Biro Psikologi Progress

Biro Psikologi Progress Biro Psikologi PROGRESS melayani berbagai macam layanan pemeriksaan psikologi, konsultasi, Parenting, Hypnotherapy, terapi kesulitan belajar, pelatihan

08/08/2025

Berat rata² otak manusia di dalam tengkorak adalah 1,400-1,700 gram (Hampir 2 kg). Tapi mengapa kita tidak merasakan beban yang sebesar ini di kepala kita?

Karena otak kita mengapung di cairan tulang belakang.

Dalam teori fisika, setiap benda yang terendam dalam cairan akan kehilangan beratnya sebanyak berat cairan tersebut. Oleh karena itu kita tidak begitu merasakan beban tersebut. Karena berat otak menjadi hanya sekitar 50 gram.

Dengan gerakan dalam sholat, cairan ini bergerak naik turun saat berlutut, ruku', sujud dan memberikan semacam pijatan pada otak, menjadikan ini salah satu penyebab ketenangan batin setelah sholat.

Hidup kita direncanakan Allah dengan detail dan presisi.

Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al Qamar: 49)

Yakni segala sesuatu yang diciptakan Allah telah disertai takdir yang ditetapkan Allah baginya.

Allahu Akbar, Maha Suci Allah atas segala ciptaanNya, sungguh Maha besar kuasaNya.

Semoga hal ini semakin menambah keimanan kita.

*

✍️ Habibie Quotes, 15/01/21
Ig - www.instagram.com/habibiequotes_
Tg - https://t.me/habibiequotes

Pembekalan Para guru SDIT Al auliya 1 dan 2 BalikpapanTema tentang "Mendampingi anak menuju Aqil Baligh" Alhamdulillahil...
02/02/2025

Pembekalan Para guru SDIT Al auliya 1 dan 2 Balikpapan
Tema tentang "Mendampingi anak menuju Aqil Baligh"

Alhamdulillahiladzi tatimushalihati
Late Post
18 Januari 2025

16/12/2024

Ini sikap dan aksi Generasi Z Amerika lho.... Kereen kan

Gimana sikap Our Gen Z, the world's biggest Muslim ?????

Faghfirlana ... Faghfirlana.. Faghfirlana ya Ilahi...

Ternyata benar :
YOU DON'T NEED TO BE MUSLIM TO STAND FOR GAZA. YOU JUST NEED TO BE HUMAN

From the river to the sea
Palestine will be free

Seri Parenting : Fokus Pengasuhan di tiap Fase PerkembanganFase-fase perkembangan anak menurut para ahli pada prinsipnya...
17/03/2024

Seri Parenting :
Fokus Pengasuhan di tiap Fase Perkembangan

Fase-fase perkembangan anak menurut para ahli pada prinsipnya sama, yaitu masa kanak-kanak, remaja dan dewasa.

Sebagaimana firman Allah : "Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia 2 tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada AKU kembalimu" (QS. Luqman : 14)

Setiap tahapan perkembangan memiliki karakter dan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan kesediaan bagian-bagian otak yang telah berkembang dan siap distimulasi.

Bila orang tua memberikan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan otak yg sedang berkembang pada fase tersebut, maka anak akan berhasil melalui tugas perkembangannya

Apa yang harus distimulasi ?
1. Fase 0 - 7 Tahun
Pada fase 7 tahun pertama fokus stimulasi adalah dengan memperbanyak contoh positif, memperbanyak stimulasi yang konstruktif (termasuk menunjukkan wajah yang ramah, gak jutek dll). Karena amygdala sudah berkembang dan siap distimulasi.
Fokus pengasuhan adalah untuk kematangan emosi dan kematangan motorik menuju anak yg TANGGUH (emosi dan motorik). 50 % stimulasi emosi, 40 % motorik dan 10 % kognitif.

