07/11/2014
HATI-HATI PENIPUAN VIA TELPON !!!sala SAYA TELAH MENJADI KORBAN.
2 hari yang lalu, saya mendapatkan telpn dari seorang pria yang mengatasnamakan dirinya dari salah satu pengurus partai lokal aceh. No HP nya adalah asing bagi saya dan biasanya saya tidak mengankat bila ada telpon dengan nomor yang tidak tertera pada save contact HP saya. Namun, siang itu menjadi musibah dan pelajaran bagi saya. Semoga pembaca semuanya bisa mengambil p**a pelajaran ini biar tidak menjadi korban penipuan berikutnya.
Setelah saya angkat, ia berbicara dengan menggunakan bahasa daerah saya, yaitu bahasa Aceh. Sehingga saya tidak berpikir kalau ini merupakan penipuan, atau semacamnya. Saya bilang bahwa saya tidak kenal si penelpon, namun ia terus berusaha mengkonfirmasi nama saya. Berikut kira-kira percakapannya yang saya terjemah ke bahasa indonesia dari bahasa Aceh.
"Ini Rahmat khan?"
"Ia benar, saya Rahmat"
"Tinggal di Lambaro, khan?"
"Saya pengurus partai ****. Saya *****. Kamu ada daftar PNS?"
"Ia benar, saya pernah daftar"
"Sama siapa daftarnya"
"Lewat internet saya daftar. Website resmi"
"Begini, saat ini kita sedang mendata nama2 calan PNS yang dari Lambaro. Kalau bisa kita jumpa sekarang untuk kita kasih nama2 ke Bupati Aceh Besar, jangan sampai orang Lambaro tidak seorang pun lewat, padahal kita sudah dukung dia waktu kampanye kemarin. Tolong datang ke sini sebentar"
"Dimana?"
"Di Lambaro"
"Dimananya, di dekat mesjid Lambaro. Di warung kopi. Datang saja kemari"
"Baiklah. Sebentar lagi saya datang. Saya shalat dulu."
"Nggak apa2. Kita shalat di sini saja"
"Saya mau shalat di rumah. Udah mau shalat ini"
"Baiklah. Cepat sikit ya"
Setelah beberapa saat kemudian. Ia menelpon saya lagi. Saya bilang bahwa saya sedang menuju ke situ.
"Dimana sekrang?"
"Saya lagi di jalan menuju ke situ"
"Sekarang sudah sampai dimana?"
"Dipersimpangan keluar komplek"
"Saya minta tolong sebentar. Coba lihat di situ, apa ada tempat foto kopi. Tolong mampir ke situ sebentar"
"Untuk apa?"
"Tolong beli amplop putih satu kotak sbentar. Dibikinkan slip bon nya ya? Berapa biasanya satu kotak?"
"Nggak tau saya"
"Biasanya 15.000 satu kotak yang isinya 100 lembar"
"Baiklah"
"Ada uang nya khan?"
"Kalau untuk itu, saya punya"
"Nanti dibkin bon nya jangan lupa. Ne jangan DIMATIIN DULU TELPONNYA ya?"
"ya"
"Udah dimana sekrang?"
"Saya sedang beli amplopnya"
"Berapa katanya?"
"15.000"
"Suruh bikin bon nya"
"ya. ini sudah"
"Rahmat, coba kamu lihat di dekat situ. apa ada counter pulsa?"
"Kedepan lagi baru ada kounter pulsa"
"Coba tanya sama counter, berapa harga pulsa 50rb voucher fisik dan 100rb, Kalau nggak ada yng voucher fisik, coba tanya yang elektrik berapa harganya"
"baik"
"JANGAN DIMATIIN DULU HPNYA YA? BIAR SAJA SEPERTI INI HIDUP hpnya"
Singkatnya, setelah saya ke kounter HP, saya tanya harga. Trus dia suruh mencatat no 2 no HP untuk dikirim pulsa 50 sebentr. Saya langsung bilang bahw saya nggak punya duit. (saya sengaja bilang seperti ini karena saya belum jumpa orangnya). Ia meyakinkan saya bahwa ia akan datang ke kounter sebentar lagi dan bayar pulsanya ke petugas kounter. Ia bahkan bertanya kounter mana dan saya menceritakan lokasi kounter pulsanya.
Akhirnya, saya kirim pulsa 50rb ke salah satu nomor yang diberikan. Sementara, saya nomor satu lagi saya tahan dulu, tidak saya transfer dulu. Trus, si petugas kounter bilang bahwa kalau nggak bayar yang pulsa dikirim tadi, ia nggak mau mentransfer pulsa ke yang satu nya lagi. Saya segera bilang ke si penelpon apa yg dibilang sipetugas kounter. Trus, si penelpn jawab.
"Tenang saja. Sebentar lagi saya datang ke situ dengan rombongan. Ada 3 mobil rombongan nanti, bersama Abu ****** (ia menyebutkan salah satu nama ulama kharismatik Aceh). Nanti kamu cium tanggannya. Jangan, jangan kuatir uangnya, jangankan 50rb, lebih bahakan dibawa sama rombongan nanti"
Hati-hati sudah mulai merasa yang aneh. Si petugas kounter juga mengingatkan saya agar berhati-hati. Siapa tau itu adalah penipuan. Akhrinya saya sadar, dan si petugas kounterpun berbicara dengan si penelpn lewat HP saya dan bentak-bentaknya.
Setelah kejadian itu, saya segera melapor ke polisi. Namun, saya tidak berharap terlalu banyak sama kepolisian karena mereka juga mengaku ada banyak kedala dalam menangani kasus yang beginian. Pihak kepolisian juga cerita banyak ke saya bahwa modus penipuan melalui telpon itu bermacam-macam. Ada yang menggunakan modus anggota keluarga diciduk karena tertangkap norkoba, ada yang anaknya pecah kepala dan harus masuk rumah sakit, ada yang sapinya berkeliaran dan ditahan di kantor polisi (tp ketika korban nya ke kantor polisi, merka nggak tau apa-apa). Jumlah kerugian korban bahkan bisa mencapa jutaan rupiah.
Salah satu cara mengenali penipuan lewat HP adalah biasanya si penipu TIDAK INGIN HP NYA DITUTUP, tapi trus hidup dalam kondisi sedang menelpon. Kalau modus sangat banyak sekali namun susah kita kenali. Tapi, salah satu ciri-cirinya adalah seprti yang sudah saya sebutkan.
Biar lebih aman, bagusnya nggak usah diladeni/dianggkat telpon masuk yang tidak ada save contactnya. Munkgin itu sedikit lebih aman.
Semoga postingan ini bermanfaat. dan tetap terus berhati-hati.