Aceh Dagang

Aceh Dagang Bisnis & Inspirasi : wa.me/6282259384939

Usianya baru 20 tahun, tapi Mas Zalfa sudah mengelola JKW Molly Farm dengan 7 farm dan puluhan karyawan. Menariknya, per...
30/08/2026

Usianya baru 20 tahun, tapi Mas Zalfa sudah mengelola JKW Molly Farm dengan 7 farm dan puluhan karyawan. Menariknya, perjalanan ini bukan dimulai ketika sudah punya modal besar. Sejak SMP, ia sudah mencoba berbisnis ikan cupang, lalu berpindah ke daun ketapang setelah berkali-kali gagal di pembesaran ikan.

Dari daun ketapang yang dijual lewat Facebook, ia pernah menghasilkan sekitar 2 juta per bulan. Bahkan saat masih SMP, ia sudah mulai punya orang yang membantu usahanya. Uang dari bisnis tersebut kemudian kembali diputar ke ikan cupang, tapi lagi-lagi gagal. Modal pernah habis, berkali-kali rugi, bahkan pernah ditipu. Namun pengalaman itu justru membentuk mentalnya untuk tetap mencoba.

Titik baliknya datang ketika ia melihat peluang pada ikan molly. Perawatannya relatif mudah, bisa hidup tanpa filter, cepat berkembang biak, dan bisa dikawin-silangkan untuk menghasilkan jenis baru. Pasarnya pun luas. Ada ikan molly kelas biasa, ada p**a ikan kualitas kontes yang nilainya bisa mencapai jutaan rupiah per ekor. Mas Zalfa bahkan pernah meraih juara 1 dan juara 3 di kontes ikan.

Yang menarik, pertumbuhan bisnisnya tidak hanya datang dari budidaya. Mas Zalfa mulai membangun tim, merekrut host live, membagi divisi produksi, marketing, hingga pengiriman. Menurutnya, penjualan melalui live bahkan bisa menghasilkan sekitar 100 juta per bulan, jauh lebih besar dibanding ketika tidak menggunakan live. Dari sini terlihat bahwa cara menjual juga bisa menentukan seberapa jauh sebuah bisnis berkembang.

Sekarang tantangannya bukan lagi soal bagaimana memelihara ikan, tetapi bagaimana membangun organisasi dan mengelola manusia. Dari yang awalnya dikerjakan sendiri, kini bisnisnya sudah melibatkan 23 karyawan. Perjalanan Mas Zalfa menunjukkan bahwa peluang bisa datang dari hal yang terlihat sederhana, tapi akan menjadi besar ketika dijalankan dengan fokus, terus belajar, dan berani membangun tim.

Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: JKW Molly Farm

Perkara PHK massal oleh pabrik atau perusahaan bukan berita yang asing lagi. Ada pabrik mengurangi produksi, karyawan di...
23/08/2026

Perkara PHK massal oleh pabrik atau perusahaan bukan berita yang asing lagi. Ada pabrik mengurangi produksi, karyawan dirumahkan, sampai perusahaan yang akhirnya benar-benar berhenti beroperasi. Jumlah pekerja yang tercatat terkena PHK melalui sistem klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan mencapai 57.261 orang sepanjang 2024 dan melonjak menjadi 98.127 orang pada 2025. Lonjakan pada 2025 salah satunya dipengaruhi PHK massal akibat penghentian operasi Sritex. Angka itu pun merupakan pekerja yang tercatat dalam sistem klaim JKP.

Ketika sebuah pabrik besar tutup, yang kehilangan penghasilan sebenarnya bukan cuma orang-orang di balik pagar pabrik. Ada warung makan yang biasanya melayani karyawan saat istirahat, kos-kosan, tukang sayur, bengkel, penjual pulsa, laundry, sampai pedagang kecil yang selama bertahun-tahun hidup dari perputaran gaji para pekerja. Satu pabrik bisa menjadi semacam mesin ekonomi untuk lingkungan di sekitarnya. Maka ketika ratusan atau ribuan orang kehilangan gaji pada waktu yang hampir bersamaan, satu kawasan bisa ikut merasakan efeknya.

Lalu apa yang dilakukan orang setelah terkena PHK?

