Nomor 1.com

Nomor 1.com Jadi Yang Nomor 1 disini. Bersama Yesus, be Integrity people :)

08/06/2016

01062016_Mumpung Sempat
Bacaan: Galatia 6:1-10
Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita. (Galatia 6:10)

Seorang profesor diundang berbicara di sebuah markas militer. Di bandara ia dijemput seorang prajurit, Ralph. Ketika mereka berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Ia membantu perempuan tua yang kopornya jatuh dan terbuka, lalu mengangkat dua anak kecil, agar mereka dapat melihat Sinterklas. Setiap kali, ia kembali dengan senyum lebar. Profesor itu bertanya dari mana Ralph belajar hidup seperti itu. Ralph menuturkan pengalamannya saat membersihkan ladang ranjau dan menyaksikan beberapa temannya tewas di depan matanya. Ia tak tahu apakah langkah berikutnya merupakan langkah terakhir, maka ia belajar berbuat baik selagi ada waktu.

Rasul Paulus menasihati jemaat di Galatia untuk berbuat baik kepada semua orang selama masih ada kesempatan. Ia juga menasihati jemaat di Filipi, agar kebaikan hati mereka diketahui semua orang (Fil. 4:5). Ada tokoh dalam Alkitab yang dikenal akan perbuatan baiknya, seperti Timotius (Kis. 16:2), Barnabas (Kis. 11:24), dan Tuhan Yesus (Kis. 10:38). Perbuatan baik menjadi kesaksian yang dapat membawa orang kepada Tuhan. Dengan bertolong-tolongan, hidup mereka juga menjadi lebih ringan, sesuatu yang sangat diperlukan oleh jemaat pertama yang mengalami banyak tekanan.

Kesempatan datang hanya satu kali, setelah itu berlalu dan tidak bisa diulangi kembali. Karena itu, lakukanlah kebaikan yang bisa kita lakukan hari ini sesuai dengan kemampuan kita. Mungkin ini kebaikan terakhir yang dapat kita lakukan atau yang dapat dialami orang itu. --Lim Ivenina Natasya/Renungan Harian

Kesimpulan: JADIKAN SETIAP KESEMPATAN SEBAGAI KESEMPATAN UNTUK BERBUAT KEBAIKAN.

Bacaan Setahun: Ezra 1-2

08/06/2016

31052016_Tuhan tidak Buta
Bacaan: Lukas 7:
Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" (Lukas 7:13)

Mata yang berlinang-linang biasanya menandakan dukacita. Air mata yang menetes pelan, apalagi ditambah dengan raut wajah yang muram, bukankah itu menandakan kepiluan hati?
Tetesan air mata dukacita itulah yang dialami oleh janda di kota Nain ini. Ia baru saja kehilangan anak laki-laki yang tentu saja sangat dikasihinya. Ia pun sedang berjalan menyertai orang-orang yang sedang menggotong mayat anaknya itu menuju pekuburan. Ibu itu berlinang air mata dan Yesus secara tidak terduga melihat dan merasakan kepiluan hati ibu itu. Bisa jadi Yesus pun menitikkan air mata-Nya.
Dengan spontan Yesus menghampiri ibu itu dan menghiburnya. Setelah itu? Yesus mendekati usungan itu dan membangkitkan anak itu dari kematian. Dukacita mendalam mungkin membuat ibu itu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, tapi tetesan air mata itu sudah cukup untuk menggerakkan hati Yesus sehingga Dia mengulurkan tangan, memberi kelegaan pada janda itu.
Kisah Yesus menolong janda itu, tanpa ibu janda itu meminta tolong sebelumnya, membuktikan bahwa Allah tidak buta dan tidak bisu melihat dukacita yang dialami umat-Nya. Demikianlah, Dia sangat memahami dukacita di hati kita. Dia merasakan perih hati kita saat kita bertahan dalam penderitaan yang kita alami. Setiap tetesan air mata kita diperhatikan-Nya dan hal itu sudah cukup untuk menggerakkan hati-Nya menolong kita. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian

Kesimpulan: SETIAP TETESAN AIR MATA DUKA KITA SANGAT DIPAHAMI ALLAH
DAN DIA SANGAT PEDULI DENGAN PENDERITAAN YANG KITA ALAMI.

Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 34-36

08/06/2016

30052016_Tuhan Saja Cukup
Bacaan: Yakobus 1:2-8
Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! (Yakobus 4:8)

Seorang teman terbaring di rumah sakit. Pagi itu seorang pendoa syafaat datang melayaninya, memberi semangat, dan berdoa untuk kesembuhannya. Sesaat kemudian, doa yang indah itu dilanjutkan dengan ritual membakar selembar "kertas kesembuhan". Abu kertas itu diaduk dalam segelas air, lalu dioleskannya di dahi teman saya, dan juga meminumkannya.
Saat ini ada beragam modus pelayanan "kesembuhan ilahi". Ada yang memercikkan "minyak urapan" yang dipercaya mujarab menyembuhkan segala jenis penyakit. Ada yang memberkati benda-benda untuk diyakini sebagai "penyalur" kuasa Tuhan. Itu semua seakan mengatakan, "Tuhan saja tidak cukup", harus ada "perantara" lain untuk mewujudkan mukjizat-Nya. Kita pasti bertanya, apakah doa dan permohonan dengan mengadopsi cara-cara seperti itu benar di mata Tuhan? Tidak cukupkah nama Yesus dan Roh Kudus yang menolong setiap doa dan permohonan kita kepada Allah Bapa? (lih. Yoh. 14:1416). Tidakkah cara-cara itu justru mencerminkan sikap mendua hati, iman yang bimbang? Tuhanlah sumber kesembuhan, bukan air abu ataupun minyak urapan. Tidakkah dengan melibatkan "perantara" lain justru mencemari kekudusan Tuhan, dan lebih dari itu mendukakan hati-Nya?
Tuhan saja cukup. Satu nama saja, Yesus, satu-satunya Sumber Kesembuhan. Marilah menahirkan tangan kita. Sucikanlah hati kita. Janganlah mendua hati. Percaya dan mendekatlah kepada Tuhan. Berdoalah kepada-Nya. Dia dengan murah hati akan mengabul kan permohonan kita. --Agus Santosa/Renungan Harian

Kesimpulan: TUHAN MENYAMBUT DOA KITA TANPA PERANTARA;
MENGAPA KITA MALAH MEREPOTKAN DIRI KETIKA DATANG KEPADA-NYA?

Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 31-33

31/05/2016

Amsal 16:7 Jika engkau menyenangkan hati TUHAN, musuh-musuhmu dijadikannya kawan. (BIS)

31/05/2016

29-05-2016
BARANG POLESAN
Bacaan: Yesaya 29:9-16
Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan." (Yesaya 29:13)
Kata orang sekarang ini zaman polesan. Kalau mobil kesayangan tergores atau penyok, tidak perlu khawatir, cukup dibawa ke tukang cat mobil. Bagian yang tergores dan penyok itu hanya perlu dikenteng, sedikit dipoles, dan dicat. Tidak perlu waktu lama, mobil kembali tampak baru. Tak jauh beda dengan kulit wajah. Noda kulit karena bekas luka atau wajah keriput karena dimakan usia pun mu dah diatasi. Cukup dengan sedikit polesan krim atau masker kecantikan, kulit wajah pun tampak kembali muda tanpa noda.
Bangsa yang buta! Demikianlah Tuhan menyebut penampilan baik yang ditunjukkan oleh umat Israel. Ya, mereka memoles kejahatan dan ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan dengan penampilan ibadah yang tampak sempurna. Dengan polesan lahiriah itu mereka bahkan berkata, "Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang akan mengenal kita?" (ay. 15). Umat ini berpikir bahwa Tuhan dapat mereka kelabui dengan polesan rohani palsu tersebut.
Jujur, acap kali hidup kita penuh dengan polesan. Kita begitu mahir memoles kebencian kita dengan senyuman hangat. Kita memoles sebuah maksud jahat dengan sapaan ramah. Kita memoles dosa kita dengan ibadah dan semangat dalam menyanyikan pujian bagi Tuhan. Tapi, semua polesan yang baik dan indah itu palsu. Kepalsuan yang mungkin bisa mengelabui mata manusia, tetapi tidak di mata Tuhan. Semua perbuatan baik, ibadah, bahkan pelayanan yang kita lakukan sama sekali tidak ada artinya jika kita melakukannya hanya untuk menutupi kejahatan hati. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian
Kesimpulan: SEINDAH APA PUN KITA MEMOLES KEJAHATAN HATI KITA,
TETAP SAJA HAL ITU ADALAH KEPALSUAN DI MATA TUHAN.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 28-30

31/05/2016

Delete Masa Lalu
Upload Masa Sekarang
Download Masa Depan.

