Milyarder Muda

Milyarder Muda Peluang Bisnis Terbaru cocok untuk pria dan wanita berbagai profesi www.ShannenNetwork.com JOIN NOW ada promo menarik untuk Anda Temukan panduannya DISINI..

Dapatkan Segera Senjata Rahasia Internet Marketer, Bagaimana menyebarkan bisnis anda hingga mewabah tiada henti bagaikan virus yang terus menyebarkan informasi bisnis kamu secara tertarget dan dengan cara yang gratis? skema penyabarannya Dari 10 Menjadi 100, 100 Menjadi 1000, 1000 Menjadi 10.000, 10.000 Menjadi 100.000 dst berita itu akan tersebar.

28/12/2015

Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka.

Minds are like parachutes - they only function when open.

Thomas Dewar

25/12/2015

Cerpen Motivasi

Lintang Kemukus

Garam Mogok Asin

Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur dalam masakan agar cepat larut.

Rasaku? Jangan ditanya lagi. Keasinanku sudah terkenal dari masa ke masa. Ada yang sangat asin, asin dan cukup asin. Maka kau bisa menaburkanku sesuai dengan kadarnya.

Tanpaku masakan jadi terasa hambar dan tak nikmat. Coba saja kalo tak percaya. Tapi jangan coba-coba mencicipinya begitu saja dalam jumlah banyak. Lidahmu akan kelu keasinan.

Sebalnya, manusia tak menghargaiku! Berapa coba harga garam? Dengan lima ratus rupiah, manusia bisa mendapatkan sekantong garam. Padahal fungsiku tak sebanding dengan harga belinya. Seenaknya saja mereka meremehkanku. Mentang-mentang aku ada dalam jumlah banyak.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.

“Prens, sudah saatnya kita menyuarakan hak kita. Keadilan harus ditegakkan. Jangan mau dihargai semurah ini sementara manusia begitu rakus memanfaatkan kita. Mari bersama kita melakukan gerakan aksi anti asin. Setiap kita yang dicampur dalam masakan, jangan keluarkan rasa asin itu!”

Aku tersenyum puas. Smsku terkirim sempurna ke aneka ragam dan rupa garam di kampung ini. Rasakan pembalasan kami wahai manusia!

“Tadi saya masak sayur pake lima sendok garam, kok enggak asin ya?” seorang ibu curhat pada tetangganya di forum arisan.

“Jangankan lima sendok. Saya pake lima bungkus saja tidak asin,” Ibu lain menyeletuk bingung.

“Suami saya mengira saya enggak pake garam. Sampe ngasih uang belanja tambahan untuk beli garam,” Ibu muda yang punya anak balita ikut nyambung.

“Sayur saya juga hambar. Saya sampe beli garam di kampung sebelah. Tapi setelah masuk kampung kita, asinnya hilang. Padahal saya udah bela-belain nyicip itu garam di warung kampung sebelah,” Ibu yang gemuk ikut berkomentar.

Aku mneyeringai penuh kemenangan. Rasakan kau!

Aksi yang kumobilisasi ini akhirnya terdengar juga hingga garam-garam di kampung lain, hingga sampai pada tambak-tambak pembuatan garam dan bergaung di lautan. Bangga jadinya. Ada yang mendukung, ada yang acuh, ada yang mencemooh. Biarin, bukankah perubahan selalu dimulai dengan penolakan?

Laut akhirnyamengirimsms padanku, menanyakan sebab musabab boikot kami. Bagaimanapun juga ia berperan melahirkanku menjadi garam.

“Kita gak dihargai sebagaimana mestinya. Makanya kita protes,”

“Emang kamu mau minta dihargai berapa?”

“Yah, jangan lima ratus rupiah lah,”

“Kan kalo beli garam satu truk harganya bukan limaratus rupiah,”

Aku mendengus marah.

“Enakan punya nilai diri daripada harga diri?”

“Maksudnya?” aku bertanya.

“Jangnlah kita peduli berapa kita dihargai orang. Bagaimana kita dinilai orang. Asalkan kita tetap memberikan manfaat bagi mereka. Itulah nilai diri,”

“Bagaimana bisa?” aku protes.

“Kita tak butuh penghargaan. Bermanfaat saja sudah membahagiakan hati. Asal kita lapang dan ikhlas melakukannya,”

Aku termenung sesaat. Teman-teman garam lain juga ikut berpikir.

“Jadilah garam yang dicari karena manfaatnya meskipun kau terlihat sepele dan remeh. Bagaimanapun mereka membutuhkanmu. Bukankah tujuan kehidupan kita adalah bermanfaat bagi yang lain?”

Aku jadi malu dengan ucapan laut. Ia memang selalu luas dan lapang hatinya. Ia selalu menerima segala sesuatu yang dikirim sungai tanpa protes. Mau air, mau sampah, mau limbah, mau mayat. Ia terima dengan terbuka. Ia kembalikan pada pesisir pantai pada waktunya.

Andai aku bisa selapang laut dengan kedalaman keikhlasannya, tentulah tak jadi soal bagaimana manusia menghargaiku. Bermanfaat bagi mereka menjadi nilai pribadiku semestinya.

“Alhamdulillah, garam saya sudah asin lho,”

“Iya, masakan saya kembali nikmat. Suami dan anak-anak tak lagi protes,”

“Garam benar-benar bermanfaat ya,”

Saya tersenyum bahagia mendengarnya. Kami mengakhiri mogok kami usai berdialog dengan laut kemarin sore.

Sekarang, saatnya aku berkorban. Sebuah wajan panas dengan tumisan kangkung memanggilku mesra. I’m coming!

Cerpen Karangan: Yosi Prastiwi

24/12/2015

Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan.

The way to get started is to quit talking and begin doing.

Walt Disney

23/12/2015

Cerpen Motivasi

Sebuah Jawaban diujung Jurang

“Setiap orang berhak bahagia”.
Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang.
Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar.
Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu.

