Total Business Solution

Total Business Solution TBS Consultant bergerak dalam penyediaan jasa pendampingan, konsultansi dan pelatihan perusahaan menuju ”World Class Company" & menjadi "Best Practice".

Quote of the day.... 😀
16/03/2022

Quote of the day.... 😀

31/01/2016
31/01/2016

Kali ini kita akan share mengenai beberapa teori yang sering kita gunakan saat melakukan sesi-sesi pelatihan:

1. Teori Peti Mati
Yang pesan tidak memakai dan yang makai tidak memesan. Teori ini terkesan mengada-ada namun pada kenyataannya banyak sekali situasi di dalam pekerjaan kita sangat cocok dengan teori tersebut. Coba lihat disekeliling kita, berapa banyak prosedur yang sudah tidak relevan dengan kondisi sebenarnya. Atau yang lebih menyedihkan, banyak sekali kenyataan di lapangan bahwa prosedur yang telah dibuat dengan baik ternyata tidak bisa digunakan karena banyak hal-hal yang belum dipertimbangkan sebelumnya. Sering juga kita dengar bahwa kitapun bisa sukses tanpa ada prosedur kerja. Nah, hal-hal inilah yang sekiranya perlu diperbaiki di organisasi kita dalam rangka melakukan standarisasi pola kerja kita sesuai dengan best practice yang ada. Prosedur sebaiknya dilakukan update secara reguler sehingga selalu up to date dengan perkembangan proses yang berjalan. Selalu libatkan karyawan yang melaksanakan pekerjaan tersebut dalam pembuatan prosedur sehingga keterlibatan ini akan menimbulkan mutual relationship antara pembuat prosedur dan user. Banyak hal-hal yang kemungkinan tidak terlintas dalam pemikiran pembuat prosedur akan bisa diperkaya oleh user tersebut.

2. Teori Kereta Kuda
Bahwa kecepatan kereta kuda tersebut ditentukan oleh kecepatan kuda yang paling lambat. Apabila terdapat 4 kuda yang masing-masing memiliki kecepetan berbeda - beda secara individu, maka kuda yang larinya paling lambatlah yang akan menentukan kecepatan kuda lainnya. Apabila dikaitkan dengan TOC (Theory Of Constraint) atau Line Balancing, maka kuda terlambat inilah yang dikenal sebutannya sebagai "bottleneck" dalam proses kerja kita. Lebih luas lagi apabila dihubungkan dengan tim kerja di organisasi kita, maka bagian tim kita yang paling banyak menemui kendala atau cycle time-nya paling rendah akan menentukan hasil dari keseluruhan tim tersebut. Maka dari itu, untuk meningkatkan kinerja sebuah tim maka selalu lihatlah bagian tim kita atau proses kita yang menjadi "bottleneck" untuk kemudian dicari penyebabnya dan solusi pemecahannya bersama dengan tim dan sponsor lalu dilakukan standarisasi untuk kemudian menjadi Way Of Working yang baru.
Yuk, silahkan memberikan tanggapan atas ulasan tersebut.
Nantikan ulasan teori lainnya di postingan berikutnya.

Salam TBS !!!

31/01/2016

Dalam diskusi suatu saat dengan seorang rekan kerja di perusahaan lain, beliau menceritakan kondisi di perusahaannya dengan ungkapan kurang lebih seperti berikut, “Kami memiliki teknologi, kami memiliki informasi, kami memiliki orang-orang cerdas dari berbagai universitas ternama, kami memiliki leader-leader yang loyal, berdedikasi tinggi dan telah lama bekerja di perusahaan, karyawan kami telah dilatih dengan melaksanakan proyek-proyek kaizen, tetapi bagaimana memanfaatkan sumber daya yang unggul ini untuk mencapai tujuan organisasi manakala hampir semua indikator kinerja (KPI) kami saat ini banyak yang tidak mencapai target?"

Saya yakin ungkapan diatas pasti juga pernah dialami oleh rekan-rekan yang lain. Sudah banyak yang dilakukan namun tetap saja indikator kinerja (KPI) masih belum mencapai target yang sudah ditetapkan. Bisa jadi “System Condition” di perusahaan tersebut sudah tidak mampu lagi membangun lingkungan kerja yang dapat mendukung pencapaian indikator kinerja saat ini. Yah, kami biasa menyebutnya sebagai “System Condition” (kondisi sistem) di perusahaan yang pada umumnya merupakan perwujudan dari warisan cara kerja (WOW – Way Of Working) dari karyawan-karyawan pendahulunya. Ada kalanya beberapa orang mengatakan ini sudah menjadi budaya perusahaan. Maka dari itu diperlukan people transformation (transformasi karyawan) secara besar-besaran untuk merubah budaya perusahaan yang mampu menjawab tantangan bisnis kedepan yang semakin ketat dan berat.

Adalah Collaborative Quotient (CQ) yang saat ini perlu diterapkan kepada karyawan disamping IQ (Intellegence Quotient, EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient, SQ (Spiritual Quotient), DQ (Discovery Quotient) yang sudah lebih dulu dikenal oleh masyarakat. Kamus Webster mendefinisikan kolaborasi sebagai bekerja bersama-sama dengan orang lain, terutama di usaha intelektual. Kebanyakan definisi kolaborasi adalah konsep interaksi bersama. The Mitre Corporation, dalam studi 1999 mendefinisikan kolaborasi sebagai interaksi antara dua atau lebih individu dan dapat mencakup berbagai perilaku, termasuk komunikasi, berbagi informasi, koordinasi, kerjasama, pemecahan masalah, dan negosiasi.

Bentuk perwujudan dari CQ ini sering kita sebut sebagai integrasi horizontal. Integrasi - didefinisikan sebagai tindakan atau proses menggabungkan menjadi unit yang lebih besar yang menggambarkan struktur hubungan dalam organisasi atau masyarakat. Integrasi vertikal umumnya menggambarkan bentuk industri komando dan kontrol struktur dengan komunikasi dan interaksi yang mengalir dari atas ke bawah dalam sebuah organisasi hierarkis dan ini sudah menjadi standar organisasi pada umumnya. Sedangkan Integrasi horizontal menekankan struktur organisasi yang menumbuhkan hubungan dan interaksi yang melintasi departemen dan bahkan batas-batas organisasi dan jauh lebih tergantung pada kolaboratif, non-otoritatif perilaku. Tanpa kita sadari, meningkatnya kompleksitas masalah dan munculnya teknologi telah meningkatkan kecepatan melakukan bisnis secara luas dan mekanisme individu yang digunakan untuk menghubungkannya di organisasi tentunya harus ditingkatkan kecepatannya.

Ini tentang mengemudikan organisasi, yang mau tidak mau telah menuntut organisasi melakukan transformasi menjadi organisasi terintegrasi yaitu yang dari hanya menganut model integrasi vertikal menjadi perusahaan yang menerapkan integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Dengan organisasi yang terintegrasi ini maka “System Condition” di perusahaan akan memiliki modal besar dalam menjawab tantangan-tantangan bisnis kedepan. Maka CQ (Collaborative Quotient) menjadi sangat penting untuk diterapkan segera kepada seluruh karyawan dalam mendukung terwujudnya organisasi terintegrasi.

Salam TBS !!!

TBS Focus Scope
31/01/2016

TBS Focus Scope

19/07/2015
09/05/2015

TBS Consultant bergerak dalam penyediaan jasa pendampingan, konsultansi dan pelatihan untuk perusahaan agar dapat menuju ”World Class Company” dan dapat menjadi ”Best Practice” di bidang industrinya.

Address

Cikarang

Telephone

+6281297338002

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Total Business Solution posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share