Ustad Yusuf Mansyur - Berbagi Spirit Berbagi Motivasi

Ustad Yusuf Mansyur - Berbagi Spirit Berbagi Motivasi Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Ustad Yusuf Mansyur - Berbagi Spirit Berbagi Motivasi, Business, Tangerang Selatan, Banten.

08/02/2017

Amazing Shadaqoh

Assalamualaikum wrwb
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah semacam alat untuk men-scan otak kita. Jadi, dengan alat MRI ini, kita bisa memetakan otak kita dalam bentuk pola dan gelombang-gelombang yang unik. Nah, tahukah ayah-bunda bahwa gelombang otak kita saat kita berbagi sama dengan gelombang otak kita saat makan cokelat? Artinya, kegiatan berbagi dan makan cokelat memiliki efek yang sama untuk otak kita: memberikan kebahagiaan. Jadi, ayah-bunda, jika ingin bahagia, berbagilah dengan apa yang kita punya.
Berbagi adalah pondasi peradaban manusia. Dengan berbagi ilmu pengetahuan, teknik, dan apa yang kita miliki, peradaban pun bisa maju sedikit demi sedikit. Bahkan, ajaran nabi-nabi terdahulu selalu ada tentang berbagi, termasuk di dalam ajaran kita, yakni Islam.
Suatu ketika Ali bin abu Thalib memiliki uang 4 dirham. Kemudian, Ali membagi uangnya menjadi 4 bagian. 1 dirham ia beri kepada orang lain saat siang, 1 dirham ia beri kepada orang lain saat malam, 1 dirham ia beri dengan terang-terangan, dan 1 dirham terakhir ia beri dengan cara sembunyi-sembunyi.
Ibnu Abbas berkata inilah latar belakang turunnya ayat berikut,
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (p**a) mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah: 274)
Ayah-bunda, yuk berbagi dengan apapun yang kita punya. Sesungguhnya yang bernilai bukanlah jumlahnya, tetapi niat dan ketulusan kita terhadap pemberian itu. Dan sungguh wahai ayah-bunda, sedekah terbaik adalah kepada keluarga kita.
“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim)
Alkisah, seorang ayah yang bekerja keras demi anak dan istrinya membawa p**ang penghasilannya. Dengan penghasilannya itu, dia membelikan susu, baju sekolah, sepatu, dan mainan mobil-mobilan untuk anaknya. Di sisi lain, ia juga membelikan satu-dua tas, baju baru, dan beberapa kosmetik untuk istrinya. Di akhir bulan, ia mengajak anak istrinya ke toko buku, membeli beberapa buku terbaru untuk menambah wawasan. Menurut Rasulullah saw, inilah sedekah terbaik yang bisa diberikan kepada seseorang.
Masya Allah, bukankah Islam luar biasa, ayah-bunda? Bahkan, sedekah terbaik ternyata sedekah untuk keluarga sendiri. Ayo ayah-bunda, mari semangat berbagi ke sesama.

07/02/2017

Moslem, Be Amanah

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, pada suatu waktu, sahabat nabi saw yang bernama Abdullah bin Abdul Haitsma memiliki janji dengan nabi. Pada waktu yang ditentukan, nabi pun datang. Sayangnya, ia tidak melihat Haitsma di sana. Pada saat yang sama, Haitsma sebenarnya terlupa oleh janjinya. Pada hari ke-3 ia baru ingat kalau ia memiliki janji dengan nabi. Dengan terburu-buru, Haritsma ke tempat yang dijanjikan. Alangkah kagetnya, saat ia sampai di sana, ternyata nabi masih menunggu dengan sabar.
Saking amanahnya nabi saw, beliau sampai digelari Al-amin, padahal saat itu belum diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah.
Ayah-bunda, tentang amanah ini, telah difirmankan di dalam Alquran,
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (An- Nisa :4:58)
Mungkin ayah-bunda bertanya-tanya, bagaimana caranya mengajarkan kepada anak?
Pertama, pastikan bahwa diri kita sebagai orangtua juga amanah. Apakah ayah-bunda pernah punya hutang di masa lalu, benda-benda yang dipinjam dan belum dikembalikan? Apapun itu, coba tunaikan hak-hak barang itu satu demi satu. Kembalikan kepada pemiliknya. Jika hilang, ganti dengan yang sejenis. Jika belum ada uang untuk mengganti, hubungi pemilik barang dan minta penundaan penggantian.
Kedua, baru kita bisa memberi contoh kepada anak tentang apa itu amanah dan bagaimana cara mempraktekkannya. Beritahu dengan lembut dan pelan-pelan kepada anak bahwa amanah itu salah saltu contoh akhlak yang baik.
Praktekkanlah dengan diri kita sendiri sebagai orangtua bahwa amanah sebenarnya adalah rasa tanggung jawab. Setelah itu, baru kita bisa mendidik anak di maa depannya agar ia menjadi

