M Taufik Hidayat

M Taufik Hidayat Pemerhati Sosial Ekonomi

21/03/2024

Menghidupkan Etika Politik Gus Dur

Wajah kehidupan politik Indonesia saat ini masih didominasi oleh berbagai fenomena negatif. Konflik agraria yang semakin kronis, penyalahgunaan kekuasaan, gaya hidup mewah aktor politik, pembentukan regulasi yang cenderung ‘hanya’ mengakomodasi kepentingan oligarki hingga masih suburnya korupsi yang menjadi simpul dari segala permasalahan.
Tanpa menyertakan data konkret, deretan fenomena tersebut merupakan fakta yang tidak bisa kita bantah adanya. Bahkan, anomali tersebut bukan merupakan kasuistik belaka, tetapi terus terulang bahkan mengalami peningkatan. Kendati tidak semua aparatur pemerintahan menjalankan praktik yang salah, namun berdampak luas terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat terutama kalangan bawah.
Jika dilihat dari kacamata filsafat, pangkal dari masalah dalam dunia politik di Indonesia saat ini adalah miskinnya etika dalam praktik penyelenggaraan negara. Kebijakan yang idelanya bertumpu pada tugas suci menciptakan kesejahteraan masyarakat akan beralih pada hasrat memenuhi kepentingan golongan saja. Hal ini karena tergerusnya standar nilai etik dalam menjalankan tugas pemerintahannya.

Artinya, eksistensi etika yang sangat urgen ini harus terus digaungkan. Buah pikir mengenai etika politik mesti dikaji, dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan politik. Salah satu tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap hal ini adalah Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Kendati pemikirannya mengenai etika politik dipengaruhi sosio-politik pada saat itu, namun agaknya masih relevan untuk diterapkan di masa sekarang.

Problematika yang terjadi dalam bidang politik masa Gus Dur dengan masa sekarang tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Salah satunya tipe-tipe pemimpin pada masa Gus Dur dan sekarang selaras, mengingat penyalahgunaan kekuasaan masih banyak terjadi (Faizatun Khasanah, 2019). Hal ini dapat ditemukan dengan mudah dalam berita di berbagai platform media sosial. Para pemimpin negeri seolah mengesampingkan dan acuh terhadap kepentingan rakyatnya. Mulai dari minimnya partisipasi publik dalam pembentukan undang-undang sampai bentrok antara aparat dengan warga sipil sebagaimana yang terjadi di Rempang baru-baru ini.

Pemikiran Etika Politik Gus Dur
Etika merupakan bagian dari cabang filsafat. Secara umum, filsafat dibagi menjadi dua kategori yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mempertanyakan segala entitas yang ada seperti apa itu alam, manusia dan lain sebagainya. Sedangkan filsafat praktis membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut (Aidost, 2009).
Etika masuk dalam rumpun filsafat praktis, sehingga etika politik secara umum berbicara soal bagaimana memperoleh kekuasaan dan bagaimana kekuasaan tersebut digunakan yang tentu dilandasi dengan moralitas.

Akar Pemikiran Politik Gus Dur
Gus Dur sendiri tidak memberikan definisi secara eksplisit, namun buah pemikirannya mengenai etika politik dapat kita formulasikan menjadi beberapa prinsip. Pertama, keadilan untuk kesejahteraan bersama. Dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), keadilan merupakan ajaran fundamental yang dibawakan Islam, baik keadilan individual maupun keadilan kolektif.
Sebagai cendekiawan yang lahir dari rahim pesantren, prinsip etika keadilan dalam pandangan Gus Dur terinspirasi dari sumber ajaran Islam. Bahwa perintah keadilan perlu dijalankan dan diterapkan secara konsisten. Berulang kali Alquran menyerukan an ta’dilu (perintah untuk berlaku adil) dan kunu qawwamina bi al-qisth (menegakkan keadilan). Yang artinya keadilan merupakan perintah mutlak dalam Islam. Tidak hanya Islam, agama lain juga menjunjung tinggi keadilan yang berarti keadilan tak ternilai harganya.

