20/09/2026
π£ MODAL SUDAH ADA. ASET SUDAH ADA. USAHA JUGA SUDAH ADA. CARA BERPIKIR BISNISNYA YANG TIDAK PUNYA !
Tapi kenapa bisnis BUMDes masih bisa jalan di tempat?
Mungkin kita selama ini terlalu sibuk bertanya:
βModalnya berapa?β
Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
βBisnisnya menghasilkan apa?β
π’ Punya gedung bukan berarti punya bisnis.
βοΈ Punya mesin bukan berarti punya pasar.
π¦ Punya produk bukan berarti punya pelanggan.
π° Punya modal bukan berarti punya cashflow.
Dan yang paling penting:
Punya usaha bukan berarti punya model bisnis yang sehat.
π§ Di sinilah business mindset diuji.
Pengurus BUMDes tidak cukup hanya berpikir:
βBagaimana uang ini bisa digunakan?β
Tetapi harus mulai berpikir:
βBagaimana uang ini bisa diputar menjadi nilai ekonomi?β
Karena setiap rupiah yang masuk ke bisnis harus punya alasan.
Untuk apa dibelanjakan?
Siapa yang akan membeli?
Berapa nilai transaksinya?
Berapa biaya untuk menghasilkan produk?
Berapa margin yang tersisa?
Dan apakah uangnya kembali berputar untuk membiayai operasi berikutnya?
π Bisnis bukan lomba menghabiskan modal.
Bisnis adalah kemampuan menciptakan nilai yang mau dibayar oleh pelanggan.
Itulah sebabnya BUMDes perlu bergerak dari pola pikir:
βKita punya apa?β
menjadi:
βPasar membutuhkan apa?β
Dari:
βKita mau buka usaha apa?β
menjadi:
βMasalah apa yang layak kita selesaikan?β
Dari:
βModal kita cukup tidak?β
menjadi:
βModel bisnis kita masuk akal tidak?β
β οΈ Ini semakin penting karena tantangan BUMDes hari ini memang tidak berdiri pada satu faktor saja. Renstra Kemendes PDT 2025β2029 mencatat risiko mulai dari keterbatasan pemasaran, lemahnya tata kelola, salah memilih jenis usaha, kapasitas SDM, persaingan dan perubahan pasar, hingga keterbatasan akses permodalan.
Artinya, menambah modal bukan obat untuk semua penyakit bisnis.
Kalau produknya tidak dibutuhkan pasar, modal tambahan tidak menyelesaikan masalah.
Kalau model bisnisnya salah, modal tambahan bisa memperbesar kerugian.
Kalau pengelola belum mampu membaca angka, modal tambahan justru membuat uang yang harus dikelola semakin besar.
π‘ Maka BUMDes perlu membangun kebiasaan baru.
Sebelum membuka usaha, uji pasar.
Sebelum membeli aset, pastikan kebutuhannya.
Sebelum menambah modal, hitung model bisnisnya.
Sebelum mengejar banyak unit usaha, pastikan ada yang benar-benar menghasilkan.
Dan sebelum mengatakan:
βUsaha kita kekurangan modal,β
coba lihat dulu:
Apakah usaha kita sudah punya pelanggan?
Apakah omzetnya tumbuh?
Apakah marginnya sehat?
Apakah cashflow-nya hidup?
Kalau empat hal itu belum jelas, mungkin persoalannya memang belum selesai hanya dengan tambahan uang.
π₯ BUMDes tidak harus menjadi perusahaan yang mengejar keuntungan semata.
BUMDes tetap punya misi sosial dan tanggung jawab terhadap desa.
Tetapi justru karena membawa kepentingan desa, logika bisnisnya tidak boleh lemah.
Misi sosial tidak menghapus kebutuhan untuk memahami pelanggan.
Status milik desa tidak membuat pasar otomatis membeli.
Dan penyertaan modal tidak otomatis menciptakan bisnis yang sehat.
BUMDes membutuhkan modal.
Tetapi BUMDes juga membutuhkan cara berpikir yang mampu membuat modal bekerja.
π Kalau besok BUMDes Anda mendapat tambahan modal, pertanyaan pertama yang harus dijawab bukan βmau buka usaha apa?β
Pertanyaannya: βSiapa yang akan membayar dan mengapa mereka mau membeli?β
Setuju atau tidak?
Tulis pandangan Anda di komentar.
HUBUNGI KAMI
https://wa.me/6285199586675
Usaha BUMDes Pemula, Usaha BUMDes yang Menjanjikan, Usaha BUMDes yang Sukses, Usaha BUMDes di Desa, Unit Usaha BUMDes