02/11/2017
"Anak-Anak Maunya Belajar Terus"
Sejak diluncurkan pada 2016, Buku Paket Kontekstual Papua (BPKP) yang diproduksi dan diterbitkan oleh Yayasan Kristen Wamena (YKW) terbukti berhasil menjadi jembatan gap kondisi pendidikan dasar lokal (khususnya wilayah terisolir) di Papua dan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Kurikulum Nasional RI.
Hasil survei membuktikan, kemampuan membaca
anak-anak di sekolah yang telah dua tahun menggunakan BPKP, mencapai hasil rata-rata 52 kata per menit. sedangkan kelompok sekolah yang belum menggunakan BPKP, rata-rata kemampuan membaca hanya 11 kata per menit. Untuk hasil kemampuan berhitung, anak-anak di sekolah yang sudah
memakai BPKP selama 2 tahun mencapai hasil rata-rata 28 soal per dua menit, sedangkan anak-anak yang belum memakai BPKP mencapai hasil rata-rata 11 soal per dua
menit.
Sebelum ada BPKP, anak-anak kelas 1-3 SD di Papua kesulitan memahami materi yang ada pada buku-buku paket Kurikulum Nasional karena sangat sedikit dari mereka yang bisa membaca sebelum SD, tidak pernah bersekolah TK, bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Sementara, buku-buku paket dari Jakarta mengasumsikan anak-anak kelas 1-3 bisa membaca. Sudah begitu, konten buku-buku paket tersebut juga sangat "urban centris" dengan contoh-contoh pembahasan dan latihan yang tidak dikenal oleh masyarakat desa apalagi yang berada di pedalaman.
"Konten dan konteks BPKP sudah diselaraskan dan diadaptasikan dengan latar belakang sosial budaya, tingkat perkembangan dan kebutuhan belajar peserta didik di kelas 1, 2 dan 3 pada jenjang Pendidikan Dasar di Tanah Papua," kata Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe dalam kata pangantarnya di buku-buku paket tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan, penyelarasan dan pengadaptasian konten serta konteks buku ini telah dilakukan secara cermat dan tepat dengan tetap mengacu pada Standar Kompetensi Kelulusan (Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar) yang dipersyaratkan bagi kelulusan setiap peserta didik pada kelas awal Sekolah Dasar sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan.
Bukan perkara mudah memang menyederhanakan buku paket dengan tetap menggunakan standar nasional. Koordinator Proyek BPKP dari YKW Martijn Van Driel mengakui hal tersebut. “Menyusun buku panduan yang bisa dipahami kawan-kawan di kampung tanpa harus menurunkan kualitas pendidikan yang diajarkan memang tidak mudah. Tapi, lebih baik kami yang kesulitan dalam menyusunnya daripada kawan-kawan di kampung sana,” kata Martijn Van Driel.
Para guru yang menggunakan buku ini merasa terbantu. Guru SD 1 Saminage Tri Ari Santi misalnya mengatakan dalam dua bulan anak-anak sudah bisa mengenal huruf dan kata. Mereka juga mudah berhitung karena sesuai dengan konteks yang ada di sekitar mereka. Guru-guru juga mudah mengaplikasikannya karena buku-buku ini terbuka dengan berbagai pendekatan dan metode, serta sesuai konteks lokal. "Anak-anak menjadi senang belajar. Sampai sore maunya belajar terus," kata Tri Ari Santi.
Yang dimaksudkan dengan konteks lokal di atas adalah konten dalam buku-buku tersebut hal-hal yang tidak jauh dari keseharian hidup anak-anak. Materi pembahasan dan contoh-contoh yang diberikan sesuatu yang akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya tentang kebun, desa, honai, nama-nama lokal, bahkan ilustrasi yang digunakan juga tidak asing untuk mereka. "Mereka jadi lebih mudah paham," Kata Guru Kelas 1 Nita Itlay.
Penggunaan bahasa yang sederhana, kontekstual namun tetap memperhatikan standar kualitas membuat buku ini sangat cocok untuk daerah-daerah terisolir seperti Kabupaten Yahukimo misalnya. Kabupaten ini terletak di pedalaman dan hanya bisa diakses dengan jalan kaki dan pesawat. Guru-duru hanya datang pada saat ujian nasonal, sehingga yang mengajar anak-anak kebanyakan para relawan yang latar belakang pendidikannya beragam, dari SD hingga SMA/SMK. "Waktu kami gunakan buku paket biasa, anak tidak bisa membaca. Setelah pakai BPKP, anak kelas 1 bisa baca," kata Kayus Sol, Ketua Pendidikan Yasumat (sebuah yayasan lokal yang bekerja untuk masyarakat terpencil di Papua). Sekarang ini, ada lebih dari 63 SD di Yahukimo yang menggunakan BPKP.
Menginjak tahun ketiga penggunaan BPKP, YKW berinisiatif untuk membuat video-video pembelajaran, baik untuk siswa maupun untuk pegangan guru-guru. Inisiatif lanjutan ini bertujuan agar model pengajaran dan materi pembelajaran yang ada di BPKP dapat tersebar lebih luas di Papua ataupun daerah lain di Indonesia. Keterbatasan geografis dan sumberdaya menjadikan program pelatihan para guru dalam menggunakan BPKP tidak bisa optimal. Dengan video (yang akan disebarkan secara gratis melalui kanal YouTube, social media ataupun jaringan pendidikan yang ada di Papua) para guru akan mendapatkan panduan dalam mengajarkan BPKP dan menggunakan video-video sebagai materi pengajaran.
Syukurlah inisiatif ini mendapatkan dukungan dari Indonesia International Education Foundation (IIEF) Jakarta. Dan, beruntung juga bagi Bali Lite karena terpilih untuk memproduksi video-video tersebut sebagai dukungan pada YKW dan pendidikan anak-anak di Papua. Buku Paket Kontekstual Papua sudah terbukti membuat anak-anak Papua "berlari kencang" dalam membaca dan berhitung, semoga saja video-video ini akan membuat lari mereka lebih kencang lagi dapat berkontribusi agar IPM Provinsi Papua tidak terus menerus berada di posisi akhir seperti yang terjadi selama ini. (*)
Kredit Foto: FX Making, Prana Sunaryo
Catatan:
Buku Paket Kontekstual Papua dapat diunduh gratis di http://www.bukupaketkontekstualpapua.com/