24/05/2026
Dari Tabungan Dua Ribu Rupiah, Menuju Baitullah
Di sebuah sudut kampung Borong-borong Mekar Indah, hiduplah seorang ibu sederhana bernama Sitti Maryam binti Kanda.
Tidak viral.
Tidak terkenal.
Hidupnya tenang seperti kebanyakan ibu kampung:
bangun pagi, menjalani hari, lalu menabung harapan diam-diam.
Tahun 2025, nama beliau ternyata tercatat dalam daftar calon jamaah haji cadangan.
Bukan daftar utama.
Bukan yang dipastikan langsung berangkat.
Hanya cadangan.
Artinya, beliau baru punya kesempatan berangkat jika ada jamaah yang batal karena uzur atau jika ada tambahan kuota.
Dan yang lebih mengharukan...
Ibu Sitti Maryam sendiri bahkan tidak tahu kalau namanya ada dalam daftar itu.
Sampai suatu hari, anak Pak Desa yang juga termasuk daftar cadangan melihat nama beliau dalam daftar tersebut.
Karena dirinya merasa belum siap berangkat, ia pun menyampaikan kabar itu kepada Ibu Sitti Maryam.
"Barangkali beliau yang sudah siap..."
Dan ternyata benar.
Ibu Sitti Maryam memang sudah lama siap.
Bukan siap karena kaya.
Bukan karena punya simpanan besar.
Bukan p**a karena hidup bergelimang harta.
Beliau hidup sederhana.
Selain menerima gaji pensiun dari almarhum suaminya yang dahulu seorang kepala sekolah, beliau juga tetap berusaha dan menabung dari hasil usahanya sendiri.
Sedikit demi sedikit beliau sisihkan.
Kadang hanya dua ribu rupiah.
Bukan sehari dua hari.
Tapi bertahun-tahun.
Pelan-pelan.
Disiplin.
Tanpa banyak cerita.
Sebab ada orang yang menabung uang.
Dan ada orang yang sekaligus menabung sabar.
Ibu Sitti Maryam termasuk yang kedua.
Beliau paham,
jalan menuju Baitullah tidak selalu dibuka untuk yang paling kaya,
tetapi sering kali untuk yang paling sungguh-sungguh menjaga niatnya.
Dan Allah memang tidak pernah salah menghitung air mata, doa, dan kesabaran seorang hamba.
Akhirnya, Bunda Sitti Maryam berangkat haji bersama Kloter UPG-7 tahun 2025.
Beliau termasuk jamaah cadangan yang sangat beruntung.
Karena tahun 2026 ini, kabarnya hanya sekitar 5 orang jama'ah calon haji yang keluar nomor porsinya untuk berangkat.
Kadang Allah membuka jalan lewat sesuatu yang sederhana:
tabungan receh,
niat yang lurus,
dan hati yang tidak lelah berharap.
Semoga Allah menerima hajinya menjadi haji yang mabrur.
Dan semoga anak Pak Desa yang telah menjadi sebab sampainya kabar itu kepada beliau, juga disegerakan dan dimudahkan menyusul ke Tanah Suci bersama keluarganya.
Karena kadang satu kabar baik yang kita sampaikan kepada orang lain...
bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir sampai akhir.
Kalau kisah ini menyentuh hati, bagikan.
Siapa tahu ada yang kembali semangat menabung untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.