07/02/2017

Use Right Hand Please

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kegiatan yang menggunakan tangan. Misalnya, kegiatan makan, minum, berjabat tangan, mengambilkan sesuatu untuk orang lain, memberikan sesuatu kepada orang lain, dan lain sebagainya.
Bagaimana tuntunan Islam dalam hal seperti ini?
Pada saat sahabat nabi saw Umar bin Abu Salamah masih kecil, ia pernah makan dengan membabi-buta. Ia mengambil makanan mana pun yang ia mau tanpa rasa sopan. Melihat hal itu, Rasulullah saw menegurnya,
“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022).
Umar bin Abu Salamah berkata, “sejak saat itu, begitulah cara saya makan”.
Ayah-bunda, dalam setiap kegiatannya, Rasulullah saw menyukai dengan mendahulukan yang kanan. Aisyah pernah bersaksi tentang akhlak Rasulullah saw yang seperti itu. Kata beliau,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam s**a memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh aktivitas beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5926 & Muslim no. 268)
Mendidik Anak untuk Memulai dengan yang Kanan
Ayah-bunda, keteladanan sangatlah penting bagi anak. Anak-anak akan meniru apapun yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika ia melihat orangtuanya makan dan minum dengan tangan kiri, maka ia pun akan meremehkan hal tersebut dan akan menirunya.
Oleh karena itu, wahai ayah-bunda, biasakanlah makan, minum, dan melakukan kegiatan lainnya dengan bagian yang kanan. Bagaimana kalau sudah terlanjur? Jika memungkinkan, ulangi kegiatan tersebut. Misalnya, pada saat ayah akan berangkat kerja, Anda salah memakai sepatu. Kita malah memakai sepatu kiri dahulu. Jika ini yang terjadi, lepaskanlah lagi sepatu tersebut dan mulailah kembali memakai sepatu dengan bagian yang kanan.
Apalagi jika anak Anda ada di samping Anda, ia perlu diberi penjelasan mengapa kita sampai melepas sepatu dan memakai ulang. Kita perlu memberitahu kepada anak kita bahwa itu adalah tuntunan dari Rasulullah saw dan kita sebagai orangtuanya, tadi terlupa memakai sepatu dari kanan. Oleh karena itulah, kita memakai ulang sepatu tersebut.
Ingatlah, ayah-bunda, kuncinya ada di habit (kebiasaan) dan keteladanan. Jika kita sebagai orangtuanya sudah terbiasa memulai aktivitas apapun dari yang kanan, kita akan mampu memberi contoh yang baik kepada anak. Pada gilirannya, si anak akan meniru perbuatan tersebut. Hingga dewasa, nantinya anak kita akan terbiasa menggunakan tangan kanan. Alhamdulilah...