Keadilan dalam konteks kehidupan bernegara adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Segala kebijakan harus berorientasi dan berpihak pada rakyat. dengan spirit humanisme, memperlakukan mereka sebagai manusia maka keadilan di sini harus ditegakkan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Banyak tulisan Gus Dur yang menekankan etika keadilan dalam tubuh pemerintahan. Keadilan harus menjadi basis moral yang penting. Karena, jika keadilan hidup dalam bidang politik, maka akan hidup p**a dalam bidang-bidang lainnya.
Kedua, prinsip amanah. Sebagai khalifatullah fil ardh, manusia diberikan kesempatan oleh tuhan sebagai pemegang otoritas pengelolaan dunia. Manusia diberi kebebasan untuk melakukan improvisasi untuk berlaku secara kreatif dalam menjaga kelestarian hidup, disamping tetap ada rambu-rambu dari Tuhan sebagai pedoman hidup. Kehendak bebas inilah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban sesuai apa yang diperbuat. Maka, sejatinya hidup adalah amanah dari tuhan.
Seorang pemimpin, harus bersikap amanah karena ia sedang mengemban tanggungjawab sebagai wakil Tuhan di bumi sekaligus sebagai wakil rakyat. amanah berarti menjalankan apa yang telah dibebankan kepadanya. dalam konteks hubungan antar manusia termasuk dalam penyelenggaraan negara, tidak amanah berarti telah melakukan dosa kemanusiaan. Oleh karena itu, menurut Gus Dur, amanah menjadi sikap moral yang harus terus tumbuh dalam dada para pemimpin.

Gus Mus: Islamnya Gus Dur, Islam Cinta
Ketiga, prinsip lemah lembut dan antikekerasan. Faizatun Khasanah dalam Etika Gus Dur, Religius-Rasional (2018), menerangkan bahwa Gus Dur menentang segala bentuk kekerasan dalam kancah politik. Karakter lemah lembut Gus Dur terlihat dari berbagai pilihan strategi kebijakan dalam menangani persoalan. Dalam kiprahnya, Gus Dur menggunakan cara-cara yang soft.
Dalam menangani masalah terorisme misalnya, Gus Dur mengawali penyelesaian ini dengan menemukan akar dari masalah tersebut. Bahwa mereka yang tergabung dalam jaringan terorisme adalah bagian kecil dari warga muslim yang gagal memahami ajaran agama Islam. Oleh karena itu, perlu adanya pencerahan terhadap mereka melalui dialog antar budaya dan keagamaan. Dengan demikian, paham terorisme akan hilang sering hilangnya pemahaman yang salah terhadap ajaran agama.