Sebagian mencari pekerjaan baru. Sebagian p**ang kampung. Sebagian menggunakan tabungan atau pesangon untuk bertahan beberapa bulan. Tetapi ketika proses mencari pekerjaan tidak kunjung menghasilkan, naluri bertahan hidup mulai bekerja. Uang yang tersisa harus diputar agar dapur tetap mengepul. Dan salah satu jawaban yang paling mudah terlihat adalah jualan makanan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Makanan memang menjadi salah satu usaha yang relatif mudah dipahami. Produknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, pasarnya terlihat jelas, modal awalnya bisa disesuaikan, dan keahlian dasarnya relatif mudah dipelajari dibanding harus membuka salon rambut, rental PS, bahkan kos-kosan. Akhirnya satu orang mulai jualan es teh. Tetangganya membuka gorengan. Rumah sebelah menjual seblak. Beberapa meter kemudian muncul pentol, ayam geprek, martabak mini, matcha, kopi susu, cireng, sampai ayam goreng dengan merek yang namanya sekilas sudah mirip satu sama lain. Kalau berjalan sepanjang satu gang, kadang kita seperti sedang menghadiri festival kuliner.

Makanan memang pasar yang sangat besar. Tetapi justru karena besar dan relatif mudah dimasuki, pemainnya juga luar biasa banyak. Menurut Badan Pusat Statistik melalui Statistik Penyediaan Makanan Minuman 2024, terdapat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia pada 2024. Jadi ketika seseorang memutuskan masuk ke bisnis makanan, sebenarnya ia bukan sedang masuk ke lapangan kosong. Ia masuk ke pasar yang sudah dipenuhi jutaan pemain. Masalahnya jadi rumit ketika keputusan itu dilakukan secara bersamaan oleh banyak orang dari lingkungan ekonomi yang sama.

Bayangkan sebuah pabrik mem-PHK ratusan pekerja. Mereka tinggal tidak terlalu jauh satu sama lain. Mereka menerima uang terakhir pada periode yang hampir sama. Mereka menghadapi masalah yang sama, yaitu kehilangan pendapatan tetap. Karena manusia cenderung mencari sesuatu yang familiar dan relatif mudah dilakukan, sebagian orang akhirnya mengambil keputusan yang mirip. Jualan makanan. Di dunia bisnis kondisi ini dekat dengan konsep low barrier to entry, yaitu hambatan untuk memasuki sebuah usaha relatif rendah. Tidak membutuhkan investasi mesin miliaran rupiah, pendidikan khusus bertahun-tahun, atau infrastruktur yang rumit untuk mulai berjualan.
Jangan lupa, kalau hambatan masuk rendah, kita bukan satu-satunya orang yang menyadarinya. Semua orang juga bisa masuk. Hari ini satu orang berhasil menjual 100 gelas es teh, minggu depan bisa muncul lima gerobak es teh di jalan yang sama. Seblak ramai, muncul seblak baru. Ayam geprek antre, tidak lama kemudian papan nama ayam geprek mulai tumbuh seperti jamur musim hujan.

Di sinilah sebuah gang kecil perlahan bisa berubah menjadi red ocean. Istilah red ocean diperkenalkan oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne dalam Blue Ocean Strategy. Mereka menggambarkan red ocean sebagai ruang pasar yang sudah ada dan dipenuhi banyak pemain yang berebut permintaan yang sama. Ketika pasar semakin sesak, persaingan meningkat dan peluang keuntungan serta pertumbuhan cenderung semakin kecil. Masalahnya bukan pada es tehnya. Bukan salah seblaknya. Apalagi dosa ayam gepreknya. Masalahnya adalah semua orang menjual sesuatu yang hampir sama kepada kump**an pembeli yang juga hampir sama. Lebih berbahaya lagi kalau fenomena tersebut muncul akibat PHK massal di sebuah kawasan. Sebab ketika jumlah penjual bertambah, permintaannya belum tentu ikut naik. Malah bisa terjadi kebalikannya.

BPS sendiri mencatat pada Februari 2025 bahwa 59,40% pekerja Indonesia berada di kegiatan informal, naik dari 59,17% setahun sebelumnya. BPS juga mengingatkan bahwa seseorang yang berjualan kecil, bekerja serabutan, atau menjalankan pekerjaan informal tetap dikategorikan sebagai bekerja dalam statistik ketenagakerjaan. Artinya, turunnya angka pengangguran belum selalu berarti semua orang kembali mendapatkan pekerjaan formal dengan pendapatan seperti sebelumnya. Ini yang kadang luput ketika kita melihat sebuah jalan tiba-tiba ramai pedagang. Kita melihatnya sebagai geliat kewirausahaan. Dan memang bisa jadi begitu. Tetapi dalam beberapa keadaan, ramainya usaha informal juga bisa menjadi cara orang bertahan setelah pekerjaan formalnya hilang.