2. Fase 7-14 Tahun
Fase 7 Tahun kedua, stimulasi Etika, nilai dan kemampuan berbahasa diberikan. Seiring dengan berkembangnya PFC (pre frontal cortex) dan Hypocampus ( untuk memori) yg siap distimulasi. Fokus pengasuhan di fase ini adalah menuju anak CERDAS

3. Fase 14 keatas
7 tahun berikutnya merupakan penguatan dari 2 fase sebelumnya. Karena anak mulai belajar mendistribusikan nilai yg dipelajari ke lingkungannya. Anak juga sudah mulai mengembangkan dunia pergaulannya lebih luas.
Fokus pengasuhan pada fase ini adalah membentuk anak yang berAKHLAK MULIA.
Dengan posisinya sudah menjadi hamba yang Baligh (sinnu taklif), anak harus sudah siap mengikuti syariat Allah.
Ketika Allah menjadikan anak di fase ini sudah terkena sinnu taklif ( kewajiban menjalankan perintah Allah) maka perangkat kemampuan anak untuk menjalankannya juga harus sudah disiapkan orang tuanya dengan stimulasi di fase sebelumnya.

Karena pengasuhan itu ada di wilayah neuron, maka sangat penting memperhatikan kualitas neuron agar mudah synaptik (antar neuron mudah terhubung).

KUALITAS NEURON DITENTUKAN OLEH APA SAJA ?

🍎 1. Gizi atau nutrisi.

Makanan yg tepat untuk otak anak, perbanyak makan ikan. Proses pembentukan otak paling pesat terjadi pada saat kehamilan. Oleh karena itu alangkah baiknya saat hamil, ibu mengkonsumsi makanan bergizi yg menunjang pertumbuhan otak. Misal mengandung asam folat seperti minyak ikan, brokoli dll.

🎪2. Lingkungan yg tepat dan kondusif.

Dalam usia 0-13 tahun, neuron berkembang dengan sangat cepat. Maka pastikan orang tua dan lingkungannya memberi banyak pengalaman pada ananda. Sering-seringlah anak diajak menimba pengalaman misal mengajak ke taman, pantai, kebun binatang, bengkel, pasar, termasuk memperkenalkan dengan beragam profesi. Ini masa bonding (pelekatan emosi) maka curahkan perhatian pada anak dan bina hubungan yg penuh kasih sayang. Denfan pengalaman emosi positif yg diperoleh ananda kelak akan tumbuh menjadi anak yang empatik, peduli dan mudah berbagi dengan orang lain.

💕 3. Stimulan emosi.
Latih anak untuk mengenal macam-macam jenis emosi. Ada 5 jenis emosi : cinta/bahagia, marah, takut, sedih, jengkel/jijik.
Misal : saat anak marah, tanya kenapa adek menangis? Marah, sedih atau takut?

Setelah anak paham jenis-jenis emosi, maka mulai mengenalkan untuk menghitung level emosi yang dirasakan, agar orang tua tahu bagaimana mensikapi emosi yang dirasakan anak, apakah perlu bantuan orang tua atau tidak.

Misal : ketika menghadapi anak marah karena tidak berhasil menyusun lego.
Pertama mengkomunikasikan kepada anak “adik lagi marah ya? Berapa level marahnya?”. Jika anak menjawab “iya adik lagi marah,level 3” maka cukup dibiarkan saja, krn marah yang perlu dibantu jika sudah level 5 s.d 10.
Jika masih level 3, biasanya anak mudah berhenti sendiri dan ia akan berusaha lagi dengan minta bantuan orang lain ( Disini anak akan mencari solusi sendiri bukan diambil alih orang tua untuk mengatasinya).

