12/03/2022
*Embun Pagi*
*Ketika dihina atau direndahkan*
Mematikan cahaya orang lain tidak akan membuatmu lebih terang, namun justru membuatmu semakin gelap.
Demikian p**a merendahkan orang lain tidak akan membuatmu lebih tinggi, namun justru membuatmu semakin rendah.
Imam al-Syafi’i, seorang ulama besar suatu hari dicaci-maki oleh mereka yg tak paham atau “safih” (pandir). Dan tak ingin membalasnya. Lalu beliau menulis syair :
يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ، فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا
يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا، كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا
Imam Syafi’i berkata : “Orang pandir menyerang aku dengan kata-kata kasar. Maka aku tidak ingin menjawabnya. *Dia bertambah pandir dan aku bertambah sabar.* Aku bagai kayu gaharu saat dibakar ia menebarkan wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).
Demikianlah, ketika engkau merendahkan dan menghina orang lain sejatinya engkau telah merendahkan dan menghina dirimu sendiri,
*Karena tanda kemulia -an seseorang itu tidak merendahkan dan menghina orang lain*.
*Maka langkah paling tepat ketika orang pandir mencaci maki, maka kita abaikan saja*.
Jangan dilayani, jangan dibalas, sebab ia sedang menunjukkan kwalitas dirinya sendiri.
Kita hidup memang tidak ditakdirkan untuk disukai semua orang,
Maka yang benci, biarlah benci dengan alasannya sendiri, tak perlu kita berusaha meyakinkan,
Karena yang menyukai -mu tidak perlu itu, dan yang membencimu akan tetap membenci -mu.
Karena itu tetaplah jalani hidup sebagai -mana engkau hidup tetap dalam kebaikan, jangan pernah mencari ridha manusia, karena hal itu adalah tujuan yang tidak pernah tercapai, namun hendaknya engkau mencari sesuatu bermanfaat bagimu dan *mencari ridho Allah serta memohon pertolongan dari-Nya,*
Barakallahu fiikum