31/05/2016

28-05-2016
KESOMBONGAN BISA MEMBUNUH
Bacaan: Amsal 16:1-9
Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman. (Amsal 16:5)
Istilah bahasa Yunani untuk kesombongan adalah hyperephania. Artinya, "membusungkan diri dengan angkuh." Orang sombong berlagak dirinya lebih baik dari orang lain karena mengira dirinya lebih hebat dari yang sebenarnya.
Kesombongan Raja Saul mengakibatkan dia berkali-kali berusaha membunuh Daud. Kesombongan Absalom mengakibatkan ia nekat mengkudeta Daud, menghampiri gundik-gundik ayahnya, dan tewas saat berperang. Kesombongan mengakibatkan kematian fisik pada sejumlah orang. Tetapi, terlebih penting, kesombongan mengakibatkan kematian rohani jutaan orang. Salah satu alasan Alkitab sangat tegas mencela kesombongan adalah karena pengaruhnya terhadap cara pandang kita kepada Tuhan. Saat kita membusungkan diri dalam kesombongan, kita mulai berlagak menjadi Tuhan, kita mencoba mengambil alih hak Tuhan. Hal ini sangat mematikan karena di mata Tuhan setiap orang yang sombong adalah kekejian; ia tidak akan luput dari hukuman. Alkitab sudah mencatat tokoh-tokoh yang meninggal dengan tragis karena membiarkan kesombongan menguasai hidupnya dan akhirnya menghancurkannya.
Kesombongan ditaklukan dengan kerendahan hati. Saat kita melatih diri bersikap rendah hati, maka saat benih kesombongan mulai muncul, kita segera sadar dan mematikannya. Kita harus terus belajar merendahkan diri dan merendahkan hati di hadapan Tuhan, agar Dia bisa memuliakan kita dan menjadikan kita saluran berkat-Nya. Jangan sampai kesombongan bertumbuh besar dalam hidup kita. Hiduplah dengan rendah hati. --Richard Tri Gunadi/Renungan Harian
Kesimpulan: SAAT KITA RENDAH HATI KITA AKAN MAMPU
MEMATIKAN SEGALA BENIH KESOMBONGAN.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 25-27

29/05/2016

27-05-2016
MENDOAKAN
Bacaan: Yakobus 2:14-26.. dan seorang dari antara kamu berkata, "Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yakobus 2:16)
Dalam forum diskusi di internet, seseorang mengirimkan posting sindiran tentang doa. "Doa adalah cara seseorang merasa sudah menolong tanpa harus repot melakukan apa-apa, " katanya. Kita mungkin tersinggung membacanya, atau, terdorong untuk merenungkan kebenaran di balik sindiran ini. Apakah ada kemalasan di balik keengganan kita mendoakan seseorang? Apakah sebetulnya kita bisa memberikan bantuan selain doa? Apakah doa kita pakai untuk "merampok" berkat yang seharusnya kita salurkan kepada orang lain?.
Teguran Yakobus dalam perikop hari ini patut kita simak. Ia mengingatkan, kalau seseorang mengaku beriman, imannya itu harus nampak melalui perbuatannya. Janganlah ada orang yang hanya memamerkan imannya dengan mulut, tapi tidak mewujudkannya secara nyata dalam hidup. Sebuah contoh ia berikan. Ada seseorang yang membutuhkan pakaian dan makanan. Tapi, orang lain yang bisa memberikan hal-hal tersebut justru hanya mendoakan dan memberikan nasihat agar orang tersebut selamat dan bisa mendapatkan kebutuhannya. Jauh lebih berguna kalau orang tersebut membantu secara nyata dengan memberikan pakaian dan makanan yang dibutuhkan.
Ketika kita tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan, kita memang harus mendoakannya. Tapi, kalau kita bisa menolongnya lebih lanjut, janganlah menahan diri. Terlebih buruk lagi kalau kemudian kita bungkus kepelitan dan kemalasan kita tersebut dengan tawaran untuk mendoakan. Itu munafik, jahat, dan merusak nama Tuhan. --Alison Subiantoro/Renungan Harian
Kesimpulan: DOAKAN MEREKA YANG MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN
DAN BERSIAPLAH MENJADI JAWABAN ATAS DOA KITA TERSEBUT.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 21-24

