LPK Prima Course

LPK Prima Course Unggul, berprestasi dan energik dalam IPTEK

PRINSIP HIDUP JAMAN FEODAL MAMPUKAH BERSAING  DI ERA GLOBALISASI Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa men...
04/06/2014

PRINSIP HIDUP JAMAN FEODAL MAMPUKAH BERSAING DI ERA GLOBALISASI
Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai
Nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal. Banyak Negara luar yang telah mengakuinya akan kemasyuran bangsa kita ini. Namun sayang dimasa ini telah berubah dengan berjalannya waktu. Karena budaya dan kehidupan bangsa yang selalu konstan dengan prinsip hidup mereka.
Betapa banyak masyarakat yang menjalani hidup apa adanya, biasabiasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kump**an prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar p**a semangatnya untuk menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis, ”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka?
Fenomina ini mengingatkan saya akan suatu kisah fable yang pernah say abaca sewaktu masih kanak-kanak dulu,
Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerakgerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.
Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya.
Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum!
la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.
”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala. Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah,
”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bias menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!”

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.
Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, ”Emmbiiik!” Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk menyeruduk lagi. Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.
Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!
Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan? Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat!
Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.
Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!” Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, ”Jangan bunuh aku, ammpuun!” ”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!” Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.
Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa. ”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!” ”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.
Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!” Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.
Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya.
Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini

Ketika saya masih kecil sampai sekarang saya dewasa, saya menemukan tidak ada perubahan hidup yang berarti di lingkungan saya. Cara berpikir masyarakat masih sama. Cara hidupnya masih sama juga. Pak Anu yang ketika saya di bangku TK dulu kerjanya membuat batu bata sampai sekarang masih tetap berprofesi sebagai pembuat batu bata. At Bu itu yang masih ja setia bekerja sebagai buruh tani pada waktu musim tanam tiba. Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah.
Kenapa tidak berubah? Jawabnya karena mereka tidak mau berubah. Kenapa tidak mau berubah?
Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwariskan turun-temurun.
Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan, ”Aku malu jadi orang Indonesia!”
Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orang-orang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.
Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa!
Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!
Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing.
Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun.
Empat ratus juta at lebih masyarakat di Indonesia, banyak yang tidak menyadari apa makna dari Empat ratus juta jumlah bangsa Indonesia Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya. Penguasa belantara dunia. Itulah yang sebenarnya
Sayangnya, Empat ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!
Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!
Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa, memberi predikat kepada kita sebagai bangsa yang terkuat di muka bumi ini . marilah kita bermental menjadi bangsa yang terbaik. Jangan bermental bangsa yang tebelakang.

By LPK Prima Course

"Sejarahlah yang memberitahu kepada kita siapa sebenarnyakedua orang tua kita. Siapa nama kakek nenek kita.Sejarah jugal...
04/04/2014

"Sejarahlah yang memberitahu kepada kita siapa sebenarnya
kedua orang tua kita. Siapa nama kakek nenek kita.
Sejarah jugalah yang memberitahu kepada kita tempat dan
tanggal lahir kita. Sejarah juga yang akan memberitahukan
kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita
lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan
memberitahukan kepada mereka bahwa kemajuan yang mereka
capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang
lebih dulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa
lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama
dua kali, bahkan mungkin berkali-kali. Dan itu sungguh suatu
kecelakaan yang pasti sangat menggelikan "

By _PRIMA _COURSE

Kisah Kelam Institut Calon Pegawai PemerintahanDi Indonesia, menjadi seorang birokrat adalah salah satu profesi yang ban...
17/06/2013

