21/06/2020
DIALOG EMPATIK
Memiliki anak yang hapal alqur'an, tentu menjadi dambaan bagi setiap keluarga muslim seperti juga kami. Hingga hampir semua anak, kami stimulasi dengan memperdengarkan alqur'an sejak didalam usia 4 bln dlm kandungan.
Setiap anak itu unik, meski distimulasi hal yg sama namun mereka punya minat, passion, bahkan memiliki bakat bawaan yg berbeda-beda. Dan itu kekhasan tiap anak yang harus dipahami, disyukuri serta dihargai oleh orang tuanya.
Saat ketiga anak kami meminta ijin agar dibolehkan "program tahfidznya" dilakukan bersamaan dengan pendidikan akademik, maka kami hargai. Kami sebagai orang, sangat menginginkan saat mereka menjadi Hafidz/Hafidzoh adalah pilihan sendiri yang disertai kesadaran. Apalagi mereka meyakinkan orang tuanya "mi, ndak usah disuruh-suruh atau diburu-burulah untuk menyelesaikan hapalan", saya juga mau koq tapi itu berproses.
Maka saya berpikir didorong oleh keinginan tersebut yang memang terasa egois, maka terhadap si bungsu harapan itu lebih besar dan saya bertekad mengarahkan dan memotivasinya diusia kebih awal. Maka saat si bungsu sudah mulai diajak dialog yaitu kelas 6 SD, kami terutama saya mulai membangun komunikasi kearah itu.
Suatu hari saat, sebelum UASBN tahun 2018 dalam situasi sedang santai dibukalah obrolan. "Dek, nanti kalau smp masuk ke boarding/pesantren aja ya biar jadi penghapal alqur'an".
"nggak mau ah, ntar nggak bebas, nggak bisa kemana-mana" , begitu jawabnya yang membuat saya kaget. "Kan, kalau ade hapal alqur'an bisa memakaikan mahkota buat abi-umi". Reaksi ananda berdecak sambil berkata "tiap anak kan punya keinginan mi, tidak boleh dipaksakan".
Mendengar itu saya tersadar sambil tersenyum berkata "iya, umi tahu tapi kan umi pengin adek hapal qur'an". Si bungsu terdiam dan melanjutkan mainnya lagi.
Dikeluarga kami, memang kami membiasakan komunikasi terbuka dan memberi kesempatan anak-anak untuk menyampaikan pendapat dan apa yang dirasakannya sejak kecil. Masing-masing punya kekhasan dan si bungsu sejak usia 5 tahun kalau bicara memang sering seperti orang dewasa dan ini diakui oleh beberapa teman akrab saya. "Da, Hafidh itu kalau ngomong kayak orang dewasa aja ya, bahasanya tertata", kata salah seorang teman yang s**a mengajaknya bicara jika ketemu.
Si bungsu ini juga punya empati yang besar biasa sejak kecil, ada sebuah kejadian saat dia usia 3 tahun. Dimana suatu hari, saat uminya mau starter kendaraan mau pergi tiba-tiba dia buka pintu dan masuk mobil. Karena ada Hafidh, saya nggak berani meninggalkannya sendiri, padahal saya mau ambil HP yang tertinggal didalam rumah. Saat saya memanggil nama kakak-kakaknya satu persati untuk mengambilkannya, ternyata gak ada yang mendengar. Apa yang terjadi, tiba-tiba si bungsu memberikan HP sambil berkata "ini mi hpnya" sambil menutup pintu. Tanpa saya sadari, saat saya memanggil kakak-kakaknya ternyata dia turun mobil dan masuk rumah mengambilkan hp.
"Maa sya Allah nak! Makasih sayang sambil menahan haru dan rasa bahagia yang luar biasa atas sikapnya". Saya spontan memeluknya dengan kuat serta menciumnya berkali-kali sampai dan tampak tersenyum bahagia. Dalam perkembangan berikutnya, sikapnya yang demikian semakin kuat hingga kini. Ia termasuk anak yang cepat merespon jika orang tua meminta tolong dan saya termasuk orang tua yang merasa tenang jika memberi tanggung jawab (menutup pintu, buang sampah) kepadanya.
Dengan sikapnya yang demikian membuat saya merubah cara agar dia mau masuk boarding/pesantren. Maka tidak lama setelah UASBN, saya mencoba membicarakan lagi dengan lebih dulu mengetuk empatinya.
"De, tidak inginkah kamu nak untu menjadi pemberi syafaat 40 anggota keluarga kelak saat dihari hisab? ". "Aku mau mi, sambil memandang uminya dengan mimik serius bercampur nada haru". Bagaikan mendapatkan air di padang yang tandus, rasanya "Nyes" dan menjalar ke sekujur tubuh membuat uminya lebih bersemangat untuk meneruskan dialognya. Spontan uminya memeluk si bungsu sambil mengucap hamdalah berkali-kali. "Kalau begitu, berarti adek harus sekolah boarding" kataku. "iya deh kalau gitu"jawabnya.
Anakku, tahukah kamu betapa bahagia dan bangganya umi padamu. Saat kamu mengiyakan, membuat umi bagaikan terbang diudara karena bahagia tak terhingga. Namun kemudian umi tersadar, "astaghfirullah, ya Rabbi apakah ini pemaksaan hingga anak merasa kasian ke uminya yang sangat berharap banyak padanya untuk menjadi penghapal Alqur'an?".
