Koloni Kere

Koloni Kere Jalan lain menuju Surga dan Ridha Tuhan

26/07/2025

šŸ”„

ā€œBukan Karena Malasā€

Barangkali…
susahnya rezekimu
bukan karena kamu kurang kerja,
tapi karena hatimu terlalu banyak kerja kotor.

Kamu bangun pagi, tapi penuh dengki.
Kamu cari duit, tapi sambil mendoakan orang lain gagal.
Kamu salat, tapi sambil bisikkan kehancuran orang yang tidak sejalan.

Kamu merasa pantas dapat lebih,
tapi lupa, bahwa syukur bukan sekadar ucapan.
Syukur itu ruang batin.
Kalau isi dadamu cuma keluhan,
apa yang mau ditanam di situ?

Rezeki bukan cuma soal kerja keras.
Banyak orang kerja keras, tapi rezekinya mampet.
Kenapa?
Karena dalam diam,
dia merusak dirinya sendiri dengan dendam yang dia rawat seperti bayi.

Kamu bilang orang lain sombong,
padahal kamu sendiri tak pernah ikhlas melihat orang lain berhasil.

Jangan-jangan,
Tuhan sedang menahan rezekimu
bukan karena kamu malas,
tapi karena kamu belum bisa dipercaya
untuk tidak menyombongkan diri saat diberi.

22/07/2025

šŸ”„

ā€œMalam: Ruang yang Tak Mau Dijelaskanā€

Malam tidak pernah datang sepenuhnya
Ia selalu bocor—oleh lampu tetangga, notifikasi ponsel, suara tikus di plafon, atau dengkuran utang yang belum lunas
Kita pikir malam itu lawan dari terang
Padahal ia cuma waktu yang kehilangan peran

Di siang hari, manusia sibuk menjadi sesuatu
Jabatan, nama, status, bio singkat di Instagram
Tapi malam datang tanpa meminta biodata
Ia tidak peduli kamu siapa
Ia hanya bertanya, tanpa suara:
"Masih kuat berpura-pura?"

Karena malam bukan tentang gelap,
tapi tentang tidak adanya kejelasan
Dan manusia—terutama yang sudah terlalu sering digempur tuntutan—takut pada apa yang tak bisa mereka beri definisi

Malam tidak s**a kata-kata
Ia lebih menyukai isyarat:
napas yang berat,
kasur yang dingin,
tatapan kosong ke plafon sambil berpikir kenapa semua orang terlihat lebih siap menghadapi hidup

Secara psikologis, malam adalah saat ketika ego mulai retak
Saat topeng sosial longgar,
dan suara kecil yang kamu kubur siang tadi
mulai mengigau pelan di bawah bantal

Kau tidak sedang sendiri.
Tapi juga tidak sedang bersama siapa-siapa
Kau tidak tahu ingin tidur atau ingin menangis
Kau hanya diam, dan berharap ada sesuatu
yang datang
yang tidak harus dijelaskan
yang tidak harus bernama

Dan di situ, mungkin, malam sedang jujur-jujurnya
Bukan untuk memberi jawaban,
tapi untuk mengajarkan
bahwa tidak semua rasa
butuh terang
dan tidak semua luka
butuh disembuhkan sekarang juga

22/07/2025

šŸ”„

"Aku, Ulama Pembela Tambang"

Aku sudah bilang dari awal:
yang penting stabil.
Yang penting proyek jalan.
Soal komentar orang?
Biarkan mereka menjerit di kolom.
Aku sudah punya filter:
seruput nikel.

Kopi pagi ini diseduh santri.
Wangi, pahitnya pas,
dan disajikan tepat setelah aku buka Twitter,
baca komentar:
ā€œUlama kok bela tambang? Hatinya di mana?ā€

Aku seruput.
Kubaca pelan-pelan sambil menyilangkan kaki.
Hatiku?
Sudah diselesaikan di awal proyek.
Ada harga.
Ada tanda tangan.
Ada ayat yang bisa kutarik untuk semua konteks.
Tinggal pilih.

Mereka bilang aku ulama kapitalis.
Tapi mereka tak tahu betapa kerasnya membuat kalimat ā€œsyukurā€ terdengar legit
saat wajah direktur tambang menatap dari barisan depan.
Aku pinter main diksi.
Mereka pinter main emosi.
Tapi aku yang dibayar.

