KOMPI SUCI

KOMPI SUCI PERHUTSOS merupakan nama dari bisnis yang kami jalani yaitu bisnis hasil produk petani hutan sebagai wujud pemberdayaan masyarakat

22/09/2022

"Dengan mengalir ke lautan, sungai itu setia kepada sumbernya... "

19/09/2022

Kegiatan Susur Sungai Citanduy

18/09/2022
22/11/2021

14 JURUS HEGEMONI KAPITALISME DUNIA
15/12/2016 mtq 4038 Views smartetoz
Ayo Berbagi!
WhatsAppFacebookTwitterLineEmailCopy Link
kapitalismeSwaraSenayan.com. H. Dwi Condro Triono, M.Ag.,Ph.D menjelaskan 14 Jurus Hegemoni Kapitalisme sbb :

Jurus 1.
Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital. Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan apa?

Jurus 2.
Kaum kapitalis merasa perlu membuat mesin “penyedot uang” yang lebih ampuh lagi, yaitu pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini. Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan apa lagi?

Jurus 3.
Kaum kapitalis lalu mengunakan jurus ketiga, yaitu “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jurus 4.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air dsb. Dengan apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Tentu dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jurus 5.
Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka jurus berikutnya adalah “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN). Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu-persatu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jurus 6.
Jika pada jurus kelima kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya? Jurusnya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, karena biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah mencapai 6 jurus ini, maka hegemoni ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini? Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul jurus-jurus berikutnya, yaitu jurus untuk melakukan hegemoni di tingkat dunia.

Jurus 7.
Jurus ketujuh adalah jurus untuk membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Caranya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya. Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jurus 8.
Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka jurusnya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus menggunakan jurus yang kedelapan, yaitu membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Caranya adalah dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jurus 9.
Apakah dengan membuka MNC belum cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Dengan jurus kesembilan. Jika kapitalis dunia ingin menjadi besar lagi, caranya adalah dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya jurus ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut. Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Jurus 10.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan apa? Jurus kesepuluh adalah jurus untuk menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Caranya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jurus 11.
Jurus yang kesebelas adalah jurus untuk menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut, yaitu dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya. Apa targetnya?

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.

Jurus 12.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, jurus-jurus hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan jurus yang keduabelas. Jurus inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervensi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup? Jika kaum kapitalis sudah mencapai 12 jurus ini, maka hegemoni ekonomi di tingkat dunia nyaris terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini? Tentu saja belum. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan jurus berikutnya.

Jurus 13.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Jurus 14.
Jurus pamungkas dari kaum kapitalis untuk menghadapi krisis ekonomi ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. *

17/11/2019

Ashaki Sahasika 3 tahun abi ngiringan BPJS nyandak kls.1, blm pernah dipakai selama 3 thn itu, pas mau dipakai utk pertamakalinya udh ada masalah saat bikin rujukan ke faskes pelayanan jelek merasa diulinkeun, udh antri dari jam 6 sampe jam 10, eh seenaknya bilang surat rujukan ga bisa dibikin krn dokternya ga bisa dtg pd hari itu, sejak saat itu sy stop ga bayar lagi bpjs...eehh bbrp bulan kemudian dtg petugas bpjs nagih ke rumah, beak tah dicarekan ku abi nepika soakeun 😂..sy bilang silahkan dihitung, justru sy yg tekor selama 3 thn bayar bpjs kls.1 blm sekalipun digunakan, ngapain mau nagih..nah smenjak itu ga ada lagi yg brani nagih ke rumah 😁...dari awal males ikutan bpjs, cuma didatangi Pak RT terus disarankan harus ikutan..merasa ga enak krn udh kenal dekat sm Pak RT nya 😁

HASIL ANALISIS PETA KAWASAN DARAJAT KECAMATAN PASIRWANGI KABUPAEN GARUTOleh : Dadang Nurdin I.  Dasar Penggunaan PetaPet...
01/11/2019

HASIL ANALISIS PETA KAWASAN DARAJAT KECAMATAN PASIRWANGI KABUPAEN GARUT
Oleh : Dadang Nurdin

I. Dasar Penggunaan Peta
Peta yang digunakan pada analisis peta kecamatan Pasirwangi/kawasan darajat adalah peta lampiran Perda Nomor 29 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut tahun 2011-2031.

