22/09/2016
Bencana banjir di Garut.
"Siapa orangnya yang menginginkan terkena bencana, namun takdir p**a yang menentukannya".
Ya, takdir memang kuat, tapi kita juga harus introspeksi diri sendiri, selain takdir mungkin dan atau pasti karena perbuatan manusia juga yang terlalu tamak, mengeksploitasi bumi tanpa pertimbangan dampaknya, khususnya penebangan pohon, penggundulan hutan dan alih fungsi lahan yang seharusnya hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan.
Menurut beberapa pihak terkait, salahsatu penyebab bencana banjir di Garut adalah karena rusaknya DAS Cimanuk di bagian hulu, karena berbagai aktivitas individu dan perusahaan yang mengabaikan Konservasi hulu sungai Cimanuk, akibatnya di saat curah hujan tinggi air hujan yang seharusnya diserap tanah dan disimpan / ditahan oleh akar-akar pohon, langsung turun ke beberapa aliran sungai kecil yang bermuara ke sungai Cimanuk yang akhirnya debit sungai tersebut tidak mampu menampungnya, dan tanah pun longsor karena tidak ada lagi akar-akar pohon besar yang dapat menahannya. Sebaliknya di saat kemarau terjadi kekurangan air karena air hujan tidak disimpan di dalam tanah atau ditahan oleh akar-akar pohon.
Dengan terjadinya bencana banjir di Garut yang telah menelan korban baik jiwa maupun materi, marilah kita introspeksi diri agar lebih arif terhadap bumi kita, dengan memperhatikan konservasi alam dengan cara menanami kembali hutan-hutan yang telah gundul, serta mengembalikan kembali lahan yang yang seharusnya ditumbuhi banyak pohon tinggi yang dapat menyimpan air, demi masa depan kita dan anak cucu.
Sebagaimana firman Alloh SWT dalam Al-Quran Surat Al Qashash yang artinya : "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".