Dulu, aku adalah orang yang bahagia.
Aku punya keluarga yang peduli samaku, punya banyak teman yang sayang samaku, dan aku juga punya pacar yang cinta samaku.
Dan menurut aku, kelengkapan inilah yang dinamakan sebuah kebahagiaan.
Tapi, sebuah kejadian mengingatkanku dengan lagu Peterpan – Tak Ada Yang Abadi.
Karena memang tidak ada yang abadi didunia ini.
Termasuk kebahagiaan.
Selalu ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mencabut nikmat kebahagiaan itu.
Dan aku, juga merasakannya.

Sebuah keputusan yang aku lakukan tanpa berfikir panjang, membuatku kehilangan semuanya.
Aku adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai seorang Karyawan disebuah Perusahaan Swasta.
Sifatku yang s**a bergaul dengan teman-temanku, membuat aku jadi sering mentraktir mereka dalam setiap pertemuan.
Mulai dari mentraktir makan, minum, bahkan rokok sekalipun, aku yang traktir.
Sampai suatu hari uang itupun enggan buat masuk kedompetku lagi.
Iya, kapal perekonomianku lagi goyang saat itu.
Akupun jadi bingung, “Bagaimana bisa aku berkumpul dengan teman-temanku tanpa uang sepeserpun?”.

Sore itu, aku merenung di bawah pohon rindang yang terletak di belakang kantorku.
Aku masih berfikir, “Haruskah aku berkumpul dengan teman-temanku malam ini?”
Aku menunggu, dan terus menunggu.
Menunggu aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Sampai Bang Sitompul, seorang yang bekerja sebagai Administrasi di perusahaan ini, datang menghampiriku.

“Kau kenapa Leo?” Tanya dia.
“Biasalah bang, masalah uang.” Jawabku dengan lesu.
Lalu dia datang menghampiriku lebih dekat, dan berbisik “Abang akan membantumu dengan cara yang tidak halal. Kau mau?”.
Aku berfikir, dan berfikir lagi.
Sampai akhirnya, untuk teman-temanku, aku berfikir untuk “mengiyakannya”.

Setelah itu, uang pun mengalir dengan indahnya ke dalam dompetku.
Akupun bisa tertawa lepas saat berkumpul dengan teman-temanku, bisa merasakan kesenangan yang luar biasa saat bertemu dengan pacarku.
Aku berhasil mempertahankan kebahagiaanku.
Sampai suatu hari, polisi datang kerumahku.

“Anda saudara Leo?” Tanya dia.
“Benar pak. Ada apa yah?” Tanyaku sedikit gugup.
“Maaf, ini ada surat perintah penahanan terhadap saudara.” Jelasnya, sambil memperlihatkan sebuah kertas kepadaku.
“Loh! Tapi salah saya apa pak?” Tanyaku benar-benar kaget.
“Nanti bisa saudara jelaskan di kantor polisi.” Jelasnya.

Sesuatu yang benar-benar menyeramkan, tapi ini bukan mimpi.
Tanganku diborgol, kedua orang tuaku menangis, ternyata ini benar-benar kenyataan.
Sesampainya dikantor polisi, aku melihat Bang Sitompul dan segenap pihak Perusahaan ada disana.
Ternyata, aku dan Bang Sitompul tertuduh atas tuduhan Penggelapan Terhadap Perusahaan.
Perasaanku benar-benar hambar, sangat hambar.
Bahkan aku sudah tidak mampu lagi membedakan antara rasa takut dan menyesal.
Semuanya berputar di hati ini, sampai akhirnya polisi menjadikan kami tersangka atas tuduhan yang di lampirkan oleh pihak perusahaan.
Benar-benar sebuah mimpi bagiku bisa tidur di balik jeruji besi ini.
Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima.
Aku mendekam dipenjara.

Dua bulan berlalu.
Dan aku yang pada saat itu berusia 19 tahun, dipindahkan ke sebuah Lembaga Permasyarakatan Anak (LPA) untuk mengikuti persidangan.
Sementara Bang Sitompul dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Dewasa (LPD), dikarenakan usianya yang sudah dewasa.
Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya Hakim menjatuhi hukuman terhadap kami dengan masa pidana “1 tahun dan 6 bulan”.
Aku terkejut, karena itu merupakan waktu yang lama.
Sementara ibuku yang pada saat itu hadir dipersidangan, pingsan karena mendengarkan masa pidana yang diberikan oleh Hakim itu.
Aku hanya bisa terdiam.
Kecewa terhadap diriku sendiri.
Tapi ini adalah sebuah pelajaran hidup yang harus aku pelajari.
“Apa hikmah dibalik semua ini?”.

1 tahun dan 6 bulan pun berlalu.
Senang, sedih, ketawa, menagis, semua kurasakan di LPA ini.
Dan aku bersyukur, karena ternyata aku mampu melewati masa sulit ini dengan baik.
Sesampainya dirumah, aku langsung memohon maaf kepada kedua orang tuaku.
Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku perbuat.
Dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.

Saat malam, aku berniat untuk menemui pacarku dirumahnya.
Rasanya kebahagiaan itu benar-benar kembali saat aku keluar dari LPA itu.
Tapi ternyata aku salah.
Aku malah diusir oleh pacarku.

“Lebih baik kamu p**ang aja deh. Aku nggak mau pacaran sama mantan Napi! Kita putus!” Jelasnya dengan emosi yang tinggi.
“Tapi…” Aku ingin berusaha menjelaskan semuanya.
“Nggak ada pakai tapi! Pulang kamu sana!” Potongnya sambil mengusirku.

Aku berjalan meninggalkan rumahnya sambil menangis.
“Sehina inikah aku dimata orang-orang?”.
Aku terus menangis, menahan rasa sakit, sampai akhirnya aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Akhirnya aku putuskan untuk minum di sebuah Café, sambil menenangkan diri.
Saat masuk ke pintu Café, aku melihat teman-temanku lagi berkumpul disana.
Karena merasa senang, aku menghampiri mereka.
Aku duduk diantara mereka.
Tapi apa?
Sejak aku duduk disitu, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan aku.
Dan akhirnya, hanya tinggal aku sendiri yang duduk disitu.
Sekarang, aku benar-benar merasa hina.