II. Jenis Peta
Jenis peta yang digunakan dalam analisis Kecamatan Pasirwangi/Kawasan Darajat meliputi Peta Batas Kawasan Kecamatan Pasirwangi, Peta Desa, Peta lereng/kemiringan tanah, peta kawasan hutan, peta kawasan lindung/rawan bencana , Peta Sungai, dan Peta kontur dengan skala 1:100.000.

III. Metode Analisis
Metode yang digunakan untuk analisis peta adalah dengan cara mengidentifikasi setiap jenis satuan peta dan overlay beberapa jenis peta diantaranya Peta Batas Kawasan Kecamatan Pasirwangi, Peta Desa, Peta lereng/kemiringan tanah, peta kawasan hutan, peta kawasan lindung/rawan bencana.

IV. Hasil Analisis
A. Identifikasi Peta
Hasil Identifikasi peta (Tabel 1) mencakup penjelasan mengenai lokasi Kawasan hutan, Kawasan lindung/kawasan rawan bencana, dan kelerengan berdasarkan penyebaran Desa di kawasan Kecamatan Pasirwangi sebagai berikut :
1. Kawasa Hutan
Kawasan Hutan di wilayah Kecamatan Pasirwangi terdiri dari Hutan lindung dengan luas 1192,4 Ha yang tersebar di tiga desa diantaranya Desa Karyamekar (143 Ha), Desa Padaawas (621 Ha), dan Desa Barusari (290,9 Ha) dan hutan Konservasi yang yang tersebar di Desa Sarimukti (33,2 Ha), Desa Karyamekar (137,1 Ha), Desa Padaawas (156,5 Ha), dan Desa Barusari (216,3 Ha).
2. Kawasan Lindung
Kawasan Lindung terdiri dari Rawan bencana alam yang meliputi daerah rawan pergerakan menengah tersebar di 12 Desa Kecamatan Pasirwangi. Desa terluas dan terkecil dengan rawan pergerakan tanah menengah masing-masing adalah Desa Karyamekar yaitu 211,56 Ha (11,6%) dan Desa Padasuka yaitu 0,4 Ha (0,02%); Daerah dengan rawan pergerakan tanah tinggi (332 Ha) tersebar di 5 desa diantaranya Desa Padamukti, Desa Pasirkiamis, Desa Padaasih, Desa Sirnajaya, dan Dan Desa Padasuka. Desa Padamukti merupakan desa dengan tingkat rawan pergerakan tanah terluas yaitu 39,4 Ha (26,3%); Daerah Rawan gunung api tersebar di 3 Desa yaitu Desa Padaasih (11,2 Ha), Desa Padasuka 16,9 Ha, dan Desa Padamulya (3,2 Ha).
Jenis Kawasan lindung lainnya adalah Daerah resapan Air ( 332 Ha) yang tersebar di 5 wilayah desa yaitu Desa Sarimukti, Desa Karyamekar, Desa Pasirwangi, Desa Padaawas, dan Desa Barusari. Desa Karyamekar merupakan Desa dengan derah resapan air terluas yaitu 212 Ha (63%), adapun Desa dengan Daerah Resapan Air terkecil adalah Desa Pasirwangi 14,9 Ha (7,0%)
3. Kelerengan
Kelerengan diklasifikasikan menjadi beberapa jenis kelerengan diantaranya daerah dengan kelerengan 0-2% yang tersebar di Desa Padaawas dan Desa Padaasih, kelerengan 2-5% tersebar di 9 desa terutama di desa Padaasih dengan luas 137,5 Ha, Kelerengan 5-15% tersebar di 12 Desa terutama tersebar di Desa Padaawas 433,6 Ha, Kelerengan 15-40% tersebar di 8 Desa dengan wilayah terluas dengan kelerengan tersebut adalah Desa Padaawas yatu 735,6 Ha (31%) dan kelerengan >40% terdapat di Desa Sarimukti 507,2 Ha dan Desa Barusari 21,1 Ha.