Kisah Kelam Institut Calon Pegawai Pemerintahan

Di Indonesia, menjadi seorang birokrat adalah salah satu profesi yang banyak diidamkan oleh banyak orang. Selain karena menjadi pegawai negeri berarti mendapat uang pensiun dan tidak akan pernah di PHK, juga banyak fasilitas lainnya. Tak heran bila sekolah-sekolah milik pemerintah yang lulusannya langsung direkrut menjadi pegawai negeri banyak peminat bahkan rela belajar mati-matian demi bisa diterima. Sekolah yang diawasi langsung oleh pemerintah ini seharusnya menjadi tempat belajar yang nyaman bagi siswanya. Namun ternyata tidak semua sekolah milik pemerintah ini memberikan keamanan bagi siswanya. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) adalah institut milik pemerintah yang siswanya sering menjadi korban kekerasan.
Senioritas dan jenjang antara kakak tingkat dan bawahan serta pihak sekolah yang menutup mata membuat banyak siswa menjadi korbannya. Sudah menjadi rahasia umum bila bersekolah di IPDN akan ada semacam 'plonco' di mana adik tingkat akan dipukul secara bergiliran oleh kakak tingkat. Miris mendengarnya, karena mereka satu hari nanti akan jadi pelayan masyarakat. Bagaimana bila arogansi mereka terbawa ke dunia kerja?. Terlebih kasus IPDN ini sudah menjatuhkan banyak korban jiwa.
1. Praja meninggal dunia
Siswa IPDN disebut dengan panggilan 'praja'. Setiap tahun, ada banyak praja baru di IPDN yang masuk dari seluruh wilayah Indonesia. Walaupun kini sistem di IPDN sudah banyak dirombak, tetap saja kasus plonco masih merebak. Kekerasan yang dilakukan oleh praja senior ini beberapa kali menyebabkan meninggalnya praja junior. Salah satunya adalah putra bungsu Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Rinra Sujiwa Syahrul Putra (19). Rinra tidak mampu lepas dari kekerasan yang dilakukan para seniornya hingga akhirnya meninggal dunia.
2. Praja mengalami gangguan kejiwaan
Praja IPDN tinggal dalam satu asrama yang berada di dalam kompleks sekolah. Mengejutkan ketika ada tiga orang praja yang divonis positif mengalami gangguan kesehatan mental. Dua di antaranya mengaku melihat makhluk halus dan satu lagi yaitu Simon F Malau mengidap gangguan jiwa medis, yakni gejala stres atau depresi. Hal ini diduga karena Simon tidak tahan terhadap tekanan mental dari senior-seniornya.
3.Seks bebas
Praja IPDN yang lulus akan menjadi abdi negara, seharusnya memiliki moral yang baik dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang peraturan. Namun yang terjadi adalah dosen IPDN menyelidiki bahwa ada banyak kasus mengenai seks bebas di lingkungan praja IPDN. Hingga saat ini, belum ada sanksi tegas atau praja dikeluarkan karena masalah ini. Selain seks bebas, kasus penganiayaan ringan juga kerap terjadi tapi juga belum ada tindakan nyata dari pengurus sekolah praja tersebut.
4. Rektor IPDN terkena kasus
Bukan hanya praja nya, ternyata kasus juga menerpa rektor IPDN yaitu I Nyoman Sumaryadi. Seorang wanita bernama Susi Susilowati yang berasal Kuningan, Jawa Barat mengaku pernah melayani Nyoman dengan imbalan anak rekannya dimasukkan ke IPDN. Hubungan gelap mereka akhirnya membuahkan anak. Susi meminta pertanggung jawaban Nyoman namun Nyoman membantah kasus yang menerpanya. Nyoman berkata bahwa dirinya tidak mengenal Susi dan gosip ini tidak akan Nyoman tanggapi.
IPDN seharusnya dapat menjadi contoh bagaimanakah pengelolaan sekolah berasrama yang baik. Terlebih lagi, IPDN dipegang langsung oleh pemerintah dan kelak praja-praja ini akan menjadi pengayom masyarakat. Bila sejak sekolah saja mereka sudah sering terlibat tindak kekerasan dan menjadi korban plonco seniornya, bagaimanakah kinerja mereka nantinya?