Selesai menghabiskan minumanku, aku putuskan untuk p**ang kerumah.
Aku masuk kekamar, dan merebahkan badanku ditempat tidur.
Berharap waktu bisa berputar kembali.
Tapi kenyataannya, hidup terus berjalan maju.
Seberat apapun masalah yang aku hadapi, semua pasti ada hikmahnya.
“Tapi, apa hikmah dibalik semua ini?”.
“Apakah aku harus jadi manusia yang jujur?”.
“Apakah aku tidak boleh terlalu baik sama orang-orang yang aku sayangi?”.
“Apakah aku harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan?”.

Aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Mungkin karena aku telah jatuh ke jurang yang terlalu dalam, hingga akhirnya aku tidak mampu lagi memikirkan daratan yang ada diatas sana.
Yang kufikirkan hanyalah “Mampukah aku bertahan hidup sesampainya aku diujung jurang ini?”.
Namun, tidak ada yang menjawabnya.
Karena jawabannya ada diujung jurang itu.

Cerpen Karangan: Bryan Adams

23/12/2015

Hidup ini singkat. Tidak ada waktu untuk meninggalkan kata-kata penting tak terkatakan.

Life is short. There is no time to leave important words unsaid.

Paulo Coelho

22/12/2015

Cerpen Motivasi

Panggil Aku Pahlawan Penghianat

Ribuan, bahkan jutaan manusia memenuhi Taman Pemakaman Umum (TPU) di Desa Sukamenang. Sebuah Desa yang berada di ujung Negeri Indonesia. Puluhan orang yang menggotong keranda kematian, saling silang untuk mengganti sudut pemikul keranda. Mereka berharap dapat mencatat jasa terakhir untuk kematianku, walau hanya sebatas mengangkat jenazahnya. Maklum, aku adalah aktifis yang selalu membela hak orang lain. Dari abang becak, tukang ojek, mahasiswa, buruh, TKW, pedagang kakilima hingga pekerja seks komersial alias lonthe. Kini mereka datang untuk kali terakhir; mengantarkan jasadku untuk kemudian dikubur bersama cerita semasa di dunia.

Aku terbunuh dalam sebuah becak, saat aku hendak p**ang. Bukan karena becak yang kutumpangi tertabrak mobil. Tetapi karena aku minum air mineral yang belakangan diketahui sudah dimasuki racun air seni seorang pengidap HIV/AIDS. Virusnya secara cepat kemudian menjalar ke sekujur tubuhku, hingga aku terkulai lemas diatas becak tak berdaya. Persis seorang laki-laki terkena HIV/ AIDS atau seperti pe*is impoten yang tak mampu menembus liang va*ina karena ia sudah menjadi benang basah. Lemas. Lunglai. Tak berdaya. Akhirnya aku mati sebelum sampai di Rumah Sakit.

Aku sudah dimasukkan ke dalam liang lahat. Gelap. Tak ada lampu. Apek. Sebentar lagi cacing mulai keluar bersamaan dengan malaikat penyiksa kubur. “Hiii, ngeri,” tiba-tiba ada perasaan takut menyusup. Padahal jauh sebelum aku terbaring di dalam kubur tak ada yang kutakutkan. Dari pangkat Jenderal Hansip sampai Jenderal Satpam berbintang kejora tak membuatku surut kebelakang. Aksi demo sudah ratusan kali aku pimpin. Terakhir aku hanya mampu membawa massa 500 orang, karena ongkos dari donatur tak cukup untuk membayar para demonstrans. Uang 1 juta rupiah aku terima. Sementara sebelum pergi aku harus meninggalkan uang bagi anak dan isteriku 500 ribu rupiah. Itu pun belum masuk biaya susu, bayar lampu, air dan kontrakan rumah. Tapi cukuplah untuk satu pekan aku bernapas sambil mencari proyek lain yang bisa aku jual di dalam atau ke luar negeri. Ya, aku belajar seperti LSM profesional yang acapkali menjadi agen asing di negeri ini.

Kaki-kaki para pelayat terdengar sedang memadatkan tanah pemakaman. Kali ini mereka injak-injak aku. Padahal waktu aku masih hidup, jangankan menginjakku, untuk bertatapan saja tidak berani. Mereka semua adalah sahabatku. Dulu mereka sering aku bagi uang kalau aku sedang mendapat proyek demo. Atau ada program luar negeri guna mendata jumlah kemiskinan di Desa Sukamenang lalu aku kirim ke luar negeri. Dalam satu pekan saja proposal tembus 150 juta. Dahsyaat, Men! Tetapi sekarang?! Mereka juga yang kini menginjakku. Tapi aku yakin, ini bukan didasari kebencian. Bagaimana mungkin mereka benci terhadapku, sementara mereka banyak belajar dariku tentang apa saja. Tentang membuat daftar kehadiran palsu untuk laporan ke donatur luar negeri agar jumlahnya pas dengan anggaran. Belum lagi, aku juga mengajari mereka membuat stempel rumah makan, catering snack agar mudah untuk membuat kuitansi.

Dalam teknologi, kuajari mereka program photoshop. Mereka kemudian lihai memanip**asi foto pertemuan di komunitas kaum urban pada sebuah perkampungan kumuh, lalu aku selipkan fotoku seolah aku sedang berada di tengah-tengah mereka. Padahal foto dan kehadiranku palsu. Dengan ragam ilmu yang mereka dapat, tentu mereka menginjakku kali ini bukan atas dasar kebencian.

Aku sudah lima menit terbaring dibawah papan penutup mayat. Tapi derai tangis kaum kerabatku masih terdengar jelas dari dasar kubur. Suaranya gemuruh. Sesekali menderu tidak teratur seperti derum mesin mobil yang terjebak macet. Sebagian lagi suaranya agak tersendat seperti mesin kendaraan kehabisan bensin. Di ujung makam suaranya rada samar. Yang terdengar hanya kalimat ; Almarhum masih mempunyai tanggungan hutang!
“Aduh, sial! Itukan urusan nanti setelah pemakamanku selesai. Lagi p**a itu kan bisa ditagih pada ahli warisku! Jangan diatas taman pemakaman, lah! Mestinya kalian doakan aku, agar aku bisa mendapat keringanan pengadilan kubur! Bukan malah menagih hutang!,” aku mengumpat kesal pada sekelompok tukang cetak sablon tempat aku memesan kaos dan stiker yang belum lunas aku bayar.

