03/08/2018
Wahai Ayah Pulanglah..!!
Sebenernya ini tulisan buat diri saya pribadi yang nantinya akan jadi reminder kalo misal kedepan saya udah diluar koridor “Ayah tangguh” lagi. Hehe
Beberapa waktu lalu ada teman saya yang update status di Whatsapp mengenai Screenshot tulisan yang saya sharing diatas (gambar 2). Kalo diliat dari tulisannya memang miris ketika ada kasus anak yang menjadi korban "Kehilangan Sosok Ayah". Saat ditanyapun ternyata seperti itu ya jawabannya. Sangat disayangkan, betul??
Kenapa kok bisa kayak gini kondisinya??
Gak bisa dipungkiri lho kalo apapun gendernya seorang anak, pasti membutuhkan kasih sayang seorang Ayah. Ketika gak dapet dari Ayahnya? Maka dia akan mencari dari sosok yang lain. Bisa itu dari temannya yang biasa memberikan kasih sayang atau dengan orang yang lebih tua yang dia bisa mencurahkan segala yang dialaminya ketimbang kepada Ayahnya.
Ketika anak laki-laki kehilangan kasih sayang Ayahnya maka kasus diataslah yang akan terjadi. Kalo misalnya anak perempuan kehilangan kasih sayang Ayahnya? maka dia akan kehilangan seorang panutan dan ketika sudah dewasa maka dia tidak memiliki role model dalam mencari pasangan.
Oleh karena itu wahai Ayah, p**anglah !!
Tapi kan setiap selesai bekerja saya selalu p**ang? Sampe rumah juga langsung ketemu sama anak?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah anda sudah hadir dalam memenuhi ruang cinta dalam diri anak? Jadi jangan heran ketika banyak Ayah yang kalo kata salah seorang guru saya bilang “hanya menjadi mesin atm buat anak”. Ketika uang anak habis maka ia akan nempel dengan Ayahnya, tapi ketika keinginannya sudah tercapai maka Ayahnya ditinggalkan.
Betapa banyak Ayah yang kehadirannya di rumah dinilai biasa-biasa saja oleh anaknya. Parahnya lagi jika Ayah hanya berbicara kepada anak ketika anak ada masalah, udah gitu yang keluar hanya ungkapan2 kemarahan. Jadi jangan heran ketika terjadi hal yang tidak diinginkan oleh anak. Masalah LGBT, narkoba, pergaulan bebas dan masalah2 lainnya pada anak. Ketika hal itu terjadi, siapa yang disalahkan?
Oleh karena itu wahai Ayah, p**anglah. Pulang yang sebenarnya p**ang. Hadirlah dalam memenuhi ruang cinta dalam diri anak. Tak perlu lah kita risih ketika setelah bekerja diluar seharian, lelah dan ingin beristirahat tiba2 anak kita datang dan nempel di tubuh kita. Jika itu terjadi bersyukurlah, tak perlu lah kita emosi bahkan hingga meluapkan kemarahan pada anak. Apapun yang terjadi diluar rumah itu sudah berakhir ketika kita sudah masuk ke dalam rumah.
Ketika sudah dirumah lupakan lah dulu gadget anda, bangun bonding yang erat dengan anak. Rasakan keceriaan anak ketika bertemu dengan Ayahnya. Gak usah jauh2 cari hiburan buat anak dengan menghadirkan mainan di hape, video2 didepan layar tv atau apapun yang sekiranya membutuhkan teknologi canggih. Jadi mainan kuda2an untuk anak pun sudah cukup. Tanya apa maunya, ajak bicara dengan bahasanya. Tanya “main apa aja hari ini?”. Kalopun mau sambil bermain menggunakan alat bantu gunakan mainan yang edukatif, dimana bisa membantu perkembangan motorik anak dan permainan lainnya yang lebih menarik.
Trus win, gimana dengan para Ayah yang memang jarang p**ang? Kayak bang toyyib gitu yak? Hehe..
Disanalah peran Ibu
Kalo kita belajar dari peran Ayah yang jarang p**ang tapi sangat dicintai anaknya kita bisa baca pelajaran yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Beliau merupakan sosok Ayah yang jarang p**ang. Namun Masya Allah, kita bisa baca dari kisah betapa cintanya Nabi Ismail pada beliau. Disinilah Ibu berperan. Betapa mulianya Ibunda Siti Hajar yang selalu “menyuntikkan” sisi positif Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail. Beliaulah yang mengajarkan kepada Nabi Ismail tentang siapa Ayahnya, dan bagaimana sosok Ayahnya tersebut.
Jadi wahai Ayah, baik-baiklah kalian kepada Istri. 😊
Jangan sampe keluar dari mulut Istri kita kepada anak ungkapan-ungkapan yang tidak baik tentang kita. Sudah menjadi tugas kita sebagai Ayah untuk memberikan yang terbaik kepada keluarga. Bahkan dengan jelas perintah Allah itu untuk “menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka” (Q.S. At-Tahrim : 6).
Nasehat ini untuk saya pribadi yang sekarang sudah jadi seorang Ayah. Tapi semoga juga bisa menginspirasi teman-teman saya yang sebagian besar sudah menikah dan juga sudah menjadi Ayah. Toh, pada akhirnya kita akan menjadi orang tua juga. Berharap kedepan akan lahir generasi masa depan yang penuh dengan kegemilangan hingga menjadikan negeri ini Negeri yang penuh BerkahNya, Negeri yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
Aamiin...
Bogor, 3 Agustus 2018
Aswin Fajri
Ayah Pembelajar