Internalisasi Nilai Etika Politik Gus Dur
Proses internalisasi etika politik ini harus dimulai dari pendidikan. Dalam kaitannya dengan politik, pendidikan berperan untuk menyiapkan generasi mendatang yang memiliki bekal intelektual dan spiritual. Tuhan telah menganugerahkan piranti berupa akal, hati dan rasa. Piranti ini harus digunakan secara proporsional dan seimbang. Penggunaan akal dengan mengesampingkan hati akan membentuk manusia yang tangguh namun namun liar. Sedangkan penggunaan hati dengan mengesampingkan akal akan membentuk manusia yang saleh namun lemah.
Dalam hal ini, Gus Dur melihat bahwa pesantren menjadi lahan subur untuk menumbuhkan sikap yang bermoral, di samping lembaga pendidikan dari agama lain. Pesantren memiliki sistem nilai yang ditransmisikan secara konsisten baik kepada santri maupun masyarakat. Oleh karena itu, potensi pesantren sebagai agen perubahan kebudayaan bagi masyarakat sangat besar.
Sistem nilai yang diajarkan di pesantren adalah Islam itu sendiri. Islam merupakan agama yang mengemban misi rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Dengan demikian, output dari hasil mempelajari nilai keislaman adalah sikap yang mewujudkan kedamaian, keadilan dan kemakmuran bagi umat manusia tanpa melihat latar belakangnya.
Nilai tersebut telah nyata dipraktikkan oleh Gus Dur yang menjalankan politik dengan didasari ajaran Islam dalam bingkai tradisi pesantren. Bahwa watak dinamis yang melekat dalam tradisi pemikiran pesantren tumbuh dengan baik karena karena mengelaborasi pola berpikir fiqhiyah dan pola sikap yang didasari pada moralitas dan akhlak. Sehingga hasil pemikiran dan tindakan diarahkan pada pencapaian tujuan Islam itu sendiri, rahmatan lil ‘alamin (Uswatun Hasanah, 2023).
Nilai-nilai Islam yang diajarkan yang masih terus dilestarikan ini bisa menjadi spirit pola hidup egalitarian dan pembangunan masyarakat yang toleran dan berkeadilan. Dengan kata lain, individu yang telah melalui tataran pendidikan di pesantren nantinya dapat menjadi pelopor pembangunan bangsa yang didasari nilai etika sebagaimana yang telah digagas dan dipraktikkan langsung oleh Gus Dur.
Dengan demikian, fenomena negatif dalam wajah politik di Indonesia bisa dijawab dengan menghidupkan etika politik yang digagas oleh Gus Dur. Penghidupan tersebut dapat ditempuh melalui jalur pendidikan utamanya pesantren sebagai institusi yang nilia-nilai keislaman berbasis moral.

Dikri Mulia, Santri Pesantren Luhur Ciganjur, Jakarta Selatan

18/03/2024

Dwifungsi ABRI hampir pasti disahkan melalui RPP, ORBA versi 2.0 apakah bisa lebih baik dari REFORMASI?

15/03/2024

Mengobati Anggota Tubuh yang Sakit

Doa yang bisa diamalkan ketika anggota tubuh ada yang sakit. Pegang bagian tubuh yang sakit lalu membaca ….
بِاسْمِ اللَّهِ (3×)
أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)

“Bismillah (3 x)
A’udzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7 x)”

[Dengan menyebut nama Allah, dengan menyebut nama Allah, aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai]

(HR. Muslim no. 2202)

Hadits di atas, pernah ‘Utsman bin Abu Al-Asy’ash Ats-Tsaqafi mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sesuatu yang sakit di tubuhnya sejak dahulu ia masuk Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas, sambil memerintah dengan meletakkan tangan di bagian yang sakit pada badannya.

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa disunnahkan meletakkan tangan di bagian yang sakit lalu membaca doa sebagaimana yang disebutkan.

(Syarh Shahih Muslim, 14: 169)

Semoga mudah mengamalkannya. Wallahu waliyyut taufiq.rum

15/03/2024

Hadits Riwayat Tirmidzi no. 3548

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumma akfini bihalalika 'an haramika wa aghnini bifadlika 'amman siwaka.

Artinya: "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang halal dari yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karunia-Mu selain dari yang lainnya."

14/03/2024

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيْمِ

Artinya: “Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan, dan disukai oleh (Allah) Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).”

(HR. Bukhori).

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengucapkan Subhanallahi Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut."

(HR Muslim dan at-Tirmidzi).

13/03/2024

QS. Al-Ma'idah Ayat 78

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۗذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

78. Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

13/03/2024

Kisah Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel

Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II selalu identik dengan kisahnya yang menaklukan Konstantinopel. Beliau merupakan anak dari Sultan Murad II yaitu khalifah sebelum Muhammad Al-Fatih.
Dikatakan ketika sedang menunggu proses kelahiran putranya, Sultan Murad II menenangkan dirinya dengan membaca Al-Qur'an dan lahir anaknya saat bacaan sampai di surat Al-Fath, surat yang berisikan janji-janji Allah akan kemenangan kaum muslim.