By LPK Prima Course

Semakin banyak ilmu,Bukan untuk menjadikan diri berdiri dengan tangan dipinggangSemakin banyak ilmu,Seharusnya menjadika...
14/06/2013

Semakin banyak ilmu,
Bukan untuk menjadikan diri berdiri dengan tangan dipinggang
Semakin banyak ilmu,
Seharusnya menjadikan seseorang yang berdiri dengan tangan terbuka untuk menyambut tangan-tangan yang butuh genggaman (mensyi'arkan ISLAM).
By LPK Prima Course

KH Agus Salim, kesederhanaan penguasa banyak bahasaHaji Agus Salim adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang ...
22/05/2013

KH Agus Salim, kesederhanaan penguasa banyak bahasa

Haji Agus Salim adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak berjuang menggunakan bambu runcing atau senjata api. Senjata seorang Agus Salim ialah intelektualitas dan kepandaiannya dalam berdiplomasi.

Pendidikan Agus Salim dimulai dari Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, dia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Di usia yang sangat muda ini, Agus Salim sudah berhasil menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing yakni Arab, Belanda, Inggris, Turki, Perancis, Jepang dan Jerman.

Kecerdasan dan kepiawaian Agus Salim dalam berdiplomat ternyata menarik minat negara dan penjajah saat itu yakni Belanda. Belanda menawarkan kepadanya untuk menjadi penerjemah pada Konsulat Belanda di Jeddah pada tahun 1906 sampai 1911.

Pada saat di Mekkah itulah Salim mendalami ilmu agama dengan pamannya Syeikh Khatib al-Minangkabawi yang saat itu menjadi Imam di Masjidil Haram. Di samping ilmu-ilmu agama, Syeikh Khatib juga mengajarkan Salim ilmu diplomasi dalam hubungan internasional yang di kemudian hari nanti menjadi andalannya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pasca-lima tahun dalam perantauan, Agus Salim kembali ke Tanah Air. Pada 1915, Salim meniti karir dengan malang melintang di dunia jurnalistik. Kepribadian Agus Salim yang tegas membuat setiap tulisannya selalu tajam dan mengandung kritikan pedas dalam membakar semangat kemerdekaan rakyat Indonesia.

Dunia jurnalistik ternyata bukan pelabuhan akhir karir Agus Salim di mana dia juga memutuskan untuk terjun ke dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam. Ternyata pilihan putra dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab ini tidak salah. Terbukti pada 1946 sampai 1950 dia menjadi bintang dalam percaturan politik Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Agus Salim diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Selain itu Salim juga dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta.

Kefasihannya dalam berdiplomasi membuat dia dipercaya untuk menjalankan berbagai misi diplomatik dengan tujuan memperkenalkan negara baru Republik Indonesia ke dunia luar, serta bagian dari diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satu buah dari upaya diplomasi Agus Salim adalah, pada 1947, Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan dan perjanjian persahabatan dengan Mesir. Mesir tercatat sebagai negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Agus Salim yang dianugrahi kejeniusan dan hidup sebagai orang besar tidak lantas membuatnya tinggi hati. Kesederhanan Agus Salim ini terlihat pada saat dirinya menghadiri salah satu konferensi besar di mana saat itu dia makan dengan menggunakan tangannya sementara para peserta muktamar menggunakan sendok.

Ketika sebagian anggota muktamar mencemooh dengan mengatakan "Salim, sekarang tidak saatnya lagi makan dengan tangan, tapi dengan sendok," kemudian dia hanya menjawab "tangan yang selalu saya gunakan ini selalu saya cuci setiap kali akan makan, dan hanya saya yang memakai dan menjilatnya. Sementara sendok-sendok yang kalian gunakan sudah berapa mulut yang telah menjilatnya". Sontak hadirin pada saat itu malu dan langsung terdiam.

Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.