Kita tidak bisa menuduh setiap penjual makanan di depan rumah adalah korban PHK. Bisa saja mereka memang sudah lama ingin berwirausaha, melihat peluang bagus, atau sengaja membangun bisnis makanan. Tetapi kalau sebuah kawasan industri kehilangan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan, lalu usaha-usaha mikro serupa bermunculan, ada dinamika ekonomi yang patut diperhatikan. Ketika modal berasal dari tabungan terakhir atau pesangon, risikonya menjadi jauh lebih besar.

Misalnya seseorang memiliki uang 20 juta. 10 juta digunakan membuka usaha makanan. Kemudian ternyata di sekitar rumahnya sudah ada enam usaha sejenis. Agar dagangan laku, harga mulai diturunkan. Kompetitor ikut menurunkan harga. Porsi diperbesar. Promo dibuat. Gratis ongkir. Beli dua gratis satu. Diskon terus diberikan sampai satu titik orang ramai membeli, tetapi yang jualan sendiri bingung keuntungannya pergi ke mana. Omzet ada. Uang lewat. Untungnya tipis. Kadang malah tidak ada. Inilah konsekuensi lain dari red ocean. Ketika produk sulit dibedakan dan pembeli mudah pindah, harga sering menjadi senjata paling gampang digunakan.

Bisnis makanan bisa sangat menguntungkan. Banyak usaha besar lahir dari dapur kecil. Kalau ingin masuk bisnis makanan, cari celah yang tidak sedang diperebutkan semua orang. Mungkin produknya berbeda. Mungkin pembelinya bukan masyarakat satu gang. Mungkin pasarnya katering kantor. Mungkin kebutuhan pabrik. Mungkin makanan beku yang dikirim keluar kota. Mungkin produk dengan umur simpan panjang. Mungkin malah kemampuan yang diperoleh selama bekerja di pabrik bisa dijual sebagai jasa, bukan dibuang lalu memulai semuanya dari nol. Orang bagian maintenance mungkin bisa membuka jasa servis. Orang administrasi bisa mengelola pembukuan UMKM. Operator desain bisa menerima pekerjaan desain. Orang gudang memahami pengelolaan stok. QC memahami standar kualitas. Sales mempunyai jaringan. Sopir mempunyai kemampuan distribusi. Kadang peluang terbaik setelah PHK justru bukan menjadi sesuatu yang benar-benar baru, tetapi menjual kemampuan yang selama bertahun-tahun sebenarnya sudah kita miliki.

Dan disinilah persiapan jauh sebelum PHK menjadi penting. Bangun keterampilan yang bisa dijual, jaringan pelanggan, dan dana darurat terlebih dahulu. OJK dalam materi literasi perencanaan keuangannya menyarankan dana darurat sekitar 3–6 kali pengeluaran bulanan sebagai cadangan menghadapi keadaan mendadak. Jadi kalau suatu hari pabrik benar-benar mengumumkan PHK, kita tidak harus memulai bisnis sambil dikejar tagihan bulan depan. Pesangon pun tidak perlu langsung dilempar seluruhnya ke gerobak yang produknya sudah dijual enam tetangga. Side hustle terbaik bukan yang baru muncul setelah keadaan darurat datang, tetapi yang pelan-pelan sudah dibangun ketika keadaan masih aman.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena ekonomi, bisnis, budaya untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Pecah Telur

Assalamu'alaikum warga Banda Aceh.Bagi yang masih pusing mikirin cucian numpuk dirumah, TOP JEZZ Laundry siap membantu A...
13/08/2026

Assalamu'alaikum warga Banda Aceh.
Bagi yang masih pusing mikirin cucian numpuk dirumah, TOP JEZZ Laundry siap membantu Anda yang tidak punya waktu dalam mengurus cucian di rumah.
Kunjungi segera outlet kami.