B. Hasil Overlay Peta
Berdasarkan hasil overlay ketiga jenis peta (Tabel 2) yaitu Peta Kelerengan, Peta Kawasan Lindung dan Peta Hutan dapat disimpulkan bahwa daerah dengan Kawasan rawan pergerakan tanah tinggi dengan kelerengan 2-5% terdapat di Desa Padamukti (18,54 Ha), Desa Pasirkiamis (8,43 Ha) dan Desa Padaasih (0,5 Ha); daerah kawasan rawan pergerakan tanah menengah dengan kelerengan 2-5% terluas terdapat di Desa Padaasih (128,1 Ha), dengan kelerengan 15-40% terluas terdapat di Desa Padaawas (155 Ha), dengan kelerengan 5-15%, terdapat di Desa Padaawas (224,78 Ha); Daerah Rawan Kawasan Gunung Api dengan kelerengan 2-5% terluas terdapat di Desa Padaasih (8,9 Ha), dengan kelerengan 5-15% terluas terdapat di Desa Padasuka (11,34 Ha); Daerah Resapan air dengan kelerengan 2-5% terdapat di Desa barusari (1,18 Ha) dan dengan Kelerengan 15-40% terluas terdapat di desa Karyamekar (180 Ha); Daerah Kawasan Hutan Lindung dengan kelerengan 2-5% terluas terdapat di desa Padaawas (131,63 Ha), dengan kelerengan 15-40% terluas terdapat di Desa Padaawas (441,75 Ha), dengan kelerengan 5-15% terdapat di Desa Sarimukti (5,17 Ha), dan dengan kelerengan >40% terdapat di Desa Barusari (5,14 Ha); Daerah Kawasan Hutan Konservasi dengan kelerengan 5-15% terluas terdapat di Desa Sarimukti (81,13 Ha), dengan kelerengan 15-40% terluas terdapat di Desa barusari (160,31 Ha), dan Dengan Kelerengan >40% terluas terdapat di Desa Sarimukti (25,25 Ha).

C. Kondisi eksisting Kawasan Darajat dan Rencana Pengembangan
Kawasan Darajat secara geografis terletak di luar kawasan hutan di Desa Karyamekar yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung. Berdasarkan hasil overlay peta kelerengan dan peta kawasan lindung kawasan ini terletak di daerah resapan air dan daerah rawan pergerakan tanah menengah dengan kelerengan 5-15%.
Rencana Pengembangan Kawasan darajat terutama diproyeksikan pada lokasi sepanjang jalan utama dari batas kawasan Kecamatan Pasirwangi sampai batas kawasan hutan lindung yang mencakup Desa Padaasih, Desa Padasuka, Desa Sirnajaya, Desa Padamulya, Desa Pasirwangi, Desa Padaawas, dan Desa Karyamekar.
Berdasarkan hasil identifikasi peta terlihat bahwa jalur jalan utama di Desa Padaasih merupakan daerah rawan pergerakan tanah menengah dan sebagian jalur jalan di Desa Padasuka merupakan Daerah Rawan Pergerakan Tanah Tinggi. Pada jalur jalan kawasan Darajat di Desa Pasirwangi dan Padaawas merupakan daerah rawan pergerakan tanah menengah dan Jalur jalan utama di Desa karyamekar merupakan Daerah Resapan Air. Adapun sebagian besar kelerengan pada sepanjang jalur jalan tersebut adalah 5-15%.
Beberapa wilayah menjadi daerah resapan air dan perlu ditanami dengan vegetasi diantaranya sub sub Das Cidaulat di Desa Karyamekar, Sub sub Das Cikatomas di Desa Barusari, Sub sub Das Cibongkor dan Cijeruk di Desa Pasirwangi, sub sub Das Ci Gurantung di Desa Sarimukti, Sub sub Das Cipeundeuy di Desa Talaga, Sub Sub Das Cikapundungan di Desa Padasuka, Sub sub Das Cibodas di Desa Sirnajaya, dan Sub sub Das Ciendut di Desa Pasirkiamis.