Pengalaman : saat anak saya yang pertama menyusun balok semacam lego utk membuat mobil-mobilan pada usia 5 tahun, tiba-tiba ia kesal dan merontokkan lagi keping yang sudah tersusun. Kemudian saya mendekati dan berkata " mas sedang kesal ya? Kenapa ? Ia jawab ini susah banget, sudah berusaha nggak bisa-bisa. Saat itu saya belum memberikan level emosi tapi saya perhatikan kesalnya sudah cukup tinggi dan saya katakan " wajar saja ini sulit nak karena untuk anak usia 7 tahun keatas". Ayo ummi bantu tapi mas tetap yang menyusunnya ya. Akhirnya ia bisa menyusunnya dengan bantuan arahan dari umminya. Dan tampak begitu senangnya. Ada pengalaman emosi yang dirasakan anak begitu berubah wjahnya jadi ceria saat berhasil. (Ingat film dora the explorer kan saat berhasil? )

💡4. Rangsangan rasio.

Stimulasi ke 5 panca indra secara sempurna dengan menggunakannya dalam proses belajar. Jangan hanya terfokus pada satu indra saja, karena sesungguhnya informasi akan lebih kuat dan lama tersimpan di memori jika menggunakan kelima panca indra dalam proses belajar.

Cobalah memberikan tantangan yg baru. Misal saat main puzzle, naikkan level kesulitannya secara perlahan. Saat menyusun balok, tingkatkan kesulitannya secara perlahan dengan yang bentunya lebih kecil misal bila sebelumnya dengan balok kayu yang besar maka berikan kepingan balok yang kecil dari plastik.
Kenalkan juga dengan konsep pemahaman soal sebab akibat dalam peristiwa sehari-hari. Misal saat itu melewati sungai yang kotor penuh sampah dan bahu, ajak anak untuk memikirkan apa dampaknya dan bagaimana pencegahannya

🏃 5. Aktivitas fisik yg sesuai.

Berikan ruang gerak untuk mengembangkan ketrampilan motorik. Biarkan anak mencoba dan mengeksplorasi gerakannya dengan memanjat, melompat, berlari dll. Jangan ditakut-takuti tapi awasi dan "beri pesan agar berhati-hati" tindakannya.

Berkaitan dengan 3 onderdil otak yang berkaitan dengan 3 kecerdasan diatas (sensorik- motorik, emosi dan rasio).
Maka aktivitas yg sangat direkomendasikan dan sesuai dengan sunnah nabi adalah berenang, berkuda dan memanah. Ketiga aktivitas tersebut terbukti dapat mengembangkan Basic Learning Ability (Kemampuan dasar belajar) yang erat kaitannya dengan penguasaan ketrampilan calistung. Menurut Robert Valet : Kesulitan belajar (Learning Difficultis) dikarenakan adanya hambatan dalam perkembangan basic learning ability yang ada 4 aspek (balancing, kordinasi visual motorik, body image/penghayatan fungsi tubuh dan lateralisasi/pemahaman arah).
Tentang ketiga aktivitas ini dan Basic learning proses perlu penjelasan tersendiri (insya Allah)

Allahu A'lam


Menulis itu mengingatkan diri dan berbagi

03/12/2023

6 new items · Memory by Rosyidah Carum

26/03/2022

AYAH SANG PENDIDIK EGO DAN INDIVIDUALITAS

Seorang ibu bercerita " bu, saya sudah membekali anak- anak dengan pendidikan agama sehingga mereka penurut, pokoknya anak sholeh tapi tiba-tiba saya dipanggil guru BK disekolahnya karena mendapati anakku dan teman-temannya sedang merokok di belakang sekolah saat usai sekolah.Yang membuat saya kaget dan menangis adalah bukan hanya itu saja, ternyata anakku juga terlibat minuman keras, pergaulan bebas. Rasanya hati ini hancur, kenapa bisa terjadi bahkan tadi anakku hampir pukul-pukulan dengan ayahnya. Ayahnya marah karena gak habis pikir koq bisa dan teganya anak laki-lakinya berbuat seperti itu. Padahal selama ini kurang apa saya telah mendidik dia".

Cerita seperti itu dan sejenisnya tidak hanya muncul dari seorang ibu saja tapi terjadi juga pada ibu- ibu yang lain. Para orang tua selalu meminta saran bagaimana cara memisahkan anak dari teman-temannya agar tidak terpengaruh, saat mereka datang ke Biro Psikologi yang saya kelola atau saat mengisi parenting baik di sekolah ato di perkantoran.