Tetesan air mata dari sejuta pasang mata terus mengalir. Ia tak bisa terbendung sebagaimana luapan lumpur Lapindo Brantas di Jawa Timur. Berapa gulung tisu dan kain harus menyeka derai air mata kaum kerabat, tetapi ia tak sanggup menghalau luapan emosi embun yang menggumpal menembus kornea dan membasahi p**i. Ini sama dengan upaya tim penyelamat lumpur lapindo yang memasukkan ratusan bola baja ke dalam lobang luapan lumpur, tetapi masih gagal juga karena memang Tuhan ingin mematahkan logika dan teori manusia.
Suara sepatu, sandal dan terompah perlahan kian menjauh. Ini berarti para pelayat sudah tujuh langkah meninggalkanku. Sebentar lagi malaikat akan datang mengadiliku. Aku harus bersiap diri. Tapi disini aku tidak ada pengacara, seperti ketika aku ditahan karena ribuan abang becak bentrok dengan aparat menolak pemberlakuan SIM Becak di Kota Palembang.

Pengadilan kubur tak kenal dengan suap atau jual beli seperti orang tua membelikan nilai anaknya karena tidak naik kelas. Negosiasi harga tidak berlaku disini. Tidak seperti calon pegawai negeri sipil yang harus menyuap 15 juta agar SK CPNS-nya segera turun.
Aku juga tidak bisa memals**an data seperti camat yang menyuruh para kepala desa untuk memadatkan jumlah orang miskin agar jatah Bantuan Langsung Tunai (BLT) bisa melebihi jatah sehingga para aparat juga mendapat bagian. Ini murni catatan malaikat. Tapi malaikat hanya mencatat hal-hal yang fisik saja. Kalau soal kata hati, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku agak berbesar hati. Kalau saja akan ada data yang dikonfrontir antara data keburukan fisik dan keburukan batin. Menurutku jumlahnya fifty-fifty. Tetapi entahlah menurut catatan Tuhan. Aku memang harus menunggu. Boleh jadi ada selisih jumlah kebaikan dan keburukan antara Tuhan dan malaikat. Sama dengan pemberitaan kriminal seorang wartawan yang salah akibat wartawan tidak melakukan ferifikasi ke lokasi kejadian.

Karena hanya nongkrong di pos polisi, data yang ditulis tidak akurat. Tapi mungkinkah catatan malaikat tidak akurat seperti wartawan yang menulis berita dengan “jurnalisme katanya?” semua kuserahkan saja pada Tuhan. Toh, menurut Kiai Majid, malaikat juga mahluk sama dengan manusia yang keduanya juga ciptaan Tuhan. Tak perlu aku bergantung pada mahluk. Aku hanya wajib berserah diri pada yang menciptakan mahluk: Tuhan!. Dalam posisi ini aku tidak mungkin lagi menduakan Tuhan. Ini musyrik! Ujar Kiai Majid suatu kali.
“Hei! Siapa kau?!” sebuah pertanyaan berada tinggi terdengar dari sebelah ruang kubur. Aku tergeregap. Kutatap matanya. Tapi tak jelas. Hanya samar-samar aku bisa melihat rona yang rada seram. Sepertinya orang ini tidak kenal aku. Aku ini mantan demonstrans yang tak takut pada siapapun. Tak boleh penghuni kubur ini seenaknya saja bertanya dengan membentak padaku. Kau pikir aku ini siapa? Kucoba untuk melawannya. Kudekati hingga hindungku hampir bersentuhan, seperti orang pacaran yang malu-malu ciuman takut ada yang mengintip.

“Kau pasti orang Batak? Atau orang Sumsel?” selidikku.
“Ah, Rasis kali, kau,” jawabnya.
“Nah, asli! Kalau dengar logat dan dialek bicaranya, kau pasti orang Batak,” aku berbesar hati karena bertemu dengan penghuni makam dari satu daerah. Ya, paling tidak sama-sama dari Sumatra.

Tak lama kami bicara, banyak lagi berdatangan mayat yang kemudian menyapaku. Puluhan bahkan ratusan mayat dengan kondisi badan sesuai dengan umur mereka masing-masing kemudian mengenalkan dirinya terhadapku. Dari sekian banyak mayat, aku memang terlihat agak lebih mentereng dan perlente dibanding mereka. Kalau melihat wajah dan kulit, mereka dari kalangan orang miskin. Tetapi sebagian mereka seperti aku kenal sebelumnya. Tapi dimana? Aku mulai menerka-nerka. O, iya sebagian mereka adalah orang miskin yang pernah aku bela!

“Kau, siapaaa?!” suara ini lebih keras dari sebelumnya. Suara itu ditingkahi suara gemuruh dengan nada yang sama. Gendang telingaku hampir pecah. Belum sempat aku menutup rapat telinga, sebuah cengkraman kuat memegang tengkuk belakang. “blug!” aku dipindahkan dari kerumunan para mayat. Kini aku berada d tengah-tengah mereka. Semua mayat menatapku tajam. Aku terduduk. Salah satu diantara mereka mendekatiku. Sedikit-sedikit aku menggeser posisiku. Aku seperti sedang menjadi stunmen film Suster Ngesot yang dibintangi Nia Ramadhani.

“Kaukah pahlawan demokrasi itu?” pertanyaaannya agak lembut. Tapi matanya menyimpan dendam. Bola matanya seperti mau keluar. Mulutnya seperti Singa yang sudah dua minggu tidak bertemu rusa. Tapi cengkeramannya dilepaskan. Aku kemudian bisa membenahi tali pocong kepala yang lepas. Tanganku juga mengusap-usap kain bagian bokongku yang mulai basah. Ternyata sumber air itu berasal dari arah depan. Ini berarti aku ngobrok, terkencing di tempat tanpa sengaja akibat ketakutan.