06/02/2017

Robbi Zidni Ilma Warzuqni Fahman

Assalamualaikum wrwb.
Ayah-bunda, kegiatan belajar adalah kegiatan yang sangat penting menurut Islam. Bahkan, jikalau ada momen jihad datang, Allah melarang semuanya pergi ke medan perang.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah:122)
Suatu ketika saat datang perintah berperang, orang-orang munafik mengejek para sahabat nabi. Mereka mempertanyakan sikap sebagian para sahabat nabi saw yang tidak berangkat berperang. Ketika itulah Allah menurunkan ayat tersebut untuk menanggapi orang-orang munafik.
Ayah-bunda, sikap para sahabat nabi dalam belajar sangat luar biasa. Ibnu Abbas adalah sahabat Rasulullah saw yang sangat jenius sekaligus sangat rendah hati. Saat beliau ingin belajar, beliau akan duduk di depan rumah sahabat nabi yang ingin dia pelajari ilmunya. Ketika keluar rumah, biasanya orang itu akan kaget karena mendapati Ibnu Abbas duduk di depan rumahnya sambil berselimut debu.
“Ibnu Abbas, apa yang kamu lakukan?”, tanya seorang sahabat.
“Saya ingin belajar padamu..”, jawab Ibnu Abbas.
“Mengapa kamu tidak memintaku saja untuk datang ke tempatmu?”, tanyanya lagi.
“Aku yang membutuhkan ilmu, maka sudah seharusnya aku yang datang menemuimu..”
“Lalu kenapa kau duduk saja di depan rumahku dan tidak mengetuk pintuku?”, tanyanya heran.
“Aku tidak tega mengganggu waktumu bersama keluargamu”
Ayah-bunda, demikianlah sikap para sahabat nabi saw dalam menuntut ilmu. Mungkin kita tidak mampu mencapai level kesungguhan belajar para sahabat nabi, tapi yuk mulai sekarang kita lebih rajin lagi dalam menuntut ilmu dunia maupun agama.
Seringkali kita menyuruh anak kita untuk menuntut ilmu, tapi di saat yang sama, ternyata kita sangat malas membaca buku. Ayah-bunda, pikirkanlah perasaan anak kita. Bagaimana jika dia memiliki ayah dan ibu yang rajin belajar tentang kehidupan dan belajar ilmu-ilmu baru terus setiap hari? Pasti sang anak akan bangga memiliki ayah-bunda seperti itu. Dengan sendirinya, ia pun akan tersulut semangatnya untuk belajar. Bagaimanapun, ayah-bunda, kita adalah teladan anak kita.
Saat itulah, saat akan belajar, kita perlu menyebut nama Allah supaya berkah mendatangi kita. Nabi saw mengajarkan agar kita membaca, “Robbi Zidni Ilma Warzuqni Fahma” (Ya Allah tambahilah ilmuku dan dan pertinggikanlah kecerdasanku”

03/02/2017
03/02/2017

Mother is the Greatest Teacher

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, pernahkah mendengar sebuah ungkapan ini, “ibu adalah madrasah pertama anak?” Memang, sebagai orang yang melahirkan, merawat, dan selalu bersama anak, ibu lah sekolah pertama anak dan sekolah terpenting. Dan ibu akan selalu menjadi guru terhebat si anak. Namun, sejauh apa sih pengaruh seorang ibu terhadap kehidupan anaknya di masa depan? Penelitian dari Emmanuela Gakidou mengkonfirmasi hal yang menarik.
“Untuk setiap penambahan satu tahun pendidikan buat si ibu, dalam waktu yang sama bisa menurunkan resiko kematian si anak hingga 9,5%”, kata Emmanuela Gakidou, peneliti dari the Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington.
Jika ada ibu X yang belajar setahun lebih lama dibanding ibu Y, maka anak ibu X cenderung lebih pandai dan sehat.
Mengapa bisa seperti itu? Sebab, ibu yang cerdas akan menjadi guru yang hebat untuk anaknya. Ibu yang cerdas akan bisa mendidik anaknya dengan ilmu yang benar sehingga kehidupan si anak akan lebih baik saat ia dewasa. Ia akan memberikan makanan yang sehat untuk anaknya, pendidikan yang bagus, maupun perhatian yang hangat. Pada akhirnya, si anak sendiri akan tumbuh dengan fisik dan mental yang sehat. Bahkan, menurut Islam, ada ganjaran yang lebih lagi jika kita mendidik anak perempuan.
“Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini), dan beliau mengumpulkan jari jemarinya.” (HR. Muslim no. 2631)
Ayah-bunda, bagaimana jika anak kita bertanya tentang Allah, nabi Muhammad, para sahabat nabi, sementara kita tidak bisa menjawabnya? Bagaimana jika anak kita bertanya soal Alquran, shalat, puasa, berbagi, tapi kita sendiri tidak paham soal itu?
Sumber belajar bunda tentang mendidik keluarga serta menjadi ibu yang baik saat ini sudah begitu banyak. Bunda bisa googling, mencari buku-buku yang bermanfaat, ataupun bisa membuka abiummi.com.
Yuk ayah-bunda, mari terus belajar menjadi orangtua yang baik demi masa depan anak-anak kita.