Ada aktivis yang marah-marah.
Katanya aku penjilat.
Katanya aku mencemari nama Tuhan.
Tapi aku lihat followers-nya cuma 800.
Sementara aku?
Sudah punya konten ngaji yang sangat luas penontonnya

Aku seruput lagi.
Pahitnya nikmat.
Seperti hasil tambang yang belum dicuci.
Tapi tetap menguntungkan.

Mereka bisa terus berteriak soal langit, soal air, soal akar.
Tapi aku sudah punya posisinya.
Di tengah.
Di antara Tuhan yang tetap kusebut,
dan tambang yang tetap kubela.

Yang penting: semua diam.
Dan kalau pun bersuara,
aku tinggal buka kitab,
putar sedikit makna,
dan jadikan sabda.

Lalu seruput terakhir.
Bismillah.
Lanjutkan proyek.

22/07/2025

"Doa Mereka Dikabulkan oleh Ekskavator"

Ada jenis ulama yang dekat sekali dengan Tuhan.
Dekat… karena Tuhan sudah dijual dalam paket dakwah yang bisa disponsori
oleh perusahaan sawit dan tambang nikel.
Dibayar kontan.
Diserahkan dalam amplop yang sudah disterilkan dari debu rakyat.

Mereka bersyukur ketika tanah digali,
mengutip ayat tentang bumi yang disiapkan untuk manusia,
tapi lupa bahwa manusia juga diminta menjaga,
bukan menggunduli lalu membuat khutbah terima kasih pada investor.

Ketika korupsi mengalir seperti sungai kotor,
mereka wudhu dengan air bersih dari galon mahal,
lalu bilang: ā€œsabar, ini ujian.ā€
Tapi ketika ada petani mempertahankan mata air,
mereka menyebutnya pemberontak.
Wahabi lingkungan.
Ekstremis ijo-ijo.

Mereka bilang:
ā€œAllah Maha Kaya, jadi jangan takut tambang.ā€
Padahal yang ditakuti bukan kekayaan Tuhan,
tapi kerakusan makhluk yang berkhotbah sambil mencium kaki pengusaha.

Kini, suara azan bersaing dengan suara bor.
Majelis ilmu dibuka dengan doa,
ditutup dengan penandatanganan MoU perizinan lahan.

Dan kita dilarang marah.
Katanya ini bentuk syukur.
Padahal syukur mereka hanya untuk statistik pertumbuhan ekonomi,
bukan untuk sawah yang hilang,
bukan untuk sungai yang kering,
bukan untuk langit yang kehilangan burung.

Mereka bukan ulama.
Mereka juru bicara kekuasaan,
yang mengutip ayat hanya saat sesuai dengan agenda kementerian.

Mereka diam saat para koruptor menyedot hak rakyat,
tapi bicara lantang saat orang miskin marah.
ā€œWahabi lingkungan,ā€ katanya.
Padahal hanya melindungi udara dan tanah yang mereka pijak

21/07/2025

šŸ”„

Ada masa di mana aku pikir Tuhan hanya layak diakses oleh yang suci. Mereka yang hafal kitab, punya jadwal dakwah, atau setidaknya, tahu caranya menangis saat berdoa. Tapi di sela pencarian itu, aku mulai menemukan kehadiran Tuhan di tempat yang tidak disangka: pada pemulung yang tak pernah cuti, pada waria tua yang tak pernah dimintai khutbah, pada juru parkir yang disapa hanya jika kita lupa kasih uang.

Mereka bukan sekadar korban. Mereka bukan ā€œyang perlu kita bantuā€. Mereka adalah kitab yang dibuang sebelum dibaca. Tuhan menyelinap di tubuh mereka, bukan sebagai ujian bagi kita yang mengaku peduli, tapi sebagai manifestasi bahwa kasih dan kehadiran-Nya tidak pernah tunduk pada norma sosial yang kita buat.

Dan anehnya, mereka yang sering kita doakan agar ā€œmendapat hidayahā€, justru lebih tahu cara berbagi dari sisa. Lebih tahu cara tertawa dalam kesempitan. Lebih tahu cara memeluk dunia tanpa menggenggamnya. Siapa tahu, merekalah para nabi tanpa podium. Yang disingkirkan dari sejarah, tapi dipeluk langit tanpa syarat.