“O, iya. Aku ini banyak disebut orang pahlawan demokrasi,” jawabku setengah berbangga. Aku sedikit bergeser. Pantatku dingin. Air mulai berkecipak di bagian bawah tempat dudukku. Mataku melirik ke beberapa mayat untuk menunjukkan kalau aku ini pahlawan demokrasi, pembela kaum urban yang tertindas. Tertindas oleh apa saja! Kapitalisme atau represi kekuasaan.

“Apa yang telah kau lakukan sehingga kau tidak menolak disebut pahlawan demokrasi?!” nadanya tetap meninggi. Tapi agak berubah intonasinya kali itu. Namun jelas, dari getaran suaranya menyimpan kekesalan. Aku mulai mengatur emosi. Jangan-jangan aku tengah dijebak. Aku lama bergelut dalam permainan politik, jadi aku harus membaca dari arah yang berlawanan. Aku harus menggunakan teori berpikir memutar. Tidak bisa aku memahami kalimat per kalimat dengan kacamata kuda. Ini bahaya kalau-kalau ada serangan pertanyaan dari arah lain.

“E, anu. Bukan aku, tapi mereka yang menyebutku pahlawan demokrasi. Aku hanya menerima saja, kok!” aku meluruskan, agar tidak terlalu berisiko.
“Tahu, kenapa kau disebut pahlawan demokrasi?!” selidik suara itu.
“Ya, karena aku telah memperjuangkan hak-hak orang miskin, mahasiswa, pedagang kakilima dan kaum urban lainnya?” jawabku apa adanya.
“Orang miskin kau perjuangkan haknya, lalu datanya kau jual ke luar negeri guna mendapat dana bantuan asing dengan alasan pemberdayaan kaum miskin! Iya?!”
“Plar! Plar!” beberapa kali cambukan seketika menghunjam. Aku mengerang kesakitan. Aku mengusap bagian belakang tubuhku. Kain kafan sobek. Sebuah luka terasa pedih. Tapi ia tak mengeluarkan darah. Jantung sepertinya sudah tak kuat lagi memompa keberfungsian darah. Luka tak berdarah memang lebih pedih dibanding berdarah. Sama dengan orang menahan lapar dan haus bagi kaum miskin. Ia tak berdarah. Tetapi rasanya lebih pedih dari pada menahan luka akibat terkena sebilah pisau. Luka tanpa darah itu menyayat hingga ke lubuk hati. Ini yang sering membuat orang menjadi gelap mata dan melakukan apa saja akibat dendam. Ya, dendam lapar yang demikian panjang. Sehingga akibat lapar dan kehausan bisa membuat orang berbuat apa saja termasuk membunuh.

Tenaga menahan lapar harus menguras air mata, hingga akhirnya dehidrasi akibat di dalam tubuhnya tak lagi ada cairan. Benar, kemiskinan dan kelaparan adalah perang yang yang tidak pernah mengenal kata terlambat. Satu detik saja lambat, ia akan mati.
“Blug! Plak! Plak!” hunjaman bogem mentah dan tamparan datang bertubi-tubi. Aku merasakan Mike Tyson sedang menyentak rahang dengan hock kiri. Sakit. Mataku berkunang-kunang. Tapi tak ada wasit yang menghitung dari nomor satu sampai sepuluh hingga aku mampu berdiri. Kali ini benar-benar knock out!

“Kau bawa kami melakukan protes mengatasnamakan hak asasi manusia dan demokrasi. Tetapi kau bawa nama kami untuk biaya sewa kantor, kontrak rumah dan gaji para aktifis! Kau jual negeri ini dengan dalih demokrasi! Masih juga kau mengaku pahlawan demokrasi?!” tak bisa aku berkata lagi saat kemudian sebuah tendangan kuat memapas keras tepat dimukaku. Aku tersungkur. Sementara kaki-kaki penghuni kubur makin mendekat. Inikah pengadilan Tuhan? Atau dendam dunia yang belum terbalas sehingga mereka baru bisa mengadiliku di alam barzah?

“Sebentar. Beri aku ruang untuk berargumen,” aku mencoba mengatur napas. “Sebaiknya, masalah ini kita bicarakan baik-baik. Kekerasan cukup di dunia saja. Ini adalah pintu menuju alam mahsyar, sehingga kita harus menciptakan kedamaian di alam barzah,” kucoba meredakan emosi mereka.
“Aku memang mendapat dana dari luar negeri. Tapi semua ini aku lakukan demi tegaknya demokrasi. Tidak untuk menjual negara, men! Mereka tidak pernah menyelipkan pesan-pesan politik untuk merusak kedaulatan. Mereka hanya ingin….”
“Plak! Plak!” tamparan lagi-lagi menghunjam keras. Tetesan air liur terasa asin. Ini pertanda ada gigi yang mulai patah atau mulut bagian dalam ada yang robek. Tapi darah tak juga memerah. Hanya lendir kecoklatan yang menetes.

“Kau ingat! Sejarah bangsa ini sudah dimulai oleh keterlibatan asing menjatuhkan Soekarno. Dan kau, yang mengaku pahlawan demokrasi memilih sekolah keluar negeri dengan biaya asing, lalu mereka menjadikan kamu sebagai agen mereka di negeri ini. Masihkah kau akan mengaku kalau kau adalah pahlawan demokrasi!” suara itu getarannya sampai menembus dinding taman pemakaman. Beberapa butir tanah sempat berguguran walau tidak membuatku tertimbun.

“Orang-orang semacam kalian yang telah mengajarkan demokrasi. Tetapi kalian juga yang membuat kami tidak bisa membedakan antara demokrasi dan anarki. Kalian tawarkan nilai-nilai yang sama sekali tidak membuat negeri ini mandiri. Malah sebaliknya, manusia semacam kalianlah yang tengah menyiapkan bangsa ini untuk terus menerus dijajah! Kau dan teman-teman kalianlah yang telah menjual negara ini demi keuntungan pribadi!”
“Tapi ini untuk proses pencerdasan, men! Bukan untuk menggangu stabilitas kedaulatan nasional? Bener!” kucoba meyakinkan mereka.

