05/11/2019
Radikalisme
Radikalisme (dari bahasa latin radix yang berarti “akar”) adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke -18 untuk pendukung Gerakan Radikal (sumber wikipedia).
Radikal/ ra-di-kal/ (1). secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang- ; (2). amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintah); (3). maju dalam berpikir atau bertindak. Meradikalkan/ me-ra-di-kal-kan/ menjadi radikal (sumber kbbi).
Apa yang kamu pikirkan tentang Radikal dan Radikalisme?
Bagaimana menerjemahkan arti sesungguhnya Radikal dan Radikalisme dalam berbahasa yang baik, benar, tepat, sesuai dengan pemahaman dan tidak bias.
Saya bahas dalam keadaan emosi karena soal Radikalisme karena pada hari Rabu, 23 Oktober 2019. Bagian pelantikan mentri Agama. Dalam berita di media sosial detik.com pada 23 oktober 2019 ditulis, “Ke 9 Bapak Jendral Fachrul Razi sebagai menteri agama. Ini urusan (Menag) berkaitan dengan radikalisme, ekonomi umat, industri halal saya kira, dan terutama haji berada di bawah beliau”. Tulisan tersebut didapat langsung dari pernyataan langsung Presiden.
Selanjutnya dalam berita di media sosial tempo.com pada 1 November 2019 dengan wawanca langsung ditulis, “Apa definisi radikalisme menurut pemahaman Anda? Radikalisme adalah orang yang berpikir menyelesaikan ketidaksepahaman atau permasalahan dengan cara kekerasan. Kekerasan dalam bentuk apapun, itu radikal. Agama menyelesaikan masalah dengan musyawarah. Jadi, kalau ada orang membawa bendera Islam, tapi bicara tentang radikal, maunya main hantam, maunya main bunug, ya udah lah, itu bukan ajaran Rasulullah itu.
Akar masalah Radikalisme jika dirunut muara awalnya yaitu Agama. Semua agama tidak mengajarkan Radikalisme. Berdasarkan data Globalregiousfutures. Jumal penduduk Indonesia pada 2010 yang beragama Islam (Muslim) sebanyak 209,12 juta jiwa atau setara 87,17 % dari total penduduk yang mencapai 239,89 juta jiwa. Banyaknya masyarakat dan potensi shaf rapat menjadi bahaya bagi musuh, baik yang didalam maupun yang diluar. Semua diadu, dikotak-kotakkan, dipecah belah menjadi banyak golongan yang kecil sehingga tidak menjadi besar dan tidak memiliki potensi kekuatan.
Jika anda ingin menulis status di beranda Facebook, maka akan keluar kata “Apa yang Anda pikirkan?”. Ide menulis ini muncul setalah mendengar seorang Presiden mengatakan kepada Menteri Agama tentang RADIKALISME. Apakah Radikalisme berhubungan erat dengan Agama, atau saling terkait, atau saling melangkapi atau bagian dari? Apakah Agama memeliki paham Radikalisme? Penduduk asli dan mayoritas adalah Islam, Apakah Radikalisme yang dimaksud adalah penduduk asli dan mayoritas?
Sampai sekarang belum terjawab? Banyak sumber berita dari yang mainstrem sampai berita pro belum menjawab secara puas maksud dan tujuan statmen tersebut walapun sudah banyak keluar berita tentang maksud dan tujuan arti Radikalisme. Sampai tulisan ini dibuat cerita pembahasa masih gantung dan akan menjadi PR yang tidak tuntas 5 tahun kedepan.
Sebuah kisah, yang saat ini tidak mencantumkan sumbernya karena dikawatirkan akan merusak tatanan sosial bermedia sosial karena kurangnnya kedewasan dan belum mampunya untuk move on sehingga terbawa perasaan (baper). Karena tulisan ini yang belum seleseai, maka kiranya perlu bantuan seorang ulama untuk dapat memberikan hadis dan peringatan kepada kita...
Barang siapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di Masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagi p**a, hadis lebih layak untuk didatangi, tetapi dia tidak mau mendatanginya, tegur ulama yang selama lebih dari 40 tahun terjaga shalat berjamaahnya di shaf terdepan di Masjid Nabawi.
Akhir dari cerita ini, sang khalifah pun akhirnya mendatangi sumber ilmu, ulama yang bernama Sa'id bin Musayyib. Masya Allah, umara diminta untuk datang ke pemilik kemulian, yaitu ulama. Bukan ulama mendatangi umara, apalagi ulama ingin masuk sekaligus dalam lingkaran umara.
Sungguh, ulama lebih banyak bertempat di kemuliaan dan kehormatan yang tinggi. Karena padanya ada ilmu-ilmu Allah dan Rasul-Nya...
Belum selseai masalah Radikalisme. Muncul masalah baru, menyisipkan doa menggunakan bahasa Indonesia, cadar, dan celana cingkrang!