Merujuk buku yang berjudul Muhammad Al-Fatih karya Abdul Latip Talib, beliau dilahirkan oleh permaisuri Aishah, istri Sultan Murad II pada 27 Rajab 835 H bertepatan dengan tanggal 29 Maret 1432 M di Adrianapolis, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Edirne (perbatasan Turki - Bulgaria), setelah 8 tahun pengepungan kota Konstantinopel oleh ayahnya.

Syaikh Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel mengatakan, Muhammad Al-Fatih diberi gelar sebagai khalifah atau sultan pada saat usianya 19 tahun. Beliau menjadi sultan ketujuh dari silsilah para sultan Dinasti Utsmani.

Sejarah Singkat Muhammad Al-Fatih
Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi gubernur Amasya saat umurnya baru menginjak 6 tahun. Setelah dua tahun memimpin Amasya, Muhammad Al-Fatih dipindah tugaskan ke Manisa oleh ayahnya.

Mengutip buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Y. Siauw, saat di Manisa, Muhammad Al-Fatih dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Baik itu yang berkaitan dengan Al-Qur'an maupun ilmu-ilmu lainnya seperti tsafaqah Islam, ilmu fiqh, bahasa, astronomi, matematika, kimia, fisika, serta teknik perang dan militer.

Sultan Murad II mengetahui jika anaknya memiliki sifat yang keras. Tetapi beliau menganggap bahwa sifat yang dimiliki anaknya bisa menjadi modal utama dalam belajar dan menjadi pemimpin.

Guru Muhammad Al-Fatih yang pertama adalah Syaikh Ahmad Al-Kurani. Di bawah bimbingan beliau, Muhammad Al-Fatih mulai menghafal Al-Qur'an dan mempelajari etika belajar pada usia 8 tahun.

Saat belajar, Syaikh Ahmad Al-Kurani tidak berperilaku istimewa dan mencium tangannya, seperti yang dilakukan ulama-ulama lain. Beliau justru tidak segan menegur Muhammad Al-Fatih dengan keras jika melanggar syariah Allah.

Guru kedua Muhammad Al-Fatih adalah Syaikh Aaq Syamsudin. Berbeda dengan guru pertamanya, Syaikh Aaq Syamsudin adalah ulama yang berpengaruh dalam membentuk mental Muhammad Al-Fatih. Beliau tidak hanya mendidik Muhammad Al-Fatih dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, melainkan juga senantiasa mengingatkannya akan kemuliaan ahlu bisyarah yang akan membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur (Bizantium).

Syaikh Aaq Syamsudin setiap hari menceritakan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam. Syaikh Aaq Syamsudin senantiasa meyakinkan dan mengulang-ngulang perkataannya kepada Muhammad Al-Fatih bahwa dirinya adalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW sebagai penakluk Konstantinopel.

Setelah Sultan Murad II wafat, pemerintahan kerajaan Turki Utsmani dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Dirinya berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukan Konstantinopel.

Usaha penaklukan Konstantinopel pertama dilancarkan pada tahun 44 H di zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian pada zaman khalifah Ummayah, Abbasiyah, zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H, akan tetapi semua mengalami kegagalan.

Usaha awal umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan mendirikan benteng Bosporus. Benteng ini didirikan umat Islam pada zaman Sultan Mehmed II dan dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

Akhirnya kota Konstantinopel berhasil jatuh di tangan umat Islam pada 29 Mei 1453 M. Setelah memasuki Konstantinopel di sana terdapat gereja Hagia Sophia yang kemudian dijadikan masjid bagi umat Islam.

Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian tutup usia pada saat mempersiapkan untuk menaklukan Roma 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun. Bagi umat Islam, wafatnya Sultan Mehmed II adalah kehilangan yang sangat besar. dtk

28/02/2024

"Dengan Ilmu hidup menjadi Mudah, dengan Seni hidup menjadi Indah, dengan Agama hidup menjadi Terarah"

27/02/2024

Salah satu upaya meningkatkan SDM dan mengurangi pengangguran ...