By LPK Prima Course

-Kena Batunya-Teng-teng-teng.“Horeee.......”, teriak anak-anak demi mendengar bel tanda sekolah usai yang dipukul oleh P...
19/05/2013

-Kena Batunya-
Teng-teng-teng.
“Horeee.......”, teriak anak-anak demi mendengar bel tanda sekolah usai yang dipukul oleh Pak Bon yang bertugas di SD Utama Malang.
“Nah, anak-anak, jangan lupa besok kalian harus membawa PR matematika yang telah diberikan kemarin”, kata Pak Agung, guru kelas IV di SD tersebut.
“Mereka yang tidak mengerjakannya akan Bapak beri hukuman menyapu lantai”.
“Ya, Paaaak”, teriak anak-anak dengan serempak.

Dua anak bersungut-sungut sambil keluar ruangan kelas.
“Semua ini gara-gara Pak Haryo”, kata Bedu.
“Kalau Pak Haryo tidak pensiun minggu lalu, Pak Agung tidak akan menggantikannya mengajar kita”, terusnya.
“Dan kita tidak akan sering mendapat PR”, sahut Dodit.
“Mentang-mentang baru lulus dari IKIP, seenaknya saja menyuruh kita mengerjakan PR matematika yang sulit seperti ini”.
“Ya begitulah guru baru yang berlagak, Agung Prasetyo W.”, sahut Bedu lagi tak mau kalah.
“Tapi tenang saja Dit, kita jalankan rencana kita seperti biasanya. Siapa ya korban berikutnya?”
Belum sempat Dodit menjawabnya, terdengar langkah kecil mendekati mereka.
“Hai Bedu, hai Dodit, apa kabarnya. Eh, sori ya, aku terburu-buru nih, harus segera p**ang ke rumah”.
Bedu dan Dodit berpandangan penuh keheranan.
“Tidak biasanya tuh si Azhar menyapa kita”, bisik Dodit.
“Iya, biasanya dia malah selalu menghindar kalau kita dekati”, kata Bedu dengan berbisik juga. Sejurus kemudian mereka berdua bertatapan mata dan tersenyum. Dodit mengangguk melihat pandangan mata Bedu yang meminta persetujuan.
“Eh Azhar, jangan pergi dulu. Ke sini sebentar deh, kita kan sedang ada perlu sama kamu”, kata Bedu.
“Iya kan Dit?”.
“Iya”, kata Dodit sambil memegang tangan Azhar.
“Kita mau minta tolong seperti biasanya deh, untuk besok pagi”.
Azhar menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
“Maksudmu PR matematika besok?”, tanya Azhar.
“Iya, seperti biasanya, kamu kerjakan PR tersebut. Lalu setelah selesai, kami akan mencontohnya”, kata Bedu.

Melihat gelagat si Azhar yang ragu-ragu, si Dodit dengan cepat memegang kerah Azhar dan memelototkan matanya.
“Awas, jangan coba-coba menolak ya. Sudah lama kamu tidak mengerjakan PR untuk kami. Jadi sekarang giliranmu”.
“Tapi..... tapi, soal matematikanya kan sulit, aku juga tidak dapat mengerjakannya”, kata Azhar agak gemetaran.
“Tidak dapat mengerjakan?”, kata Bedu.
“Iya betul, kan soalnya kan sulit” kata Azhar.
“Tidak mungkin”, bentak Bedu.
“PR matematika kali ini memang sulit sekali” ucap Azhar.
“Pokoknya kamu kerjakan dengan betul siang ini, malam nanti kami ke rumahmu untuk menyalinnya”, ancam Dodit.