Apakah memisahkan anak dari teman2 dan lingkungannya adalah solusi??

Andai kita punya anak dengan ego yg kuat, tentu tak terpengaruh lingkungan tapi bahkan mempengaruhi (bukan follower tapi influencer).

Tapi bagaimana mungkin sebuah keluarga menghasilkan anak berego kuat, mempengaruhi dan tak terpengaruh jika ayah absen dalam pendidikan anak-anaknya? Ayah ada tapi tiada. Ayah ada dirumah tapi tidak bisa menyertakan diri dalam pengasuhan karena sudah lelah dan melempar tanggung jawab pada ibu. Berlindung dengan alasan dan dalih yang klasik "ayahkan sudah cape kerja, ibu d**g yang mengasuh mereka!!"

Bukankah ayah adalah pemilik ego?

Ayahlah yang berkata :
"nak, kalau jatuh, ayo bangkit dan berdiri lagi"
"nak, kalau kau gagal,ayo coba lagi, jangan menyerah"

Berbeda dengan seorang ibu yg cenderung memiliki sifat sosialitas. Makanya ibu lebih mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kekompakkan, sinergi dan harmoni.
Ibu yang berkata :
" ayolah nak, kita pergi bareng, saling bercerita, biar kompak sebagai keluarga"
" nak lindungi adikmu, berbagilah dan saling membantu"

Kenapa mendidik ego dan individualitas itu penting ???

Ego itu beda dengan egoisme. Ego itu "aku, ich, ana, saya" , yg mmg ada pd setiap sosok individu.

Ego adalah identitas diri. Anak yg tdk memiliki ego tidak bisa membedakan dirinya dgn orang lain. Ego harus muncul agar anak bisa membedakan diri, tidak mudah larut dan terbawa lingkungan.

Saat dunia semakin keras, pengaruh lingkungan akan semakin kuat maka akan sangat sulit meredam pengaruh lingkungan. Maka cara terbaiknya adalah mendidik ego, sehingga anak berani berkata "no", bila mendapati pengaruh buruk lingkungan.

Kenapa harus ayah yang mendidik?
Ayah pemilik maskulinitas, memiliki ego dan pemilik individualitas paling kuat. Maka sudah seharusnya, ayah mendidik kemandirian, keberanian, kepercayaan diri, dan keyakinan.
Didikan ayahlah yg membuat anak berani tampil beda, percaya diri, punya sikap, visioner dan kreatif.

Maskulinitas (ketegasan,percaya diri, yakin dll) juga penting bagi anak perempuan sebagaimana anak laki-laki harus dididik feminitasnya (cinta, kasih sayang, empati, peduli dll) oleh ibu.

Saat ego kuat, anak bisa mengatakan "silahkan mau merokok, tapi kalau gara-gara ini saya tidak bisa jadi teman kalian, ya gak masalah", woles aja.

Saat ego kuat maka anak tidak mudah melepas properti pribadinya, sehingga seorang gadis tidak gampang menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang bukan suaminya.

Ayo Ayah...
Sertai anak-anakmu, karena engkaulah pendidik peradaban.
Dipundakmulah peran pendidikan keluarga, karena engkau adalah kepala sekolah sedangkan ibu adalah gurunya.

Bukankah didalam Alqur'an, Allah telah menjadikan para ayah hebat sebagai sosok teladan dalam pengasuhan (Lukmanul Hakim, Ibrahim, Imran dll).

Bukankah nasab itu disandarkan padamu ???
Itu berarti kelak, kepadamulah Allah akan meminta pertanggung jawaban dalam mendidik anak-anakmu..

Memang Berat ya yah....
Hanya Ayah Hebat yang mampu melakukannya
Dan setiap ayah adalah hebat dan mampu menjalaninya...
Karna telah Allah titipkan segenap kemampuan untuk itu...
Karna setiap orang tua adalah Khalifah Fii Tarbiyah...
Yang paling hebat untuk mendidik anak-anaknya adalah orang tua sendiri...

