Eksotika Desa

Directions Website Contact the business

Eksotika Desa Komunitas peduli lingkungan dan kebudayaan desa

... SURI TELADAN: DARI CONTOH MENUJU KESADARANMaulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa Rasulullah adalah uswatun...
25/08/2026

...
SURI TELADAN: DARI CONTOH MENUJU KESADARAN

Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah—suri teladan yang baik. Beliau tidak hanya mengajarkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan kepedulian, tetapi menghadirkannya dalam laku kehidupan.

Berabad-abad kemudian, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan hal yang senada melalui pendidikan: "ing ngarsa sung tuladha"—di depan memberi teladan. Namun keteladanan tidak berhenti pada membuat orang lain mengikuti. Setelah memberi contoh, kita hadir "ing madya mangun karsa", membangun kemauan dari tengah; lalu "tut wuri handayani", memberi daya agar seseorang mampu berjalan dengan kesadarannya sendiri.

Di situlah pendidikan menuju "Mahardhika."

Manusia yang berbuat baik bukan lagi karena diperintah. Bukan karena takut dihukum. Bukan p**a karena sedang dilihat orang lain. Ia memilih kebaikan karena memahami, merasakan, dan menyadari bahwa itulah yang semestinya dilakukan.

Dan ketika kesadaran itu tumbuh, manusia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya. Ia mulai menjaga sesama, merawat alam, menyayangi makhluk hidup, serta mengendalikan angkara dalam dirinya agar keberadaannya tidak melahirkan kerusakan.

Itulah "memayu hayuning bawana, ambrasta dur angkara": merawat kebaikan dan keindahan kehidupan, sekaligus mengendalikan angkara yang dapat merusaknya.

Maka memperingati Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kelahiran beliau, tetapi bertanya kepada diri sendiri:

"Sudahkah keteladanan Rasulullah hidup dalam laku kita?"

Sebab teladan yang paling bermakna bukan hanya untuk dikagumi dan diceritakan, tetapi dihidupkan kembali melalui perbuatan kita sehari-hari.

Dari suri teladan, tumbuh kesadaran.
Dari kesadaran, lahir manusia Mahardhika.
Dan manusia Mahardhika memilih memayu hayuning bawana.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Semoga kita mampu meneladani akhlak beliau dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.

Dirgahayu, Indonesiaku!
17/08/2026

Dirgahayu, Indonesiaku!

Hari ini, 22 Juni, Mangsa Kasa dimulai.Dalam Sarasehan Kesenian Gatholoco Angudhari Lakuning Mangsa, Mbah Juni mengingat...
22/06/2026

Hari ini, 22 Juni, Mangsa Kasa dimulai.

Dalam Sarasehan Kesenian Gatholoco Angudhari Lakuning Mangsa, Mbah Juni mengingatkan bahwa masyarakat desa dahulu tidak hanya membaca kalender.

Mereka membaca alam.

Udara yang semakin panas di siang hari, mata air yang mulai surut, perubahan pada tumbuhan, arah angin, hingga suara hewan menjadi petunjuk untuk memahami perjalanan musim.

Pengetahuan itu tidak ditulis dalam buku.

Ia hidup dalam pitutur.
Hidup dalam tembang.
Hidup dalam ingatan para pelakunya.

Mungkin itulah sebabnya Gatholoco tidak hanya menjadi kesenian rakyat.

Di dalamnya tersimpan pengetahuan panjang tentang hubungan manusia dan alam.

"Bunga dan buah randu dan mata air di Perbukitan Menoreh yang mulai surut bukan sekadar bagian dari bentang alam pedesaan. Semuanya adalah bahasa yang membantu manusia memahami waktu."

SRAWUNG SENI GATHOLOCO Angudari Lakuning MangsaMalam ini para petani tidak sedang sekadar bernyanyi.Mereka sedang membuk...
11/06/2026

SRAWUNG SENI GATHOLOCO Angudari Lakuning Mangsa

Malam ini para petani tidak sedang sekadar bernyanyi.
Mereka sedang membuka kembali lembar-lembar pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam ingatan.