Call Center :
0853-4222-9105 / 0822-5938-4939

Layanan kami:
- 1 mesin 1 pelanggan
- expres 2 jam
- menggunakan Setrika uap
- menggunakan cairan khusus anti kuman

TOP JEZZ Laundry 1 Ceurih
Jln. T. Iskandar, Ceurih, Kec. Ulee Kareng, Banda Aceh
Hp : +62 821-8162-2663
Map :
https://maps.app.goo.gl/6LeCJ5sRUwAenuMS8?g_st=ac

TOP JEZZ Laundry 2 Doy
Jln. Teuku Iskandar, Gp. Doy (simpang Ilie), Kec. Ulee Kareng, Banda Aceh
Hp : +62 851-4788-7553
Map :
https://maps.app.goo.gl/N5GDsGsUMTkJLAvH7

TOP JEZZ Laundry 3 Peurada
Jln. T. Nyak Arief, Peurada, Banda Aceh
(100 mtr setelah simpang Peurada arah ke kota. atau di bawah jembatan penyeberangan)
Hp : +62 838-3427-4341
Map :
https://maps.app.goo.gl/eUXFA9vDLBdkQ8xZ8?g_st=aw

Nggak banyak masyarakat yang mengenal sosok di balik kebijakan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah Perry Warjiyo, Gu...
29/07/2026

Nggak banyak masyarakat yang mengenal sosok di balik kebijakan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia yang baru saja mengajukan pengunduran diri dari jabatannya pada Juli 2026.

Padahal selama hampir empat dekade, namanya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan ekonomi Indonesia. Ia bukan seseorang yang tiba-tiba muncul atau titipan yang langsung duduk di kursi tertinggi Bank Indonesia. Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry melewati perjalanan panjang dari seorang pegawai biasa hingga dipercaya memimpin bank sentral Indonesia. Menurut keterangan Bank Indonesia, Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tahun 1959. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya bukan pengusaha mebel besar, tapi keluarga petani. Perry merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara.

Dalam beberapa kesempatan, Perry pernah menceritakan bagaimana perjuangannya melanjutkan pendidikan. Saat ingin kuliah di Yogyakarta, sang ibu hanya mampu memberikan bekal 35 ribu, itupun uang dari meminjam. Uang itu digunakan untuk membeli formulir pendaftaran dan biaya perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta. Awalnya Perry bercita-cita menjadi dokter. Karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuatnya memilih jalan lain dengan membeli formulir fakultas ekonomi. Ia akhirnya masuk Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), lagi-lagi kampus ini...Untuk membantu biaya kuliah, Perry bahkan pernah bekerja sebagai kernet.
Dari keterbatasan itulah perjalanan panjangnya dimulai.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di UGM pada 1982, Perry melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Menurut profil resmi Bank Indonesia, ia memperoleh gelar Master of Science (M.Sc.) bidang Ekonomi Moneter dan Internasional dari Iowa State University pada 1989, kemudian meraih gelar Ph.D. bidang Ekonomi dari universitas yang sama pada 1991. Alhamdulillah, kalau yang ini lulusnya sampai S3 dan ijazahnya asli ya, lha wong dari Amerika.

Pendidikan tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia masuk ke Bank Indonesia pada 1984.

Karier Perry tidak langsung berada di posisi tinggi. Ia memulai dari bawah sebagai staf di bidang ekonomi dan moneter. Menurut data Bank Indonesia, perjalanan kariernya antara lain menjadi staf Gubernur BI pada 1995, Kepala Biro Gubernur BI pada 1998, Direktur Eksekutif IMF pada 2007–2009, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI pada 2009–2013, hingga Asisten Gubernur BI. Barulah pada 2013, Perry dipercaya menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Lima tahun kemudian, pada 2018, ia resmi dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia dan kembali dipercaya untuk periode kedua 2023–2028. Dan Memilih mundur pada pertengahan 2026.

Sebelum memegang jabatan besar, ada puluhan tahun proses belajar dan membuktikan kemampuan. Sesuatu yang saat ini sering menjadi perbincangan publik ketika melihat beberapa jabatan strategis, termasuk di perusahaan besar negara di isi oleh mereka yang bukan bidang dan kompetensinya. Masyarakat sering bertanya, apakah seseorang berada di posisi tersebut karena kompetensi dan pengalaman, atau karena memiliki kedekatan dengan orang yang berkuasa? Ah, biarakan warga yang berpikir sendiri, insyaallah kita IQnya udah naik ya…

Ingat jabatan besar bukan sekadar kursi empuk dengan fasilitas lengkap. Ada tanggung jawab besar yang melekat di belakangnya. Mengelola perusahaan negara bernilai triliunan, menjaga stabilitas ekonomi, atau mengambil keputusan yang berdampak kepada jutaan orang bukan pekerjaan yang cukup diselesaikan dengan modal kenal siapa atau asisten siapa. Negara bukan tempat uji coba bagi mereka yang belum siap.