Selamat Hari Ayah...
Buat para Ayah Hebat...

Terimakasih tak terhingga pada Ayah anak-anakku...
Karna Engkau telah membersamai anak-anakku dalam setiap fase perkembangannya..
Meski lelah mendera dan letih menghinggapi karna rasa cinta dan tanggung jawab untuk menafkahi keluarga...

Alhamdulillah..
We Proud of you Ayah Hari....

Rosyidah Carum

Menulis itu kembali mengingatkan diri dan berbagi






Ayah-Bunda.... Berikut ini bisa jadi panduan orang tua maupun guru dalam menjelaskan protokol. Kesejatan terkaiy covid-1...
17/10/2020

Ayah-Bunda....
Berikut ini bisa jadi panduan orang tua maupun guru dalam menjelaskan protokol. Kesejatan terkaiy covid-19

Semoga kita semua bersama keluarga sehat selalu ya...


*RILIS AILA INDONESIA*Jakarta 20 September 2020No. 01/G.3/SEKJEN/AILA/VIII/202Perihal : Pendidikan "Sexual Consent"-----...
20/09/2020

*RILIS AILA INDONESIA*
Jakarta 20 September 2020
No. 01/G.3/SEKJEN/AILA/VIII/202
Perihal : Pendidikan "Sexual Consent"
---------------------------------

Terkait adanya keresahan masyarakat terkait pendidikan “sexual consent” yang ramai diperdebatkan, sebagai lembaga yang peduli dengan kebijakan terkait anak, perempuan dan keluarga, dengan ini AILA Indonesia menyatakan sikap:

1. Pendidikan seksual berbasis ‘consent’ atau persetujuan, pada intinya bertentangan dengan nilai-nilai keindonesiaan dan bukan merupakan pendekatan yang tepat dalam menyelesaikan problem kejahatan seksual di masyarakat seperti perkosaan, pelecehan dan perilaku seksual menyimpang.

2. Konsep pendidikan seksual berdasarkan persetujuan (consent) justru telah membuka ruang bagi kebebasan seksual, karena menekankan pemahaman bahwa aktivitas seksual yang benar adalah yang berdasarkan kesepakatan (s**a sama s**a), tanpa mempedulikan legal atau tidaknya hubungan seksual tersebut. Padahal bukti-bukti empiris menunjukkan banyaknya kejahatan terkait seksualitas, dimulai dari hubungan yang tidak legal dan menyimpang.

3. Pendidikan seksual seharusnya menekankan pada *pendekatan preventif* yaitu mengajarkan ‘safe behaviour’ kepada anak didik agar mereka mampu mengenali, mengidentifikasikan situasi/kondisi dan perilaku yang tidak aman, yang dapat mengundang kejahatan seksual serta mekanisme pelaporannya. *Termasuk di dalamnya mengajarkan cara mencegah dan menghindari tindakan seksual menyimpang, seperti LGBT dan perzinaan.* Pendekatan preventif juga lebih efektif karena bisa menumbuhkan perilaku ‘active caring’ di lingkungan sekolah ataupun di masyarakat karena sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama yang sudah mengakar dalam budaya Indonesia.

4. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 54, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Dalam hubungannya dengan pendidikan seksual, maka keterlibatan keluarga tidak dapat diabaikan dan harus diutamakan, karena keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama bagi anak. Sekolah ataupun institusi pendidikan berperan sebagai mitra untuk membantu keluarga, agar pelaksanaan pendidikan berlangsung lebih sistematis dan efektif. Oleh karena itu, strategi pendidikan terkait seksualitas mutlak memerlukan cara pandang dan strategi yang sama, terarah serta berkesinambungan antara keluarga dan institusi pendidikan, sehingga tidak menyebabkan *pertentangan nilai* yang dapat merugikan kepentingan anak didik itu sendiri.

