17/06/2017
Ustadz Yusuf Mansur, siapa yang nggak kenal? Pertemuan pertama saya dengan beliau pada tahun 2009. Di rumah beliau. Selanjutnya, izinkan saya menyebut beliau, YM. Semata-mata untuk meringkas dan memudahkan saja.
Berbanding ustadz-ustadz kondang lainnya, YM lebih gampang diakses. Lihat saja di social media. Di sisi lain, kalaupun bertemu Aa Gym atau senior-senior lainnya, YM tak keberatan untuk cium tangan. Humble.
Padahal bisnisnya triliunan rupiah. Rumah tahfiz-nya ribuan cabang. Pengaruh dan jangkauannya jangan ditanya. Sangat meluas, sangat mendalam. Namun begitulah, tetap humble.
Ketika di-bully dan diolokin orang, YM cenderung mengalah. Biasanya diam atau malah minta maaf. Padahal dengan pengaruh, relasi, dan follower yang dia punya, dia bisa membalas dengan LEBIH KERAS. Tapi itu nggak pernah dia lakukan.
Ini pesan YM beberapa tahun yang lalu ke saya, "Bully-an, yah dinikmati. Jangan dihalangi apalagi sampai di-block. Biar mereka nyerangnya ke kita aja. Jangan ke barisan yang lebih lemah. Ingat, ketika musuh nggak bisa ngadepin jagoannya, maka yang dihajar adalah keluarga dan orang-orang terdekat jagoannya. Bahkan masyarakat umum. Jadi, selagi mereka nyerang ke kita, konsen mereka ke kita, it's good. Toh, nggak ada yang bisa mencelakakan, kecuali dengan izin Allah."
Satu hal lagi. Pengalaman pribadi nih. Kalau ada sesuatu yang BAIK dari saya, YM sering mengekspos itu di depan publik. Di social media, tabligh akbar, atau di mana gitu. Tapi kalau ada yang KURANG BAIK dari saya, YM men-japri saya. Diam-diam. Orang lain nggak perlu tahu.
Kadang saya heran sama beberapa orang yang ngakunya teman saya. Tapi kalau ada yang kurang baik dari saya, eh kritiknya malah di social media atau grup WA. Sebagian malah cari panggung, pengen terlihat heroik. Padahal kan dia bisa japri saya. Saling kenal tho?
Bukan apa-apa. Insya Allah saya sangat terbuka dengan kritik. Tapi kalau ada kritik antar tokoh seperti itu, biasanya yang ribut malah follower kita. Riuh, gaduh. Kalau dibiarin, dalam jangka panjang malah bisa mengarah pada perpecahan umat.
Soal beginian YM cuma berpesan ke saya, "Nggak usah dibalas. Nggak usah dipikirin. Ntar follower malah bingung dan pecah." Padahal umur saya dan YM cuma beda dua tahun. Tapi dari segi bijaksana dan perihal lainnya, saya bener-bener tertinggal juga sangat perlu belajar.
Suatu hari, entah dari mana, YM tahu saya lagi mengalami masa-masa sulit dalam bisnis saya. Tahu-tahu YM japri saya, menawarkan bantuan. Termasuk bantuan finansial. Saya sangat menghargai bantuan itu, walaupun kemudian saya jawab, "Cukupnya doanya aja, Ustadz. Insya Allah doa Ustadz makbul."
Terakhir, YM juga menganjurkan kita untuk berbisnis dan kuat finansial. Nggak harus langsung besar. Bertahap dulu juga boleh. Malah kalau ngarepnya langsung besar, ntar malah nggak mulai-mulai. Lagi-lagi saya setuju dengan hal ini. Saya harap, Anda juga.
Saya kenal YM bukan sehari dua hari. Insya Allah saya yakin dengan integritas dan kapasitas beliau. Semoga YM tetap sehat, semakin manfaat, rezeki berlipat, dicintai umat, dan selamat dunia-akhirat. Aamiin. Bantu share ya.