Reseller Afrakids Cianjur

Reseller Afrakids Cianjur Baju anak muslim afrakids,nyaman dan adem di pakai nya,,,
Sms/WA 085624384011

Bagaimana dengan menutup mata ketika shalat? Saya akan mengutip perkataan ulama. Hal ini makruh sebagaimana yang dikatak...
23/10/2017

Bagaimana dengan menutup mata ketika shalat? Saya akan mengutip perkataan ulama. Hal ini makruh sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, "Menutup mata buka dari sunnah rasul". Yang terbaik adalah, jika membuka mata tidak merusak kekhusyu'an shalat, maka lebih baik melakukannya.
Namun, jika hiasan, ornamen, dan sebagainya di sekitar orang yang shalat atau antara dirinya dengan kiblat mengganggu konsentrasinya, maka dipoerbolehkan menutup mata. Namun, demikian pernyataan untuk melakukan hal itu dianjurkan (mustahab) pada kasus ini. Wallahu A'lam.


Wa/sms : 081214647856

Yang s**a si hijau,mangga di order,,,
29/03/2016

Yang s**a si hijau,mangga di order,,,

Assalamualaikum wrwbAyah-bunda, dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kegiatan yang menggunakan tangan. Misalnya, k...
27/02/2016

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kegiatan yang menggunakan tangan. Misalnya, kegiatan makan, minum, berjabat tangan, mengambilkan sesuatu untuk orang lain, memberikan sesuatu kepada orang lain, dan lain sebagainya.
Bagaimana tuntunan Islam dalam hal seperti ini?
Pada saat sahabat nabi saw Umar bin Abu Salamah masih kecil, ia pernah makan dengan membabi-buta. Ia mengambil makanan mana pun yang ia mau tanpa rasa sopan. Melihat hal itu, Rasulullah saw menegurnya,
“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022).
Umar bin Abu Salamah berkata, “sejak saat itu, begitulah cara saya makan”.
Ayah-bunda, dalam setiap kegiatannya, Rasulullah saw menyukai dengan mendahulukan yang kanan. Aisyah pernah bersaksi tentang akhlak Rasulullah saw yang seperti itu. Kata beliau,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam s**a memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh aktivitas beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5926 & Muslim no. 268)
Mendidik Anak untuk Memulai dengan yang Kanan
Ayah-bunda, keteladanan sangatlah penting bagi anak. Anak-anak akan meniru apapun yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika ia melihat orangtuanya makan dan minum dengan tangan kiri, maka ia pun akan meremehkan hal tersebut dan akan menirunya.
Oleh karena itu, wahai ayah-bunda, biasakanlah makan, minum, dan melakukan kegiatan lainnya dengan bagian yang kanan. Bagaimana kalau sudah terlanjur? Jika memungkinkan, ulangi kegiatan tersebut. Misalnya, pada saat ayah akan berangkat kerja, Anda salah memakai sepatu. Kita malah memakai sepatu kiri dahulu. Jika ini yang terjadi, lepaskanlah lagi sepatu tersebut dan mulailah kembali memakai sepatu dengan bagian yang kanan.
Apalagi jika anak Anda ada di samping Anda, ia perlu diberi penjelasan mengapa kita sampai melepas sepatu dan memakai ulang. Kita perlu memberitahu kepada anak kita bahwa itu adalah tuntunan dari Rasulullah saw dan kita sebagai orangtuanya, tadi terlupa memakai sepatu dari kanan. Oleh karena itulah, kita memakai ulang sepatu tersebut.
Ingatlah, ayah-bunda, kuncinya ada di habit (kebiasaan) dan keteladanan. Jika kita sebagai orangtuanya sudah terbiasa memulai aktivitas apapun dari yang kanan, kita akan mampu memberi contoh yang baik kepada anak. Pada gilirannya, si anak akan meniru perbuatan tersebut. Hingga dewasa, nantinya anak kita akan terbiasa menggunakan tangan kanan. Alhamdulilah...

Assalamualaikum wrwbSuatu ketika, ada seorang sahabat nabi yang tidak bisa tidur. Ia cuma bisa membolak-balikkan badanny...
25/02/2016

Assalamualaikum wrwb
Suatu ketika, ada seorang sahabat nabi yang tidak bisa tidur. Ia cuma bisa membolak-balikkan badannya di tempat tidur dengan gelisah. Istrinya yang heran pun bertanya, “kenapa kamu ini? Apa yang terjadi denganmu?”

