16/08/2018
Copas :PROFIL PELAKU FRAUD.
Hargiyanto
Sabtu lalu, mengikuti sharing knowledge dari mbak Reni, Ketua Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia, kakak kelas di psikogama, tentang Profiling Fraudster, benar2 menarik. Karena setiap tahun, diperkirakan trilyunan rupiah kerugian ekonomi Indonesia, akibat para fraudster ini. Perusahaan saya pun dr 2003, saat saya mendirikan smp hr ini. Sdh dirugikan ratusan juta oleh para fraudster ini.
Saya mencoba membagikan dari apa yg saya tangkap di acara tsb. Tentu saja, hanya sebagian kecil yang saya tangkap, krn saya bukan ahli di bidang tsb. Teman2 bisa lgs menghubungi pembicara lgs, utk belajar lebih banyak dari pengalaman2 beliau selama puluhan tahun ini.
Fraud biasanya terjadi berupa 3 hal:
1. Korupsi
2. Penyalahgunaan Aset
3. Laporan keuangan
Fraud dibagi 2 model:
1. Fraud Defensif,
Dilakukan karyawan bergaji rendah, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tergoda karena ada kesempatan. Pada Fraud jenis ini, lebih banyak terjadi karena adanya kesempatan yg muncul di depan Fraudster tsb.
Masih ada itikad baik saat tjd fraud, bahwa nanti dia akan mengembalikan stl ada kesempatan. Bila saat audit, tidak ada temuan, maka Fraudster akan mengulangi, sehingga lama2 terjadi adiksi, dan bisa bergerak ke Fraud Ofensif. Pola-nya pengaburan fakta, dan ketidaktelitian Auditor
2. Fraud Offensif,
Dilakukan oleh karyawan bergaji tinggi, untuk menjamin kehidupan mewah, dan dipicu oleh keserakahan.
Berbeda dari Fraud Defensif, maka pada jenis ini, Fraudster memang mencari, mengeksploitasi, dan memproteksi kesempatan. Sama pada Fraud Defensif, bila berhasil, fraud ofensif, juga akan mengulangi dan menimbulkan adiksi. Fraud Ofensif, biasanya dilakukan beberapa orang. Terbongkar bila ada yg tidak puas dan membongkar fraud ini.
Siapa yang berbuat fraud berdasar masa kerja, 70% dgn masa kerja di atas 5 tahun. Sebagian besar pelaku fraud, berusia 35 – 44 tahun.
Pelaku Fraud 70% adalah pria, kemungkinan karena budaya di Indonesia, Pria yg bertugas bekerja, mencari nafkah untuk keluarganya.
Dan lebih dari 75% pelaku fraud, ternyata belum pernah dihukum atau diberhentikan, hanya sebagian kecil yang pernah dihukum, atau pernah dipecat karena fraud. Menunjukkan bahwa pelaku2 baru Fraud terus mendominasi kasus2 fraud yg masuk.
Ada kesamaan karakteristik, antara orang2 yang dapat dipercaya, dengan karakteristik pelaku fraud (Fraudster)… glekssss
Pengalaman pembicara berinteraksi dengan fraudster, memperlihatkan mereka mempunyai kemampuan social yang baik, halus, sopan, bahkan extremenya, bisa membuat lawan bicara “jatuh cinta”, juga penampilan yang alim.
Ciri2 Fraudster:
1. Cerdas, komunikasi yang efektif dan persuasive, Kemampuan intelektual rata2 hingga di atas. Terampil dalam komunikasi, dan menemukan kelembahan system. Tampak jujur dan dapat dipercaya
2. Mampu bekerja dalam tekanan tinggi. Hardworker, terampil mengelola pekerjaan dan mengelola tampilannya.
3. Risk Taker & Rule Breaker. Berani mengambil resiko dalam keputusan2nya, termasuk dalam melanggar aturan
4. Plus, effective lying, ada problem pribadi, arogansi, keserakahan, lack of a moral compass (gangguan kepribadian)?
Ciri2 Fraudster ini… SAMA dengan ciri2 manager yang sukses (uppsss)
70% fraudster memiliki profile gabungan antara “tekanan” dengan arogansi atau keserakahan
Ada pembahasan kenapa ada yg belum 3 bulan lulus dari psikotes, tapi tertangkap tangan melakukan korupsi (salah satu bentuk fraud)?