Kembali ke Perry Warjiyo, salah satu peninggalan kebijakannya yang paling terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Menurut Bank Indonesia, QRIS diluncurkan pada 17 Agustus 2019 sebagai upaya menyatukan berbagai standar pembayaran berbasis kode QR yang sebelumnya berbeda-beda. Sebelum QRIS, setiap penyedia pembayaran memiliki kode masing-masing sehingga pedagang harus menyediakan banyak QR. Lewat QRIS, masyarakat cukup menggunakan satu standar pembayaran untuk berbagai aplikasi. Sistem ini kemudian berkembang pesat dan membantu jutaan pelaku usaha, terutama UMKM, masuk ke ekosistem pembayaran digital. Dan ini sudah bisa kita pakai di Malaysia, Thailand, Singapura, bahkan Jepang.

Sementara itu pemerintah Amerika Serikat sempat menyoroti kebijakan sistem pembayaran Indonesia, khususnya GPN, dan aturan BI terkait ekosistem pembayaran digital. Menurut laporan CNBC Indonesia, sorotan tersebut berkaitan dengan aturan BI yang mewajibkan transaksi debit ritel domestik diproses melalui lembaga switching yang berada di Indonesia serta pembatasan kepemilikan asing pada perusahaan penyedia layanan pembayaran. Kebijakan ini bertujuan menjaga kedaulatan sistem pembayaran nasional, meski sejumlah pihak menilai proses penyusunannya perlu melibatkan konsultasi yang lebih luas.

Tentu setiap kebijakan selalu memiliki ruang untuk diperdebatkan. Tetapi perjalanan Perry memberikan satu pelajaran penting, jabatan publik memang seharusnya diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas. Sebab negara tidak kekurangan orang pintar. Masalahnya adalah bagaimana memastikan orang yang tepat berada di tempat yang tepat.

Sebuah negara tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai mendapatkan posisi. Negara dibangun oleh mereka yang mampu mempertanggungjawabkan posisi tersebut. Dan mungkin inilah yang semakin dirindukan masyarakat, bukan pejabat yang terkenal karena siapa yang membawa masuk, tetapi dikenal karena apa yang sudah dibuktikan.
---

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena ekonomi, bisnis, budaya untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

PECAH TELUR

Korupsi tidak selalu datang dalam bentuk amplop atau uang yang masuk langsung ke rekening pejabat. Jalurnya bisa dibuat ...
29/07/2026

Korupsi tidak selalu datang dalam bentuk amplop atau uang yang masuk langsung ke rekening pejabat. Jalurnya bisa dibuat lebih rapi melalui perusahaan milik pasangan, anak, menantu, atau orang terdekat. Nama pejabat tidak tercantum dalam akta perusahaan, tetapi pengaruh jabatannya tetap dapat membuka proyek, mempermudah izin, mempertemukan investor, atau memberi akses yang tidak dimiliki pengusaha biasa.

Di atas kertas, pejabat tersebut terlihat tidak memiliki bisnis. Laporan kekayaannya mungkin tampak wajar. Namun di sekitar kekuasaannya, usaha keluarga tumbuh dengan cepat di sektor yang kebetulan berhubungan dengan kewenangannya. Semuanya terlihat sebagai transaksi bisnis biasa, padahal nama keluarga pejabat saja terkadang sudah cukup untuk membuat orang datang membawa tawaran.

China pernah menghadapi pola seperti ini dalam kasus-kasus korupsi besar. Salah satunya melibatkan mantan pejabat keamanan negara yang sebelumnya memiliki pengaruh kuat dalam industri minyak. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup setelah menemukan praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan. Uang dan aset senilai sekitar 129 juta yuan diketahui diterima melalui istri dan anaknya, bukan hanya oleh sang pejabat secara langsung.

Kasus lain melibatkan pejabat tinggi yang pernah berada dekat dengan pusat pemerintahan. Ia juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah terbukti menerima atau membiarkan penerimaan suap melalui anggota keluarganya. Dalam perkara itu, istri dan anaknya ikut menjadi jalur masuk keuntungan dari orang-orang yang membutuhkan bantuan atau akses kekuasaan.

Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa melarang pejabat berbisnis belum tentu menutup jalan korupsi. Perusahaan dapat dipindahkan ke nama pasangan, saham dapat dicatat atas nama anak, sedangkan kerja sama bisnis bisa dijalankan oleh menantu atau orang kepercayaan. Pejabat tetap terlihat bersih secara administratif, tetapi keluarganya menikmati manfaat ekonomi dari kekuasaan yang ia pegang.