Sahabat nabi saw itu menjawab, “Aku bingung. Tadi sore aku mendapatkan rezeki dari Allah banyak sekali”. Istrinya menjawab, “Mengapa kau bingung? Sekarang tidurlah. Nanti pagi setelah shalat subuh, bagi-bagikanlah semua harta itu kepada tetangga kita”.

Mendengar itu, sahabat nabi saw itu terlonjak dan mengucapkan terima kasih kepada istrinya. “Kamu benar sekali!”, katanya.
Ayah-bunda, Allah telah memerintahkan kita untuk berbagi kepada sesama. Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya,
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS: Al Hadiid: 7)

Saat kita berbagi, kita tidak hanya mendapatkan pahala. Bahkan, sudah luas diakui bahwa kita bisa mendapatkan juga hal-hal duniawi seperti kesehatan dan kebahagiaan. Rasulullah saw telah bersabda,
“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, yang paling ringan diantara bencana itu adalah penyakit kusta dan sopak.” (HR. Thabrani).

Ayah-bunda, Rasulullah saw tidak bohong. Secara harfiah, berbagi memang meningkatkan kesehatan kita. Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang melakukan donasi kepada suatu yayasan, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya turut aktif dan menciptakan efek “warm glow”. Jadi, saat kita berbagi, ada area otak kita yang memunculkan efek warm-glow (bercahaya hangat). Otak kita langsung memproduksi hormon dopamine (hormon kebahagiaan) dan oxytocin (hormon yang mengurangi stres).

Ayah-bunda, bukankah ajaran Islam luar biasa? Kita diperintahkan untuk beramal sesuatu yang memang sangat bagus efeknya untuk kita. Ternyata, selain mendapat pahala, jika kita berbagi, kita juga bisa semakin sehat, kecemasan kita berkurang, semakin bahagia, dan jadi manusia yang lebih baik.
Ah, ayah-bunda, kalau sudah tahu begini, siapa yang tidak mau berbagi kan? Memang berbagi itu menakjubkan. Sharing is wonderfull.

Assalamualaikum wrwbAyah-bunda, apakah ayah-bunda merasa sangat sibuk sehingga sulit meluangkan waktu untuk shalat? Tent...
24/02/2016

Assalamualaikum wrwb
Ayah-bunda, apakah ayah-bunda merasa sangat sibuk sehingga sulit meluangkan waktu untuk shalat? Tentu saja. Bisa jadi ayah-bunda sangat sibuk. Berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 8 malam. Setelah pulang, badan kita rasanya remuk-remuk. Sungguh lelah rasanya. Setelah pulang, mungkin kita hanya mampu makan malam, menonton sebentar, lalu tertidur kelelahan. Bisa jadi memang itu yang terjadi kepada ayah-bunda.
Namun, benarkah seperti itu? Apakah ayah-bunda benar-benar tidak memiliki waktu? Atau itu semua hanyalah alasan kita agar kita tidak shalat? Apakah secara tidak sadar, otak ayah-bunda membuat alasan demi alasan yang logis demi mendapatkan pembenaran dari kemalasan ayah-bunda sendiri?
Ayah-bunda, di saat kita mempunyai sebuah keinginan, otak kita akan memproses hal tersebut dan mencari cara bagaimana caranya supaya berhasil. Saat kita merasa malas untuk sholat, otak kita akan memproses dan mencari 1001 alasan supaya kita tidak bisa sholat. Misalnya adalah kesibukan, macet, ada keperluan mendadak, menunda-nunda, dan semacamnya.
Padahal, wahai ayah-bunda, tidakkah kita ingat bahwa Allah pernah berfirman di dalam kitabnya,
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah:286)
Oleh karena itu, wahai ayah-bunda, Anda memiliki dua pilihan:
1) Apakah kita percaya kepada Allah bahwa kita mampu melaksanakan shalat atau
2) Kita percaya kepada diri kita sendiri bahwa kita terlalu sibuk untuk melaksanakan shalat.
Manakah yang kita pilih, ayah-bunda?
There is a Will, There is a Way
Jika kita memilih yang pertama, berarti yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menyiasati hal-hal tersebut. Ingatkah ayah-bunda bahwa ada pepatah, “Di mana ada kemauan di situ ada jalan”? Jika tekad ayah-bunda untuk shalat begitu kuat, pasti ayah-bunda menemukan jalan. Kemalasan dan segala bentuknya pun akan segera sirna dari hati.
Salah satu trik yang guru saya pakai adalah “Just do it!”. Saat bangun tidur misalnya, tentu kita masih merasa mengantuk dan malas. Dalam fase ini, “Just do it!” Segera bangun dari tempat tidur dan ke kamar mandi. Bila perlu, kita bisa langsung mandi pagi sebelum subuh supaya rasa kantuk kita hilang. Setelah itu kita bisa segera pergi ke masjid.
Ayah-bunda, jika kita sendiri malas untuk shalat, bagaimana mungkin kita meminta anak kita untuk rajin beribadah? Bukankah itu hal yang absurd?
Yuk ayah-bunda, bersama-sama mari kita rajin shalat. Let’s shalat...