Kunci mengatasi fraud adalah penanganan yang benar dan tepat. Solusi dari hulu hingga hilir, dari pencegahan hingga hukuman bagi pelaku.
Fraudster selalu mempunyai rasionalisasi atas Fraud yang dilakukan, seperti,
a. Siapapun di posisi saya, pasti akan melakukan hal yang sama
b. Semua pejabat juga seperti saya melakukan pungutan
c. Butuh uang (bisa utk kebutuhan dasar hidup, bisa juga untuk kebutuhan lain, misal uang untuk mendapat jabatan yang lebih tinggi, atau untuk memenuhi gaya hidupnya)
d. Mendapat Moral Permission, misal uang ini kan saya pakai juga untuk amal / orang lain, bukan hanya untuk saya. Atau merasa bahwa yang diminta uang rela, misal, saat meminta uang, menanyakan, ini iklas kan? Bila yang dimintai uang, mengatakan iklas, maka menurut fraudster tadi, uang tersebut bukan kejahatan. (sering ya mengalami ini??? hahaha)
Beberapa kasus yang ditangani oleh pembicara, bisa dijelaskan dengan teori SMORC (Simple Model of Rational Crime) Gary Stanley Becker.
Ada juga yang melakukan fraud, karena desakan organisasi (perintah atasan).
Fraud Triangle, faktor2 dasar yg berpengaruh terjadinya Fraud:
1. Pressure, spt tagihan rumah sakit, gaya hidup mewah, perilaku ketagihan
2. Kesempatan, akibat lemahnya dan ketidakjelasan control
3. Rasionalisasi, semua orang melakukan hal ini, pinjam sebentar uangnya nanti dikembalikan. Intinya orang2 yang melakukan fraud adalah orang2 yg sadar bahwa hal tsb salah, tapi mencari rasionalisasi.
Apabila hanya 1 komponen dr 3 komponen Fraud Triangle, maka bisa dibilang, low risk. 2 komponen dari 3, maka medium risk, sementara bila 3 dari 3 terpenuhi, maka ybs dibilang hi-risk.
Ada juga teori Fraud Diamond, 3 hal di atas ditambahkan komponen ke 4, Capability, meliputi posisi / fungsi ybs di organisasi, kemampuan intelektual, Confidence / Ego, kemampuan mempengaruhi orang lain melakukan sesuatu dengan paksaan atau ancaman (Coercion skills), kemampuan menipu, dan kemampuan mengelola stress.
Di bagian akhir, dijelaskan juga beberapa tes psikologi yang dilakukan untuk profiling pelaku fraud ini, Bagaimana tes psikologi melakukan profiling utk potensi fraudster? Hal tsb jelas tll psikologis utk ditulis oleh saya…. Hehehe, langsung tanya ke pembicara aja…
Ada penanya, yang bertanya cara cepat (misal 3 jam tes), untuk mengetahui profile yg berpotensi menjadi Fraudster? Dijawab oleh pembicara, bahwa cara cepat spt itu itu belum memungkinkan, karena profile fraudster ternyata sama dengan profile manager sukses… uppssss lagi
Kesimpulan saya mengikuti acara knowledge sharing ini, membuka mata saya bahwa fraudster (baik ofensif maupun defensive) perlu di deteksi dari awal, dan perlu system control yang baik di organisasi kita.
Semoga bermanfaat.
Tulisan : Hargiyanto, Psi UGM.