026

*MAULID BUKAN PANGGUNG UNTUK KEBODOHAN BERKEDOK KREATIVITAS*

Ada sesuatu yang harus ditegaskan tanpa basa-basi: pertunjukan dalam Simbang Kulon Night Carnival 2026 tidak layak dibenarkan hanya karena diklaim sebagai budaya, kreativitas, atau bagian dari perayaan Maulid. Visualisasi sosok menyeramkan, simbol yang diasosiasikan dengan okultisme, serta adegan penyembelihan kambing dalam sebuah acara yang membawa nama Maulid Nabi adalah bentuk ekspresi yang tidak sesuai dengan nilai, adab, dan semangat peringatan kelahiran Rasulullah SAW. MUI bahkan secara tegas menyatakan bahwa pertunjukan semacam itu bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan peringatan Maulid. (MUI - Majelis Ulama Indonesia)

Yang lebih memprihatinkan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi cara berpikir di baliknya. Peserta mengakui bahwa mereka kurang memahami referensi yang digunakan dan mengambil inspirasi dari YouTube karena dianggap unik. Panitia pun mengaku tidak mengetahui secara rinci konsep pertunjukan tersebut. (detikcom) Ini bukan sekadar kekurangan teknis. Ini adalah persoalan literasi. Bagaimana mungkin sebuah pertunjukan yang telah dipersiapkan, dikostumkan, dikoreografikan, dan ditampilkan di ruang publik tidak melalui pertimbangan serius mengenai makna simbol yang digunakan?
Di sinilah istilah “kreativitas” tidak boleh dijadikan tameng untuk membenarkan kebodohan. Kreativitas tanpa pengetahuan adalah kecerobohan. Budaya tanpa kritik adalah pengulangan. Dan ekspresi keagamaan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi penyimpangan dari nilai agama yang justru hendak dibawa.

Lebih buruk lagi, ketika seluruhnya dibungkus dengan nama Islam dan Maulid, publik kemudian dipaksa menerima bahwa apa pun yang dilakukan dalam konteks tersebut adalah bagian dari budaya yang harus dihormati. Tidak. Ada batas yang harus ditegakkan. Islam tidak membutuhkan pembelaan yang membenarkan segala bentuk ekspresi hanya karena pelakunya mengaku sedang merayakan agama. Justru karena membawa nama Islam, standar etik dan intelektualnya harus lebih tinggi.

Maulid seharusnya menjadi ruang untuk menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah: akhlak, ilmu, kasih sayang, shalawat, nasihat, dan penghormatan kepada kehidupan. MUI menegaskan bahwa peringatan Maulid semestinya diwujudkan melalui kegiatan yang mendidik dan mencerminkan akhlak Nabi, bukan melalui simbol-simbol yang menakutkan atau menyerupai praktik yang bertentangan dengan nilai Islam. (MUI - Majelis Ulama Indonesia)

Maka persoalannya bukan lagi “bolehkah berkesenian dalam Islam?” Tentu seni dan budaya dapat menjadi bagian dari ekspresi masyarakat. Persoalannya adalah: mengapa ekspresi yang dipilih justru menghasilkan simbol yang bertentangan dengan identitas acara, menghilangkan kekhidmatan Maulid, dan akhirnya membuat nama Islam kembali menjadi bahan perbincangan negatif?
Di tengah begitu banyak persoalan yang membuat umat Islam harus menunjukkan kedewasaan intelektual, kejadian semacam ini justru memperlihatkan wajah sebaliknya: ingin berpesta, tetapi kehilangan pertimbangan; ingin disebut kreatif, tetapi tidak memahami simbol; ingin membawa nama budaya Islam, tetapi gagal menjaga martabat Islam itu sendiri.

Dan inilah bagian yang paling memalukan: Islam tidak sedang kekurangan ajaran yang indah. Yang sering kurang adalah kedewasaan umatnya dalam mengekspresikan ajaran tersebut.
Tidak semua yang ramai adalah dakwah. Tidak semua yang disebut budaya layak dipertahankan. Tidak semua yang disebut kreativitas pantas diberi ruang. Dan tidak semua yang dilakukan atas nama Maulid otomatis menjadi representasi Islam.

Jika sebuah ekspresi justru membuat nilai Maulid kehilangan makna, maka ekspresi itu harus dikritik dan ditolak, bukan dilindungi dengan alasan toleransi terhadap kreativitas.
Islam harus menunjukkan kedewasaan, bukan kehilangan arah. Maulid harus menjadi ruang pengagungan terhadap Rasulullah, bukan panggung bagi kebodohan simbolik. Membawa nama Islam berarti membawa tanggung jawab untuk berpikir sebelum bertindak.

Sebab ketika kebodohan diberi panggung, kreativitas dijadikan pembenaran, dan agama dijadikan label pelindung, yang rusak bukan hanya sebuah acara.
*Yang dipertaruhkan adalah martabat Islam di ruang publik*

Sa'duddin Muhammad, S.Psi.,M.Psi.

26/08/2026

Address

Wonosobo

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AMRI Wonosobo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to AMRI Wonosobo:

Shortcuts

Share