“Masih juga kau akan mengelak! Coba kalian pikir. Bagaimana wajah bangsa ini dimata internasional sudah tidak lagi punya martabat karena semua aib bangsa ini kalian jual di mata internasional. Kau hujat bangsa ini diluar negeri, sementara kau dan teman-teman kalian masih makan dan minum di negeri ini?! Bukankah kau inilah yang sebenarnya pahlawan penghianat!” nada geram campur dendam kian dahsyat. Tak bisa lagi aku membedakan antara hunjaman malaikat dan para mayat. Semua menghujaniku dengan tendangan dan kekerasan lainnya. Aku pingsan.

Di sepertiga malam aku terbangun. Badanku terasa remuk redam. Leher seperti dibebani besi satu ton, hingga untuk menoleh pun aku tak sanggup. Suasana masih gelap. Orang-orang tak lagi berkerumun seperti sebelumnya. Sebuah bandul berat yang melingkar dileherku. Ada untaian rantai dengan kayu besar menindihku. Sebuah tulisan jelas diguratan kayu. Ia terbuat dari api. Berkobar seperti hendak membakarku. “Kau adalah pahlawan penghianat, men,” api itu kemudian menjalar dalam tubuhku membakar semua kain kafan, membakar seluruh badan dan isi perutku. Ruangan kubur menjadi kobaran api yang panas. Mataku hanya menatap hitam pekat. Dalam bilik jantungku aku hanya berucap. Tuhan, maafkan aku telah menjual negara. “Sudah terlambat. Sory, taubatmu tertolak, men,” Tuhan menjawab dengan bahasa gaul. (*)

Tanjung Enim

22/12/2015

Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.

Vision without ex*****on is a daydream. Ex*****on without vision is a nightmare.

Japanese Proverb

18/12/2015

Cerpen Motivasi

Tujuan Hidup Seorang Gadis Kecil

Seorang gadis kecil tinggal di suatu kota di Negara Indonesia. Dia mempunyai satu orang kakak perempuan dan kedua orang tua. Sekarang, gadis kecil itu menginjak kelas XII di SMA favorit di kotanya.

Suatu hari yang berbahagia, gadis kecil itu sedang memperhatikan seorang guru yang sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Setelah menerangkan sesuatu, guru itu bertanya kepada setiap murid tentang suatu hal termasuk pada gadis kecil itu.

“Fatimah, apa cita-citamu kelak?” Tanya Pak Guru.
“Saya tidak mempunyai cita-cita yang pasti seperti teman yang lainnya, Pak. Seperti dokter, insinyur, arsitektur, dan lain-lain. Tetapi saya memiliki tujuan hidup yang semaksimal mungkin harus saya lakukan. Tujuan itu adalah saya hidup hanya untuk ibadah kepada Allah, menjadi khalifah fil ard, dan kehidupan saya di dunia ini harus berguna untuk manusia. Itulah tujuan hidup saya. Apa pun profesi yang saya geluti nanti, saya akan menjalankannya dengan baik, yang penting profesi itu sesuai dengan kemampuan dan kecocokan saya dalam bidang tersebut dan tidak terlepas dari tujuan hidup saya.” jawab Fatimah.

“Jawaban yang bagus Fatimah, tapi kenapa Fatimah bisa memiliki tujuan hidup seperti itu? Tidak seperti teman yang lainnya yang mempunyai cita-cita setinggi langit?” tanya Pak Guru.

“Saya memang tidak punya cita-cita setinggi langit, tapi saya yakin, Pak. Saat saya memiliki tujuan hidup dan saya memaksimalkan usaha dan kemampuan yang saya punya, tanpa bermimpi atau menarget pasti hasilnya akan lebih baik. Mungkin saya bisa melebihi cita-cita teman saya yang setinggi langit yaitu menjadi seluas alam semesta.” jawab Fatimah.

“Wah, bagus kamu, Fath. Tak sangka ternyata di zaman seperti ini masih ada seorang remaja yang memliki pola pikir seperti itu.” Kata Pak Guru.

Bel berbunyi, tandanya waktu p**ang tiba. Semua murid bersiap-siap untuk p**ang. Fatimah tidak p**ang, dia pergi ke tempat lesnya. Di tempat lesnya terpampang sebuah poster yang isinya menjelaskan tentang beasiswa untuk siswa yang kurang mampu, kalau siswa tersebut lolos dalam tahap-tahap penerima beasiswa, maka siswa tersebut dibebaskan biaya saat dia kuliah nanti. Fatimah tertarik dengan beasiswa itu, dia pikir jika dia diterima menjadi salah satu siswa penerima beasiswa pasti kedua orang tuanya akan tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Fatimah pun menulis syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti beasiswa tersebut.

***

“Mah, tadi di tempat les Ade ngeliat poster beasiswa. Ade mau ikut beasiswa itu, syarat-syaratnya ini, diusahain besok udah ada. Nanti sama Ade syarat-syarat dan formulirnya dikasih ke tempat les.” kata Fatimah. “Emang beasiswa apa, Fath?” Tanya Mamah.

“Beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, nanti kalau Ade lolos seleksi, Mamah enggak usah bayarin Ade kuliah.” jawab Ade sambil tersenyum.

“Ikutan aja, Fath. Biar Mamah yang ngumpulin syarat-syarat untuk beasiswanya. Kalau kamu nanti lolos, mamah sangat terbantu sekali.” kata Mamah. “Siap deh, Mah. Makasih ya, Mah.” Kata Fatimah sambil memeluk Mamahnya.

“Sama-sama, Fatimah sayang.” Kata Mamah.

***
Ada beberapa tahap untuk bias mendapatkan beasiswa itu. Tahap pertama adalah tes akademik I, tahap kedua adalah wawancara, dan tahap ketiga atau akhir adalah tes akademik II. Tahap pertama yaitu tes akademik I dilaksanakan di Ganesha (tempat dilaksankanannya setiap tahap beasiswa), banyak sekali siswa yang mengikuti beasiswa tersebut. Kurang lebih ada sembilan ratus orang yang mengikuti beasiswa itu. Fatimah menempati duduk di belakang, dengan persiapan tes yang kurang maksimal, Fatimah tetap berdoa agar diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah dan diberikan hasil yang terbaik oleh Allah.