Kerja Sama Training for Trainers Indonesia dan Jepang untuk Perkuat Kompetensi SDM Indonesia di Bidang Industri 4.0. kemlu

Selain itu...

Menciptakan Lapangan Kerja Baru.
Mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Menyelenggarakan Bursa Tenaga Kerja.
Mendorong Kegiatan Ekonomi Informal.
Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi.

24/02/2024

Malam Nisfu Syaban jatuh pada tanggal 15 bulan Syaban dalam kalender tahun Hijriah. Tahun ini, malam Nisfu Syaban jatuh pada 25 Februari 2024 sehingga malam Nisfu Syaban bertepatan dengan tanggal 24 Februari 2024. Jadi seseorang yang ingin mengamalkan doa Malam Nisfu Syaban bisa dilakukan pada Sabtu (24/2/2024) atau selepas Magrib.

Umat Islam dianjurkan untuk membaca doa sebanyak mungkin untuk menyambut Nisfu Syaban. Malam Nisfu Syaban bisa menjadi waktu tepat untuk memohon pertolongan dan permintaan pada Allah SWT.

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا ياَ كَرِيْمُ.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

"Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah kami wahai dzat yang maha mulia. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pengampunan, kesehatan dan pemeliharaan yang berkesinambungan dalam hal agama, dunia dan akhirat."

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya bahwa malam Nisfu Syaban termasuk salah satu dari lima malam istimewa di mana doa-doa tidak akan ditolak. Doa-doa tersebut membawa makna penting bagi umat Muslim yang berharap mendapatkan pengampunan dan berkah dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

"Lima malam tidak akan ditolak doa di dalamnya, malam Jumat, malam pertama di bulan Rajab, malam Nisfu Syaban, malam Lailatul Qadar, malam Hari Raya Idul Adha dan Fitri." (HR Al Baihaqi)

24/02/2024

Dimungkinkan 01 merapat 02 koalisi, wait and see yah gaes 😊

16/02/2024

PEMIMPIN

Bagaimana sifat kepemimpinan Rasulullah SAW?

Sifat kepemimpinan Rasulullah SAW, Yakni siddiq, amanah, tabligh, fathonah. “Rasulullah dianggap sebagai seorang futurologi atau peramal masa depan. Dia bisa meramalkan apa yang akan terjadi, bahkan ratusan tahun setelah meninggal.

Bagaimana model kepemimpinan Nabi Muhammad SAW?

Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW memberikan contoh bagi para pemimpin untuk mengutamakan kepentingan umat, mengajarkan dan mengamalkan akhlak yang baik, memiliki visi yang jelas, dan bersikap adil.

Mengapa Muhammad saw disebut sebagai pemimpin yang paling demokratis?

Sifat kepemimpinan demokratis ini, beliau tidak mewasiatkan salah seorang diantara sahabatnya untuk menjadi “putra mahkota”. Siapa yang akan menjadi pengganti beliau memimpin umat dan negara yang beliau bangun setalah beliau tiada diserahkan sepenuhnya kepada kehendak umat sendiri.

Bagaimana kriteria kepemimpinan yang ideal menurut hadis Nabi Muhammad SAW?

Ciri pemimpin yang baik adalah : (1) Beriman kepada Allah Swt, (2) Mendirikan salat, (3) Menunaikan zakat, (4) Tunduk kepada peraturan dan ketentuan Allah.

Berapa lama masa kepemimpinan Rasulullah SAW?

Dari perjalan sejarah Nabi ini, dapat di simpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw, di samping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik, beliau berhasil menundukkan jazirah Arab ke dalam kekuasaannya.

Address

Cikarang Selatan Bekasi
Bekasi
17550

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when M Taufik Hidayat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share