31/01/2016
Dalam diskusi suatu saat dengan seorang rekan kerja di perusahaan lain, beliau menceritakan kondisi di perusahaannya dengan ungkapan kurang lebih seperti berikut, “Kami memiliki teknologi, kami memiliki informasi, kami memiliki orang-orang cerdas dari berbagai universitas ternama, kami memiliki leader-leader yang loyal, berdedikasi tinggi dan telah lama bekerja di perusahaan, karyawan kami telah dilatih dengan melaksanakan proyek-proyek kaizen, tetapi bagaimana memanfaatkan sumber daya yang unggul ini untuk mencapai tujuan organisasi manakala hampir semua indikator kinerja (KPI) kami saat ini banyak yang tidak mencapai target?"
Saya yakin ungkapan diatas pasti juga pernah dialami oleh rekan-rekan yang lain. Sudah banyak yang dilakukan namun tetap saja indikator kinerja (KPI) masih belum mencapai target yang sudah ditetapkan. Bisa jadi “System Condition” di perusahaan tersebut sudah tidak mampu lagi membangun lingkungan kerja yang dapat mendukung pencapaian indikator kinerja saat ini. Yah, kami biasa menyebutnya sebagai “System Condition” (kondisi sistem) di perusahaan yang pada umumnya merupakan perwujudan dari warisan cara kerja (WOW – Way Of Working) dari karyawan-karyawan pendahulunya. Ada kalanya beberapa orang mengatakan ini sudah menjadi budaya perusahaan. Maka dari itu diperlukan people transformation (transformasi karyawan) secara besar-besaran untuk merubah budaya perusahaan yang mampu menjawab tantangan bisnis kedepan yang semakin ketat dan berat.
Adalah Collaborative Quotient (CQ) yang saat ini perlu diterapkan kepada karyawan disamping IQ (Intellegence Quotient, EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient, SQ (Spiritual Quotient), DQ (Discovery Quotient) yang sudah lebih dulu dikenal oleh masyarakat. Kamus Webster mendefinisikan kolaborasi sebagai bekerja bersama-sama dengan orang lain, terutama di usaha intelektual. Kebanyakan definisi kolaborasi adalah konsep interaksi bersama. The Mitre Corporation, dalam studi 1999 mendefinisikan kolaborasi sebagai interaksi antara dua atau lebih individu dan dapat mencakup berbagai perilaku, termasuk komunikasi, berbagi informasi, koordinasi, kerjasama, pemecahan masalah, dan negosiasi.
Bentuk perwujudan dari CQ ini sering kita sebut sebagai integrasi horizontal. Integrasi - didefinisikan sebagai tindakan atau proses menggabungkan menjadi unit yang lebih besar yang menggambarkan struktur hubungan dalam organisasi atau masyarakat. Integrasi vertikal umumnya menggambarkan bentuk industri komando dan kontrol struktur dengan komunikasi dan interaksi yang mengalir dari atas ke bawah dalam sebuah organisasi hierarkis dan ini sudah menjadi standar organisasi pada umumnya. Sedangkan Integrasi horizontal menekankan struktur organisasi yang menumbuhkan hubungan dan interaksi yang melintasi departemen dan bahkan batas-batas organisasi dan jauh lebih tergantung pada kolaboratif, non-otoritatif perilaku. Tanpa kita sadari, meningkatnya kompleksitas masalah dan munculnya teknologi telah meningkatkan kecepatan melakukan bisnis secara luas dan mekanisme individu yang digunakan untuk menghubungkannya di organisasi tentunya harus ditingkatkan kecepatannya.
Ini tentang mengemudikan organisasi, yang mau tidak mau telah menuntut organisasi melakukan transformasi menjadi organisasi terintegrasi yaitu yang dari hanya menganut model integrasi vertikal menjadi perusahaan yang menerapkan integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Dengan organisasi yang terintegrasi ini maka “System Condition” di perusahaan akan memiliki modal besar dalam menjawab tantangan-tantangan bisnis kedepan. Maka CQ (Collaborative Quotient) menjadi sangat penting untuk diterapkan segera kepada seluruh karyawan dalam mendukung terwujudnya organisasi terintegrasi.
Salam TBS !!!