5. Pendekatan pendidikan seksual yang menekankan pada persetujuan (consent) merupakan paradigma yang diambil dari materi *“Comprehensive Sexuality Education (CSE)”* atau yang dikenal dengan nama lainnya seperti *“Rape Prevention”* dsb, merupakan upaya untuk menormalisasi pendidikan seksual berdasarkan kesepakatan (s**a sama s**a) di berbagai negara. Oleh karena itu, AILA Indonesia menghimbau seluruh stake holders pendidikan termasuk pemerintah Indonesia, agar dapat mengantisipasi dan mencegah masuknya paradigma “sexual consent” dalam berbagai kebijakannya, terlebih pendekatan tersebut sudah dikritisi oleh berbagai lembaga yang peduli terhadap institusi keluarga di seluruh dunia.

Rita Hendrawati, M.Si.
Ketua Aila Indonesia

Web:. https://cintakeluarga.org/
FB: Aila Indonesia
IG:
Email: [email protected]
Telp: +6281211916071

21/06/2020

DIALOG EMPATIK

Memiliki anak yang hapal alqur'an, tentu menjadi dambaan bagi setiap keluarga muslim seperti juga kami. Hingga hampir semua anak, kami stimulasi dengan memperdengarkan alqur'an sejak didalam usia 4 bln dlm kandungan.

Setiap anak itu unik, meski distimulasi hal yg sama namun mereka punya minat, passion, bahkan memiliki bakat bawaan yg berbeda-beda. Dan itu kekhasan tiap anak yang harus dipahami, disyukuri serta dihargai oleh orang tuanya.

Saat ketiga anak kami meminta ijin agar dibolehkan "program tahfidznya" dilakukan bersamaan dengan pendidikan akademik, maka kami hargai. Kami sebagai orang, sangat menginginkan saat mereka menjadi Hafidz/Hafidzoh adalah pilihan sendiri yang disertai kesadaran. Apalagi mereka meyakinkan orang tuanya "mi, ndak usah disuruh-suruh atau diburu-burulah untuk menyelesaikan hapalan", saya juga mau koq tapi itu berproses.

Maka saya berpikir didorong oleh keinginan tersebut yang memang terasa egois, maka terhadap si bungsu harapan itu lebih besar dan saya bertekad mengarahkan dan memotivasinya diusia kebih awal. Maka saat si bungsu sudah mulai diajak dialog yaitu kelas 6 SD, kami terutama saya mulai membangun komunikasi kearah itu.

Suatu hari saat, sebelum UASBN tahun 2018 dalam situasi sedang santai dibukalah obrolan. "Dek, nanti kalau smp masuk ke boarding/pesantren aja ya biar jadi penghapal alqur'an".
"nggak mau ah, ntar nggak bebas, nggak bisa kemana-mana" , begitu jawabnya yang membuat saya kaget. "Kan, kalau ade hapal alqur'an bisa memakaikan mahkota buat abi-umi". Reaksi ananda berdecak sambil berkata "tiap anak kan punya keinginan mi, tidak boleh dipaksakan".
Mendengar itu saya tersadar sambil tersenyum berkata "iya, umi tahu tapi kan umi pengin adek hapal qur'an". Si bungsu terdiam dan melanjutkan mainnya lagi.

Dikeluarga kami, memang kami membiasakan komunikasi terbuka dan memberi kesempatan anak-anak untuk menyampaikan pendapat dan apa yang dirasakannya sejak kecil. Masing-masing punya kekhasan dan si bungsu sejak usia 5 tahun kalau bicara memang sering seperti orang dewasa dan ini diakui oleh beberapa teman akrab saya. "Da, Hafidh itu kalau ngomong kayak orang dewasa aja ya, bahasanya tertata", kata salah seorang teman yang s**a mengajaknya bicara jika ketemu.

