18/10/2016
Hallo guys apa kabar,soory akhir2 ini saya banyak kesibukan makanya jarang buka halaman facebook ini.heehee...
Emm..materi hari ini berkaitan tentang yg hangat di bicarakan akhir2 ini yaitu tentang politik,saya mencoba untuk meluruskan sedikit ya...
SUMBU EMOSI.
Ini periode kesekian dalam bahasa yg berbeda2 melalui komentar pada status maupun personal chat, saya mendapatkan beberapa pertanyaan seputar keyakinan.
"Aneh kalau ada orang islam tak marah ketika agamanya dinistakan" kata teman saya.
"Sepertinya kamu cuma islam KTP" kata yg lainnya.
"Jika kamu salah pilih pemimpin yg dilarang Tuhan tunggulah sesungguhnya azab Allah sangat pedih"
Pemilu maupun pilkada sering menjadi arena yg memicu kebencian. Sosial media, televisi lebih s**a menayangkan berita2 yg memicu kemarahan. Kita ga saling kenal secara probadi bahkan ga pernah ketemu muka tapi bisa saling membenci hanya karena pemikiran kita berbeda. Ini bukan hanya dilakukan oleh remaja ABG atau anak kuliahan tapi orang2 tua yg bahkan ditokohkan sebagai tokoh bangsa dengan bahasa yg mungkin tidak dipahami kalangan tertentu, mereka lebih memilih menggunakan bajasa2 yang "mengaduk2 emosi banyak orang".
Dialog di televisi juga sama sekali tak menggambarkan dialog yg sesungguhnya yg dalam berkomunikasi mau mendengarkan argumentasi orang lain. Yang ada hanya menunggu kesempatan bicara bahkan kadang tak sabar menunggu lalu memotong saat orang lain masih bicara dan adu keras, tajam dan kasar dalam menyampaikan KENGOTOTANNYA. Apa yg diharapkan dr dialog spt ini.
Para penonton dan komentator bereaksi lebih seru lagi. Kita bisa dengan mudah membaca di ruang komentar pada berita yg melibatkan:
P.Jokowi, P.Prabowo, mbah Amin Rais, Ahok, Habib Rizieq, Jonru ginting, Fahri hamzah, Fadli zon, Donald Trump..... atau yg terakhir Mas Nusron wahid. Mereka semua tidak membenci kita secara personal, bahkan tak kenal sama sekali namun kita membicarakan, mendebatkan bahkan memaki dengan emosi yang meluap.
kita sering lupa bahwa saya, Anda dan orang lain bahkan seluruh makhluk diciptakan oleh tangan suci yang sama.
saya selalu ingat kalimat dari Prof. Komarrudin Hidayat, "Bila Al Quran di padatkan maka itu adalah Al Fatihah dan bila harus dipadatkan lagi maka yang hadir adalah Bismillah ir-Rahman ir-Rahim, dan jika harus di padatkan lagi menjadi satu maka itu adalah Ar Rahim - kasih"
"Orang Islam itu adalah orang yang telah hilang kebenciannya" Ia melanjutkan
serupa dengan apa yang tertulis di Al Kitab, bahwa Tuhan adalah Kasih dan Kasih adalah Tuhan. Jesus selalu menyerukan agar kita mengasihi musuh.
Buddha Bermeditasi bertahun-tahun mencapai Nirwana dengan mentransformasi kebodohan, keserakahan dan kebencian di dalam dirinya menjadi cinta dan welas asih.
Bukankah kita merupakan pengikut dari salah tokoh2 dan agama diatas
Akan sulit bagi kita memperoleh kebahagiaan bila kita terus memelihara kebencian.
Akan sulit bagi kita mendapat kedamaian hidup bila sepanjang jalan kita menabur kedengkian. Bagaimana mungkin kita berdoa agar orang lain di azab Allah.
akan sulit meminta media untuk mengubah berita-beritanya menjadi lebih lembut namun kita bisa memanfaatkan berita-berita tersebut menjadi sarana berlatih.
jika ada rasa benci timbul ketika membaca berita, adalah baik untuk menyadari bahwa kebencian itu berada di dalam diri.
dengan kata lain kita bisa membenci karena ada kebencian didalam diri ini.
kebencian di dalam adalah bagaikan luka, kta bisa melampiaskan dan merasa puas sementara atau kita bisa merawatnya untuk membuat hati kita menjadi wadah yang lebih lebar.
Hidup menjadi indah bukan karena hal-hal indah selalu terjadi di luar melainkan kita telah melepas kekotoran di dalam bathin.
Hidup menjadi berkah bukan karena berita yang selalu baik yang terlihat dan terdengar tetapi kita telah sampai pada kesadaran yang mampu mengolah kemarahan menjadi cinta dan kebencian menjadi welas asih. Saya menyadur dan sedikit merubah pesan bijak ini dari sahabat bijak saya Gobind vasdev.