27/05/2016

26-05-2016
PEMELIHARAAN ALLAH
Bacaan: Yunus 2:1-10.. ketika jiwaku letih lesu didalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. (Yunus 2:7)
Full Life Commentary mencatat ada 7 mukjizat Allah dalam kisah Yunus: mengirim angin ribut (1:4); mengatur undian sehingga Yunus kena undi (1:7); meneduhkan laut (1:15); mengatur hingga seekor ikan besar menelan Yunus (1:17); memelihara Yunus tetap hidup di perut ikan selama 3 hari (1:17); membawa ikan itu menuju daratan, dan memuntahkan Yunus ke darat (2:10).
Sayangnya, ada satu mukjizat terpenting yang terlupakan oleh penulis tafsir dan banyak orang, yaitu pertobatan Yunus (2:7). Dalam pelariannya menjauhi Tuhan, seharusnya Yunus binasa. Bukankah ia telah berkeras kepala? Namun Tuhan sanggup menjamah dan mengubahkan hati Yunus. Seperti Tuhan tidak menghendaki penduduk Niniwe binasa, Tuhan juga menyayangi nabi yang memberontak dan melawan panggilanNya. Dalam kesusahan Yunus, ternyata Allah bersamanya dan setia menjaganya. Ketika jiwanya letih lesu dan terancam maut (2:6-7), doa Yunus tetap didengar Tuhan. Keberadaan Allah hanya sejauh doa. Bukankah ini sebuah mukjizat besar yang setiap hari selalu terjadi, yaitu pemeliharaan Allah atas umat-Nya? Dia selalu menjagai agar umat-Nya tidak murtad dan binasa. Siapakah yang dengan kekuatannya sendiri sanggup memelihara iman dan kesetiaannya kepada Tuhan? (bdk. Ibr. 6:4-10, Rm. 5:9).
Sikap Yunus adalah cerminan riil sikap kebanyakan orang Kristiani. Tidak peduli jika musuhnya yang berdosa binasa, tetapi berteriak memohon pertolongan ketika dirinya sendiri terancam bahaya. Mari ubah sikap hati kita yang keliru. --Susanto/Renungan Harian
Kesimpulan: MUKJIZAT TERBESAR ADALAH KETIKA ALLAH MENJAMAH
HATI KITA UNTUK BERBALIK KEPADA-NYA.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 18-20

27/05/2016

25-05-2016
NENEK SEMARANG
Bacaan: 2 Timotius 1:3-5
Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman… di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan… di dalam dirimu. (2 Timotius 1:5)
Ketika kecil, Pendeta Purboyo berlibur di rumah nenek di Semarang. Naik bus seorang diri, di terminal ia dijemput nenek. Mereka lalu naik becak. Nenek berbicara pada tukang becak tentang kehidupan setelah kematian dan keselamatan yang dijamin oleh Tuhan Yesus. Ketika tiba di rumah, nenek meminta tukang becak merenungkan percakapan tadi. Begitu masuk rumah, nenek mengajak Purboyo cilik berlutut untuk berdoa mengucap syukur.
Selain diajar berdoa, setiap hari Purboyo cilik diajak ke rumah sakit mengunjungi warga jemaat, menengok asrama putri, dan sebagainya. Pelayanan nenek hampir menyamai pelayanan seorang pendeta. Mengunjungi orang sakit, memimpin kelompok PA ibu-ibu, membawakan renungan di kebaktian wilayah. Yang mengejutkan, suatu ketika nenek bertanya pada Purboyo, ”Aku selalu memohon kepada Tuhan, agar salah satu cucuku menjadi pendeta. Kamu mau jadi pendeta?”

Timotius dilahirkan dalam keluarga saleh dari pernikahan campuran antara ayah Yunani dan ibu Yahudi (Kis. 16:1). Eunike, ibunya, seorang Yahudi yang saleh yang kemudian menjadi Kristen, sedangkan Lois neneknya lebih dahulu menjadi Kristen. Calvin berkata, ”Waktu kecil Timotius dididik sedemikian rupa sehingga kesalehan itu seakan-akan diteguk bersama-sama air susu ibunya.”

Pengaruh yang paling besar membentuk seseorang biasanya datang dari keturunan dan keluarganya. Iman memang bukan sesuatu yang diwarisi dari orangtua, namun seorang anak dapat dibimbing kepada iman melalui asuhan, teladan, dan doa orangtuanya.—HPG
Kesimpulan: KITA DAPAT MEMBIMBING ANAK MENUJU KEPADA IMAN DENGAN ASUHAN, TELADAN DAN DOA KITA
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 14-17

27/05/2016

Cinta Sejati bukan take and Give, tapi memberi tanpa mengharap untuk diberikan.
Tuhan adalah Kasih, Tuhan itu kasih adanya yang tidak memungkiri keberadaanNya.

Address

Ambon
97232

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nomor 1.com posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share