Si bungsu ini juga punya empati yang besar biasa sejak kecil, ada sebuah kejadian saat dia usia 3 tahun. Dimana suatu hari, saat uminya mau starter kendaraan mau pergi tiba-tiba dia buka pintu dan masuk mobil. Karena ada Hafidh, saya nggak berani meninggalkannya sendiri, padahal saya mau ambil HP yang tertinggal didalam rumah. Saat saya memanggil nama kakak-kakaknya satu persati untuk mengambilkannya, ternyata gak ada yang mendengar. Apa yang terjadi, tiba-tiba si bungsu memberikan HP sambil berkata "ini mi hpnya" sambil menutup pintu. Tanpa saya sadari, saat saya memanggil kakak-kakaknya ternyata dia turun mobil dan masuk rumah mengambilkan hp.

"Maa sya Allah nak! Makasih sayang sambil menahan haru dan rasa bahagia yang luar biasa atas sikapnya". Saya spontan memeluknya dengan kuat serta menciumnya berkali-kali sampai dan tampak tersenyum bahagia. Dalam perkembangan berikutnya, sikapnya yang demikian semakin kuat hingga kini. Ia termasuk anak yang cepat merespon jika orang tua meminta tolong dan saya termasuk orang tua yang merasa tenang jika memberi tanggung jawab (menutup pintu, buang sampah) kepadanya.

Dengan sikapnya yang demikian membuat saya merubah cara agar dia mau masuk boarding/pesantren. Maka tidak lama setelah UASBN, saya mencoba membicarakan lagi dengan lebih dulu mengetuk empatinya.
"De, tidak inginkah kamu nak untu menjadi pemberi syafaat 40 anggota keluarga kelak saat dihari hisab? ". "Aku mau mi, sambil memandang uminya dengan mimik serius bercampur nada haru". Bagaikan mendapatkan air di padang yang tandus, rasanya "Nyes" dan menjalar ke sekujur tubuh membuat uminya lebih bersemangat untuk meneruskan dialognya. Spontan uminya memeluk si bungsu sambil mengucap hamdalah berkali-kali. "Kalau begitu, berarti adek harus sekolah boarding" kataku. "iya deh kalau gitu"jawabnya.

Anakku, tahukah kamu betapa bahagia dan bangganya umi padamu. Saat kamu mengiyakan, membuat umi bagaikan terbang diudara karena bahagia tak terhingga. Namun kemudian umi tersadar, "astaghfirullah, ya Rabbi apakah ini pemaksaan hingga anak merasa kasian ke uminya yang sangat berharap banyak padanya untuk menjadi penghapal Alqur'an?".
Jujur, meski saya yakin ananda tidak terpaksa saat mengiyakan, tapi sebagai seorang praktisi yg berinteraksi dengan berbagai masalah sekitar anak dan perkembangannya menjadi malu sendiri.
"Masa sih kamu begitu da, kan kamu tahu kalau... Bla... Bla... Bla". Begitu bisikan-bisikan dan dialog hati. Hingga diri tersadar dan takut kalau "mendapat kebencian Allah" karena menyalahi apa yang dinasehatkan pada orang lain.

Maka suatu hari saat PPDB dimulai pendaftarannya, ananda datang kehadapanku dan mengatakan "Umi saya mau sekolah boarding". Untuk meneguhkan sikap ananda dan mengeliminir perasaan "merasa bersalah karena memaksa", saya mencoba mengajak ananda untuk membuka kesadaran akan konsekwensi yang akan dihadapi jika ia masuk boarding.
Meski terselip rasa akhawatir ananda membatalkan keputusannya, namun saya yakinkan diri untuk menanyakannya lebih dalam. "Adek, nanti kalau boarding berarti adek jadi jarang ketemu abi, umi, mas dan mba". " Adik juga gak bisa makan sesuai keinginan seperti dirumah, ade harus mencuci pakaian dalam sendiri dan bla.. bla... bla... ". Betapa terkejutnya saya saat dia menjawab "iya tahu, nggak apa-apa". Kembali terharu bercampu bahagia untuk kesekian kalinya.