Azhar berpikir sejenak, kemudian katanya “Ah, aku punya ide. Bagaimana kalau kita minta bantuan seseorang. Kebetulan Omku yang dari Jogja sedang ada di sini, jadi kita bisa minta tolong dia untuk mengerjakan PR itu”.
Bedu dan Dodit berpandangan, mereka ganti ragu-ragu.
“Tenang deh, aku jamin Om Wid pasti dapat mengerjakan soal matematika sesulit apapun. Dia kan kuliahnya di universitas ternama di Jogja” kata Azhar menenangkan mereka.
Bedu dan Dodit berkata bersamaan, “OK, kami akan ke rumahmu jam 7 malam nanti”.
“Siiip, aku p**ang dulu ya”, kata Azhar sambil berlari meninggalkan mereka sambil tertawa-tawa.

Malamnya, hampir pukul tujuh, Bedu dan Dodit bersepeda berboncengan sambil membawa tas mereka. Sampai di rumah Azhar, sebelum Dodit mengetuk pintu, Azhar sudah keluar rumah sambil berkata.
“Ayo langsung masuk saja, Om Wid masih mandi, tapi sebentar lagi juga selesai”.
Dodit dan Bedu tampak bingung. Kedua anak ini memang terkenal sebagai anak termalas di kelas IV SD Utama. Mereka tidak pernah mau belajar dengan sungguh-sungguh. Jika ada PR, mereka memaksa murid-murid lain untuk mengerjakannya dan kemudian mereka tinggal mencontohnya. Sudah beberapa kali mereka memaksa Azhar untuk mengerjakan PR mereka, namun baru kali ini Azhar tampak bersemangat.

Mereka bertiga lalu masuk ke ruang tengah, menaruh buku di atas meja, dan duduk di atas kursi sambil berbisik-bisik.
“Betul nih, Ommu itu dapat mengerjakan PR matematika yang sulit itu”, tanya Dodit.
Azhar dengan tegas menjawab, “Pasti deh, PR yang paling sulitpun Om Wid dapat mengerjakannya. Dia kan jago matematika.”
“Soalnya, kalau kita tidak dapat mengerjakannya, besok pasti kita akan mendapat hukuman dari Pak Agung”, kata Bedu yang menjadi tenang setelah mendengar jawaban Azhar.

Seseorang masuk ke dalam ruang tengah.
“Perkenalkan, ini Om Wid, ahli matematika dari Jogja”, kata Azhar mengiringi kedatangan orang itu.
“Hai, apa kabar Dodit dan Bedu”, sapa orang itu.
Merasa tidak asing dengan suara tersebut, Bedu dan Dodit terkejut mendengarnya. Terlebih ketika mereka melihat wajah orang itu di bawah sinar lampu ruang tengah.
“Pak....... Pak Agung”, kata mereka lirih, hampir tidak terdengar.
“Iya, perkenalkan namaku adalah Agung Prasetyo Widodo. Baru saja lulus dari pendidikan Matematika di Jogja”.
“Lho, jadi kepanjangan dari W itu adalah Widodo”, pikir mereka tak percaya.
“Bapak dengar dari Azhar, keponakan saya, kalian memintanya untuk mengerjakan PR yang Bapak berikan kemarin ya”. Dodit dan Bedu tidak menjawabnya, mulut mereka terasa terkunci.
“Bapak dengar juga dari teman-teman kalian, kalian s**a memaksa mereka untuk mengerjakan PR lalu kalian mencontohnya, betulkah begitu?”, tanya Pak Agung berwibawa.
“Bet...betul Pak”, kata Bedu dan Dodit, tak mampu mereka berbohong dan menyangkal pertanyaan guru mereka.
“Apakah kalian tidak tahu bahwa perbuatan itu tidak baik. Tujuan Bapak memberi kalian PR adalah agar kalian dapat berlatih mengerjakan soal dengan baik. Dengan demikian kalian akan dapat dengan mudah memahami materi pelajaran yang Bapak sampaikan”. Pak Agung menatap kedua anak yang dengan takutnya menundukkan kepala. Takut bercampur dengan malu.
“PR yang Bapak berikan bukanlah soal yang tidak mungkin kalian kerjakan. Sebagai seorang guru, Bapak selalu memberikan beban yang sesuai dengan kemampuan kalian. Andaikata kalian mau berusaha, tentu kalian dapat mengerjakannya sendiri. Azhar pun mampu mengerjakannya. Dia hanya Bapak suruh untuk mendekati kalian dan berpura-pura tidak dapat mengerjakannya”.