China akhirnya memahami bahwa persoalannya bukan hanya siapa yang tercatat sebagai pemilik perusahaan. Hal yang perlu diperiksa adalah hubungan antara kegiatan ekonomi keluarga dan kewenangan pejabat. Jika keputusan seorang pejabat dapat memengaruhi bisnis orang-orang terdekatnya, konflik kepentingan sudah muncul meskipun belum ditemukan penyerahan uang.

Kesadaran itulah yang mendorong Shanghai menerapkan kebijakan ketat pada 2015. Kebijakan yang kemudian dikenal sebagai Shanghai Model tersebut membatasi kegiatan bisnis pasangan, anak, dan menantu pejabat berdasarkan tingkat jabatan, wilayah kekuasaan, serta bidang yang berada di bawah pengawasannya. Pendekatan ini dirancang sebagai pagar antara kekuasaan publik dan kepentingan ekonomi keluarga.

Aturan tersebut bukan larangan total bagi keluarga semua pejabat China untuk bekerja atau memiliki usaha. Pembatasannya dibuat bertingkat. Semakin tinggi jabatan dan semakin besar kekuasaan seseorang, semakin ketat p**a batas kegiatan bisnis keluarganya. Pejabat dengan kewenangan luas menghadapi larangan yang lebih besar karena keputusan mereka dapat memengaruhi lebih banyak sektor.

Bagi pejabat tinggi tertentu di Shanghai, pasangan dilarang menjalankan kegiatan bisnis, sedangkan anak dan menantu menghadapi pembatasan ketat untuk berusaha di wilayah tersebut. Untuk tingkatan lain, larangan diarahkan pada usaha yang berada di daerah kekuasaan, sektor pengawasan, lembaga, atau bidang yang berkaitan dengan jabatan pejabat.

Prinsipnya cukup mudah dipahami. Jika seseorang mengendalikan proyek, izin, anggaran, pengadaan, atau penegakan hukum, keluarganya tidak seharusnya menjalankan bisnis yang bergantung pada keputusan tersebut. Bukan karena seluruh keluarga pejabat pasti melakukan pelanggaran, melainkan karena negara tidak boleh membiarkan keadaan yang terlalu mudah disalahgunakan.

Pembatasannya juga tidak hanya menyasar perusahaan besar. Usaha perseorangan, kemitraan, kepemilikan saham, investasi, jabatan penting dalam perusahaan swasta, hingga kegiatan bisnis tertentu di luar negeri dapat ikut diperiksa. Dengan cakupan seperti itu, pejabat tidak cukup hanya menyatakan bahwa dirinya tidak mempunyai perusahaan.

Mereka diwajibkan melaporkan kegiatan ekonomi pasangan, anak, dan menantunya. Informasi mengenai perusahaan, investasi, kepemilikan saham, dan posisi dalam sebuah usaha harus disampaikan untuk diperiksa. Pejabat yang mengaku keluarganya tidak memiliki bisnis pun dapat dipilih untuk pemeriksaan acak agar laporan tersebut tidak berhenti sebagai formalitas.

Sebab formulir yang hanya dikumpulkan tanpa pernah diuji tidak akan banyak membantu pemberantasan korupsi. Hampir semua orang dapat terlihat bersih jika negara hanya membaca apa yang mereka tulis. Pengawasan baru berarti ketika laporan dibandingkan dengan data perusahaan, kepemilikan, investasi, dan kegiatan ekonomi yang benar-benar berjalan.

Ketika ditemukan bisnis keluarga yang melanggar pembatasan, pilihannya dibuat tegas. Keluarga harus keluar dari usaha yang menimbulkan konflik kepentingan, atau pejabatnya meninggalkan maupun menerima penyesuaian dari jabatan yang berkaitan dengan usaha tersebut. Penjelasan bahwa perusahaan dikelola secara mandiri oleh pasangan atau anak tidak otomatis menghilangkan persoalan jika bisnisnya tetap bersinggungan dengan kekuasaan.

Pada satu tahun awal pelaksanaannya, sebanyak 1.802 pejabat tingkat provinsi, kementerian, dan biro di Shanghai menjalani pelaporan khusus. Setelah diperiksa, bisnis keluarga dari 182 pejabat masuk dalam kelompok yang harus ditertibkan. Dari proses tersebut, sepuluh pejabat dicopot, sepuluh dipindahkan, satu mengundurkan diri, dan tiga lainnya diperiksa karena dugaan pelanggaran disiplin serius.

