21/04/2026
"Kepala keluarga". Kalau kamu bertemu dia di jalan, kamu mungkin akan berpikir: hidupnya baik-baik saja. Senyumnya ringan, tawanya pas, dan caranya berbicara selalu tenang. Dia tipe orang yang sering bilang, “Santai aja, semua bisa diatasi.”
Setiap pagi, Ia berangkat kerja dengan kemeja rapi dan langkah pasti. Di kantor, dia dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan. Teman-temannya sering datang untuk curhat, dan Ia selalu punya kata-kata yang menenangkan. Aneh ya, orang yang paling sering menguatkan justru jarang terlihat butuh dikuatkan.
Tapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi setelah dia pulang.
Di kamar yang lampunya redup, Ia sering duduk lama tanpa suara. Ponselnya penuh notifikasi, tapi tak satu pun dibalas. Ada pesan dari ibunya yang dia baca berulang-ulang tanpa tahu harus menjawab apa. Ada tagihan yang dia tunda buka. Ada mimpi-mimpi lama yang diam-diam sudah dia kubur.
Kadang dia menatap cermin dan bertanya dalam hati, “Kapan terakhir kali aku benar-benar jujur sama diriku sendiri?”
Hari-harinya terasa seperti pertunjukan. Dia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bercanda, kapan harus terlihat kuat. Dan dia melakukannya dengan sangat baik, sampai semua orang percaya—termasuk dirinya sendiri, untuk sesaat.
Tapi di malam hari, saat semuanya sunyi, perasaan itu datang lagi. Rasa lelah yang bukan sekadar fisik. Pikiran yang berisik, mengingatkan tentang kegagalan, ketakutan, dan hal-hal yang belum terselesaikan. Dia ingin bercerita, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Takut dianggap lemah. Takut orang lain melihat sisi yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
Jadi dia memilih diam.
Besok pagi, dia akan bangun lagi, memakai senyum yang sama, dan dunia akan tetap melihat Ia yang “baik-baik saja.”
Padahal, di dalam dirinya, ada badai yang belum pernah benar-benar reda.