11/06/2014
Pelajari peluang
Apabila Anda tertarik menjadi seorang produsen mesin, ada baiknya melakukan survei pasar terlebih dahulu. Artinya Anda harus memperhatikan mesin-mesin produksi yang diminati dan mesin yang potensial untuk dikembangkan.
Berdasarkan pengamatan Arif, yang laris adalah mesin untuk mengolah hasil pertanian. Ambil contoh mesin pengolah buah, pengolah kopi, dan pengolah kelapa. Mesin lain yang juga diminati adalah mesin pengolah kompos dan dan pengolah limbah plastik serta mesin makanan, seperti mikser dan pasteurisasi.
Vitex menambahkan, Anda juga harus mampu menangkap peluang bisnis yang memungkinkan Anda untuk memproduksi mesin tersebut. Misal, di daerah A, produksi hasil kebun kelapa tinggi. Anda bisa mengajak masyarakat di daerah tersebut untuk membuat usaha pengolahan kelapa. “Bukan hanya pengolahan minyak kelapa, dari kelapa Anda bisa mengolah menjadi berbagai produk turunan,” jelasnya.
Misalnya dari batok kelapa diolah menjadi briket, sabutnya menjadi cocofiber (bahan jok mobil) dan coco peat (sebagai media tanam). “Untuk olahan turunan kelapa ini, masing-masing membutuhkan mesin produksi yang berbeda. Jadi, dari kelapa saja, Anda bisa membuat sekurangnya empat jenis mesin,” jelas Vitex.
Dia menganjurkan supaya para produsen mesin pemula juga melakukan riset pasar untuk memasarkan produk-produk olahan kelapa itu. Upaya ini untuk melanggengkan relasi dengan pengusaha yang memesan mesin produksi ke kita. “Kita tidak hanya menyampaikan cocofiber itu untuk pembuatan jok mobil, tetapi juga harus tahu pasar cocofiber saat ini, seperti permintaan terbesar ada di Korea,” jelas Vitex.
Berbeda dengan pengalaman Randiawan. Tahun 2009, dia mencoba menjalankan usaha pembuatan lilin. Dia pun membeli mesin pencetak lilin dari Surabaya dengan harga Rp 40 juta. “Ketika permintaan lilin semakin banyak, kami kewalahan. Karena harga mesin cetaknya sangat mahal, kami pun berusaha membuat mesin cetak sendiri,” kenangnya.
Ternyata mesin cetak lilin buatan Randiawan diminati pembeli lilinnya, sehingga mereka pun mulai memesan pencetak lilin buatan Randiawan. Harga mesin buatan Randiawan juga jauh lebih murah, yakni hanya Rp 8,5 juta. “Toh, hasilnya sama dengan mesin yang harganya Rp 40 juta. Karena pada prinsipnya mesin ini hanya untuk mencetak, jadi cara kerjanya hampir sama,” kata dia.
Nah, jika saat ini Anda tengah menjalankan suatu usaha atau mencoba mengembangkan usaha, tidak ada salahnya, Anda menjajal membuat mesin sendiri. Pelajari cara kerja mesin yang Anda gunakan saat ini dan cobalah merakit mesin sendiri. Lewat strategi itu, biaya investasi bisa ditekan.