Tes akamedik I pun dimulai, semua siswa mengerjakan soal yang diberi oleh panitia. Satu menit, dua menit, tiga puluh menit, waktu berlalu begitu cepat.

“Waktu yang tersisa lima belas menit lagi.” kata panitia. Dan waktu untuk mengerjakan soal pun habis. Fatimah mengerjakan soal itu semampunya, semampu yang bisa dia kerjakan. Hasil yang nanti dia dapati, baik buruk maupun baik. Dia serahkan semuanya pada Allah.

***

Pengumuman siswa yang lolos beasiswa pun dibuka. Dengan cepatnya, Fatimah melihat hasilnya. Syukur Alhamdulillah, Fatimah lolos tahap pertama. Tak ada kata yang bisa Fatimah ucapakan selain ucapan terima kasih kepada Allah atas jalan yang Dia beri untuk Fatimah. Siswa yang lolos tahap pertama kurang lebih tiga ratus orang.

Siswa yang lolos tahap pertama, diminta untuk datang ke Ganesha untuk pendataan dan ada beberapa hal yang akan disampaikan kepada siswa yang lolos.

***
Semua siswa pun berkumpul di Ganesha pada hari yang telah ditentukan. Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa tahap kedua yaitu wawancara telah dilalui, mereka mewawancarai peserta melalui formulir yang diisi oleh peserta.

Tersisa satu tahap lagi untuk mendapatkan beasiswa tersebut, tahap ini adalah tes akademik II yang akan diselenggarakan berbarengan dengan gelombang kedua beasiswa tersebut. Pada bulan Desember, tahap ketiga ini akan dilaksanakan. Supaya para siswa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk tes akademik II, siswa diberi les gratis oleh Yayasan Ganesha dan salah satu tempat les di kota itu.

Para siswa diberi secarik kertas, di sana tertulis jadwal yang akan dipilih untuk les. Fatimah pun memilih hari-hari yang tidak bentrok dengan kegiatannya.

***

Saat itu Fatimah merasa bebannya mulai bertambah, dia harus meluangkan banyak waktu untuk belajar. Padahal sudah cukup baginya les sep**ang sekolah yang dia lakukan dua kali seminggu. Entah mengapa hatinya tak menerima dirinya disibukkan oleh hal seperti itu. Dia lebih baik disibukkan dengan kerjaan organisasi atau disuruh pergi kesana kemari. Beban yang Fatimah rasakan saat ini membuat dirinya menjadi stres, akhirnya Fatimah pun jatuh sakit. Sangat jarang Fatimah sakit dua kali dalam satu bulan. Dia pun bingung, kenapa dirinya sakit lagi? Pada hari Minggu, Fatimah bertemu dengan seseorang yang s**a memberinya solusi. Sebut saja orang itu Kakang. Fatimah pun menceritakan semua bebannya pada Kakang. Dengan bijak, Kakang memberikannya solusi.

“Tidaklah satu pun makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah. Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur oleh-Nya. Mungkin saja pandangan kita buruk terhadap suatu hal, tapi ternyata hal itu adalah hal yang baik bagi kita. Allah sudah merencanakan semua hal yang terbaik bagi kita. Janganlah kita selalu suudzan pada-Nya. Sekarang yang Fatimah alami adalah ketidaks**aan Fatimah disibukkan dengan banyaknya tambahan belajar di luar jam pelajaran sekolah. Namun mungkin dibalik ketidaks**aan itu, terdapat suatu hal yang baik bagi Fatimah. Sekarang yang perlu Fatimah lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah, Dialah yang mengatur kehidupan kita, baik atapun buruknya hanya Dia yang tau. Pahamilah diri Fatimah bahwa Fatimah sedang berada ditempat yang mengharuskan Fatimah untuk selalu belajar. Mungkin ini juga salah satu doa Fatimah yaitu semoga selalu diberikan yang terbaik oleh-Nya. Mungkin inilah yang menurut-Nya terbaik untuk Fatimah saat ini. Setelah berbaik sangka, yakinkan pada diri Fatimah bahwa ini adalah kesempatan Fatimah untuk memaksimalkan kemampuan dan usaha yang Fatimah lakukan.

Teruslah berjuang untuk tujuan hidup yang telah Fatimah pilih. Jangan pernah Fatimah mengeluh akan suatu hal, karena itu tak ada gunanya. Tak ada bedanya kok, setelah atau sebelum Fatimah mengeluh akan suatu hal. Nah terus, sakit yang Fatimah alami sekarang bukan karena Fatimah cape melakukan suatu aktivitas. Tapi Fatimah lelah dengan perasaan Fatimah sendiri, Fatimah stress menghadapi ini semua. Itu bisa membuat seseorang atau Fatimah jadi sakit. Oleh karena itu, kendalikan stres itu. Kakang yakin, Fatimah pasti bisa. Semangat!”

Satu, dua, tiga tetes air mata mengalir di p**i Fatimah. Fatimah sadar semua hal yang dikatakan Kakang adalah benar. Kalaulah aku menjadi seorang yang mengeluh, apa gunanya juga?

Solusi yang Kakang berikan pada Fatimah membuat Fatimah menjadi lebih yakin bahwa ini bukanlah suatu beban tapi inilah jalan dan takdir Fatimah. Oleh karena itu, Fatimah harus memaksimalkannya.

***

Sekolah, les, dan les, itulah rutinitas yang Fatimah lakukan tiap harinya. Hari ini, ya, hari ini mungkin Fatimah sampai pada titik jenuh dia untuk belajar. Walau begitu, Fatimah tetap istiqomah untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan memaksimalkan waktu yang ia punya untuk hal yang berguna, salah satunya yaitu untuk belajar.

***

Beberapa bulan kemudian, bulan Desember. Tahap ketiga atau akhir yaitu tes akademik II telah tiba. Fatimah telah duduk menunggu soal yang datang untuk dia isi. Soal pun dibagikan, Fatimah mengerjakan soal-soal itu dengan teliti dan cermat.

