13/02/2022
PASAR Terapung adalah landmark Kota Banjarmasin.
Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, terasa belum lengkap apabila tidak ke Pasar Terapung.
UNIKNYA, para pedagang maupun pembeli menggunakan alat transportasi jukung. Jukung adalah sebutan perahu dalam Bahasa Banjar. Pasar ini mulai “menggeliat” usai shalat Subuh sampai matahari sedikit naik.
Bagi warga Banjarmasin, tentunya keberadaan Pasar Terapung di Kuin sudah bukan barang baru. aktivitas Pasar Terapung yang eksotis, bertransaksi di atas perahu.
Bagaimana sejarah Pasar Terapung? Kapan dan bagaimana mulai ada Pasar Terapung? Mana yang lebih tua Pasar Terapung di Kuin atau di Lok Baintan? serta sederet pertanyaan lainnya.
Dari sudut pandang historis atau kesejarahan, pasar terapung (floating markets) Kuin di Banjarmasin sudah ada sejak 480 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung atau yang dalam Bahasa Belanda dikenal dengan drijvende markt,sudah ada tepatnya pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera).
Pasar Terapung ini terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi Sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Sementara Pasar Terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, baru ada belakangan. Ketika perpindahan Keraton Banjar ke kawasan Kayutangi Martapura sejak awal abad ke-17. Tepatnya sekitar tahun 1612 M.
Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa Pasar Terapung di Muara Kuin Kota Banjarmasin adalah peninggalan dari aktivitas perdagangan bandar niaga Kesultanan Banjar pertama. Oleh karena itu kawasan Pasar Terapung pada periode awal dituliskan sebagai Bandar niaga Bandar Masih, Muara Kuin, Banjarmasin. Pasar Terapung yang embrionya muncul sejak abad ke-16 adalah tempat para pedagang Banjar zaman dahulu.
Sumber : jejakrekam[dot]com