Jujur, meski saya yakin ananda tidak terpaksa saat mengiyakan, tapi sebagai seorang praktisi yg berinteraksi dengan berbagai masalah sekitar anak dan perkembangannya menjadi malu sendiri.
"Masa sih kamu begitu da, kan kamu tahu kalau... Bla... Bla... Bla". Begitu bisikan-bisikan dan dialog hati. Hingga diri tersadar dan takut kalau "mendapat kebencian Allah" karena menyalahi apa yang dinasehatkan pada orang lain.
Maka suatu hari saat PPDB dimulai pendaftarannya, ananda datang kehadapanku dan mengatakan "Umi saya mau sekolah boarding". Untuk meneguhkan sikap ananda dan mengeliminir perasaan "merasa bersalah karena memaksa", saya mencoba mengajak ananda untuk membuka kesadaran akan konsekwensi yang akan dihadapi jika ia masuk boarding.
Meski terselip rasa akhawatir ananda membatalkan keputusannya, namun saya yakinkan diri untuk menanyakannya lebih dalam. "Adek, nanti kalau boarding berarti adek jadi jarang ketemu abi, umi, mas dan mba". " Adik juga gak bisa makan sesuai keinginan seperti dirumah, ade harus mencuci pakaian dalam sendiri dan bla.. bla... bla... ". Betapa terkejutnya saya saat dia menjawab "iya tahu, nggak apa-apa". Kembali terharu bercampu bahagia untuk kesekian kalinya.
Kami menjadi mantap mendaftarkan ananda di SMPIT Asyifa Boarding School Subang dan di Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Cirebon. Alhamdulillah keduanya lolos dan saya meminta ananda untuk memutuskan sendiri memilih. Kembali lagi empati ananda mewarnai dalam mengambil keputusan. "Mi, aku ambi asyifa aja ya biar dekat", " Kalau di husnul kan jauh, kasian abi-umi kalau harus nengok kesana" begitu katanya. Saat kami yakinkan, bahwa jarak jauh gak jadi masalah karena kami menyayangi ananda, tetap ia teguh oada keputusannya.
Tibalah pada hari dimana tahu ajaran baru dimulai. Maka kami sekeluarga mengantarkannya ke asrama. Sungguh, semalaman berbagai emosi bercampur aduk seperti permen n*n*-n*n* (gak endorse ya 😁). "Begini rasanya yang diraskan para orang tua umumnya terutama ibu saat mau melepas anaknya jauh dari rumah", bisikku dalam hati. Bahkan suamiku juga berseloroh "paling umi besok akan mewek saat mengantar dna melepas hafidh" dengan tersipu saya jawab "Abi kali yang gitu". Padahal. Sih dua-duanya bakalan mewek, meski jaim. 😃😀😀😀
Saat semuanya sudah dimasukkan kekamarnya dan dibantu merapihkan barang-baranya di lemari (baik pakaian, alat-alat tulis, peralatan mandi dsb) berada ditempatnya masing-masing, itu moment seorti detik-detik terakhir yang harus dinikmati kebersamaan bersama si bungsu. Kemudian terdengarlah pengumuman sudah saatnya orang tua pulang dan membiarkan anaknya mulai beradaptasi dengan lingkungan pesantrennya. Kami semua pamit, satu persatu kakaknya membesarkan hatinya dan memotivasinya karena kedua kakak laki-lakinya juga alumni.
Tibalah saat uminya minta pamit, ananda memeluk kencang dan berusaha tegar. " Nak, kita berjauhan tapi yakinlah umimu itu ada disini sambil menujuk dadanya dan Allah akan selalu menjagamu" , ananda mengangguk dan berusaha menahan bulir air mata yang akan keluar.
Sungguh itu moment yang membuat orang tua baper, melty 😭😭😭😭😭.Tapi. Saya berusaha menyembunyikannya sekuat mungkin, bahkan anandaku juga. Saat kami saling melepas pelukan, saya lihat anakku membelakangiku sambil menghapus air matanya yang mengalir. Kamipun langsung menuju kendaraan karena tidak tahan melihat situasi tersebut, dan Air mataku pun tumaph tanpa bisa dibendung lagi. Saya tengok suamiku juga tampak mendung dan mengusap embun dipelupuk matanya.
Perlahan, kami meninggalkan pesantren sambil berdoa "ya Allah aku titipkan anakku padaMu, Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penjaga anakku". Hasbunallah wa ni'mannashir ni'mal maula Wani'man nashir.
Alhamdulillah, kini si bungsu naik ke kelas 9. Sekarang, si bungsu lebih mandiri dalam bersikap dan berpikir. Memiliki kesadaran sendiri untuk tilawah, menghapal dan bertanggung jawab pada tugasnya sebagai siswa. Memang adakalanya harus diingatkan jika menyangkut gadget, terutama disaat Learning From Home.
Baarokallah Anakku...
Semoga tercapai apa yang engkau inginkan...
Semoga Allah selalu melindungi serta memberkahi setiap langkahmu...
Proud of you my son...
Forever love for you... ❤💚💛💙🧡
Bumi Allah, 20 Juni 2020
Rosyidah Carum
Menulis jejak cinta itu mengokohkan kasih sayang, membangkitkan kenangan indah dan menambah rasa syukur