Kami menjadi mantap mendaftarkan ananda di SMPIT Asyifa Boarding School Subang dan di Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Cirebon. Alhamdulillah keduanya lolos dan saya meminta ananda untuk memutuskan sendiri memilih. Kembali lagi empati ananda mewarnai dalam mengambil keputusan. "Mi, aku ambi asyifa aja ya biar dekat", " Kalau di husnul kan jauh, kasian abi-umi kalau harus nengok kesana" begitu katanya. Saat kami yakinkan, bahwa jarak jauh gak jadi masalah karena kami menyayangi ananda, tetap ia teguh oada keputusannya.

Tibalah pada hari dimana tahu ajaran baru dimulai. Maka kami sekeluarga mengantarkannya ke asrama. Sungguh, semalaman berbagai emosi bercampur aduk seperti permen n*n*-n*n* (gak endorse ya 😁). "Begini rasanya yang diraskan para orang tua umumnya terutama ibu saat mau melepas anaknya jauh dari rumah", bisikku dalam hati. Bahkan suamiku juga berseloroh "paling umi besok akan mewek saat mengantar dna melepas hafidh" dengan tersipu saya jawab "Abi kali yang gitu". Padahal. Sih dua-duanya bakalan mewek, meski jaim. 😃😀😀😀

Saat semuanya sudah dimasukkan kekamarnya dan dibantu merapihkan barang-baranya di lemari (baik pakaian, alat-alat tulis, peralatan mandi dsb) berada ditempatnya masing-masing, itu moment seorti detik-detik terakhir yang harus dinikmati kebersamaan bersama si bungsu. Kemudian terdengarlah pengumuman sudah saatnya orang tua pulang dan membiarkan anaknya mulai beradaptasi dengan lingkungan pesantrennya. Kami semua pamit, satu persatu kakaknya membesarkan hatinya dan memotivasinya karena kedua kakak laki-lakinya juga alumni.
Tibalah saat uminya minta pamit, ananda memeluk kencang dan berusaha tegar. " Nak, kita berjauhan tapi yakinlah umimu itu ada disini sambil menujuk dadanya dan Allah akan selalu menjagamu" , ananda mengangguk dan berusaha menahan bulir air mata yang akan keluar.

Sungguh itu moment yang membuat orang tua baper, melty 😭😭😭😭😭.Tapi. Saya berusaha menyembunyikannya sekuat mungkin, bahkan anandaku juga. Saat kami saling melepas pelukan, saya lihat anakku membelakangiku sambil menghapus air matanya yang mengalir. Kamipun langsung menuju kendaraan karena tidak tahan melihat situasi tersebut, dan Air mataku pun tumaph tanpa bisa dibendung lagi. Saya tengok suamiku juga tampak mendung dan mengusap embun dipelupuk matanya.

Perlahan, kami meninggalkan pesantren sambil berdoa "ya Allah aku titipkan anakku padaMu, Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penjaga anakku". Hasbunallah wa ni'mannashir ni'mal maula Wani'man nashir.

Alhamdulillah, kini si bungsu naik ke kelas 9. Sekarang, si bungsu lebih mandiri dalam bersikap dan berpikir. Memiliki kesadaran sendiri untuk tilawah, menghapal dan bertanggung jawab pada tugasnya sebagai siswa. Memang adakalanya harus diingatkan jika menyangkut gadget, terutama disaat Learning From Home.

Baarokallah Anakku...
Semoga tercapai apa yang engkau inginkan...
Semoga Allah selalu melindungi serta memberkahi setiap langkahmu...

Proud of you my son...
Forever love for you... ❤💚💛💙🧡

Bumi Allah, 20 Juni 2020
Rosyidah Carum

Menulis jejak cinta itu mengokohkan kasih sayang, membangkitkan kenangan indah dan menambah rasa syukur

Address

Jalan AH Nasution Perumahan Panorama Alam Parahyangan G 16 Kel Sukamiskin Kec. Arcamanik Kota Bandung
Bandung

Telephone

+628111999891

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Biro Psikologi Progress posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share