24/04/2026
Mengenang KH. Thohir Bakri: Sang Pionir di Balik Seragam Ansor dan Ketukan Mesin Tik Bubutan
NUOKe – Di sebuah kawasan di selatan Tugu Pahlawan, tepatnya di Praban, sejarah besar pemuda Nahdlatul Ulama bermula. Di sanalah, pada tahun 1908, lahir seorang bayi bernama Thohir Bakri yang kelak akan menghabiskan hampir seluruh napas hidupnya untuk mengonsolidasikan kaum santri dalam satu barisan organisasi.
KH. Thohir Bakri bukan sekadar nama dalam struktur organisasi. Ia adalah sosok di balik impian besar melihat santri-santri di seluruh penjuru Nusantara mengenakan seragam kebesaran dan berorganisasi secara modern.
Dari Pesantren ke Panggung Pergerakan
Perjalanan intelektual Kyai Thohir berakar dari bimbingan orang tuanya sebelum akhirnya berkelana ke jantung pendidikan pesantren di Jombang. Ia menimba ilmu di Pesantren Peterongan dan memperdalam sanad pendidikannya di Pesantren Tebuireng.
Di Tebuireng inilah, watak organisatorisnya mulai nampak. KH. Ahmad Abdul Hamid, sahabat karibnya saat nyantri, mengenang Thohir sebagai pemuda yang penuh angan-angan visioner.
"Selama di pondok, ia selalu mengungkapkan mimpinya, kapankah santri-santri di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota ANO (Ansor Nahdlatul Oelama), lengkap dengan pakaian seragamnya," tulis KH. Ahmad Abdul Hamid, teman karib saat nyantri di Tebuireng dalam catatannya.
"Ketrak-Ketruk" di Gedung Bubutan
Lahirnya Gerakan Pemuda (GP) Ansor merupakan jawaban atas maraknya organisasi kepemudaan kedaerahan seperti Jong Java dan Jong Sumatera pada medio 1920-an. Dimulai dari Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada 1924, di mana Thohir menjabat sebagai Wakil Ketua mendampingi Abdullah Ubaid, embrio organisasi pemuda NU ini terus berevolusi hingga membentuk kepanduan Ahlul Wathan.
Puncaknya terjadi pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, April 1934. ANO resmi disahkan sebagai Departemen Pemuda NU dengan KH. Thohir Bakri dipercaya sebagai Ketua pertamanya.
Ada fragmen menarik yang terekam dalam ingatan H.A.A. Achsien. Dalam tulisan di harian Duta Masyarakat (1959), ia mengenang suasana di sekretariat ANO, Gedung Bubutan VI/2 Surabaya.
"Setiap saya datang ke Surabaya menemui KH. Thohir Bakri, beliau selalu ada di kantor, ketrak-ketruk menghadapi mesin tulis," kenang Achsien. Pemandangan punggung sang Kyai yang sibuk membalas sendiri surat-surat dari cabang-cabang ANO se-Indonesia menjadi bukti betapa ia adalah pekerja keras yang tekun.
Dedikasi Hingga Akhir Hayat
Karier KH. Thohir Bakri membentang luas melampaui urusan pemuda. Ia tercatat pernah menjadi Ketua NU Surabaya, memimpin Sarbumusi (serikat buruh), menjabat Kepala KUA Surabaya, hingga menjadi anggota Konstituante. Seluruh tenaga dan pikirannya tumpah ruah untuk NU dan Indonesia.
Sang pionir yang dikenal sederhana namun visioner ini akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada 26 Juli 1959. Meski raganya telah tiada, ketukan mesin tik dari Bubutan itu seolah masih bergema dalam semangat jutaan kader Ansor yang kini berseragam lengkap di seluruh pelosok negeri—persis seperti mimpi yang ia bisikkan di lorong-lorong Pesantren Tebuireng seabad yang lalu.
Sumber: NU Online, Berbagai Sumber Content Curator NUOKe