Temuan itu tidak berarti seluruh 182 pejabat terbukti melakukan korupsi. Justru kebijakan tersebut bekerja sebelum semua konflik kepentingan berkembang menjadi perkara pidana. Negara tidak menunggu uang berpindah tangan atau kerugian muncul terlebih dahulu. Ketika hubungan antara bisnis keluarga dan kewenangan sudah terlalu dekat, keadaan itu langsung ditertibkan.

Pengalaman Shanghai kemudian digunakan dalam percobaan di beberapa wilayah lain. Pada 2022, pemerintah pusat China menerbitkan aturan nasional yang mengatur kegiatan bisnis pasangan, anak, dan pasangan dari anak para pejabat. Aturan tersebut menetapkan siapa yang wajib melapor, jenis kegiatan bisnis yang dibatasi, proses pemeriksaan, serta konsekuensi ketika ditemukan pelanggaran.

Pemeriksaan juga berkaitan dengan proses promosi dan penempatan jabatan. Artinya, seseorang tidak cukup dinilai berdasarkan kemampuan dan rekam kerjanya. Aktivitas ekonomi keluarganya ikut diperhatikan untuk memastikan jabatan baru tidak menciptakan benturan kepentingan. Jika bisnis keluarga tidak dapat disesuaikan dengan aturan, pengangkatan pejabat dapat dipertimbangkan kembali.

Tentu saja Shanghai Model tidak otomatis menghapus seluruh korupsi. Kepemilikan bisnis masih mungkin disembunyikan melalui kerabat yang lebih jauh, teman, bawahan, atau perusahaan berlapis. Namun kebijakan tersebut menunjukkan keberanian untuk menutup celah yang sudah terbukti pernah digunakan, bukan membiarkannya terbuka hanya karena pelanggaran berikutnya belum terjadi.

Di situlah sisi positif langkah China. Mereka tidak berhenti pada penangkapan dan hukuman terhadap pejabat yang terbukti bersalah. Pengalaman dari kasus lama dipakai untuk mengenali pola, kemudian pola tersebut dijadikan dasar untuk memperbaiki sistem. Hukuman menyelesaikan perkara yang sudah terjadi, sedangkan pembatasan bisnis keluarga berusaha mengurangi kemungkinan kasus yang sama terulang.

Cara berpikir semacam ini terasa menarik ketika dibandingkan dengan keadaan di negeri yang sebenarnya juga tidak kekurangan pengalaman tentang konflik kepentingan. Hubungan keluarga, kepentingan bisnis, rangkap jabatan, kedekatan pribadi, dan pemberian fasilitas sudah lama dipahami sebagai keadaan yang dapat mempengaruhi keputusan pejabat.

Kita juga memiliki laporan kekayaan, lembaga pengawas, aturan, seminar, dan berbagai pedoman mengenai integritas. Namun ketika hubungan keluarga benar-benar bertemu dengan kekuasaan, batas yang seharusnya tegas terkadang berubah menjadi penjelasan yang sangat lentur.

Ada anggota keluarga yang memperoleh posisi di lingkungan kekuasaan kerabatnya. Ada p**a bisnis orang terdekat yang berkembang di sektor yang berkaitan dengan kewenangan pejabat. Kemudian muncul penjelasan bahwa semua proses telah sesuai aturan, orang yang dipilih memang memiliki kemampuan, dan usaha tersebut dibangun secara mandiri.

Penjelasan seperti itu bisa saja benar. Hubungan keluarga tidak otomatis membuktikan korupsi dan tidak berarti setiap kerabat pejabat kehilangan hak untuk bekerja atau memegang jabatan. Namun kompetensi dan konflik kepentingan merupakan dua persoalan yang berbeda. Seseorang dapat memiliki kemampuan yang baik, tetapi proses yang melibatkan kekuasaan keluarganya tetap harus diperiksa secara lebih ketat.

Semakin dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, seharusnya semakin tinggi standar keterbukaannya. Pejabat yang menghadapi keputusan mengenai anggota keluarga semestinya tidak ikut menentukan proses tersebut. Penilaian perlu dilakukan secara independen, sedangkan dasar pemilihan harus dapat diperiksa oleh masyarakat.

Prinsip yang sama seharusnya berlaku pada bisnis keluarga. Jika perusahaan milik pasangan, anak, menantu, atau kerabat bergerak di bidang yang berada di bawah kewenangan seorang pejabat, negara seharusnya tidak menunggu sampai ada penangkapan untuk mulai bertanya. Hubungan ekonominya perlu diperiksa dan konflik kepentingannya harus diselesaikan sejak awal.

