01/06/2022
Di kebun belakang, beberapa bulan lalu, Fatmawati melihat suaminya termenung. Mata suaminya menatap langit, mungkin menghitung bintang. Zuz Fat tak mau mengganggu. Berhari-hari ini suaminya sibuk dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
“Besok Mas akan mengucapkan pidato yang amat penting mengenai dasar-dasar negara kita jika merdeka kelak,” ucap suaminya yang seketika sudah berada di dalam kamar. Zuz Fat teringat dengan pertanyaan Radjiman Wediodiningrat yang belum terjawab, “Negara yang kita bentuk itu apa dasarnya?” Langit semakin gelap. Fatmawati ingin tidur senyenyak Guntur.
Juni 1945, masih tanggal satu. Zuz Fat menemani suaminya. Di bekas gedung Volskraad itu ia duduk terpisah. Di balkon lain, orang-orang Jepang tak melepas pandangan. Zuz Fat pun memandang suaminya melangkah ke podium. Ia meneguhkan suaminya yang sempat melirik sekilas.
“Allah Swt membuat peta dunia. Seorang anak kecil pun—jikalau dia melihat peta dunia—dapat menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan kepulauan di antara Samudera Pasifik dan Lautan Hindia dan di antara Benua Asia dan Australia. Bangsa Indonesia, karena itu, meliputi semua orang yang bertempat tinggal di seluruh kepulauan Indonesia dari Sabang di ujung utara Sumatera sampai Merauke di Papua.”
Zuz Fat mendengarkan suaminya menyebut mutiara pertama, Kebangsaan.
“Itu bukanlah Indonesia Uber Alles. Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia. Ingatlah kata-kata Gandhi, saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaanku adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity,” suaminya berkata meyakinkan.