10/05/2024
Salah Kita Sendiri, yang terlalu nyaman Hidup di Dunia yang kita s**ai saja.
Kalau sekarang kita mengeluh, mengapa masyarakat kita jadi doyan debat untuk hal-hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat, mungkin salah kita sendiri.
Salah kita sendiri yang terlalu nyaman hidup di dunia yang kita s**ai saja.
Pernah ga kita punya teman, atau bahkan kita sendiri , menulis begini, "Mohon maaf bagi yang posting tentang X โisi sendiri , terpaksa harus saya unfriend. Agar saya lebih bahagia bermedia sosial." Atau, "Lega rasanya, habis bersih-bersih timeline dari pendukung X โisi sendiri."
Kadang memang, media sosial bikin kita jengah. Polemik atau perdebatan tentang isu tertentu, sering bikin kita geleng-geleng kepala. Belum lagi kalau dibawa-bawa ke ranah politik, dikit-dikit bawa agama, dan seterusnya. Maka atas nama 'ingin lebih bahagia bermedia sosial' kita putuskan untuk unfriend atau unfollow akun-akun yang tidak kita s**aiโmeskipun mereka benar-benar berteman dengan kita di dunia nyata.
Sebetulnya boleh-boleh saja. Adalah hak kita untuk berteman dan tidak berteman dengan siapa saja di media sosial. Namun, pernahkah berpikir bahwa pola pikir dan cara bermedia sosial kita semacam itu adalah yang membuat kita makin kesulitan menerima perbedaan ide, pandangan, atau pilihan? Hal-hal yang membuat kita begitu sensitif, mudah tersinggung, mudah marah.
Tanpa sadar kita menciptakan sekat-sekat tertentu di media sosial kita, sehingga kita hanya bisa melihat dan membaca apa yang kita s**a saja. Apalagi didukung oleh algoritma media sosial yang memang mendorong kita untuk menciptakan semacam bubble barrier untuk menangkal hal-hal yang tidak sesuai dengan karakter dan kecenderungan aktivitas digital yang kita lakukan. Lengkaplah sudah, kita hidup di dunia yang kita mau saja, berinteraksi dengan orang-orang yang cenderung sama dan seragam dengan kita.
Selebihnya beli bukunya, he.....
Tetap semangat menginspirasi abangkuh, (kata gen z) ilmu padi abangkuh ๐, Barakallahu fiikum
Ada rekomendasi buku keren lainnya?