Beberapa jam setelah tes, hasil dari tahap ketiga itu dipampang di sebuah mading di Ganesha. Pada tahap ketiga ini hanya 150 orang yang lolos. Fatimah pun berburu dengan siswa lainnya untuk melihat hasil tahap ketiga.

“Fatimah Azzahrah LOLOS”

Rasa syukur dia panjatkan kepada Allah SWT, tak ada kata yang dia ucap selain Alhamdulillah. Hanya Allah yang dapat memberikan semua ini padanya.

***

Bulan Maret.
Tak terasa bulan yang ditunggu oleh para siswa se-Indonesia akhirnya datang juga. Setelah usaha yang telah mereka lakukan, belajar setiap hari agar dapat mengerjakan ujian nasional dengan lancar dan mereka akan merasakan hasilnya pada hari-hari ujian ini. Tetapi ada beberapa oknum yang mengandalakan kunci jawaban yang telah mereka beli sebelum UN dilaksanakan. Oknum tersebut membagikan kunci jawaban pada semua siswa termasuk Fatimah. Tetapi dengan keyakinan yang kuat Fatimah menolaknya.

“Fatimah ingin mengerjakan ujian ini dengan jujur, tanpa kecurangan sedikit pun. Bukan nilai atau kelulusan yang Fatimah diinginkan, tapi yang Fatimah inginkan adalah mental baja seorang pemuda Indonesia di masa mendatang. Bukan para pemuda yang bermental tempe yang tak siap mengahadapi dunia dan malah melakukan korupsi kecil-kecilan seperti ini.

Kalau kalian masih melakukan hal semacam ini, tak salah kok kalau negara kita tidak akan pernah maju. Kenapa? Karena pemuda penerus bangsanya sudah diajarkan sejak dini, bagaimana caranya untuk melakukan kecurangan atau korupsi?” kata Fatimah dengan nada yang tegas.

Semua oknum yang mendengar ucapan Fatimah seketika terdiam membisu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Akhirnya, oknum penyebar kunci jawaban UN pun mengambil semua kertas kunci jawaban yang sudah ditulis oleh siswa dan membuangnya.

“Berlakulah adil pada diri kita sendiri, kita selalu mengeluh kalau ada pejabat yang korupsi, padahal secara tidak sadar kita pun melakukan korupsi kecil. Sudah cukup sampai sini kita menyontek dan melakukan kecurangan. Ayo kita maksimalkan kemampuan yang kita punya untuk mengisi soal-soal ujian ini. Buktikan bahwa kita bisa dengan kemampuan yang kita punya.” Kata salah satu oknum kepada teman-teman di kelas. Ujian Nasional pun dilaksanakan, semua siswa di ruangan Fatimah mengisi soal-soal ujian dengan jujur tanpa melakukan kecurangan sedikit pun seperti menyontek.

Hari-hari Ujian Nasional telah Fatimah lalui. Setelah Ujian Nasional, ada ujian berikutnya yang haru Fatimah lalui, ujian itu adalah PMBP ITB.

***

Beberapa hari setelah UN dilaksanakan. PMBP ITB (Penelusuran Minat Bakat Prestasi Institut Teknologi Bandung) sudah di depan mata.

Fatimah mencari tempat duduknya untuk melaksanakan PMBP ITB. Selama dua hari PMBP ITB dilaksanakan. Fakultas yang Fatimah pilih yaitu 3 diantaranya adalah FTI, FTTM, dan FITB. Tak ada yang bisa membantu Fatimah pada saat PMBP kecuali Allah. Fatimah selalu berdoa setelah solatnya.

“ Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba- Mu ini, berilah aku kelancaran dan kemudahan untuk menjalani perjalanan hidup di dunia. Berilah aku jalan terbaik menurut-Mu. Selamatkanlah aku di dunia maupun akhirat. Amin. ”

PMBP pun sudah Fatimah lewati. Walau semua ujian tulis telah Fatimah lalui, Fatimah tak hentinya belajar. Karena dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah dia diterima di ITB melalui jalur PMBP atau tidak? Yang tahu hanyalah Allah SWT.

***

Pengumuman PMPB pun dibuka, Fatimah membuka web ITB dan mengetikkan nama dan nomor peserta ujian pada halaman web tersebut. Setelah menunggu beberapa detik. Keluarlah hasil dari perjuangan seorang gadis kecil.

FATIMAH AZZAHRAH
Selamat Anda
DITERIMA
FTTM ITB

Sujud syukur, hal yang pertama kali dia lakukan setelah melihat hasil tersebut. Berterima kasih kepada Allah yang memberikan dia hasil yang membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Tidaklah satu makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah, hasil yang Fatimah dapati hari ini bukanlah kesenangan belaka. Tapi itu semua adalah sebuah ujian baru yang Allah berikan untuk Fatimah.

***

Beban, ya beban, sesuatu yang Fatimah anggap beban kali ini mulai berkurang. Tersisa satu pengumuman lagi yang Fatimah nanti. Itu adalah hasil Ujian Nasional. Tak terasa, hari pengumuman pun tiba. Sekolah mengirim hasil Ujian Nasional via pos ke setiap rumah. Surat itu pun sampai di rumah Fatimah. Perlahan Fatimah membuka isi surat itu. tertulis disana sebuah kata LULUS, tersenyumlah Fatimah.

***

“ Ya Allah, ya Rabb. Apakah semua ini adalah takdir yang terbaik yang engkau berikan padaku saat ini? Apakah ini jalan yang telah kau berikan agar aku tetap istiqomah pada tujuan hidupku? Jika iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin dengan detik-detik terakhir yang aku punya agar aku bisa membuat bumi dan isinya menjadi lebih baik. Terima kasih atas segala yang telah Kau berikan kepadaku ya Allah, tanpa-Mu aku bukan apa-apa di dunia ini. SemogaEngkau selalu menuntun setiap langkah yang aku jalani. Amin. "

Address

Banjarmasin
70852

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Milyarder Muda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Milyarder Muda:

Share