26/10/2016
BURSA KERJA
Dua hari ini, kami diundang mengikuti acara "Job Fair" sebuah perguruan tinggi swasta di sentul. Ada beberapa catatan di setiap kami menghadiri bursa kerja yang menawarkan puluhan pekerjaan bagi ribuan pencari kerja.
***
Anda bisa bayangkan, lowongannya saja hanya puluhan, tapi yang melamar ribuan. Sungguh tidak mudah dan mendekati mustahil untuk bisa diterima kerja. "Pak, mau tanya, legal officer itu tugasnya apa?", begitu tanya beberapa pelamar kerja di stan kami. Dengan sabar saya menjelaskannya. Meski dalam hati saya keheraan. Ini orang mau cari kerja kok masih saja bertanya apa pekerjaannya. Heran deh! Jangan-jangan banyak pelamar yang "iseng" mengajukan lamaran kerja tanpa persiapan matang terlebih dahulu. Sehingga, tahu dan mengerti gambaran pekerjaannya pun masih jauh dari harapan. Ironis bukan! Apakah ini yang namanya generasi bangsa? Tanya kenapa!
***
Saya pun teringat ketika 3 tahun lalu menjadi dosen dan sering diminta mengisi pembekalan calon wisudawan-wati. Ketika saya bertanya, "Setelah diwisuda nanti, apa rencana Anda semua?". Kebanyakan dari mereka menjawab "Cari kerjaaaaa". Sedikit sekali mereka yang punya rencana membuka lapangan kerja. Why? Bagi mereka menjadi karyawan adalah piliham hidup nyaman daripada pengusaha yang harus berteman dengan "lumpur" dan "kotoran". Inilah potret generasi kita saat ini. Lebih-lebih di perguruan tinggi Islam. Mereka lebih nyaman menjadi karyawan daripada bersusah payah dengan kegagalan menjadi pengusaha. Saya pun waktu itu menjadi pengusaha hanya "ngelus dodo" alias sedih dan sangat khawatir akan nasib bangsa ke depan. Bagaimana mungkin Indonesia bisa mandiri seperti cita-cita Presiden Sukarno jika memilih jadi pengusaha saja tidak mau dan tidak mampu. Kita lebih s**a jadi budak di negeri sendiri. Ini FAKTA!
***
Karena itulah, saya berpesan pada para generasi muda Indonesia. Menjadi sarjana itu bentuk tanggung jawab sosial yang harus Anda jawab. Buat apa sarjana jika akhirnya menganggur. Bagi saya tidak ada pengangguran. Yang ada hanyalah mentalitas kalah. Yaitu mentalitas menghindari kesulitan dan kegagalan. Bukankah Al-Quran berpesan: "Gagalkan diri Anda dulu untuk mengantarkan ke pintu keberhasilan.". Jadi tanpa gagal, mustahil Anda akan berhasil. Menjadi karyawan pun bisa kaya jika apa yang didapatnya dibelikan aset bukan keset (alas kaki). Jadi, menjadi karyawana saja bisa kaya apalagi menjadi pengusaha. Namun, banyak di antara kita menjauhinya. Semoga bukan termasuk satu di antara kita pembaca tulisan ini. Selamat mencoba!. Bagaimana menurut Anda?.***
Jakarta, 26 Okt 2016