25/08/2026
...
SURI TELADAN: DARI CONTOH MENUJU KESADARAN
Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah—suri teladan yang baik. Beliau tidak hanya mengajarkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan kepedulian, tetapi menghadirkannya dalam laku kehidupan.
Berabad-abad kemudian, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan hal yang senada melalui pendidikan: "ing ngarsa sung tuladha"—di depan memberi teladan. Namun keteladanan tidak berhenti pada membuat orang lain mengikuti. Setelah memberi contoh, kita hadir "ing madya mangun karsa", membangun kemauan dari tengah; lalu "tut wuri handayani", memberi daya agar seseorang mampu berjalan dengan kesadarannya sendiri.
Di situlah pendidikan menuju "Mahardhika."
Manusia yang berbuat baik bukan lagi karena diperintah. Bukan karena takut dihukum. Bukan p**a karena sedang dilihat orang lain. Ia memilih kebaikan karena memahami, merasakan, dan menyadari bahwa itulah yang semestinya dilakukan.
Dan ketika kesadaran itu tumbuh, manusia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya. Ia mulai menjaga sesama, merawat alam, menyayangi makhluk hidup, serta mengendalikan angkara dalam dirinya agar keberadaannya tidak melahirkan kerusakan.
Itulah "memayu hayuning bawana, ambrasta dur angkara": merawat kebaikan dan keindahan kehidupan, sekaligus mengendalikan angkara yang dapat merusaknya.
Maka memperingati Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kelahiran beliau, tetapi bertanya kepada diri sendiri:
"Sudahkah keteladanan Rasulullah hidup dalam laku kita?"
Sebab teladan yang paling bermakna bukan hanya untuk dikagumi dan diceritakan, tetapi dihidupkan kembali melalui perbuatan kita sehari-hari.
Dari suri teladan, tumbuh kesadaran.
Dari kesadaran, lahir manusia Mahardhika.
Dan manusia Mahardhika memilih memayu hayuning bawana.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Semoga kita mampu meneladani akhlak beliau dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.