Bedu dan Dodit saling berpandangan. “Jadi, Azhar.....”.
“Betul, Azhar hanya bersandiwara agar kalian terpancing kemari”.
“Pantas saja. Tadi siang Azhar mendekati kami. Itu kan aneh sekali. Biasanya kalau ada PR, murid-murid lain selalu menghindar”, seru Bedu pada Dodit.
Pak Agung tertawa dan berkata “Kalian jangan menyalahkan Azhar. Dia bahkan telah berjasa membawa kalian kemari sehingga Bapak dapat menasehati kalian. Yang Bapak harapkan adalah kalian berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan kalian tersebut. Mau kan, Dodit, Bedu?”
“Mau Pak”, jawab Dodit dan Bedu serentak dan tegas.
”Kami berjanji untuk tidak memaksa murid lain untuk mengerjakan PR kami. Kami berjanji tidak akan mencontek PR lagi. Dan kami berjanji akan rajin belajar dan mengerjakan PR sendiri”.

“Sebetulnya kalian boleh saja bertanya kepada orang lain jika kalian kesulitan dalam mengerjakan PR. Namun itu hanya dilakukan setelah kalian berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertanyapun hanya sekadarnya, tidak semuanya. Bapak yakin kalian akan berhasil memperoleh prestasi apabila kalian bersungguh-sungguh dan berusaha keras, tidak berbuat curang, serta jangan lupa berdoa”.
“Ya Pak”.
“Baiklah, sekarang kalian bertiga bersama-sama mengerjakan PR kalian. Ingat, hukuman menyapu lantai kelas bagi yang tidak mengerjakan PR”.
“Siap Pak......ha..ha..ha”

Pecah tawa berderai dari ketiga anak itu. Pak Agung tersenyum dan merasa puas, dia telah berhasil mengubah tabiat anak-anak itu kali ini. Apakah mereka sadar untuk seterusnya? Semoga.

By LPK Prima Course

Dituduh mencontek, mata 3 siswa MAN 1 Medan dibalsem guruTiga siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1, Jalan Willem Iskanda...
31/03/2013

Dituduh mencontek, mata 3 siswa MAN 1 Medan dibalsem guru

Tiga siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1, Jalan Willem Iskandar, Medan, pingsan setelah seorang guru memberi balsem ke mata mereka, Selasa (26/3). Ketiganya diberi balsem karena dituduh mencontek.
Ketiga siswa kelas X-11 itu diketahui bernama Fitra Fadilla, Iksan Maulana, dan Ahmad Taufik Siregar. Mereka kesakitan hingga pingsan usai matanya dibalsem guru itu.
Informasi yang dihimpun, sebelum kejadian ketiga siswa ini sedang ujian mata pelajaran PPKN. Namun di penghujung ujian, mereka dituduh mencontek. "Waktu itu kami ujian PPKN. Terus pas itu aku lihat jendela. Tiba-tiba Pak Asmara datang dan memberikan balsem ke mataku," kata Firat di Medan, Selasa (26/3).
Ketiga siswa ini dibawa rekan-rekannya ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan perawatan. Mengetahui anaknya diperlakukan seperti itu, orang tua Iksan dan Taufik membawa p**ang anak-anak mereka. Sementara Fitra masih menjalani perawat di UKS itu.
Sementara itu, guru yang diduga membalsem ketiga anak muridnya, Asmara tidak ada di lokasi. Dia kabarkan sudah meninggalkan sekolah.
(merdeka/26/3/13)

Address

Bojonegoro
62162

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when LPK Prima Course posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share