Di balik tembang-tembang Gatholoco tersimpan cerita tentang musim, pertanian, hubungan manusia dengan alam, tata kehidupan sosial, serta harapan-harapan yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi.

Melalui Srawung Seni Gatholoco, lima kelompok Gatholoco dari kawasan Borobudur dan sekitarnya akan berkumpul dalam satu ruang perjumpaan. Mereka akan menampilkan tembang, gerak tari, humor, pitutur, dan musik tradisional yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Namun malam ini bukan sekadar pertunjukan.
Malam ini adalah kesempatan untuk mendengarkan makna yang tersimpan di balik syair-syair yang mereka nyanyikan.

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan melalui lagu-lagu tersebut?

Bagaimana para petani membaca musim?
Bagaimana masyarakat memahami alam?

Dan bagaimana harapan tentang kehidupan yang lestari diwariskan melalui tembang-tembang yang terus hidup hingga hari ini?

Mari hadir, mendengarkan, dan ikut merasakan denyut pengetahuan yang masih hidup di tengah masyarakat.

📍 Limasan Ringin Somo Puji Asih
Dusun Sangen, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur
📅 12 Juni 2026
🕖 19.00–22.00 WIB

✨ Terbuka untuk umum

"Mangsa kuwi dudu mung pratandha wektu, ananging sejatine guru lan pitutur urip."

Musim bukan sekadar penanda waktu.
Musim adalah guru kehidupan.

Karena mungkin yang sedang kita cari malam ini bukan hanya tembang-tembang lama, melainkan cara lama masyarakat menjaga masa depan.

ANGUDARI LAKUNING MANGSAJauh sebelum hadirnya kalender digital, prakiraan cuaca, dan berbagai teknologi penyimpanan info...
11/06/2026

ANGUDARI LAKUNING MANGSA

Jauh sebelum hadirnya kalender digital, prakiraan cuaca, dan berbagai teknologi penyimpanan informasi, masyarakat desa telah memiliki cara tersendiri untuk menyimpan pengetahuan.

Mereka menyimpannya dalam tembang.

Mereka menyimpannya dalam pitutur.

Mereka menyimpannya dalam ingatan.

Salah satunya hidup dalam kesenian Gatholoco.

Di balik syair-syair yang terdengar sederhana, tersimpan pengetahuan tentang musim, pertanian, hubungan manusia dengan alam, tata kehidupan sosial, hingga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi.

Gatholoco bukan sekadar pertunjukan.

Ia adalah perpustakaan lisan.

Ia adalah ruang penyimpanan memori kolektif masyarakat.

Ia adalah jejak pengetahuan yang masih hidup.

Melalui Sarasehan Kesenian Gatholoco: Angudari Lakuning Mangsa, para pelaku Gatholoco dari berbagai desa berkumpul untuk mengurai kembali pengetahuan yang tersimpan di balik syair, tembang, dan pitutur yang mereka warisi.

Sebab yang terancam hilang sesungguhnya bukan hanya sebuah kesenian.

Yang terancam hilang adalah cara manusia memahami alam dan kehidupan.

"Mangsa kuwi dudu mung pratandha wektu, ananging sejatine guru lan pitutur urip."

Musim bukan sekadar penanda waktu.

Musim adalah guru kehidupan.

Mari baca di https://eksotikadesa.id/pengantar-sarasehan-seni-gatholoco/

Webinar Kesenian Gatholoco & Pranatamangsa Sebagai sebuah kesenian, gatholoco tak hanya memiliki dimensi hiburan, melain...
08/06/2026

Webinar Kesenian Gatholoco & Pranatamangsa

Sebagai sebuah kesenian, gatholoco tak hanya memiliki dimensi hiburan, melainkan juga khazanah pengetahuan. Syair-syair lagunya berisi kawruh mengenai ragam hal, salah satunya pranatamangsa, kalender musim tradisional yang hidup di tengah masyarakat Jawa, khususnya wilayah yang berada di sekitar Gunung Merapi-Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Pranatamangsa tak sekadar ilmu titen. Dalam lagu "mangsa kasa" pada tatanan lagu kesenian gatholoco, dapat dilacak bahwa kalender musim ini berakar pada pengetahuan leluhur masyarakat Jawa mengenai peristiwa solstice yang muncul akibat adanya rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari.