Assalamualaikum wrwb.Ayah-bunda, kegiatan belajar adalah kegiatan yang sangat penting menurut Islam. Bahkan, jikalau ada...
24/02/2016

Assalamualaikum wrwb.
Ayah-bunda, kegiatan belajar adalah kegiatan yang sangat penting menurut Islam. Bahkan, jikalau ada momen jihad datang, Allah melarang semuanya pergi ke medan perang.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah:122)
Suatu ketika saat datang perintah berperang, orang-orang munafik mengejek para sahabat nabi. Mereka mempertanyakan sikap sebagian para sahabat nabi saw yang tidak berangkat berperang. Ketika itulah Allah menurunkan ayat tersebut untuk menanggapi orang-orang munafik.
Ayah-bunda, sikap para sahabat nabi dalam belajar sangat luar biasa. Ibnu Abbas adalah sahabat Rasulullah saw yang sangat jenius sekaligus sangat rendah hati. Saat beliau ingin belajar, beliau akan duduk di depan rumah sahabat nabi yang ingin dia pelajari ilmunya. Ketika keluar rumah, biasanya orang itu akan kaget karena mendapati Ibnu Abbas duduk di depan rumahnya sambil berselimut debu.
“Ibnu Abbas, apa yang kamu lakukan?”, tanya seorang sahabat.
“Saya ingin belajar padamu..”, jawab Ibnu Abbas.
“Mengapa kamu tidak memintaku saja untuk datang ke tempatmu?”, tanyanya lagi.
“Aku yang membutuhkan ilmu, maka sudah seharusnya aku yang datang menemuimu..”
“Lalu kenapa kau duduk saja di depan rumahku dan tidak mengetuk pintuku?”, tanyanya heran.
“Aku tidak tega mengganggu waktumu bersama keluargamu”
Ayah-bunda, demikianlah sikap para sahabat nabi saw dalam menuntut ilmu. Mungkin kita tidak mampu mencapai level kesungguhan belajar para sahabat nabi, tapi yuk mulai sekarang kita lebih rajin lagi dalam menuntut ilmu dunia maupun agama.
Seringkali kita menyuruh anak kita untuk menuntut ilmu, tapi di saat yang sama, ternyata kita sangat malas membaca buku. Ayah-bunda, pikirkanlah perasaan anak kita. Bagaimana jika dia memiliki ayah dan ibu yang rajin belajar tentang kehidupan dan belajar ilmu-ilmu baru terus setiap hari? Pasti sang anak akan bangga memiliki ayah-bunda seperti itu. Dengan sendirinya, ia pun akan tersulut semangatnya untuk belajar. Bagaimanapun, ayah-bunda, kita adalah teladan anak kita.
Saat itulah, saat akan belajar, kita perlu menyebut nama Allah supaya berkah mendatangi kita. Nabi saw mengajarkan agar kita membaca, “Robbi Zidni Ilma Warzuqni Fahma” (Ya Allah tambahilah ilmuku dan dan pertinggikanlah kecerdasanku”

24/02/2016

kaos muslim anak afrakids ,bahan 100% katun combed24s,sablon ruber non toxic

Address

Jln. Ariawiratanudatar Kp. Neglasari Rt 01/01 Karangtengah Cianjur
Cianjur
43281

Telephone

085624384011

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Reseller Afrakids Cianjur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share