Jadi saat orang sibuk ā€œmendekat kepada Tuhanā€ lewat jalan bersih dan terang, aku memilih menyusuri lorong gelap yang mereka tinggali. Bukan untuk menyelamatkan mereka. Tapi karena aku takut… justru di sanalah Tuhan bersemayam, dan akulah yang paling tertinggal.

GasWa.me/088983212915
09/07/2024

Gas

Wa.me/088983212915

Buku terbaru, hanya 80 ribu saja, gratis ongkir pulau Jawa Bali.
04/07/2024

Buku terbaru, hanya 80 ribu saja, gratis ongkir pulau Jawa Bali.

Berikut ini tulisan Gus Ayik untuk menyambut anak-anak pikirannya Mas Ali yang beliau momong hingga lahir sebuah buku ya...
03/07/2024

Berikut ini tulisan Gus Ayik untuk menyambut anak-anak pikirannya Mas Ali yang beliau momong hingga lahir sebuah buku yang terbaru :

Selamat untuk Mas Ali Antoni atas kelahiran anak barunya: "Sejarah Khuldi: Dulu, Esok, dan Kini". Taqobbalallohu minna wa minkum, taqobbal ya Karim..

Saya lebih s**a menyebut tulisan2 di buku ini sebagai "kesetiaan". Kesetiaan menggali, kesetian mengurai partikel Qur'ani, menilisik sambungan2 munasabahnya, kontekstualisasi kini dan disini tentang salah satu tema pondasi abadi sejarah manusia di dunia: KHULDI.

Saya scanning tulisan2 di dalamnya seperti ada hawa suntuk Jacques Lacan disana, ada yang sedang asyik mendekonstruksi seperti Derrida, ada ringan tapi makjleb ala Gus Baha', ada lawak cerdas kek Rowan Atkinsonnya, teliti mengekskavasi arkeologi pengatahuan macem Michell Faucoult, main2 mitologi ala Barthes, ada bau2 analisis meDukun misterius, ada kadang gaya ngustadz LDM Ta'mir Masjid, nyinyir mak-mak tongkrongan and so on... tapi sekaligus bukan mereka semua. Ini artikulasi khas Ali Antoni.

Semua yang bagi saya ekspresi cintanya "ngeloni" Qur'an. Buku yang seperti ngotot membuktikan bahwa tema2 Qur'an itu "Sholih li kulli zaman wa makan". Ini Qur'an: kitab kesadaran! Bukan doktrin2 usang ketinggalan zaman yang terus diulang2.

Semua yang akumulasinya--saya sok2an menduga--bermuara di energi kesadaran. Nyala untuk terus menemu bentuk lebih baik. Manusia adalah selama ia setia menjalani mau-NYA.

Saya harus mengakui disini, saya seperti baru saja mengenal Ali Antoni. Anjir memang dia!!! Jangkrik seribu jangkrik! Mbah Hamid (Pasuruan), niki murid jenengan Mbah.. šŸ˜„

Makasih Gusti, sudah kasih saya kenal sama dia orang. Semoga Kanjeng Nabi merestui. Muhammad adalah energi.. Amin šŸ”„

Buku terbaru dari Mas Ali x Gus Ayik
03/07/2024

Buku terbaru dari Mas Ali x Gus Ayik

Awal 2024 jangan lupa mletre šŸ˜†Koloni Kere
05/01/2024

Awal 2024 jangan lupa mletre šŸ˜†

Koloni Kere



26/12/2023

šŸ”„

Sejak terbentuk beberapa bulan lalu Koloni Kere sudah menerbitkan dua judul buku

Buku yang pertama judulnya: "Saingan Terbesar Tuhan bukan Iblis atau Setan. Tapi Uang"

Buku yang kedua adalah kumpulan Haiku berjudul "Puisilit"

Bikin semalem cuma 2 jam selesai

Semua bukunya bisa dipesan secara Pdf maupun cetak

Kita sedang ada Pre-Order untuk yang cetak

Tulisan dari dua Kyai Postmo yaitu Ali Antoni dan Yai Ayiko Musashi jebolan Komunitas Pintu yang dulu mencetaki majalah Macapat Syafaat ini cenderung ke ranah ngeselin dan s**a mancing pikiran ke blindspot-blindspot kita

Untuk yang Pdf bisa di dapet di harga 20rb aja
Yang cetak di 60rb

Btw. Selamat pagi. Selamat menyelami dunia simulakra yang berlapis-lapis kawan kawin

Address

Bantul

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Koloni Kere posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Koloni Kere:

Share