08/08/2023
KENAPA UKM SULIT MENGAKSES PERMODALAN (KREDIT BANK ATAU INVESTOR)
Saya memerlukan masukan darinya karena pengalamannya di bidang jasa keuangan sangat panjang dan luas. Dari bank konvensional, bank syariah, pembiayaan langsung atau direct investement, investmen banking bahkan berbagai portofolio sukuk sudah fasih di kerjakannya.
Untuk itu, saya harus menunggu 2 jam hari ini di ruang tamu kantornya yang luas di lantai atas gedung BNI. Saking banyak tamu dan kerjaan.
“Kesalahan terbanyak dari para UKM apa mas?,” Demikian saya bertanya kepada seorang banker senior bank syariah nasional.
Dia menjawab pertanyaan saya, kelemahan UKM adalah dalam pembiayaan ada 2.
Pertama lemah sekali di data akunting, atau bahasa lainnya tidak akuntable. Bukan tidak bisa bisnis loh ya, mungkin sudah 10 tahun mereka berbisnis sayangnya pembukuannya sederhana sekali. Hampir tidak ada bahkan. Jadi ketika ingin dana untuk pengembangan hanya “global” saja. Perlu sekian. Sewaktu di rinci biaya untuk apa, semua kira-kira dan di masukan semuanya. Sehingga membesar dan tidak pas melulu untuk pengembangan usaha. Kita bingung sekali dengan “raport” mereka di pembukuan ini.
Kedua mereka tidak memahami sisi lain dari dunia mereka. UKM perlu uang namun pemilik dana perlu “keamanan”. Mereka tidak faham arti kata “investor ingin uangnya aman”. Karena menurut mereka peluang dan lagi2 menurut mereka ini aman. Tapi dari sisi kacamata peminjam atau investor tidak aman karena mereka terlalu global penjelasnya.
Sisi aman dari kacamata pemberi dana tidak mereka pahami, padahal kalau mereka memahami sisi ini maka dana akan mereka dapatkan dengan mudah.
Maksudnya?
Saya bertanya untuk penjelasan arti kata “dengan mudah”.
Begini penjelasannya
Jika UKM itu perlu modal, dari kacamata pemilik dana modal tersebut bukan untuk mengcover sebuah kegiatan bisnis yang lagi “down trend”, tetapi untuk pengembangan usaha yang lagi “up trend”. Ini yg harus di pahami betul bagi para UKM, pemilik modal hanya mau berinvestasi di bisnis yang “up trend”.
Kebanyakan UKM mencari dana karena “perlu dana”, ada masalah keuangan seperti cash flow tidak lancar. Mereka mau “top up” naikan pemodalan namun tidak meningkatkan sales penjualan atau omzet, hanya untuk “balik” normal lagi.
Kalau mereka perlu dana untuk pengembangan pasti omzet naik, bukan omzet tetap. Misalnya omzet sebulan 50 juta, karena tagihan banyak macet dan bayaran mundur mereka perlu pinjam 50 juta. Ketika di pinjamkan atau diberi tambahan modal apakah sales jadi 100 juta?
PASTI TIDAK, omset tetap 50 juta, tapi cash flow menjadi “terlihat”. Tetapi dari kacamata “capital expenditure” jadi naik bebannya, mereka tidak faham itu tidak di sukai pemodal.
Lanjutkan pak, saya minta dia menjelaskan lebih dalam lagi.
Kalau untuk peminjaman model semacam begini, pasti tidak ada yang mau meminjamkan.
Tetapi Pak bisa dimintakan Aset sebagai jaminan kolateral, Saya pun bertanya lagi.
"Jaminan atau kolateral itu sesungguhnya hanya pegangan faktor psikologis agar mereka “serius” mengembalikan pinjaman, itu bukan penilaian utama" lanjut beliau.
Kalau bicara ideal dan standar prudent hampir tidak UKM yang layak untuk mendapatkan tambahan modal, alasannya.
Pertama, para pelaku UKM tidak bankable, karna tidak memiliki kolateral dan legalitas usaha.
Kedua tidak akuntable.
Pembukuan atau pencatatan transaksi bisnis tidak ada, kalaupun ada tidak rapi dan tidak bagus secara kaidah akuntansi karna masih tercampurnya masalah pribadi dengan bisnis.
Para pemilik dana lebih senang pada usaha yang sudah di atas 5 tahun dan yang akan mengembangkan usaha atau ekspansi karena lagi “up trend”, bisa jadi di kelompok ini mungkin hanya 10% yang memerlukan kelembaga keuangan. Mereka bisa membiayai pengembangan bisnisnya sendiri dari laba di tahan karna pengelolaan keuangannya sudah rapi dari awal sehingga mereka bisa di fase itu sekarang.
Mengapa di atas 5 tahun pak? Saya bertanya.
Kalau di bawah 5 tahun kemungkinan “survival”nya 50 : 50, jika ada 100 usaha UKM di tahun ke 5 tinggal 50. Bahkan di data kami yang bertahan di atas 5 tahun hanya tinggal 20 atau hanya 20%nya.
Tapi yang masih bertahan 20% ini mindset dan attitudenya memang pengusaha banget, Komitmen dan Integritasnya bagus banget. Resilence kemampuan akselarasinta bagus, jadi itu pelaku2 UKM yang bakal di modali bahkan di cari2 oleh pemilik dana.
Kalau yang 80% Pak, yang lagi fight untuk survive mengembangkan usaha bagaimana kita bisa menyalurkan dana ke mereka? saya melanjutkan pertanyaan.
"Mau aman apa berani ambil resiko?"
Dia bertanya lagi.
Jika pilihannya berani ambil resiko Pak, saya menjawab.
Minta saham kepemilikan dari para UKM tersebut sehingga bisa masuk kedalam usaha mereka dan membantu manajemen-nya, disisi ini lembaga keuangan indonesia tidak bisa masuk karna regulasi, ini ranah pembiayaan langsung atau direct investement. Jawab beliau.
Dari obrolan dan masukan beliau, tergambar dengan jelas kenapa UKM sangat sulit mengakses permodalan jika tidak mulai dipersiapkan dan ditata kelola bisnisnya dengan baik.
SEMOGA BERMANFAAT