12/03/2026
Tiga Sekawan yang Dermawan
Sejarawan Arab tersohor, Al-Waqidi, pernah bercerita:
“Aku mempunyai dua orang sahabat. Salah seorang dari mereka berasal dari keluarga Bani Hasyim. Persahabatan kami yang sangat erat membuat kami seolah-olah seperti tak terpisahkan.”
Suatu hari, istriku berkata kepadaku, “Lebaran semakin dekat, sementara kita tidak memiliki apa-apa. Engkau dan aku mungkin bisa mengatasi kesulitan ini, tetapi hatiku berduka bila memikirkan kebutuhan anak-anak kita. Mereka melihat anak-anak tetangga mengenakan pakaian paling bagus saat hari raya, sedangkan anak-anak kita mengenakan pakaian compang-camping. Pikirkanlah jalan keluar dari kesulitan ini.”
Akupun menulis surat kepada sahabatku dari keluarga Hasyim dan meminta bantuannya atas masalah yang kuhadapi. Dia mengirimiku sebuah pundi tertutup yang katanya berisi seribu dirham. Saat itu aku merasa sedikit lega karena bisa keluar dari kesulitan untuk sementara.
Namun tiba-tiba, sepucuk surat dari sahabatku yang kedua datang kepadaku. Ia mengutarakan kesulitan yang sama denganku. Tanpa ragu, akupun mengirimkan pundi-pundi yang kuterima dari sahabat pertamaku tadi kepada sahabat keduaku dalam keadaan tetap tertutup (segelnya belum dibuka).
Kemudian aku mengucilkan diri di masjid dan menghabiskan malam di sana karena aku takut menemui istriku (khawatir ia kecewa). Esok harinya, aku pulang ke rumah dan menceritakan sejujurnya kepada istriku tentang apa yang telah kulakukan. Ternyata, dia sangat mendukung tindakanku.
Saat kami sedang bercakap-cakap, tiba-tiba datang sahabatku dari keluarga Hasyim dengan membawa pundi-pundi tertutup seperti semula. Ia memintaku untuk menceritakan apa yang sebenarnya kulakukan dengan pundi-pundi yang telah ia kirimkan.
Kemudian ia berkata, “Ketika engkau menulis surat kepadaku, satu-satunya harta milikku di dunia ini adalah uang yang kukirimkan padamu itu. Oleh karena itu, aku mengirim surat kepada sahabat kita yang satu lagi untuk meminta bantuannya. Lalu, ia mengirimiku pundi-pundi milikku ini dengan segel yang tetap terjaga. Ternyata uang itu berputar kembali kepadaku.”
Mengetahui hal itu, kami akhirnya membagi rata isi pundi-pundi itu di antara kami bertiga dan memenuhi kebutuhan lebaran kami masing-masing. Kejadian tersebut kemudian terdengar oleh Khalifah Al-Makmun. Beliau lantas mengirimkan tujuh ratus dinar; masing-masing dua ratus dinar untuk kami bertiga, dan seratus dinar khusus untuk istriku.
—Disadur dari tulisan Hirak Har