Selama ini, sebuah keadaan terkadang baru dianggap bermasalah setelah ditemukan uang tunai atau bukti pidana. Padahal keuntungan dari kekuasaan tidak selalu berbentuk suap langsung. Ia bisa hadir sebagai informasi yang diterima lebih awal, izin yang lebih mudah, kesempatan proyek, akses kepada pengambil keputusan, atau jabatan yang terbuka bagi lingkaran tertentu.

Korupsi dinasti dapat tumbuh perlahan dari keadaan seperti itu. Awalnya hanya satu posisi atau satu perusahaan. Setelah kekuasaan semakin kuat, akses terhadap anggaran, proyek, perizinan, dan jaringan ikut meluas. Pada akhirnya, masyarakat kesulitan membedakan mana keputusan untuk kepentingan publik dan mana yang menguntungkan lingkaran keluarga.

Karena itu, pencegahan konflik kepentingan bukan tindakan menuduh semua keluarga pejabat bersalah. Aturan dibuat agar orang yang memiliki kekuasaan tidak ditempatkan dalam keadaan yang terlalu mudah digunakan untuk menguntungkan orang terdekat. Pejabat yang bersih pun seharusnya terbantu oleh sistem tersebut karena keputusan mereka tidak terus-menerus dicurigai masyarakat.

China menghadapi kasus besar, menemukan bahwa bisnis keluarga dapat menjadi jalur belakang, lalu membangun batas yang lebih ketat. Sementara di tempat lain, pengalaman serupa terkadang hanya menjadi berita yang ramai selama beberapa hari. Setelah klarifikasi diberikan dan perhatian masyarakat berpindah, persoalannya dianggap selesai sampai pola yang sama muncul kembali.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan contoh. Contohnya sudah terlalu banyak. Hanya saja, setiap kejadian sering dipandang sebagai kasus terpisah, sehingga pola besarnya tidak pernah benar-benar dijadikan alasan untuk memperbaiki sistem.

Shanghai Model mengirimkan pesan bahwa jabatan publik tidak boleh dipakai sebagai modal untuk membangun kekuatan ekonomi keluarga. Pejabat tidak cukup hanya terlihat bersih atas namanya sendiri. Bisnis dan kepentingan orang-orang terdekatnya juga harus dijauhkan dari wilayah kekuasaannya.

Di sana, ketika bisnis keluarga berbenturan dengan jabatan, salah satunya harus dilepaskan. Sementara di sini, hubungan antara keluarga, bisnis, dan kekuasaan masih sering disebut sebagai kebetulan selama dokumennya lengkap dan penjelasannya terdengar meyakinkan.

Padahal jika kebetulan yang sama terus berulang di sekitar orang-orang yang sedang berkuasa, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi prasangka masyarakat, tetapi pagar yang memang belum pernah dibuat cukup tinggi.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Pecah Telur

Assalamu'alaikum warga Banda Aceh.Bagi yang masih pusing mikirin cucian numpuk dirumah, TOP JEZZ Laundry siap membantu A...
26/07/2026

Assalamu'alaikum warga Banda Aceh.
Bagi yang masih pusing mikirin cucian numpuk dirumah, TOP JEZZ Laundry siap membantu Anda yang tidak punya waktu dalam mengurus cucian di rumah.
Kunjungi segera outlet kami.

Call Center :
0853-4222-9105 / 0822-5938-4939

Layanan kami:
- 1 mesin 1 pelanggan
- expres 2 jam
- menggunakan Setrika uap
- menggunakan cairan khusus anti kuman

TOP JEZZ Laundry 1 Ceurih
Jln. T. Iskandar, Ceurih, Kec. Ulee Kareng, Banda Aceh
Hp :  +62 821-8162-2663
Map :
https://maps.app.goo.gl/6LeCJ5sRUwAenuMS8?g_st=ac

TOP JEZZ Laundry 2 Doy
Jln. Teuku Iskandar, Gp. Doy (simpang Ilie), Kec. Ulee Kareng, Banda Aceh
Hp : +62 851-4788-7553
Map :
https://maps.app.goo.gl/N5GDsGsUMTkJLAvH7

TOP JEZZ Laundry 3 Peurada
Jln. T. Nyak Arief, Peurada, Banda Aceh
(100 mtr setelah simpang Peurada arah ke kota. atau di bawah jembatan penyeberangan)
Hp : +62 838-3427-4341
Map :
https://maps.app.goo.gl/eUXFA9vDLBdkQ8xZ8?g_st=aw

Address

Banda Aceh
23241

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aceh Dagang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Aceh Dagang:

Shortcuts

Share