03/02/2017

Smile Is Shodaqoh

Senyum, Salah Satu Akhlak Islam
Saat bertemu dengan sahabat-sahabatnya, Rasulullah saw sendiri adalah seseorang yang s**a tersenyum. Sahabat Jabir bin Abdullah memberikan kesaksian tentang beliau saw,
Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku” (HR. Bukhari, no.6089).
Wah, Rasulullah saw itu luar biasa ya?
Senyum Kepada Teman, Cemberut Kepada Keluarga?
Ada seorang lelaki yang tertawa dan tersenyum lebar kepada teman-teman kerjanya. Ia humoris dan ramah. Namun, ketika ia p**ang ke rumah, tiba-tiba ia berubah menjadi pendiam. Bahkan, wajahnya berubah menjadi asam dan tidak mengenakkan. Saat istrinya mengajaknya bicara, ia membentak istrinya dengan ketus,
“Apaan sih, saya lagi sibuk. Jangan ganggu!”
Pernah melihat orang yang seperti itu? Atau jangan-jangan, orang tersebut adalah kita? Untuk mengetahui akhlak seseorang, janganlah terbuai oleh penampilan luar seseorang. Hakikat akhlak seseorang yang sebenarnya adalah akhlak dia ketika berada di dalam rumah bersama keluarganya. Sebab, ia tinggal dan melewati hidup bersama keluarganya. Ia tidak akan sanggup berpura-pura.
Nabi saw bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR Tirmidzi no.1162. Al-Albani berkata bahwa ini shahih)
Imam Asy-Syaukani dalam bukunya Nailul Authar jilid 6 halaman 245-256 menjelaskan hadist ini kira-kira sebagai berikut,
“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.
Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

03/02/2017

My Father is My Imam

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, dalam Islam, pemimpin rumah tangga adalah suami.
“Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam (pemimpin) bagi kaum wanita (istri).” (an-Nisa’: 34)
Wahai ayah-bunda, di dunia ini ada dua jenis pemimpin. Pertama adalah pemimpin yang baik, contohnya seperti nabi Muhammad saw. Kedua adalah pemimpin yang tidak baik, misalnya Stalin atau Hi**er. Lalu, qawwam ini termasuk pemimpin yang mana? Jika Alquran berbicara tentang pemimpin, pemimpin mana yang dimaksud?
“Qowwam “ menurut Imam Qurthubi artinya melakukan sesuatu dan bertanggung jawab terhadapnya dengan cara menjaganya dengan kesungguhan. Maka tanggung jawab laki-laki terhadap perempuan ada dalam batasan tersebut. Yaitu dengan mengurusi, mendidik, dan menjaga di rumahnya dan melarangnya untuk keluar jika tanpa ada keperluan.
Ternyata, pemimpin yang dimaksud oleh Alquran adalah pemimpin yang baik. Hal ini perlu diperjelas karena di zaman modern, banyak suami yang menyalahgunakan dalil Alquran kepada istrinya. Saat istri meminta penjelasan atas keputusan suami terhadap suatu hal, suami malah membentak istri dan mengatakan istri harus patuh. Mungkin dia tidak tahu bahwa Rasulullah pun berdiskusi dengan istrinya.
Ishom bin Muhammad Syarif berkata, kepemimpinan laki- laki terhadap perempuan bukan seperti kepemimpinan militer atau administrasi yang menyuruh dan melarang tanpa mengikutsertakan anggota rumahtangga. Akan tetapi, kepemimpinan tersebut lebih cenderung kepada kepemimpinan yang dijalankan melalui musyawarah, saling memamahami, dan saling merelakan.
Suami Wajib Belajar tentang Kepemimpinan
Wahai ayah, jika istri wajib menaati Anda sebagai pemimpin rumah tangga, maka Anda sebagai suami juga harus menjadi pemimpin yang pantas ditaati.
Sebagai suami, Anda perlu belajar tentang kepemimpinan Rasulullah saw, para sahabatnya, maupun konsep-konsep kepemimpinan secara umum. Jangan sampai kita menjadi pemimpin bobrok yang tidak pantas untuk ditaati, tapi malah meminta istri kita untuk taat kepada kita. Apalagi sampai membawa-bawa dalil Alquran untuk membenarkan perilaku kita.
Pelajarilah bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya memimpin keluarga dan masyarakatnya. Kunci kepemimpinan adalah karakter dan keteladanan. Dan sungguh Allah sendiri telah menjamin bahwa karakter nabi adalah karakter yang pantas kita teladani (termasuk dalam segi kepemimpinan).
Sudahkah karakter dan keteladanan Anda, wahai suami, membuat Anda layak ditaati oleh istri Anda?

Address

Tangerang Selatan
Banten
15728

Telephone

081311531747

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ustad Yusuf Mansyur - Berbagi Spirit Berbagi Motivasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category