Tabel 2. Hasil Overlay Peta Kawasan Lindung, Peta Hutan, Peta Lereng Untuk Daerah Kecamatan Pasirwangi



LERENG

KAWASAN LINDUNG DAN HUTAN

DESA

LUAS (Ha)

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PADAMUKTI

18,54

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAMUKTI

78,44

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PASIR KIAMIS

8,43

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PASIR KIAMIS

0,58

2 - 5%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADAASIH

8,91

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PADAASIH

0,50

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAASIH

128,10

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

SIRNAJAYA

0,37

2 - 5%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADASUKA

5,54

2 - 5%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADAMULYA

0,15

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAAWAS

1,08

2 - 5%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

BARUSARI

6,29

2 - 5%

Kaw. Resapan Air

BARUSARI

1,18

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

SARIMUKTI

72,20

15 - 40%

Kaw. Resapan Air

SARIMUKTI

58,18

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

TALAGA

17,29

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

KARYAMEKAR

56,92

15 - 40%

Kaw. Resapan Air

KARYAMEKAR

180,81

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAMULYA

24,93

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PASIRWANGI

155,31

15 - 40%

Kaw. Resapan Air

PASIRWANGI

5,37

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAAWAS

155,41

15 - 40%

Kaw. Resapan Air

PADAAWAS

13,84

15 - 40%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

BARUSARI

63,57

15 - 40%

Kaw. Resapan Air

BARUSARI

0,40

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PADAMUKTI

20,83

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAMUKTI

22,07

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PASIR KIAMIS

19,73

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PASIR KIAMIS

1,02

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

SARIMUKTI

68,32

5 - 15%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADAASIH

2,30

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PADAASIH

36,42

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAASIH

45,79

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

SIRNAJAYA

13,23

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

SIRNAJAYA

3,61

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

TALAGA

79,34

5 - 15%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADASUKA

11,34

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Tinggi

PADASUKA

32,34

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADASUKA

0,40

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

KARYAMEKAR

154,65

5 - 15%

Kaw. Resapan Air

KARYAMEKAR

31,25

1

2

3

4

5 - 15%

Kaw. Rawan Gunung Api

PADAMULYA

3,09

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAMULYA

73,53

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PASIRWANGI

244,61

5 - 15%

Kaw. Resapan Air

PASIRWANGI

9,60

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAAWAS

224,78

5 - 15%

Kaw. Resapan Air

PADAAWAS

13,43

5 - 15%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

BARUSARI

135,04

5 - 15%

Kaw. Resapan Air

BARUSARI

18,73

0 - 2%

Kaw. Rawan Gerakan Tanah Menengah

PADAASIH

4,12

2 - 5%

Hutan Lindung

PADAAWAS

16,40

2 - 5%

Hutan Konservasi

PADAAWAS

0,00

2 - 5%

Hutan Lindung

BARUSARI

3,35

15 - 40%

Hutan Lindung

SARIMUKTI

131,63

15 - 40%

Hutan Konservasi

SARIMUKTI

226,84

15 - 40%

Hutan Lindung

KARYAMEKAR

134,51

15 - 40%

Hutan Konservasi

KARYAMEKAR

100,21

15 - 40%

Hutan Lindung

PADAAWAS

441,75

15 - 40%

Hutan Konservasi

PADAAWAS

124,63

15 - 40%

Hutan Lindung

BARUSARI

191,17

15 - 40%

Hutan Konservasi

BARUSARI

160,31

5 - 15%

Hutan Lindung

SARIMUKTI

5,17

5 - 15%

Hutan Konservasi

SARIMUKTI

81,13

5 - 15%

Hutan Lindung

KARYAMEKAR

8,46

5 - 15%

Hutan Konservasi

KARYAMEKAR

36,85

5 - 15%

Hutan Lindung

PADAAWAS

161,70

5 - 15%

Hutan Konservasi

PADAAWAS

31,92

5 - 15%

Hutan Lindung

BARUSARI

91,26

5 - 15%

Hutan Konservasi

BARUSARI

40,02

0 - 2%

Hutan Lindung

PADAAWAS

1,87

> 40%

Hutan Konservasi

SARIMUKTI

25,25

> 40%

Hutan Lindung

BARUSARI

5,14

> 40%

Hutan Konservasi

BARUSARI

15,94

Sumber Peta : Lampiran Perda No. 29/2011 Kab. Garut tentang RTRW Kabupaten Garut tahun 2011-2031

30/08/2017

Address

Banjar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KOMPI SUCI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to KOMPI SUCI:

Share