Jadi, sebenarnya bagaimana pengetahuan mengenai pranatamangsa itu sesungguhnya? Sejak kapan ia bermula? Dan bagaimana sebuah tari dapat mentransmisikan pengetahuan itu?

Mari merapat saja dalam ruang maya, pada perhelatan webinar yang akan segera digelar ini.
"Maari Berangkaaatt...."

Gatholoco termasuk kesenian yang hari ini masuk kategori rawan punah. Kesenian ini bahkan mungkin hanya dikenal di beber...
08/06/2026

Gatholoco termasuk kesenian yang hari ini masuk kategori rawan punah. Kesenian ini bahkan mungkin hanya dikenal di beberapa tempat saja, atau oleh orang-orang tertentu saja. Padahal, kesenian ini menyimpan sesuatu yang sangat penting, yakni—salah satunya—pengetahuan atau “kawruh” leluhur masyarakat Jawa terkait dengan pranatamangsa.

Pranatamangsa adalah kalender musim yang sebenarnya hingga saat ini masih diugemi di beberapa wilayah pedesaan di Jawa Tengah. Kalender tradisional ini berbasis pada matahari, dengan menjadikan peristiwa solstice utara sebagai patokan awal tahunnya. Peristiwa solstice ini terjadi akibat adanya rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari, memunculkan fenomena Gerakan semu matahari utara-selatan dan sebaliknya.

Dan, pengetahuan leluhur masyarakat Jawa mencatat itu semua dan menggunakannya dalam praktik kehidupan, tidak hanya bagi persoalan pertanian, tetapi juga perikanan, watak anak hingga konstruksi bangunan. Sebuah upaya menyelaraskan diri dengan alam.

Lalu, seperti apa sebenarnya pranatamangsa itu dan apa urgensinya? Mengapa leluhur masyarakat Jawa merasa perlu mempertahankannya dan menyimpannya dalam kesenian seperti gatholoco?

Mari merapat pada waktunya dalam perhelatan budaya ini: Sarasehan Kesenian Gatholoco dengan tema “Angudari Lakuning Mangsa” (menelisik siklus mangsa).

Catat tanggal dan lokasinya:
🗓️ 10-12 Juni 2026
📍 Limasan Ringin Somo Puji Asih
NB: Terbuka untuk umum dengan konfirmasi kehadiran

"Maari Berangkaaat...."





Salah satu "jarwadasa" dari "gatholoco" yang merupakan nama dari salah satu kesenian langka di kawasan Borobudur dan sek...
08/06/2026

Salah satu "jarwadasa" dari "gatholoco" yang merupakan nama dari salah satu kesenian langka di kawasan Borobudur dan sekitarnya adalah "nggathukke lakuning candra" (menyelaraskan siklus bulan), yang berarti sebuah upaya manusia menyelaraskan diri dengan semesta.

Hal itu tampak pada tata syair kesenian tersebut yang salah satunya berbicara mengenai "pranatamangsa", kalender tradisional berbasis pada matahari, lebih tepatnya peristiwa solstice utara yang terjadi akibat adanya rotasi & revolusi bumi terhadap matahari.

Dengan pranatamangsa ini, masyarakat Jawa di kawasan Borobudur dan sekitarnya membangun sistem pertaniannya, juga beberapa bagian lain dalam sistem kehidupan mereka, agar selaras dengan alam, harmonis secara sosial dan ekologi.

Lalu bagaimana sebenarnya pranatamangsa ini?
Kenapa kesenian gatholoco menyimpan pengetahuan tersebut?
Dan apakah Candi Borobudur juga menyimpan pengetahuan serupa di masa lalu?

Yuk merapat saja di sesi sarasehan luring ini yang akan berlangsung pada tgl 10 Juni.

Maaarri...berangkkaaattt...🎉🎉🎉





Semoga semua makhluk berbahagia
31/05/2026

Semoga semua makhluk berbahagia

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
26/05/2026

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H

Address

Sembungan, RT. 03, Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan
Bantul
55184

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Eksotika Desa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Eksotika Desa:

Shortcuts

Share