Sebagai sungai terbesar di Jawa Barat, Citarum mempunyai peran signifikan dalam menunjang lebih dari 8 juta jiwa manusia yang terhampar dari daerah hulu, di daerah Gunung Wayang, Kab. Fakta lainnya adalah, Citarum menyediakan lebih dari 60% air minum yang dinikmati oleh masyarakat Jakarta, serta mengairi 420,000 ha lahan pertanian yang terhampar di bagian utara Jawa Barat. Sebagai penopang kehidu
pan Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan sumber air bakunya, bahkan menerangi Jawa dan Bali dengan pasokan listriknya, Citarum terus mengalami degradasi lingkungan sejak dari hulunya di Situ Cisanti, Kecamatan Kertasari, hingga hilirnya di Muara Gembong, Karawang. Selama ini, fokus dari perbaikan dan pembangunan DAS Citarum lebih banyak terkonsentrasi di pembangunan fisik, dengan memperhitungkan manfaat yang tangible saja. Akibatnya, banyak program perbaikan dan pembangunan bukanlah menyelesaikan masalah, namun hanya menundanya. Sebagai ilustrasi, pembangunan bendungan atau pengerukan sedimen di DAS Citarum, tak akan berarti ketika penggundulan hutan di daerah hulu terus menerus dilakukan. Dan celakanya, kegiatan penghijauan yang dilakukan di daerah hulu pun biasanya hanya bersifat seremonial atau untuk mempercantik laporan di atas kertas. Kenyataanya, deforestasi terus terjadi secara simultan, yang mengakibatkan semakin seretnya pasokan air untuk DAS Citarum yang berbanding terbalik dengan semakin derasnya asupan sedimen dari hasil alih fungsi lahan, serta kotoran ternak sapi yang banyak terdapat di daerah hulu. Kecamatan Kertasari sebagai daerah Citarum sebenarnya mempunyai potensi lokal yang dapat dikembangkan untuk dapat meningkatkan kualitas hidup warga masyarakatnya tanpa merusak lingkungan alam. Saat ini, Kecamatan Kertasari masih mengimpor pupuk kandang sebanyak 40 truk perhari. Padahal sampai ahir tahun 2011, daerah ini memiliki 11000 ekor sapi, yang kotorannya dapat dimanfaatkan untuk menyuplai pupuk bagi pertanian di sekitarnya, sayangnya sampai saat ini kotoran sapi tersebut hanya dianggap sebagai sampah yang tidak terolah. Sebagian besar masyarakat bahkan hanya memperlakukan kotoran sapi dengan cara membuangnya, atau menyemprotnya dengan air. Pun demikian, dengan bermodal dana swadaya ditambah pengetahuan alakadarnya, beberapa warga yang memiliki kesadaran lingkungan, berinisiatif untuk mulai mengolah kotoran sapi yang selama ini masih dipandang sebatas limbah oleh warga sekitar. Inisiatif tersebut dapat kita lihat sebagai jawaban dari masyarakat terhadap permasalahan yang terjadi di daerah hulu Citarum, yang selama ini berkutat dengan perbaikan kondisi lingkungan dengan menggunakan formulasi 3 A: alih profesi, alih komoditi, serta alih lokasi, di mana alih lokasi sepertinya sudah hampir mustahil untuk dilaksanakan. Pengolahan kotoran ternak sapi di daerah hulu sungai Citarum mempunyai fungsi yang strategis dalam menjawab dua permasalahan utama:
1. Untuk mengembalikan fungsi ekologis dari daerah hulu DAS, yaitu menjaga kualitas dan kuantitas pasokan air.
2. Untuk membantu mengembangkan potensi ekonomi lokal dengan memanfaatkan bahan baku yang banyak tersedia di lokasi. Produksi pupuk organik dengan memanfaatkan bahan baku yang banyak terdapat secara lokal dan masih dipandang sebagai lmbah, dapat juga menjadi model pembangunan berkelanjutan, di mana konservasi lingkungan sejatinya beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga masyarakatnya. Selama ini tak terhitung program pemerintah dan swasta untuk mengatasi permasalahan lingkungan di daerah hulu Citarum. Namun kenyataanya kualitas lingkungan terus menerus mengalami degradasi, tanpa diiringi oleh peningkatan kesejahteraan ekonomi yang merata. Permasalahan ini dapat ditelusuri kembali kepada kebijakakan yang tidak partispatoris dan emansipatif, serta sifat program yang pada pelaksanaanya menjadi proyek. Sementara itu, sebenarnya telah banyak inisiatif warga dalam memetakan permasalahan lingkungan yang terjadi di daerahnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Masyarakat Peduli Sumber Air (MPSA) yang melakukan riset partisipatif tentang penyebab menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air DAS Citarum. Dari hasil riset tersebut, diketahui bahwa keadaan tujuh sumber mata air yang bermuara ke Situ Cisanti, yakni, kini sudah berada dalam kondisi kritis, begitu p**a dengan kondisi sumber-sumber mata air Sungai Citarum yang berlokasi dari sekitar Danau Aul, Ciseupan, dan Ciseke. Kondisi ini kurang lebih disebabkan oleh pertambahan pop**asi penduduk, maraknya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, hingga aktivitas peternakan yang tak memperhatikan limbah peternakannya. Berangkat dari data hasil riset partisipatif tersebut, maka dapat kita simpulkan tentang perlunya sebuah program Kegiatan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat lokal dalam mengenali potensi sumber daya lokal untuk membantu menjawab tantangan daripermasalahan lingkungan dan ekonominya sendiri. Program PengembanganRehabilitasi Lahan Kritis Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciseke, Zona Inti DAS Citarum Hulu ini akan terdiri dari beberapa sub-program yang berfokus kepada 3 (tiga) hal:
1. Penyelamatan lahan-lahan kritis dan penangkalan erosi
3. Pelatihan berkelanjutan bagi komunitas peternak dan petani dan pengoptimalan media informasi
Banyak potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam lokal yang selama ini tidak menjadi prioritas dalam kebijakan dan program pemerintah karena tidak memberi keuntungan tangible dalam jumlah besar dan dalam waktu yang singkat. Namun fakta dan pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan kaidah keberlanjutan, pada akhirnya hanya akan membawa kita pada potensi bencana yang semakin besar dan nyata.